Dibaca: 5,837 kali    Komentar: 12  

Kartika Sari: “Kata-Kata itu DOA”

Dahuluuuu sekali, waktu saya ikutan lomba menulis novel yang diselengarakan oleh salah satu penerbit buku, dalam benak saya tertanam keinginan yang sederhana saja. Dan ini selalu saya katakan kepada teman atau keluarga,”Nggak mengharap menang kok, bisa diterbitkan saja saya sudah bersyukur!” Entah itu karena saat itu saya sangat rendah hati atau memang tidak percaya diri, hehehe…

 Dan yang terjadi, satu minggu sebelum hari pernikahan saya, mbak Bene dari penerbit Puspaswara menelepon untuk mengabari bahwa novel saya, walaupun tidak menang, tapi layak untuk diterbitkan. Persis seperti apa yang selalu saya pikirkan dan katakan selama ini! Sampai sekarang saya masih ingat betapa girang dan bahagianya saya saat itu. Apalagi saat mendapatkan kiriman kontrak serta sample novelnya. Delapan eksemplar novel langsung saya bagikan kepada keluarga dan teman dekat, sampai saya lupa untuk menyimpan untuk diri sendiri (baca: RaNo rada_norak). Tapi untunglah novel saya itu diterbitkan lagi untuk edisi ke-2, sehingga saya masih bisa menyimpan satu kopi untuk koleksi pribadi.

 Begitu pula halnya dengan kuliah ke luar negeri. Dari sewaktu saya masih berjibaku dengan tugas akhir S1 di FMIPA Biologi Universitas Sriwijaya, saya sudah berkeinginan dan bermimpi untuk melanjutkan studi lagi. Tidak sekedar melanjutkan studi, tapi studi ke luar negeri. Saat itu yang saya impikan adalah London, Inggris. Tiap kali berbincang dengan kakak tingkat atau teman seangkatan yang juga berhasrat sama, saya pasti menyempatkan untuk menyebut-nyebut harapan saya itu. Saat itu tanpa sadar saya telah berbagi mimpi kepada orang lain sekaligus berdo’a secara tidak langsung.

 Mimpi itu tidak langsung terwujud memang, tapi dia tidak pernah hilang dari benak saya. Setamat kuliah, saya sempat bekerja kontrak dengan salah satu bimbingan belajar selama 3.5 tahun sebelum akhirnya diterima sebagai PNS Dpk di Kopertis Wilayah II pada FKIP Universitas Muhammdiyah Metro. Dari awal saya menjadi dosen, seorang rekan sefakultas sekaligus sesepuh UM Metro (kalau boleh dibilang begitu), Dr. Agus Sutanto, yang sangat saya kagumi dan hormati ketulusan hatinya, terus menyemangati saya untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Beberapa kali beliau menyodorkan form beasiswa ADS sambil berkata”, Pokoknya salah satu dosen Biologi UM Metro harus ada yang tamatan luar negeri!”. Karena merasa saat itu saya masih dosen baru, saya belum berani mengambil tindakan apa-apa. Formulir-formulir beasiswa cuma saya baca-baca tanpa pernah saya isi. Tapi mimpi saya tetap ada.

 Mimpi itu terpercik menyala saat Prof. Dr. Marzuki Noor, yang saat itu menjabat sebagai Rektor UM Metro, membuat rencana kegiatan untuk menyiapkan dosen-dosennya melanjutkan studi ke luar negeri. Berbekal link yang sangat baik dengan PP Muhammadiyah serta DIKTI, beliau mengantongi informasi berharga mengenai jadwal tes beasiswa S2/S3 DIKTI. Maka beliau mengirimkan dosen-dosen UM Metro untuk latihan TPA (Tes Potensi Akademik) ke pulau Jawa, bahkan memanggil guru privat dari EF (English First) Bandar Lampung untuk menyiapkan kami menghadapi tes tersebut. Sudah lama tidak mengenyam bangku kuliah lagi, membuat saya merasa terpacu dan bersemangat untuk belajar.

 Di pertengahan masa persiapan itu, saya ditimpa musibah. Saya mengalami keguguran saat calon anak ke-2 saya berusia 1 bulan lebih. Untunglah dokter mengatakan tidak ada komplikasi apa-apa dan bayinya gugur keseluruhan, sehingga tidak perlu dikuret lagi. Tanpa menjalani masa bedrest lagi, saya langsung masuk dan tetap mengikuti kuliah keesokan harinya. Sari Fortuna, salah satu tentor dari EF bertanya mengapa saya tidak istirahat dulu saja. Saya bilang saat itu,” Di rumah saja hanya akan membuat saya melamun dan semakin berduka. Saya butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian saya.

 Alhamdulillah, Allah yang mengambil, Allah juga yang mengganti. Setelah mengikuti ujian TPA dan TOEFL yang diadakan DIKTI di Palembang, saya dinyatakan lulus dua-duanya. Hmmm…. seingat saya, di antara banyak universitas negeri yang mengirimkan peserta, tidak banyak universitas swasta yang turut mengirimkan utusan. Beberapa rekan dosen dari PTS di Palembang pun sempat mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai ini. Saya jadi turut bangga bahwa walaupun universitas kami bukan universitas besar di tengah ibu kota provinsi, tapi tetap dapat mengikuti perkembangan. Memang sangat menguntungkan jika memiliki Rektor yang peduli dan memiliki jaringan yang luas. Satu hal lucu yang masih saya ingat, saat itu nama saya justru tidak terdaftar sebagai salah satu peserta! Tapi berhubung ada satu teman saya yang tidak bisa hadir, maka saya dapat menggantikan nomor ujian beliau. Ada saja hikmah yang terjadi karena Allah yang mengatur!

 Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya termasuk ke dalam peserta yang lulus. Untuk itu saya harus mengikuti pelatihan bahasa Inggris di ITB (Institut Teknologi Bandung) selama kurang lebih 4 bulan. Pada awalnya beberapa rekan, bahkan saya sendiri, sempat meragukan apakah saya bisa mengikuti pelatihan itu, mengingat untuk itu saya harus berpisah dari suami dan putri sulung saya yang saat itu belum lagi berusia dua tahun. Tapi suami saya mendukung dan mensupport penuh. Peluang berharga tidak datang dua kali, katanya. Maka jadilah saya berangkat ke Bandung. Berat memang, jauh dari keluarga. Tapi saya menyibukkan diri dan menikmati belajar kembali. Satu atau dua kali sebulan saya sempatkan untuk pulang ke Metro, atau suami yang gantian mengunjungi saya.

 Belajar bahasa Inggris nonstop dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore setiap Senin-Jumat juga bukan hal yang mudah. Rasanya saat itu saya sudah mau muntah-muntah saking bosannya. Tapi untunglah rekan-rekan sekelas saya yang berasal dari berbagai universitas menciptakan suasana yang selalu menyenangkan di kelas. Mereka betul-betul sahabat-sahabat yang luar biasa yang kini menjelma seperti keluarga. Walaupun tidak semua, namun sebagian dari kami sudah bertebaran di berbagai penjuru dunia untuk melanjutkan studi.

Ternyata, ikut pelatihan bahasa di ITB bukan menjadi jaminan bagi kami untuk memperoleh beasiswa DIKTI! Saat itu kenyataan ini sempat membuat saya shock dan patah hati. Bayangkan, bagaimana perasaan saya dan keluarga, jika setelah bersusah payah selama ini, ternyata ujung-ujungnya tidak jadi bersekolah ke luar negeri? Untung saja sebelum berangkat ke Bandung saya tidak mengadakan kendurian yang mengundang orang sekampung!

Berbekal “takut malu” itulah, maka saya berusaha sekuat tenaga untuk berhasil pada test IBT (Internet Based TOEFL), yang Alhamdulillah memenuhi syarat minimal IBT dari beberapa universitas yang saya tuju. Di awal cerita saya menyebutkan London sebagai kota impian saya. Namun, karena banyaknya agen pendidikan di Bandung yang menawarkan kemudahan birokrasi untuk kuliah si Australia, maka jadilah saya tergoda untuk membelokkan haluan. Flinders University menjadi tujuan saya, mengingat Adelaide adalah kota yang lebih terjangkau biaya hidupnya. Posisi Flinders University yang tidak di tengah kota pun mendukung suasana belajar.

 Sesudah mendapatkan LOA, saya mengirimkan berkas pendaftaran ke DIKTI, dan Alhamdulillah lulus untuk mengikuti ujian wawancara. Tak lama dari pengumuman gembira itu, Allah kembali menghadiahi saya dengan kebahagiaan lain. Saya kembali mengandung untuk ke-3 kalinya. Saya sempat bingung, karena menurut rumor yang beredar,wanita hamil tidak diperbolehkan untuk berangkat studi ke luar negeri. Saya sempat bimbang, apakah kabar ini harus saya informasikan ke pihak DIKTI atau tidak. Beberapa teman menyarankan jangan, tapi ada juga yang mengatakan iya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan ke depan.

Begitu akhirnya saya lulus tes wawancara, saya membulatkan diri untuk melapor. Saat itu, pihak DIKTI (seperti yang diduga dari awal) menolak. Dengan alasan bahwa konsentrasi saya bisa terganggu, DIKTI tidak memberikan cuti hamil, DIKTI tidak menanggung biaya melahirkan, dan sebagainya. Berkeras hati saya katakan bahwa saya sanggup melanjutkan studi walaupun sambil mengandung. Saya juga tunjukkan berkas yang menunjukkan bahwa pihak OSHC Worldcare (asuransi kesehatan untuk mahasiswa internasional di Australia) menanggung biaya selama hamil dan melahirkan. Bahkan Rektor saya sempat membuatkan surat keterangan bahwa, jika dibutuhkan,  semua biaya kehamilan dan melahirkan akan ditanggung oleh pihak UM Metro.

 Pihak DIKTI akhirnya memutuskan bahwa keberangkatan saya harus ditunda sampai dengan Februari tahun berikutnya, sampai saya selesai melahirkan. Bersedih hati, saya akhirnya menerima keputusan itu, dengan harapan akan ada hikmah yang saya peroleh. Sehari sebelum saya meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Metro, DIKTI memanggil saya dan mengabarkan bahwa berhubung bulan Februari itu sudah berbeda tahun anggaran, maka keberangkatan saya harus ditunda (lagi) ke bulan Juli tahun depan! Lengkap sudahlah kekecewaan saya saat itu. Menguraikan air mata, saya jelaskan bahwa saya tidak bisa menunggu sampai Juli tahun depan. Hasil tes TOEFL saya sudah akan berakhir di bulan itu. Belum lagi waktu yang terbuang selama saya menunggu kepastian dari DIKTI. Saya bahkan sudah melewatkan dua kali tes BPPS hanya karena menindaklanjuti beasiswa ini. Maka saya putuskan saat itu, lebih baik saya mundur saja.

 Namun yang pasti, Allah Maha Menggerakkan hati dan Maha Membolak-balik segala sesuatu. Setelah dirapatkan kembali, entah karena iba atau karena sebab yang lain, akhirnya saya dizinkan untuk tetap berangkat sesuai dengan jadwal sebelumnya! Subhanallah… langsunglah air mata saya berganti dengan senyum yang cerah ceria.

 Singkat kata, berangkatlah saya ke Adelaide, South Australia. Saya masih ingat kata-kata paman saya yang saat itu juga sedang melanjutkan studi di Flinders University, Amrullah M.Ed, setibanya kami di rumah beliau,“Sekarang sudah kalian jejakkan kaki di bumi Australia. Itu berarti memang  sudah rezeki kalian. Terlepas dari kesulitan apapun yang dulu menghalangi sebelum berangkat, kalau memang sudah ditakdirkan menjadi rezeki kalian, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya.” Maka saya jalanilah dengan penuh syukur rezeki yang dikaruniakan Allah kepada saya ini. Walaupun dalam kondisi hamil, tidak menghalangi saya untuk mengikuti studi. Alhamdulillah Allah mempermudah proses kehamilan saya yang ke-3 ini. Menjelang due date saya melahirkan, suami dan putri sulung saya menyusul ke Adelaide. Sungguh Allah maha mengatur, putri ke-2  saya yang seharusnya lahir bertepatan dengan ujian semester, justru lahir di saat liburan semester! Nilai-nilai yang saya peroleh pun Alhamdulillah tidak mengecewakan. Dan itu semua tidak terlepas dengan pengorbanan suami dalam mempermudah saya membagi waktu antara kuliah dan rumah tangga. Kerja sama yang baik memang sangat dibutuhkan bagi para student yang membawa keluarga sambil studi.

 Saat ini saya telah memasuki semester terakhir dan tengah mengerjakan Final Project untuk Thesis saya. Dari segi ilmu, saya yakin teman-teman yang melanjutkan studi di dalam negeri pun tidak akan kalah. Namun, tidak saya pungkiri, ada begitu banyak sekali hikmah dan pengalaman baru yang saya peroleh karena saya bersekolah di luar negeri. Mulai dari melihat perkembangan bahasa anak saya yang sekarang sudah sangat fluent dalam ber cas-cis-cus (bahkan dia mengoreksi saya jika pronounciation saya salah!), wawasan yang bertambah karena tinggal di negeri multikultural, kemampuan bahasa yang terasah, merasakan enaknya fasilitas publik di negara maju, merasakan bagaimana bedanya layanan kesehatan terhadap ibu hamil sampai dengan melahirkan di luar negeri, bahkan sampai kemampuan memasak yang kian terampil. Hikmah yang terakhir lebih dikarenakan tuntutan Indonesian food craving yang tidak bisa ditemui di pinggiran kaki lima sebagaimana di Indonesia tercinta…hahahaha…

 Buat teman-teman yang masih menyimpan mimpi untuk berangkat studi ke luar negeri, jangan biarkan mimpimu hanya mengendap di sudut hati yang paling dalam. Sering-sering diucapkan, karena dapat menjadi doa yang kita panjatkan secara tidak langsung kepada Allah SWT. Jangan putus asa jika doa itu tak segera terwujud, karena yakinlah Allah yang Maha Tahu waktu yang paling baik untuk kita. Seperti yang tengah saya lakukan saat ini, menyebut-nyebut mimpi baru saya, untuk dapat kembali lagi ke Adelaide (atau di belahan bumi manapun itu), untuk melanjutkan studi S3 nantinya. Aamiin…ya Robbal…alamiiin….

12 Komentar di Posting “Kartika Sari: “Kata-Kata itu DOA”

  1. makasih batas kisah inspiratifnya…bener2 memacu semangat sy. apa lagi saya selama ini sering bermimpi tapi sering juga mimpi itu gk keperhatiin. jadi lemah n bahkan sering juga psimis…. sy juga minta do’anya dari semua biar saya bisa mendapat beasiswa2 seperti yang banyak orang dapatkan…

    :) :) :)

  2. Baca tulisan ini bikin merindinggg… Ucapan adalah doa, semoga saya bisa seperti Mbak utk kuliah di luar negeri. Selalu berkarya dan menginspirasi yaa :)

    • amien…. semoga bias ikutan ke LN juga :)
      insya allah sy akan trs berkarya. sekarang masih menyusun buku pengalaman 2 thn di OZ itu :)

  3. mau tanya:
    1. Berapa yaa yg stipen didapat dari dikti?
    2. Mba Sari bawa anak dan suami, emang cukup stipen nya?
    3. Saya seringkali membaca bhw stipen dikti itu selalu terlambat 3 s/d 6 bulan. Bgm cara mba mensiasati kesulitan ini di luar negeri?

    Terima kasih

  4. sy coba jwb sesuai pengalaman sy ya. rekan lain mungkin punya solusi yg berbeda.

    1. stipen tergantung Negara yg dituju. biasanya disesuaikan dgn pengeluaran single di Negara tsb. di OZ jaman sy per bulan menerima $1750. sgt cukup bagi single, bias menabung jika berhemat.

    2. karena sy bawa keluarga, tentu stipen di atas tdk cukup. pengeluaran per bulan utk keluarga bs mencapai $2200/bulan. pengeluaran bs dihemat jika mau sharing house dan tdk sering2 belanja :) solusinya, suami sy dan sy juga harus bekerja utk menutupi pengeluaran. kebetulan di OZ visa student merangkap visa kerja.

    3. Betul sekali. menurut dikti itu bukan terlambat, melainkan menyesuaikan dgn tahun anggaran. biasanya kita menerima per 6 bulan sekali. utk bulan jul-des biasanya turun bulan agt. utk bulan jan-jun yg akan telat, turun sekitar april (bulan RAPBN). solusinya? sy mengantisipasi dgn mengajukan pinjaman tiap bulan desember pada univ tempat sy bekerja utk stipen jan-apr. berhubung dana beasiswa dicairkan lewat univ, maka saat dana cair, pihak univ bs langsung memotongnya sebesar pinjaman sy tsb.

    semoga bs mencerahkan :)

  5. Membaca pengalaman ibu kartika, membuat hati saya spontan berkata, betapa bahagianya dapat suami yang pengertiandan selalu memberikan motivasi pada istrinya untuk mewujudkan impiannya. Senangnya juga klo saya dapat kesempatan hal yang sama dengan ibu, suatu hari nanti. Bu, saya belum merried. Tolong do’akan ya bu.. Semoga Allah SWT beri suami yang pengertiandan selalu memotivasi saya untuk mewujudkan impian saya.. Tahun ini saya akan coba mendaftar.Thank u very much Mrs n good luck..

  6. mba nanya donk. pas mau berangkat pake medical check up gak? kan untuk dapetin visa harus ada Rontgen paru kan ya. nah waktu itu kan mba hamil gmn tu cerita nya. soalnya saya di tolak karna masi trisemester pertama dan nungguin usia kandungan 4-6 bulan. trus kira2 untuk bisa di cover asuransi lahirannya ada syarat khusus gak ya. misal harus stay min 4 bulan sebelum kelahiran dll. mohon pencerahanya :D

  7. tempo hari mmg agak ribet medical check upnya. krn gak bisa dirontgent,maka sy harus ngumpul hsl rontgent setahun terakhir (yg untungnya sdh sy lakukan sblm sy hamil). kmdn di OZ sy wajib rontgent ulang setelah melahirkan. sy dihubungi dan bikin appointment dg chest clinic di sana.
    kalo soal asuransi, sy sempat nanya lgsg sama petugas asuransinya (pas mereka sdg beri pengarahan ke mhs baru). kt mereka, selama masa berlaku visa yg kita pegang lebih dari 3 bulan, maka otomatis biaya melahirkan akan dicover oleh asuransi, tanpa masa tunggu.
    cuma sy gak tahu, apakah sekarang masih berlaku peraturan yg sama atau nggak, mengingat dulu sempat tersebar rumor kalau melahirkan bakal tdk dicover lagi. lebih baik ditanyakan dulu dengan asuransinya lgsg (bisa via websitenya atau minta ditanyakan lewat agensi yg mb putri ikuti).
    semoga info ini membantu :)

  8. Hi mba, mau tanya pada saat kuliah di aussy dengan beasiswa dikti apakah anak2 di sana bisa bersekolah atau masuk childcare? Apakah stipennya cukup? Tq

    • hai, mb ina. karena sy dikti, tidak dpt tunjangan untuk childcare, jd anak saya dimasukin public school, pasadena kindergarten, dan itu free. dulu peraturannya, kalau ambil phd, dapat tunjangan untuk sekolah, gak tau kalau sekarang. mudah2an masih bisa, d bayarannya lumayan murah.
      stipend cukup kalau kita gak bawa keluarga, tapi kabarnya dikti skrg sdh ada tunangan keluarga ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>