Dibaca: 5,321 kali    Komentar: 17  

Robi Kurniawan: “Ke Amerika, meski 3 Tahun Menganggur Tidak Punya Uang untuk Kuliah”

Siapa yang punya mimpi? semua menjawab punya. Siapakah yang punya impian belajar diluar negeri? Tidak semua tapi sebagian besar menjawab punya. Apakah kita sudah bekerja untuk mewujudkan mimpi tersebut? Sebagian besar hanya diam mencoba-coba mengingat sekeras apa mereka bekerja untuk mimpi-mimpi mereka. Inilah sepenggal kisah yang terjadi dalam perjalananku memberikan motivasi beasiswa kepada teman-teman kuliah dikampus.

 Banyak orang bisa bermimpi tapi terlalu “malas” bergerak untuk meraih mimpi tersebut. Banyak orang bermimpi namun enggan meluangkan waktu sejenak untuk menuliskan sasaran yang akan dicapai dan bagaimana cara untuk mencapainya. Ada juga orang yang berjuang namun berhenti ditengah jalan karena tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan. Namun tidak masalah teman, seperti hakikat penciptaan alam dan penghuninya, manusia akan terus berproses. Tentu saja menjadi manusia yang lebih utama. Baiklah teman, akan ku mulai dari kisah ku mendapatkan beasiswa short course IELSP dari IIEF ke Columbia, South Carolina, Amerika Serikat (2009). Sebuah mimpi yang jadi nyata.

Perkenalkan, namaku Robi Kurniawan. Anak ke 2 dari 4 bersaudara dari sebuah keluarga yang sangat sederhana. yang aku tahu ayahku yang seorang nelayan hanya tamat Sekolah Dasar. Sedangkan ibu sang pelita hatiku tidak pernah mengenyam bangku sekolah karena sejak kecil, atas penderitaan hidup, beliau diadopsi oleh sebuah keluarga dan tidak disekolahkan. Begitulah jalan yang beliau tempuh. Namun latar belakang pendidikan orang tuaku tak pernah membuat mereka gentar mengirimkan aku dan saudara-saudaraku ke sekolah. Dengan peluh sebesar biji jagung dan bahkan sampai berdarah-darah pun aku yakin mereka tidak akan menyerah karena yang mereka punya cuma aku dan saudara-saudaraku. Literally, cuma kami yang mereka punya.

Setamatnya dari Sekolah Menengah Kejuruan di Pekanbaru ditahun 2003, keadaan yang begitu memprihatinkan membuatku berpikir secara logis dan realistis. bagaimana mungkin orang tuaku yang berpenghasilan pas pasan mampu mengirim ku ke universitas? apalagi aku dan saudara perempuanku masuk universitas secara hampir bersamaan? Dengan pendapatan orang tuaku dari mencari ikan musiman, aku ragu, aku galau, dan akhirnya memperoleh kesimpulan bahwa aku harus mengalah, AKU TIDAK MAMPU KULIAH!

Kubenamkam dalam-dalam mimpi untuk berkuliah didalam gulungan debu dedak bebek dan tumpukan pelet makanan ikan. Saat itu aku diterima bekerja disebuah toko makanan ternak di daerahku. Pekerjaan yang sangat jauh berbeda dengan jurusan SMK yang ku ambil, yaitu elektronika. Lumayanlah pikirku. yang penting halal. Gaji yang kuterima selain ku gunakan untuk keperluan sendiri, aku juga bisa membantu seadanya ekonomi keluarga, aku akui tidak banyak membantu. Sedikit sekali aku sisihkan, buat kuliah pikirku.

Ditahun 2006, setelah uangku cukup, ternyata aku sudah tahun ke 3 menganggur tidak masuk universitas. artinya, aku tidak dapat masuk universitas negeri terbesar yang ada dikotaku. Namun, aku tidak kehabisan akal. mendapatkan info dari kakakku, akhirnya ku melamar di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. satu-satunya universitas Islam negri yang mau menampungku lewat jalur lokal.

Di UIN Suska, semangatku membuncah. dengan teman-teman yang rata-rata usianya 3 tahun dibawahku, aku terlihat mencolok dari segi motivasi dan kemampuan akademik. entahlah, mungkin itu hanya perasaan subjektifku saja. disana aku berkenalan dengan dengan banyak dosen-dosen handal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa mereka begitu influensial dalam kehidupan akademikku. Salah satunya adalah Ibu Falin. baiklah kawan, tadi aku bercerita tentang sekolahku terdahulu dimana aku mengambil jurusan teknik, jadi Ibu Falin adalah guru bahasa Inggrisku di SMK dan aku bertemu dengan beliau yang telah menjadi dosen dan masuk ke kelasku di UIN Suska.

Pertemuan dengan dosenku yang satu ini menjadi titik balik dalam hidupku. Hal ini terjadi karena beliau pernah bercerita, yang kutahu hanya sekali, tentang bagaimana beliau mampu mendapatkan beasiswa ke Amerika, tidak hanya satu namun dua kali teman! Hatiku berkecamuk cemburu dan sangat termotivasi karenanya. terlebih lagi aku mendapatkan informasi dari beliau, ada salah seorang seniorku juga sudah pulang dari negeri Paman Sam, Mitra namanya. nyesek.

Dan perburuan dimulai. dengan restu orang tua (tentu saja karena uang mereka ku pakai, hehe) di bulan Oktober 2008, aku mengikuti tes TOEFL pertamaku. Serba baru. aku hanya mampu meraih skor 520. Lumayan memang. tapi saat itu ada yang lebih tinggi dariku 540. aku agak minder. Setelah mendapatkan skor TOEFL, mulailah aku menulis aplikasi. Dalam aplikasi, hal yang paling banyak aku angkat adalah bagaimana orang tuaku berjuang untukku dan saudaraku, karena itu bagian

terpenting dari aplikasi. Lalu rencana masa depanku yang kuuraikan sebagai rencana luar biasa untuk meningkatkan sumber daya manusia disekitarku. mungkin berhasil, bisikku dalam hati.

Setelah mengirim aplikasi, datanglah panggilan dari IIEF menyangkut janji wawancara yang akan diadakan disebuah universitas negeri di kotaku. Pikiranku melayang. Aku gemetar. Baru pertama kali diwawancarai membuat aku tidak tidur memikirkannya. Di hari wawancara tersebut, aku bersama 10 orang lainnya dari tiga universitas besar di Pekanbaru diwawancarai. kuperhatikan memang

rata-rata mereka mahasiswa yang paling outstanding dikampusnya masing-masing. kami dipanggil dan diminta masuk satu persatu.
Tiba-tiba aku sangat berani, tak gentar sedikitpun kujawab semaksimal mungkin apa yang ditanyakan. Mulai dari rencana masa depan hingga pertanyaan yang berhubungan dengan logika. aku lalap saja. dan semuanya berlalu dan aku tidak mau mengingat-ingat lagi apa yang terjadi.

Bulan Desember 2008, disebuah siang yang panas, saat aku lagi asik mengetik disebuah rental komputer yang cukup jauh dari rumahku, hapeku berbunyi, kulihat nomor dari jakarta (021).suara: “ini dengan Robi Kurniawan?” aku: “betul mas” (karena logatnya jawa). Suara: “kamu rencana tamat kuliahnya kapan?” aku: (bingung) “insyaAllah tahun 2010 mas”.(aku masih bingung) Suara: “selamat ya dek, kamu lulus ke Amerika, persiapkan passportmu”. aku: (luluh mengucap Hamdalah berulang-ulang). Tak lupa kuucapkan terima kasih. aku pulang.

Sesampainya dirumah kulihat ibuku yang lusuh dengan arang tercoreng ditangannya penuh keringat karena memasak ditungku. Aku ucapkan salam. Kulihat matanya. Teduh namun penuh derita. aku peluk ibuku kuat-kuat. Beliau heran karena aku tumpah menangis. Ibuku terkejut. “Aku lulus beasiswa ke Amerika mak,” seruku diantara sedan. “Alhamdulillah naaak”, ibukupun menangis, kupeluk wanita kecil yang tidak sekolah itu sekuat-kuatnya.

17 Komentar di Posting “Robi Kurniawan: “Ke Amerika, meski 3 Tahun Menganggur Tidak Punya Uang untuk Kuliah”

  1. ceritanya sangat memotivasi , aku sekarang anak smp dan aku juga punya mimpi untuk dapat beasiswa ke luar negri jika lulus SMA nanti terutama amerika serikat .. dan itu adalah mimpi yang sangat ku damba-dambakan

  2. Wow… mengharukan sekaligus membanggakan mas ceritanya,
    cocok buat temen2 yang lagi berjuang buat beasiswa jg! :)

    semoga semakin banyak anak bangsa indonesia yg bisa mendapatkan beasiswa agar bisa berbagi ilmunya nanti saat plg ke tanah air!

  3. makasih buat cerita pngalamannya mas. memotivasi aku bnget untuk lebih brusaha mendapatkan scholarship. saat ini aku mau lulus smp mau nyari scholarship sma diluar negri. mohon bantuannya mas

  4. wahh,, sangat menginspirasi sekali, aku juga pengen bisa dpt beasiswa di luar negeri. kak, bisa minta email n fb nya donk, baig2 infonya.

  5. mas.saya minta alamat mas dong yang bisa dihubungi?please mas ,saya juga mau mas,tolong mas kasih saran mas.itu impian saya mas bisa kaya mas..please mas respon saya,saya tunggu ya mas ,tolong bgt mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>