Dibaca: 5,704 kali    Komentar: 5  

Dionisio Jusuf: “Berangkat dulu, Cari Beasiswa Kemudian”


DionisioJusuf
”Bangkitlah, wahai para pelopor! pekikkan padaku kata
-kata yang menerangi gelap gulita rongga dadamu! Kata-kata yang memberimu inspirasi!”(Sang Pemimpi, Andrea Hirata). Kuliah di luar negeri dan beasiswa adalah dua hal yang selalu dicita-citakan oleh beribu-ribu pejuang muda di Indonesia. Saat ini, dapat memperoleh satu dari dua itu sudah merupakan anugerah, apalagi kita dapat meraih kedua-duanya. Benar-benar suatu anugerah yang tak terhingga dari Sang Khalik! Tapi segitu mudahkah untuk meraihnya? Tentu tidak, tapi bukan berarti tidak mungkin. Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba membangunkan harapan tersebut kepada para pejuang “beasiswa” bagaimana dapat mewujudkan dan meraih mimpi tersebut, sehingga kita pun dapat berkata, aku lah “Sang Pemimpi” itu.

 Sebelumnya saya memperkenalkan diri, nama saya Dionisio Jusuf, saya bukanlah siapa-siapa kalau dibandingkan penyadang beasiswa lainnya, yang begitu bagus profesinya, baik sebagai peneliti ataupun dosen di perguruan tinggi. Sebelum saya melanjutkan kuliah di Jerman, saya hanyalah seorang karyawan biasa, dan dengan bermodal nekat, memilih untuk keluar dari zona kenyamanan hanya untuk mewujudkan mimpi yang sudah saya rajut bertahun-tahun lamanya. Saya menyelesaikan pendidikan S1 saya di IPB, pada jurusan Teknologi Industri Pertanian, dan posisi pekerjaan saya terakhir adalah kepala cabang yang membawahi wilayah Indonesia Timur di divisi penerbitan Kompas Gramedia. Tetapi sekali lagi, godaan untuk melanjutkan studi di luar lebih besar, sehingga pada tahun 2009 saya memberanikan diri untuk keluar dari pekerjaan, dan terbang ke Jerman untuk melanjutkan studi di University of Kassel pada jurusan International Food Business and Consumer Studies.

Rekan-rekan, pada awal keberangkatan, saya tidak menyadang beasiswa dari manapun, hanya berbekal tabungan selama kerja (9 tahun) yang digunakan sebagai uang jaminan untuk mendapatkan visa, saya memberanikan diri untuk kuliah. Tetapi saya sangat yakin bahwa Tuhan akan kasih jalan kepada setiap umat-Nya yang berusaha. Nah, ketika sudah di Jerman, pada semester satu, saya meng-apply beasiswa dari KAAD. Mungkin banyak diantara teman-teman yang masih belum terlalu familiar dengan beasiswa ini. Saya bolehlah berharap pada nantinya ada diantara rekan-rekan yang mendapatkan beasiswa ini juga.

Pada tulisan kali ini, saya akan share pengalaman bagaimana caranya mendapatkan beasiswa di Jerman. Di negara “team panser” terdapat banyak tawaran beasiswa, seperti DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst), KAAD (Katholischer Akademischer Ausländer-Dienst) dan ESG (Evangelische Studierenden-Gemeinde). Pada tulisan ini, saya akan berbagi pengalaman tentang beasiswa KAAD (karena saya adalah satu orang yang sangat beruntung mendapatkan beasiswa tersebut).

Pertama-tama saya ingin menjelaskan secara singkat tentang KAAD. Berdasarkan info yang terdapat di link KAAD (www.kaad.de) dijelaskan bahwa KAAD lahir pada tahun 1954 di Fulda dalam pertemuan kongres gereja Katolik Jerman, dan empat tahun kemudian disahkan menjadi organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Salah satu tujuan utama dari KAAD adalah memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa dari negara-negara miskin dan berkembang dari Asia, Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Sampai tahun 2009, sudah sekitar 8.000 ribu mahasiswa dari berbagai negara yang pernah mendapatkan bantuan beasiswa dari KAAD, dan salah satu negara tersebut adalah Indonesia. Beasiswa yang diberikan oleh KAAD diperuntukan bagi mahasiswa yang mengambil jenjang program master dan doktoral.

Cara untuk mengajukan aplikasi beasiswa ke KAAD ada dua macam, yaitu melalui negara asal (Indonesia) dan sesudah mahasiswa berada di Jerman. Untuk cara pertama atau yang lebih dikenal dengan scholarship program 1, calon penerima beasiswa dapat mengirimkan aplikasi melalui kantor perwakilan KAAD yang berada di Indonesia (Universitas Atmajaya– Jakarta). Sedangkan cara kedua atau yang lebih dikenal dengan scholarship program 2, calon penerima beasiswa mengajukan aplikasi langsung ke KAAD Jerman, tetapi terlebih dahulu harus mendapatkan rekomendasi dari KHG (Katholische Hochschulgemeinde) tempat calon penerima beasiswa berada.

Perlu dijelaskan juga bahwa periode seleksi beasiswa KAAD dibagi menjadi dua: setiap awal semester musim dingin (winter) dan panas (summer). Untuk periode musim dingin, pendaftaran terakhir sudah harus dikirim ke sekretariat KAAD di Bonn (baik untuk scholarship program 1 & 2) paling lambat akhir Januari, dan pengumuman akan dilakukan pada akhir bulan Maret. Sedangkan untuk periode musim panas, pendaftaran terakhir adalah bulan Agustus, dan pengumuman akan dilakukan pada akhir bulan September.

                Berikut ini beberapa tips untuk mengajukan beasiswa KAAD.

  1. Buka website KAAD (www.kaad.de). Ini adalah langkah awal buat pelamar beasiswa karena di website ini tersedia berbagai informasi mengenai KAAD, bagaimana cara melamar beasiswa, dan informasi penting lainnya. Website ini menyediakan informasi dalam dua bahasa, yaitu Inggris dan Jerman.
  2. Menghubungi perwakilan KAAD di Jakarta (kalau mau mengambil scholarship program 1). Langkah ini diperlukan bagi rekan-rekan yang akan melamar beasiswa KAAD dari Indonesia. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah lakukan kontak dengan koordinator KAAD Indonesia via email (jangan hanya satu kali email, kalau tidak dibalas, lakukan untuk kedua atau ketiga kali). Jika sudah dijawab, langsung ditanyakan prosedur untuk melamar beasiswa KAAD. Tips: a) Jangan langsung menyerah jika koordinator mengatakan bahwa beasiswa KAAD hanya untuk dosen atau pegawai negeri, karena pada kenyataannya beasiswa KAAD ini terbuka untuk umum. b) Sebelum melamar beasiswa KAAD, usahakan sudah ada kontak dengan universitas dimana akan melanjutkan studi. Karena KAAD hanya akan  memberikan beasiswa bagi siapa saja yang sudah mendapatkan surat penerimaan dari universitas di Jerman
  3. Bagi rekan-rekan yang akan mengambil scholarship program 2, alangkah baiknya mulailah aktif di KHG setempat. Hal ini sangat penting karena pelamar beasiswa KAAD membutuhkan rekomendasi dari
    koordinator KHG. Mendapatkan rekomendasi yang bagus dan berbobot itu tidak mudah kalau kita tidak pernah menampakkan “batang hidung” di kegiatan KHG. Jangan pernah bermimpi akan memperoleh rekomendasi yang sangat “menjual” dari KHG, kalau tiba-tiba kita datang ke KHG, dan mengatakan minat kita untuk melamar beasiswa KAAD. Tips: a) Usahakan sudah mulai aktif, minimal 3-5 bulan sebelum mengajukan lamaran beasiswa KAAD. b) Bergabunglah dengan kegiatan yang sedang atau akan diselenggarakan oleh KHG, ini penting sebagai wujud partisipasi kita dalam KHG.
  4. IPK apakah penting? IPK memang penting tetapi tidaklah syarat mutlak. Untuk scholarship program 2, usahakan nilai yang diperoleh tidak melebihi 2 (skala nilai Jerman), sedangkan untuk melamar dari Indonesia, usahakan memiliki IPK diatas 3. Tetapi, kalaupun rekan-rekan memiliki IPK di atas 2 (program 2), rekan-rekan harus memiliki nilai tambah dimata panitia seleksi, misalnya memiliki surat
    rekomendasi yang luar biasa menarik, baik dari KHG maupun dari professor tempat rekan-rekan belajar.
  5. Buat CV (curriculum vitae) anda sekarang juga. CV ini penting sekali karena CV mencerminkan sekilas tentang diri kita kepada orang lain (panitia seleksi beasiswa KAAD). Buat CV rekan-rekan sebaik dan seindah mungkin. Sekarang banyak informasi di internet yang memberikan panduan untuk membuat CV dengan baik dan benar.
  6. Jangan lupa untuk menulis surat motivasi dengan kalimat yang menjual. Usahakan berikan alasan mengapa rekan-rekan ingin melamar beasiswa KAAD, dan apa yang akan rekan-rekan lakukan untuk bangsa dan tanah air ketika rekan-rekan sudah selesai dari studi. Jangan buat kalimat yang berbunga-bunga, tetapi tulislah dalam kalimat yang sederhana tapi mengena ke sasaran.
  7. Mintalah rekomendasi kepada professor dimana rekan-rekan belajar. Untuk melamar beasiswa KAAD program 2, rekan-rekan membutuhkan (minimal) 2 surat rekomendasi dari professor. Usahakan rekan-rekan memperoleh rekomendasi dari professor yang betul-betul mengenal rekan-rekan, sehingga dengan begitu rekomendasi yang diberikanpun akan baik dan menjual ketika dibaca oleh panitia seleksi.
  8. Satu lagi adalah Niat! Jika rekan-rekan memiliki niat yang luar biasa besar untuk mendapatkan beasiswa dari KAAD, apapun halangan dan hambatannya akan rekan-rekan atasi. Jangan pernah menyerah untuk sesuatu yang baik. Jika rekan-rekan gagal mendapatkan beasiswa KAAD dalam kesempatan pertama, cobalah lagi untuk kesempatan kedua dan tetap optimis. Saya mempunyai seorang teman (dari India), pada aplikasi pertama dia tidak mendapatkan beasiswa ini, tetapi dia mencoba lagi untuk kedua kalinya, dan untuk yang kedua kalinya dia berhasil. So, tidak ada yang mustahil bagi kita yang mau berusaha.

Sekali lagi buat pemburu beasiswa KAAD, selamat berjuang, optimis dan tetap semangat. Ingatlah lebih baik berusaha dan berbuat sesuatu, daripada hanya diam menunggu datangnya harapan. Keberhasilan akan didapat, dan pertualangan akan segera dimulai ketika rekan-rekan memperolehnya.

5 Komentar di Posting “Dionisio Jusuf: “Berangkat dulu, Cari Beasiswa Kemudian”

  1. Permisi, saya hanya mau minta pendapat kakak2 yang sudah berpengalaman. Saya lulus S1 Teknik Industri. Namun saya merasakan saya kurang tertarik di bidang tersebut. Maka saya melakukan les privat akan fisika, matematika dan kimia. Setelah menjalaninya saya tertarik untuk mendalami bidang teknik yang mengarah kepada penerapan ilmu2 fisika dan matematika. Saya teringat kembali akan keinginan saya untuk studi di Jerman ketika lulus SMA dan mau masuk Universitas pada saat itu yang terhalang oleh biaya. Maka saya berpikir untuk mencoba program s2 di bidang teknik yang saya tertarik. Namun, kembali saya mengalami masalah dengan keuangan. Jika saya mencoba untuk memperoleh beasiswa, maka rasanya saya akan mempunyai nilai minus yang besar sekali karena saya tidak mempunyai pengalaman bekerja di kantor yang bisa menjadi nilai tambah apalagi dengan saya mau mengambil jurusan di bidang teknik elektro atau mesin yang agak berbeda dengan background saya teknik industri. Maka, menurut kakak2 yang sudah berpengalaman di sini, maka apakah masih ada harapan saya untuk melanjutkan studi saya ke Jerman untuk program master ? jika ada, maka apa saran yang mungkin bisa saya lakukan untuk mewujudkan impian saya. Thanks …

  2. salam mas. saya diah dair batam. senang bisa membaca tulisan yang telah diposting ini. dan saya sangat tertarik untuk bisa mengikuti jejak yang dion lakukan karena sudah lama saya ingin melakukan hal yang sama. meskipun status saya pns namun saya berharap bisa memulai dari biaya sendiri. dengan harapan bila dengan biaya sendiri paling tidak saya punya motivasi yang luar bisa agar bisa menghargai besarnya biaya yang telah saya keluarkan. bukan berarti sombong ya mas. dan bila saya sudah tiba di jerman saya juga ingin berburu beasiswa karena kesempatan untuk mendapatkannya lebih terbuka di jerman mengingat umur saya yang sudah kadaluarsa untuk beasiswa resmi.
    kira-kira menurut mas dion dengan umur saya yang sudah kadaluarsa seperti sekarag ini masih punya kesempatan besar untuk bisa mengecap pendidikan s2 di jerman? bagaimana mendapatkan rekomendasi untuk bisa mendapatkan visa? apakah cukup dengan kita membuka rekening DB, pihak DB akan memeberikan rekomd untuk mendapat visa? lalu pertanyaan terakhir, sulit tidak bagi saya yang barstatus pns tidak terkendala untuk izin belajar?

  3. menarik untuk diikuti. saya sudah 2 kali pelatihan di jerman ( 1998 dan 2003 ) Munchen ,terkait pembangunan pedesaan dan pembangunan desa swadaya. lalu melamar program beasiswa S2 sudah 2 kali untuk ikut beasiswa namungagal terbentur TOEFL 550, saya cuma mampu sampai 470 saja. . Saya terkesan kehidupan dan berminat untuk lebih mendapaatkan konsep baru rural development . Karna saya melihat langsung Desa di Jerman sangat baik. Saya hanya seorang pekerja sosial , Bagaimana caranya supaya bisa studi S2 dijerman.

    • menarik untuk diikuti. saya sudah 2 kali pelatihan di jerman ( 1998 dan 2003 ) Munchen ,terkait pembangunan pedesaan dan pembangunan desa swadaya. lalu melamar program beasiswa S2 sudah 2 kali untuk ikut beasiswa namungagal terbentur TOEFL 550, saya cuma mampu sampai 470 saja. . Saya terkesan kehidupan dan berminat untuk lebih mendapaatkan konsep baru rural development . Karna saya melihat langsung Desa di Jerman sangat baik. Saya hanya seorang pekerja sosial , Bagaimana caranya supaya bisa studi S2 dijerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>