Dibaca: 9,379 kali    Komentar: 25  

Sukmahadi: “Kisah Anak Pelosok Desa Sulawesi Meraih Beasiswa 2 Negara”

      Saya adalah sang pemimpi yang mempunyai karakter tidak gampang menyerah. Dilahirkan di Kec. Karossa Kab. Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), anak keempat dari tujuh bersaudara, serta hanya saya yang bisa menginjakkan kaki di Perguruan Tinggi. Kadang orang memanggilku Hadi ada juga yang memanggilku Sukma dan itu tak masalah bagiku, nama lengkapku Sukmahadi.

 Jika mengingat masa lalu mungkin saya tak sanggup membayangkan betapa susahnya duduk di bangku sekolah di tengah himpitan  ekonomi hingga meraih beasiswa ke Luar Negeri. Berikut langkah ceritaku dimulai menuju impian di tanah Negeri Seribu Benteng, Maroko.

           Masih sangat teringat dalam memoriku, betapa banyak sekolah yang saya duduki selama menempuh studi, dari sekolah ke sekolah yang lain. Sekolah Dasar (SD) saja saya harus menduduki 5 sekolah. Ini terjadi karena orang tua selalu hijrah dari desa ke desa yang lain agar bisa menafkahi anak-anaknya,  mereka rela bercocok tanam (bertani) dari tanah milik sendiri sampai menggarap tanah milik orang lain. Sulawesi Barat, provinsi ini terdapat berbagai macam suku, ras, bahasa, diistilahkan dalam ilmu sosiologi multikultural, bahkan masih banyak hutan rimba yang belum terkelola. Saya dan adik-adikku setiap hari menempuh hutan rimba yang kadang terjatuh dari sepeda kerena jalannya penuh dengan rumput ditambah lagi ukurannya yang sangat kecil selebar 15 cm maklum  jalan menuju ke kebun, sebab kami tinggal di sebuah gubuk jarak perjalanan kami menuju desa (ke sekolah) sekitar 10 KM. Namun waktu demi waktu roda kehidupan berjalan, dan Alhamdulillah pada tahun 2002 penulis berhasil menyelesaikan sekolah dasar.

                 Niat penulis sangat kuat untuk melanjutkan studi, namun takdir berkata lain, tahun 2002 terjadi perang suku, sebut saja suku Mandar dan Palopo sebagian rumah-rumah keluarga kami ikut menjadi pembakaran amuk massa. Dengan musibah ini kami pindah ke Kab. Polewali Mandar masih dalam kawasan Sulbar, jarak Kab. Mamuju (tempat kami tinggal) menuju Kab. Polewali Mandar sekitar 8  jam dengan menggunakan Bus. Ayah dan ibu sudah kewalahan mencari nafkah, untungnya masih banyak keluarga kerabat yang baik hati membantu di Kabupaten ini sebab kabupaten ini merupakan tanah kelahiran ayah, dengan demikian ayah memilih menjadi pembuat gula aren kata wong jowo (orang jawa) gula merah dalam bahasa Indonesia. Sebagai dampak musibah ini saya tidak bisa melanjutkan studi ke jenjang madrasah tsanawiyah (SMP) disebabkan himpitan ekonomi. Selama setahun penulis hanya bisa membantu profesi orang tua membuat  gula aren.

                 Di tahun 2003 terdengar kabar bahwa ada sebuah yayasan pesantren yang baru saja berdiri dan mambutuhkan santri secara cuma-cuma alias gratis, sebut saja Pondok pesantren Al-Ihsan Kenje Kab. Polewali Mandar. Hati dan jiwa raga ini bahagia dan gembira akhirnya saya bisa melanjutkan studi. Di sekolah inilah saya dididik oleh seorang kyai pimpinan pondok. Seiring berjalannya waktu usiaku semakin bertambah membuatku selalu berpikir dewasa bagaimana meraih prestasi yang memuaskan. Kata bang haji Rhoma Irama ‘’darah mudah darah berapi-api”, sudah dua tahun penulis duduk di ponpes ini namun tidak merasa puas dengan apa yang saya dapat sehingga memutuskan untuk pindah dari satu pondok ke pondok yang lain tanpa sepengetahuan orang tua sebab orang tua hanya tahu bahwa anaknya sekolah tanpa mereka tahu dia butuh apa dan di mana dia sekolah? Hingga suatu ketika ibu menyusuri sebuah kecamatan di mana terdapat  banyak ponpes di kecamatan tersebut pada ahirnya ibu tercinta berhasil menemukanku pada pesantren terakhir yang beliau cari.

                 Allah SWT berfirman: ‘’Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah SWT akan selalu memberikan baginya keringanan/jalan keluar’’(Ath-thalaq ayat 2-3). Dalil ini selalu menguatkan hatiku untuk selalu semangat dalam menuntut ilmu, sebab saya yakin bahwa selama seorang hamba beriman kepada Allah SWT dan senantiasa menuntut ilmu syariat islam Insya Allah hamba itu akan selalu menemukan jalan keluar. Di tingkat madrasah tsanawiyah (SMP), lagi-lagi saya menginjakkan kaki di 3 sekolah: Ponpes Al-Ihsan, Ponpes Syekh Hasan Yamani, dan Ponpes As-Salafiyah Parappe. Kali ini terjadi karena saya ingin tahu kelebihan-kelebihan satu pesantren dengan lainnya, atas keinginan saya bukan kehendak orang tua. Pernah suatu ketika di ponpes bahan sandang panganku sudah ludes habis, untungnya ada teman yang baik hati senang berbagi denganku. Pada tahun 2006 Syukur Alhamdulillah akhirnya saya selesai juga dengan penuh perjuangan.

                Tibalah saatnya untuk melanjutkan studi ke SMA/MA. Dengan dasar-dasar bahasa Arab yang sudah saya pelajari selama di pondok, alhamdulillah penulis diberi kepercayaan untuk ikut membina para santri di Ponpes Al-Ihsan. Dengan demikian saya harus pintar-pintar membagi waktu sebab statusku masih sebagai siswa di Madrasah Aliyah (MA) Pergis Camapalagain Sulbar. Tepatnya kelas dua, disinilah saya mempunyai keinginan kuat untuk menempuh studi kuliah ke luar negeri setelah tamat SMA nanti. Itulah pribadiku selalu berencana walaupun waktunya masih lama. Pengalaman selama studi hidupku yang selalu mandiri mendorongku selalu bersemangat menabung agar suatu ketika peluang cita-cita itu sudah di ambang pintu saya tidak kewalahan lagi mencari uang. Sejak kelas dua MA sudah mulai menabung demi mencapai cita-citaku yang tinggi.

                Di tahun 2009 ahirnya aku tamat (selesai) dari MA. Pergis Campalagian Sulbar, disinilah seakan-akan menemukan jalan buntu sebab informasi tentang beasiswa studi ke luar negeri sangat jarang, maklum saat itu Sulbar masih belum terjangkau internet. Jangankan internet, sebagian kabupaten saja masih banyak yang belum menikmati listrik. Informasi yang masih sangat susah diakses membuatku bertanya-tanya ke sana kemari, pada akhirnya saya menemukan seorang alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Beliau sangat banyak memberiku informasi tentang Beasiswa Studi ke Luar Negeri khususnya Mesir. Namun rupanya Allah berkehendak lain, saat itu tes untuk beasiswa ke Al-Azhar Cairo diadakan di Kedutaan Besar Mesir di Jakarta sedangkan aku tak punya duit untuk ke Jakarta. Beberapa bulan kemudian ada ajakan dari teman bahwa walaupun belum memperoleh beasiswa, namun jika kita bisa meraih  prestasi yang memuaskan di Al-Azhar insya Allah bisa meraih beasiswa setelah tiba di sana, kata teman yang paling terpenting sekarang kita harus ikut tes ujian di UIN Alauddin Makassar! Hari ‘’H’’ tes tiba, terpikir olehku walaupun saya lulus tes nonbeasiswa ke mesir lalu dari mana biaya tiket ke sananya? lagi-lagi hatiku menangis sangat ingin meraih cita-cita studi ke luar negeri namun tak punya modal. Namun dalam qolbuku yang paling dalam saya yakin Allah tidak buta, Allah maha kaya dan semua ini ada hikmahnya.

                Terbukti walaupun saya tidak jadi ke Al-Azhar Cairo, Alhamdulillah penulis termasuk siswa yang meraih prestasi selama di MA. Pergis Campalagain. Dengan prestasi itulah seorang pengasuh Madrasah tersebut yang mempunyai hati yang dermawan rela memberiku sebagian rezekinya agar aku gunakan kuliah di UIN Alauddin Makassar. Walaupun kadang jauh dari cukup tapi Syukur Alhamdulillah saya masih bisa berusaha menutupi kekurangan itu. Semua ini penulis menempuhnya dengan penuh kemadirian dan mengharap ridho dari orang tua.

                Bulan demi bulan hingga cukuplah setahun saya kuliah di UIN Alauddin Makassar dengan jurusan Sastra Arab, hati ini tak tenang dan tidak merasa puas jika mimpi-mimpiku tak tercapai. Kota Makassar yang ada di Sulsel  merupakan kota yang sangat indah, ramai, gedung-gedung tinggi menghiasi kota ini otomatis informasi sudah sangat gampang diakses, akhirnya di tahun 2010 saya memperoleh beberapa informasi Beasiswa ke timur tengah diantaranya Libya yang dipegang oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), beasiswa  Arab Saudi, Sudan dan Maroko. Negara Libya misalnya saya berusaha mendapatkan  rekomendasi dari dua Oraganisasi NU dan Muhammadiyah namun lagi-lagi tesnya diadakan di Jakarta, Beasiswa Arab Saudi misalnya saya mencoba mengirim berkas ke Universitas Islam Madinah namun tak ada jawaban, Beasiswa Sudan Alhamdulillah tes beasiswa Sudan diadakan di UIN Alauddin Makassar tempat saya kuliah. Nah, ini yang saya tunggu-tunggu dengan penuh kegembiraan, semangat, penulis ikut ujian tersebut yang tim pengujinya langsung dari Kedutaan Besar Sudan di Jakarta. Menurut keputusan panitia pengumuman kelulusan akan diumumkan sekitar sebulan setelah tes namun sampai dua bulan hasil tak kunjung keluar juga, itulah sebabnya saya selalu tak mau ketinggalan mengecek di situs Kementerian Agama www.ditpertais.net. Disela-sela pengecekan tersebut tawaran beasiswa Maroko Afrika utara muncul di situs ini, terbenak dalam pikiranku bahwa kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Akhirnya saya mendaftarkan diri untuk meraih beasiswa itu.

                Walhasil tepat bulan puasa 2010 sebelum tidur tiba-tiba handphoneku berdering. Sebuah pesan dari salah satu pegawai kementerian Agama RI atas nama Bpk. Bil Bachtiar, Lc, MA. Menyatakan saya lulus, meraih dua beasiswa: Sudan dan Maroko, Alhamdulillaaah!  Kini kegelisahan lain datang menghampiri, bahkan sempat meneteskan air mata dihadapan seorang guru: “Bagaimana caranya saya agar bisa sampai ke ibu kota, Jakarta, karena beasiswa tersebut tidak menanggungnya?

                Saya adalah sang pemimpi yang tidak gampang menyerah, Alhamdulillah saya berjuang mondar mandir ke sana ke mari mengajukan berbagai macam  proposal ke berbagai instansi pemerintah di antaranya: Kantor Bupati Polewali Mandar Sulbar, BAZDA (Badan Amil Zakat) Kab. Polewali Mandar, BAZDA Kab. Majene, Kantor Gubernur Sulawesi Barat, bahkan sempat mengirim proposal ke Dhompet Dhuafa dan Rumah Zakat di Jakarta. Namun tak semua instansi yang saya datangi membuahkan hasil yang memuaskan bahkan ada yang menolak. Walaupun demikian saya tetap bersyukur karena BAZDA Kab. Polewali Mandar mengabulkan permohonanku, itulah yang saya gunakan sehingga saat ini penulis sedang menjalani mimpinya dengan semagat menempuh studi di luar negeri tepatnya di Maroko-Afrika utara, yang sebelumnya juga dinyatakan lulus meraih beasiswa Sudan.

                Kini penulis sekarang sedang menikmati betapa indahnya menuntut ilmu di Negara arab, namun disisi lain masih dihantui perasaan sedih sebab ayah telah kembali Ke Rahamtullah sebulan setelah saya tiba di Maroko, sampai saat inipun jasad apalagi kuburan beliau belum sempat saya lihat……’’’YA Allah Mudahkanlah segala urusanku agar hamba cepat balik ke kampung halaman dengan membawa segudang ilmu serta melihat kuburan sang ayah tercinta’’

“BERMIMPILAH DAN JANGAN ADA RASA PUTUS ASA DALAM MENGGAPAI MIMPI ITU’’

‘’GANTUNGKAN CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT’’

Hanya kepada Alloh-lah penulis mengharapkan ridlo dan maghfirah serta ridho dan do’a dari kedua orang tua

25 Komentar di Posting “Sukmahadi: “Kisah Anak Pelosok Desa Sulawesi Meraih Beasiswa 2 Negara”

  1. assalammu’alaikum kak
    kak, boleh minta nama twitter, fb atau apa aja yg sekiranya saya bisa langsung contact sama kakak. soalnya say amau nanya2 banyak tentang beasiswanya kak
    makasih ya kak :)

  2. kk bagaimana cara agar kita itu tidak pernah putus asa dalam menghadapi semua yang ada di depan mata kita,.,.,???

    saya ingin bnget mencari solusinya,,kalau kk izinkan saya ingin banyak belajar sama kk dengan memberikan nama Facebook kk apa atau twitter kk.,…????

    sebelumnya terima kasih yaa kk.,.,.

    semoga kk SUKMAHADI sukses terus dan bahagiakan orang tua kk.,.,.

    • @to Mas Zulham: Silahkan Add Fb sya dan ato atau twitter isnya Allah kita bisa ngobrol banya, atau kunjungi blog sy aja, semoga bisa mengambil mamfaat.

      Yang jelas dalam menggapai mimpi2 yg telah kita planningkan itu harus slalu diingat sembari slelu berusaha tuk merealistiskannya, Tanamkan dalam hati orang lain ko bisa kenpa saya ngg,, bisa …, tanamkan dalam hati bhwa kita bisa. segala hal harus diserahkan kepada Allah dan manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin…. so kejarlah mimpimu dg usaha yg semaksimalkan mungkin, “hanya mas zulham yang bisa mengejar mimpi itu, klo bukan sekarang kapan lagi…? keep spirit…. salam sukses dri maroko.

  3. assalamualaikum wr.wb
    semakin termotivasi setelah membaca cerita dari mas hadi ini.
    saya ingin share dan tanya-tanya soal beasiswa dengan mas hadi bisa?
    saya mau menghubungi lewat email.
    mohon cek emailnya ya :)
    terima kasih :)

    • Waalaikum salam. wr wb.

      @Rifda Alhamdulilla, mudah2an kisah diatas selalu membawa inspirasi dan bermanfaat untuk umum khususnya tuk pelajar dalam meraih mimpi. insya Allah sy chek.

  4. Waalaikum salam. wr wb.

    @Rifda Alhamdulilla, mudah2an kisah diatas selalu membawa inspirasi dan bermanfaat untuk umum khususnya tuk pelajar dalam meraih mimpi. insya Allah sy chek.

  5. sukses yo mas,itulah rezeky orang gk ad yg tau’yg penting kemauan dan niat yg tinggi sesulit apapun pasti ada jlan kluarnya.
    ngomong2 ortu masih usaha gula aren mas,info nomor yg bisa di hubungi donk.

    • Mas @Aprianto: terima kasih mas… atas doanya setelah bapak meninggal, usaha gula areng uda nggak ada lgi yg lanjutin, N sypun tetap kuliah hingga skarang… mhon doanya trus ya mas.. :)

  6. assalamualaikum,,,,,
    sya sekarang suda mendapatkan ilmu dari kaka”
    betapa besar perjuangan kaka untuk bisa mendapatkan biaya siswa,
    setelah sya baca cerita kaka’ sya jadi termotifasi untuk benar2 giat dalam belajar
    salam sya dari sulbar jga kak (tinambung)
    wassalam

    • To Wiwiek Wahyuni@: Waalaikum salam wr wb, Alhamdulillah klo adek bisa mendapatkan ilmu dari ceritaku dalam berjuang menuju ke negeri seribu benteng maroko, smg adek juga bsa meraih beasiswa dan bisa merealisasikan cita-citanya. Salam sukses dek… BTW dari mana tau klo kisah ka2 ada di situs ini…?

  7. Mua’ lulus mo’o kanda, minimal jadi REktor UIN ALauddin Makassar/ Ka.Kanwil.Prov.SULBAR.

    Bravo alaik!!!

    salam,Syubban.
    To Lampa, Mapilli

  8. assalamu’alaikum kakak.. ” Saya adalah sang pemimpi yang mempunyai karakter tidak gampang menyerah ” sama seperti kakak :) do’anya ya kak agar saya bisa mengejar cita2 saya seperti kakak,.Amin..boleh langsung contact sama kakak via FB?? karna saya ingin bertanya banyak seputar pengalaman kakak :) syukron

  9. subhanallah, semoga kelak saya adalah salah satu dari sekian banyak orang
    MANDAR yang bisa melanjutkan studi di luar negeri juga.

    tanditara perjuanganna iya to mala marra’itti cita- citana. terima kasih untuk kanda sukmhadi.

  10. ya Allah..
    Semoga Allah Selalu memudahkan jalan dan liku2 kehidupan dalam hidup ini..
    salut bercampur terharu ketika saya baca tulisan ini,,,
    Do the best for your parents..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>