Dibaca: 6,571 kali    Komentar: 1  

Mardian Marsono: “9P: Rahasia Menjemput Beasiswa”

Menjemput? Ya, menjemput, karena sesungguhnya, seperti rezeki dan jodoh, beasiswa anda sejatinya sudah menanti di sana. Anda tinggal menjemputnya. Terlalu berlebihankah pernyataan ini? Buat saya tidak.

Setelah proses perjuangan beasiswa dengan total 9 kali aplikasi, perkenankan saya berbagi cerita dan pengalaman keberhasilan saya menjemput beasiswa New Zealand Scholars Awards (atau NZAS, sebelumnya bernama NZDS: New Zealand Development Scholarship), sebuah program beasiswa penuh dari pemerintah Selandia Baru yang memberikan kesempatan bagi saya untuk menempuh studi Development Studies Insya Allah selama dua tahun di The University of Auckland.

Cerita ini saya kemas dalam kode 9P. Masing-masing P adalah refleksi dan rangkuman dari pengalaman dan perjuangan saya menjemput beasiswa ini:

1. Projection

P yang pertama adalah Projection. Memproyeksikan diri anda memperoleh beasiswa adalah hal yang paling pertama dilakukan. Anda harus merasa yakin bahwa anda akan memperoleh beasiswa tersebut, tentunya setelah seluruh fase-fase perjuangan dilakoni. Caranya bagaimana? Fokuskan dan lugaskan keinginan anda dengan menghadirkannya ke dalam pikiran anda. Sering-seringlah anda membayangkan sedang berada di kampus atau di negara tujuan beasiswa. Mengkhayal? Jelas bukan, tetapi memvisualisasikan atau mengangan-angankan apa yang anda cita-citakan.

Jujur saja, saya sering melakukan ini. Dalam perjalanan ke kantor dengan mobil jemputan perusahaan, saya sering memejamkan mata dan membayangkan sedang naik kereta atau bis kota di Auckland. Saya juga sering membayangkan sedang membaca materi kuliah di taman dekat Clock Tower, termasuk berdiri di depan tembok nama The University of Auckland. Selain itu, saya juga membuat sebeuah vision board, yang memuat gambar negara dan kampus tempat saya ingin menempuh studi dengan beasiswa. Vision board ini disusun dari potongan gambar yang saya gunting dari majalah, surat kabar, leeaflet, internet, dsb.
Lalu setelah sering bervisualisasi, membuat dan memandangi vision board sudah cukup dan akan mengantarkan anda ke beasiswa? Oooo… tentu tidak! Perjuangan harus dijalani, kawan!

2. Proactive

Setelah meyakinkan dan memvisualisakan diri, segeralah beraksi! Proaktif! Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai beasiswa dan persyaratannya, program studi, negara dan universitas atau tempat belajar yang anda targetkan. Proaktiflah dalam melacak dan meriset informasi tersebut. Entah berapa totalnya ratusan file dan berapa gigabyte halaman pdf yang saya buat dan saya simpan di laptop saya hasil menelusuri informasi baik di milis, fanpage, website, dan blog-blog para “mantan” pejuang beasiswa. Buat saya, informasi sangatlah berharga dan penting untuk mendukung proses penjemputan beasiswa yang dicita-citakan. Saking seringnya mengumpulkan informasi, saya sampai hapal deadline beasiswa-beasiswa, nama-nama universitas di negara target beserta lokasinya dan jurusan yang ingin saya pilih. Apakah boleh bertanya di milis atau menghubungi langsung para pejuang beasiswa yang sudah berhasil? Tentu saja boleh. Ini termasuk juga proaktif. Tapi tolong, pastikan anda sudah berusaha dan berjuang mencari informasi yang akan anda tanyakan. Betul, there is no what so-called silly question, tetapi untuk hal-hal yang mendasar dan umum sebaiknya anda bergigih ria dulu mencari informasinya di internet. Sering saya jumpai di milis/fanpage dan pernah saya ditanya via email mengenai informasi yang sejatinya kalau ingin bersungguh-sungguh mencari banyak berserakan di dunia maya. Informasi umum seperti persyaratan beasiswa, tes IELTS/TOEFL, atau certified documents bukanlah topik rumit dan relatih mudah ditelusuri.

Saya berusaha bilang, janganlah terlalu manja, kawan! Manfaatkan segala sumber informasi yang ada, yang paling akurat adalah panitia pelaksana/contact person beasiswa. Insya allah ada di website-nya. Catat email dan nomer telepon-nya. Kirimi email dan hubungi langsung bila ada pertanyaan yang mengganjal. Bila lokasi tempat tinggal anda dekat dengan kantor beasiswanya, datangi sekalian silaturahmi dengan tim panitianya. Ringkas kata, proaktiflah!

3. Profile

Setelah informasi terkumpul, petakan mereka, terutama karakteristik beasiswa yang ingin anda tuju. Secara khusus, pelajari profil-nya. Berapa jumlah kandidat yang akan diterima, berapa pelamarnya tahun lalu, latar belakang profesi apa yang diprioritaskan, apa tujuan beasiswanya, adakah prioritas gender, apa saja rencana jangka panjang atau rencana kerja sama dengan pemerintah kita yang terkait dengan bidang profesi kita, dan sebagainya. Mengenali profil beasiswa ini akan sangat membantu strategi dalam menjemput beasiswa. Sebagai contoh, dengan mengenali tujuan beasiswa, kita dapat mempertajam aplikasi kita dengan menitikberatkan kepada aspek-aspek yang ingin dicapai beasiswa tersebut. Contoh lain, ada beasiswa menyebutkan bahwa kandidatnya tidak untuk para pelamar dari sektor swasta. Walhasil bagi saya yang berlatarbelakang karyawan perusahaan tentu saja tidak akan melamar ke beasiswa ini. Buat yang PNS, akademisi, aktivis LSM/NGO, dan karyawan BUMN, berbahagialah, dalam pengalaman saya memetakan profil beasiswa, keempat profesi ini menjadi primadona. Lantas, bagaimana dengan karyawan perusahaan? Jangan berkecil hati, saya sering hinggap di blog para “mantan” pejuang beasiswa yang latar belakangnya adalah karyawan swasta. Alhamdulillah, saya juga salah seorang bukti nyatanya. Artinya, beasiswa ini adalah “milik” siapa saja dengan apapun latar belakang profesinya.

Selain mempelajari profil beasiswa, anda juga harus memperkuat profil diri anda. Jadi profil di sini merujuk kepada beasiswa dan diri kita sebagai kandidat. Konkretnya bagaimana? Melamar beasiswa itu hampir sama dengan melamar istri dan melamar pekerjaan. Yang dilamar tentu saja ingin melihat potensi dan keseriusan kita. Bagi seorang kandidat beasiswa, memperkuat profil ini dapat dilakukan dengan cara berkiprah atau berkontribusi di area yang memiliki relevansi dengan bidang atau profesi kita. Contohnya adalah publikasi karya tulis (jurnal, surat kabar, dsb), pencapaian prestasi, keterlibatan dan partisipasi dalam organisasi profesi, volunteering¸ dan lain-lain. Pengalaman pribadi saya, penguatan profil ini saya lakukan dengan menulis di surat kabar, menjadi voluntary contributor untuk book review di bidang profesi, terlibat dalam organisasi profesi dan masyarakat, yang kesemuanya diramu dan kita pertajam di dalam aplikasi kita. Tonjolkan kiprah dan kontribusi anda, lalu kombinasikan dengan latar belakang dan pengalaman pekerjaan.

4. Prerequisite

Pelajari dengan detail persyaratan-persyaratan beasiswa yang diminta. Penuhi dengan sebaik-baiknya. Pemenuhan persyaratan adalah gerbang awal aplikasi kita, sehingga memenuhi setiap aspek yang disyaratkan adalah wajib hukumnya. Sebisa mungkin penuhi standar atau kalau memang memungkinkan bahkan di atas standar. Bila disyaratkan skor TOEFL minimal 500, maka genapkan kekekuatan anda untuk penuhi syarat itu. Bila diminta 3 surat rekomendasi dari 3 instutusi atau orang yang berbeda, maka sediakanlah walaupun anda harus berjibaku untuk memperolehnya.

Jangan tanggung-tanggung untuk memenuhi persyaratan beasiswa. Bila ada yang menurut anda sangat berat namun dipersyaratkan, usahakanlah. Sebagai contoh pengalaman saya, aplikasi NZAS meminta kita untuk menyiapkan endorsement statement dari pimpinan atau atasan. Yang berlatarbelakang swasta mungkin agak kesulitan, karena jarang perusahaan memiliki kebijakan cuti belajar atau dengan kata lain kita harus mengundurkan diri dari pekerjaan bila diterima beasiswa. Lantas, apakah kita tidak usah melengkapi endorsement statement itu? Oooo… tentu tidak! Sebaiknya jangan dibiarkan kosong karena akan mengurangi bobot dan “keseksian” kita sebagai seorang kandidat. Pasalnya form endorsement berisikan beberapa poin kunci yang dapat memperkuat profil dan aplikasi kita. Strategi saya adalah tetap meminta endorsement dari perusahaan dengan melengkapi detil terkait di form aplikasinya. Walaupun pada akhirnya kita akan mengundurkan diri, bukan berarti perusahaan tidak dapat memberikan endorsement, apalagi kalo kita punya track record dan prestasi kerja yang bagus yang dapat dimunculkan. Untuk memperkuat, saya menyertakan semacam surat keterangan peluang re-employment. Surat selembar ini menjelaskan bahwa sesudah kita menyelesaikan studi, perusahaan akan mempertimbangkan untuk merekrut kita kembali. Surat ini bukan kontrak dan tidak mengikat salah satu pihak. Namun dari kacamata tim seleksi mungkin akan ada kesan yang berbeda, artinya surat keterangan ini dapat “berbicara” tentang potensi kita.

5. Practice

Salah satu tuntutan dalam menjemput beasiswa adalah berlatih. Kita dituntut untuk melengkapi proses dan persyaratannya dengan banyak-banyak berlatih, misalnya berlatih melengkapi form aplikasi yang berlembar-lembar itu. Ketika kita berikhtiar untuk aplikasi yang kedua, ketiga dan seterusnya, semangat berlatih harus senantiasa mendampingi. Artinya, semangat perbaikan dan continous improvement yang dikedepankan. Kita harus belajar dan mengevaluasi apa yang kurang di tahapan yang pernah kita lakukan di ikhtiar sebelumnya.

Yang TOEFL atau IELTS nya kurang, berlatihlah. Yang hendak dipanggil interview, berlatihlah. Yang hendak menulis proposal penelitian, berlatihlah. Yang hendak menulis personal statement, berlatihlah. Tidak cukup sekali dua kali, tapi asahlah terus kekurangan kita, dengan berlatih.

Pengalaman pribadi saya adalah ketika menjalani tes TOEFL iBT. Ketika pertama kali tes saya dengan gagah berani langsung terjun ke medan laga tanpa persiapan. Walhasil, saya “sukses“ meraih skor yang ala kadarnya. Saya sadar saya sebenarnya bisa mendapatkan skor yang lebh tinggi. Kegagalan saya adalah karena kurang persiapan, kurang berlatih. Seorang sahabat membantu meminjamkan CD soal-soal TOEFL iBT. Saya lahap dua bulan sebelum tes TOEFL iBT kedua kalinya. Alhamdulillah, saya berhasil menaikkan skor dengan cukup signifikan bahkan melampui target. Jadi, apapun kekurangan anda yang bisa menjadi kendala dalam menjemput beasiswa, taklukkanlah dengan berlatih.

6. Prayers

Berdoa adalah tahapan yang akan melengkapi proses penjemputan beasiswa kita. Sebagai makhluk yang penuh keterbatasan, sesungguhnya kita sangat diminta untuk memohon kepada Sang Pencipta. Bagi yang muslim, sholat wajib dan shalat tahajud, serta puasa bisa menjadi sarananya. Berdoa juga menjadi kesempatan untuk menenangkan diri, khususnya ketika kegagalan demi kegagalan mewarnai ikhtiar kita. Berprasangka baiklah pada sang Khalik, karena Dia yang tahu apa yang terbaik buat kita. Mungkin Dia sedang menyiapkan beasiswa yang paling tepat buat kita, dan itu mungkin bukan beasiswa di ikhtiar kita yang telah gagal diusahakan sebelumnya. Artinya, kita wajib berjuang terus. Kita wajib menyingkap rencana-Nya.

 7. Parents

Restu dan doa orang tua adalah barokah. Dalam proses penjemputan beasiswa, utarakanlah niat anda kepada orang tua. Mintalah restu dan dukungan dari mereka. Mohonkan kepada mereka, agar senantiasa mengingat kita di setiap doa-nya. Cita-cita yang ingin saya capai, usaha apa yang telah saya jalani, serta kegagalan demi kegagalan yang saya hadapi senantiasa saya bagi ceritanya dengan orangtua. Walaupun non-teknis, dukungan dan doa dari orang tua menurut saya adalah salah satu kunci keberhasilan penjemputan beasiswa saya.

8. Philanthropic

Sisihkan dari yang kita punya. Berbagilah dengan apa yang anda miliki. Seorang sahabat pernah bilang, “the more you give, the more you receive”, semakin banyak yang anda beri, sejatinya semakin banyak yang akan anda terima. Ini bukan berarti kita tidak ikhlas. Berbagi dengan harapan agar keinginan dan cita-cita kita dimudahkan menurut saya sah-sah saja. Berbagi dalam bentuk berderma adalah keutamaan, dan dapat juga ditambahkan dengan bentuk-bentuk yang lain, misalnya volunteering atau berbuat kebaikan pada sesama. Saya selalu percaya, kebaikan mendatangkan kebaikan.

9. Perseverance

“Siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan berhasil”. Man jadda wajada. “Mantra” ini sangat popular di kalangan pejuang beasiswa. Namun pertanyaannya, seperti apakah perwujudannya? Salah satunya adalah sikap anda dalam menghadapi kegagalan. Mungkin sudah banyak cerita yang anda dengar, kegagalan demi kegagalan yang dialami sebelum seorang pejuang beasisiwa meraih impiannya. Ada yang sampai mencoba 5 kali, 9 kali, 11 kali bahkan hingga 13 kali. Maka ketika saya baru gagal 4 kali, seorang sahabat, kebetulan ia yang berikhtiar hingga 13 kali ini memotivasi saya, bahwa perjuangan saya belum apa-apa dibandingkan dia. Ketika mendengar ia telah mencoba hingga 13 kali sampai akhirnya berhasil, seketika semangat dan energi saya semakin membuncah. Saya menjadi kian terlecut untuk terus berjuang. Bahkan saya berikrar, saya akan terus berikhtiar bahkan kalau perlu hingga mencapai batas umur pendaftaran.

Dalam pengalaman saya, seandainya saya berhenti dan meyerah di ikhtiar yang ke 8, maka bisa-bisa saya tidak jadi berhasil. Karena ternyata beasiswa saya “disiapkan” di ikhtiar yang ke 9. Jadi berhati-hatilah, pikirkanlah kembali kalau anda ingin menyerah. Jangan-jangan beasiswa anda sudah di depan mata. Apakah berarti untuk mendapatkan beasiswa harus gagal dulu? Ooo…, tidak mesti. Banyak juga teman saya yang baru pertama kali berikhtiar beasiswa langsung berhasil. Beasiswa itu rahasia ilahi. Yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar dan berjuang. Kita harus gigih. Kegigihan itu artinya pantang menyerah, kawan!

Demikian cerita yang dapat saya bagi dari pengalaman saya menjemput beasiswa NZAS dari pemerintah Selandia Baru. Semoga 9P ini dapat menjadi kunci rahasia untuk mejemput beasiswa anda. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi.

Salam dari the City of Sails!

Komentar di Posting “Mardian Marsono: “9P: Rahasia Menjemput Beasiswa”

  1. Terima kasih atas informasinya, sangat menginspirasi dan bermanfaat sekali kawan, oa boleh minta email atau Contact personnya kawan? saya pengen share lebih jauh tentang beasiswa ke luar negeri karena saya pengen banget dapat beasiswa S2 ke luar negeri kawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>