Dibaca: 2,917 kali    Komentar: 1  

Matlal Fajri Alif: “Berprasangka baiklah kepada Allah”

I may not have gone where I intended to go, but I think I have ended up where I needed to be.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (Al-Baqarah: 216).

Demikianlah potongan ayat yang kadang sering saya renungkan dengan keadaan yang sering saya alami, kawan. Ayat ini juga menjadi penghibur saya ketika saya menghadapi suatu masalah. Kali ini saya berusaha menghubungkan ayat ini dengan cerita ”terdamparnya” saya ke negri Nihon ini.

Semenjak kecil saya selalu mempunyai impian untuk pergi ke Inggris. Hal itu mungkin disebabkan saya sangat suka dengan pemandangan alamnya yang sering saya lihat di televisi, buku dan majalah dan juga karena saya sangat menyukai music Celtic.

Setiap kali saya mendengarkan lagu Celtic saya sering membayangkan berdiri di daerah perbukitan Skotlandia melihat pemandangan matahari terbit. Serasa ada sesuatu yang mistis dalam setiap alunan nada suling pan flute dan petikan dawai harpanya. Tak heran kedua alat musik ini sering dipakai dalam film epic (kolosal). Sebagai contoh, film Titanic dan Braveheart soundtracknya menggunakan pan flute. Mungkin kawan bisa mendengarnya dalam nyanyian mbak Celine Dion dalam lagunya yang sangat terkenal “My Heart Will Go On”. Demikian juga dengan harpa, instrumen
ini sering diidentikan dengan instrumen para dewa dewi dalam mitos-mitos Eropa.

Karena hal-hal inilah yang membuat hati saya semakin bersemangat untuk melihat lebih dekat daerah dimana dulu William Wallace, tokoh dalam film Braveheart, pernah hidup dan menimba ilmu dari keturunan para Druid yang pada masanya sangat disegani dan ditakuti. Dalam sejarah kerajaan Britania Raya tercatat sebagai imperium yang terluas daerah kekuasaannya dan pernah menguasai 1/5 penduduk bumi.

Berbekal mimpi serta dengan pelajaran bahasa Inggris yang saya serap dari para guru di SMP dan SMA saya memberanikan diri untuk melakukan test TOEFL harakiri tanpa persiapan. Alhamdulilah test pertama tidak begitu mengecewakan. 535! Lumayanlah. Mungkin ini juga karena modal bahasa Prancis yang saya miliki. Loh apa hubungannya bahasa Prancis dengan bahasa Inggris? Mungkin banyak yang tidak tau kalau bahasa Inggris pada zaman dulunya cikal bakalnya berasal dari bahasa Prancis. Tidak heran kosakatanya banyak yang mirip dan tidak heran pula sekarang orang Prancis yang tidak mau memakai bahasa Inggris. Jangankan memakai, mempelajari pun mereka malas karena ke-ego-an bangsa Prancis. Dulu bahasa mereka, yang konon yang paling romantis di dunia, merupakan bahasa Lingua Franca sebelum akhirnya diambil alih oleh bahasa Inggris.

Singkat cerita mendekati kelulusan masa S1, saya berusaha untuk mencari peluang untuk melanjutkan studi ke negri Sir Isaac Newton. Di tengah pencarian itu tiba-tiba datang tawaran beasiswa Monbusho (beasiswa ke Jepang). Aneh! Kenapa tiba-tiba ada tawaran ke tempat yang selama ini tidak pernah saya “lirik”. Bahasanya pun, waktu itu, saya malas mendengarnya, kesannya tidak elegan. Soal tulisannya,jangan tanyakan lagi, bikin pusing!

Seperti kata pepatah: Tak kenal maka tak sayang. Mungkin karena ke-awaman saya tentang Jepanglah yang menyebabkan saya tidak pernah ”melirik”. Rasa penasaran kemudian membuat saya untuk mencari segala sesuatu tentang Jepang. Lambat laun saya mulai “terbuka” dengan tanah leluhur para samurai ini.

Iseng-iseng saya memberanikan diri untuk ikutan test. Kebetulan test Monbusho yang saya ikuti ini adalah yang sistem U to U atau University to University. Dari universitas kami hanya akan dipilih 1 orang yang nantinya akan diseleksi dari sekian mahasiswa asing dari universitas asing lainnya. Kami para pelamar akan diwawancara langsung nantinya oleh seorang Profesor dari Jepang. Setelah lulus syarat administrasi, kemudian wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah ternyata dari universitas saya dinyatakan lulus wawancara dan tinggal satu tahap lagi. Tapi pas waktu pengumuman ternyata saya dinyatakan tidak lolos. Waktu itu yang lolos adalah anak dari Cina. Yang membedakan saya dengan dia hanya nilai TOEFL. Saya mendapat kabar kalau dia men-submit nilai TOEFL 600 lebih, tapi ternyata dia nggak lancar-lancar amat bahasa Inggrisnya (baca: ngasih TOEFL aspal). Terus terang saya waktu itu sempat sedih, kesal dan mau marah rasanya. Tapi saya cepat sadar, dan teringat ayat di atas. Karena peluang beasiswa ke luar negeri biasanya hanya sekali setahun, daripada mubazir buang waktu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di dalam negeri saja.

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (Ali Imran 186).

Di tengah perjalanan studi S2 dalam negri pembimbing saya memberikan info tentang beasiswa DIKTI. Beasiswa ini berlaku untuk dosen dan calon dosen. Saya bisa ikut dengan syarat nanti saya bersedia diangkat jadi dosen. Dan yang lebih menarik lagi adalah beasiswa ini kita diperbolehkan memilih universitas dan negara yang kita sukai.

Nah, disinilah kembali saya mendapatkan bukti dan kekuatan ayat Sang Khalik diatas tadi kawan. Saya yang dari kecil amat sangat ingin pergi melihat istana Buckingham, dan juga mempunyai modal bahasa Prancis (yang hampir bisa dikatakan native) dan kenal secara pribadi dengan beberapa profesor disana, entah kenapa jalan saya diarahkan ke Jepang.

Kenapa hal ini bisa sampai terjadi? Kenapa saya tidak memilih Inggris atau Prancis? Setelah saya konsultasi dengan beberapa dosen di jurusan saya (jurusan yang paling banyak PhD-nya di universitas saya, hampir 70% dosen sudah PhD dan 98% tamatan luar) mereka mengatakan: “Eropa secara pendidikan memang sangat bagus tapi lihatlah beberapa orang tamatan Eropa di universitas ini. Setelah tamat mereka seakan-akan terputus dengan Almamater mereka dulu. Amat sulit dan bahkan tidak ada lagi kerjasama dengan mereka. Bandingkanlah dengan tamatan Jepang, coba kamu perhatikan berapa kali mereka kembali ke Jepang dipanggil oleh Prof mereka untuk Post-Doc? Bahkan mereka menyediakan proyek kerjasama penelitian yang banyak”. terus mereka menambahkan: “Jika kamu memang ingin jadi dosen disini, pikirlah jauh ke depan, pikirlah yang bisa memajukan jurusan kita ini”. Dalam hati saya membenarkan kata dosen-dosen saya, saya nggak perlu jauh-jauh mencari contoh. Ayah saya sendiri yang jebolan Prancis tidak pernah mengadakan joint reasearch lagi dengan Almamater beliau. Bukannya tidak ada tawaran, pembimbing beliau dulu pernah menawarkan kerjasama, tapi sayangnya tidak bisa dilakukan di Indonesia saat itu karena tidak ada alatnya.

Kalau pun ada harga alatnya 1 Milyar rupiah dan itu harga di tahun 1991. Beda dengan Jepang, mereka mau menginvestasikan alat dan instrumen kerja.

Dan akhirnya itulah awal saya jadinya memilih kepingan puzzle jalan hidup saya untuk ke Jepang. Dengan bantuan pembimbing saya yang alumnus Nagoya University, akhirnya saya mendapatkan LOA (Letter of Acceptance) dari pembimbing di Jepang. Namun tawaran-tawaran puzzle dalam kehidupan saya tidak hanya berhenti di situ saja.

Setelah saya men-submit beasiswa DIKTI, sebelum pengumuman untuk wawancara diumumkan, Tuhan menguji saya lagi dengan memberikan dua kali kesempatan untuk mengambil kepingan puzzle lain yang mungkin bisa saja merubah jalan cerita hidup saya.

Kepingan puzzle alternatif pertama: Saya mendapatkan tawaran untuk magang ke salah satu perusahaan farmasi terbesar Spanyol selama 6 bulan. Kata pembimbing saya, saya dipilih karena melihat nilai dan kemampuan Inggris saya yang layak untuk hal itu. Namun karena waktu itu penawarannya cuma magang dan bukan sekolah serta pengumuman wawancara beasiswa DIKTI belum pasti akhirnya saya menolak dengan halus tawaran itu.

Kepingan puzzle alternatif kedua: Tidak selang berapa lama setelah itu saya kembali ditawarkan untuk beasiswa S2 ke Italia dengan kemungkinan bisa lanjut sampai ke jenjang S3 juga di Italia. Tetapi selama S2 yang ditanggung cuma uang sekolah. Kembali saya dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Kali ini peluang bukan magang tapi beasiswa! Setelah konsultasi dengan orang tua dan melakukan sholat istiqarah akhirnya hati saya digerakkan Tuhan untuk kembali “menolak” kesempatan ini.

Terus terang saya merasa jadi tidak enak dengan pembimbing saya. Saya takutnya di cap sebagai anak yang sombong dan tidak tau diri karena menolak tawaran untuk belajar.

Singkat cerita setelah melakukan wawancara, 1 bulan kemudian di bulan Oktober, saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah! Saya langsung memberikan kabar ini kepada orang tua saya dan pembimbing di Jepang. Mereka senang mendengarnya dan pembimbing saya sudah mempersiapkan kedatangan saya untuk bulan April. Saya merasa begitu senang karena bisa berangkat ke negri Terbit Fajar. Saya begitu senang karena saya bisa membuat orang tua saya bangga. Saya merasa begitu senang akhirnya saya bisa sekolah dengan mandiri tidak membebankan orang tua lagi.

Namun kembali saya diuji. Pihak DIKTI mengundur pengiriman semua penerima beasiswa selama 6 bulan! Diberangkatkan pada Oktober berikutnya! Saya panik! Calon pembimbing di Jepang pun bingung. Saya masih ingat dengan jelas balasan email pembimbing saya: “This is a serious problem, as you know that in our university, the Academic Year starts from April. I will inform you later”. Selama 1 bulan lebih saya tidak mendapat balasan email apapun dari pembimbing. Selama itu saya tidak tenang.

”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat”. (Al Baqarah : 153).


Akhirnya saya mengambil plan B, saya mau pindah universitas dan pindah negara! Saya nekat! Karena waktu itu DIKTI membolehkan menukar universiats atau negara jika ada terjadi permasalahan. Saya konsultasi dan membicarakan hal ini baik-baik dengan pembimbing, gerilya lagi mencari surat rekomendasi dan LOA. Saat itu Alhamdulillah saya dipermudah oleh Allah. Dalam waktu 2 minggu saya mendapat respon positif dari seorang profesor dari Manchester University, Inggris dan beliau bersedia memberikan LOA.

Hati saya berdebar-debar. Inikah jalan yang selama ini saya impikan? Inikah jalan saya menuju “tanah impian” saya? Manchester University, salah satu universitas prestisius dunia, dengan 25 penerima Nobel, 9 diantaranya adalah Nobel bidang Kimia. Manchester University yang merupakan universitasnya Ernest Rutherford, tokoh kimia yang sangat terkenal. Manchester University yang juga terletak di Manchester, ”sarangnya” Klub sepak bola Setan Merah Manchester United. Pikiran saya sudah melayang nun jauh disana di atas perbukitan hijau Skotlandia, terbang bersama alunan musik Celtic, menari gembira bersama para supporter bola di Old Trafford. Satu langkah lagi menuju UK!

Namun sebelum saya mendapat LOA dari Manchester University di suatu pagi saya melihat nama calon pembimbing di inbox email saya. Dengan gemetar saya mengklik email beliau dan membacanya:

Greetings, I have made some meetings and negotiations with some university staffs, our department will now accept new students who wish to enroll in October. See you in October”.

Spontan saya merasa bengong. Semua terasa berputar. Bagaimana mungkin saya bisa menolak isi email ini. Beliau yang sudah melakukan pertemuan dan negosiasi dengan pihak univeritas untuk mengubah sistem penerimaan mahasiswa hanya untuk menerima saya! Semua impian saya untuk sekolah ke UK saat itu juga.

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar(Al-Baqarah:177)

Dengan amat sangat berat hati dan bersedih akhirnya saya membatalkan keinginan saya untuk bergabung dengan tim labor di Manchester. Yah, mungkin inilah jalan yang diberikan oleh Allah. Saya harus bersyukur dan menerimanya! Allah SWT menjawab do’a kita dengan tiga cara :

  1. Allah berkata “Ya” dan Dia mengabulkan apa yang kita inginkan;
  2. Allah berkata “Tidak” dan Dia akan memberikan kita sesuatu yang lebih baik dari do’a kita;
  3. Allah berkata “Tunggu” dan Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita asalkan kita mau bersabar dan tawakal.

Lalu bagaimana dengan kedua kepingan puzzle yang tidak jadi saya ambil tadi? Ke manakah perginya? Kepingan yang pertama diambil teman saya dan Alhamdulillah berkat magang 6 bulan itu dia berkesempatan mendapat kenalan dengan profesor disana dan kami akhirnya sama-sama mendapat beasiswa DIKTI. Sebentar lagi dia akan meraih doktor dari negeri matador.

Sedangkan keping kedua juga diambil oleh teman saya dan Insya Allah akan menjadi doktor termuda alumni Kimia UNAND. Umur 26 tahun, Insya Allah akan meraih gelar doktor dari negri Menara Pisa.

Karena rezeki kita sudah ada takdirnya. Karena Allah pasti tak pernah salah dengan pembagian rezekinya. Apalagi yang harus kita risaukan? Terus berusaha, berdoa, menerima apa adanya dan bersyukur, adalah lebih indah daripada harus berburuk sangka! Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah cerita tentang bagaimana saya bisa sampai ke Jepang. Walaupun mungkin bukan impian saya tetapi inilah yang terbaik bagi saya. Apalagi ternyata “dia” juga mendapat beasiswa ke negeri yang sama dengan saya. Siapakah “dia”? Uupss! J I may not have gone where I intended to go, but I think I have ended up where I needed to be. (Douglas Adams)

Komentar di Posting “Matlal Fajri Alif: “Berprasangka baiklah kepada Allah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>