Dibaca: 8,594 kali    Komentar: 13  

Fadia Dewanda: “Seminggu 2x diTolak, Minggu Lain 2x diTerima”

Nama saya Fadia Dewanda atau biasa dipanggil Keke. Saat ini saya sedang menempuh program Master di KAIST, Korea Selatan. Sejak SMA, saya bercita-cita untuk sekolah di luar negeri. Saya ingin melihat dunia, berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia dan merasakan hidup dalam budaya yang berbeda. Di kelas 2 SMA, saya mengikuti seleksi American Field Service (AFS) untuk pertukaran pelajar ke luar negeri. Alhamdulillah saya lolos seleksi. Tapi ternyata, orang tua saya tidak mengizinkan, karena saya dianggap masih ‘kecil’. Ibu saya bilang, nanti saja kalau sudah kuliah baru boleh. Saya nurut saja.

Alhamdulillah kesempatan datang lagi ketika saya sedang kuliah tingkat 3 di ITB. Setelah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi dokumen, wawancara, video presentasi, dll, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti program Japanese University Studies in Science and Technology (JUSST) dari University of Electro-Communication, Jepang dengan beasiswa dari JASSO. Saya tagih janji ibu saya. Alhamdulillah ibu saya mengizinkan. Pengalamanexchange di Jepang selama 1 tahun ini, membuat saya semakin bersemangat untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kalau dulu, saya ingin sekolah di luar negeri karena budayanya, sekarang motivasi saya bertambah. Tiga hal yang menjadi motivasi saya adalah: kemajuan dalam riset, etos kerja, dan budaya.

Mungkin ini adalah pendapat yang umum bahwa kemajuan riset di negara maju sudah sangat berkembang dibandingkan Indonesia. Tapi bukan berarti Indonesia tidak bisa menyainginya. Seorang dosen ITB yang saya kagumi pernah berkata bahwa kurangnya dana penelitian atau kurangnya peralatan laboratorium yang canggih bukanlah hambatan. Justru, kreativitaslah yang ditantang untuk memanfaatkan alat yang ‘seadanya’ untuk membuat inovasi dalam teknologi. Beliau sendiri adalah lulusan Jepang dan telah sukses mengambangkan penelitian di lab-nya dengan peralatan yang dibuat sendiri. Kualitasnya tidak kalah dengan peralatan yang harganya ratusan juta. Saya ingin mengikuti jejak beliau. Belajar dari ahlinya, dengan berbagai peralatan canggih dan kondisi riset yang ideal, lalu menerapkannya di Indonesia dengan memanfaatkan kreativitas untuk ‘mengakali’ keterbatasan yang ada.

Karena exchange 1 tahun, masa studi saya pun molor 1 tahun. Sembari menyelesaikan Tugas Akhir, saya mulai mencari info untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Saya selalu menghadiri acara presentasi atau seminar universitas. Kumpulan booklet dan pamflet dari berbagai universitas di seluruh dunia sudah menumpuk di lemari saya. Menurut saya, aktif mencari informasi itu sangat penting. Bidang studi saya adalah teknik elektro dengan kelompok keahlian teknik biomedika. Kebetulan, ada program dari Erasmus Mundus khusus untuk teknik biomedika. Saya sangat bersemangat untuk mendaftar, karena silabus yang ditawarkan sangat sesuai dengan minat saya. Selain itu, saya juga mencoba mendaftar beasiswa dari TU Eindhoven. Namun sayangnya, saya belum berjodoh dengan kedua program itu. Saya menerima e-mail penolakan dari kedua universitas itu, berturut-turut dalam satu minggu.

Saya sempat down. Saya pun mengirim e-mail kepada admission team, menanyakan tentang kekurangan dalam aplikasi saya, supaya di kemudian hari dapat saya perbaiki. Beberapa minggu kemudian, saya mendapat jawaban. Ternyata, mata kuliah yang saya ambil selama kuliah S1, dianggap kurang mendalami teknik biomedika, lebih banyak di teknik elektro umum. Sehingga, saya dianggap tidak mampu untuk mengejar ketinggalan di program master ini. Setelah membaca ini, rasa percaya diri saya tumbuh kembali. Saya perlu mencari program lain yang lebih cocok untuk saya. Saya pun mencoba lagi.

Kali ini, saya mendaftar untuk program beasiswa pemerintah Jepang (Monbukagakusho) dan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Saat itu, saya sedang disibukkan dengan Tugas Akhir, karena sudah mendekati waktu sidang. Saya mendapat panggilan dari kedutaan Jepang untuk tes tertulis dan wawancara. Ternyata, jadwal tesnya sangat berdekatan dengan jadwal sidang saya. Senin, saya harus mengikuti tes tulis Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang di UI Depok. Selasa, saya kembali ke Bandung untuk latihan sidang bersama dosen pembimbing. Rabu, saya ke kedutaan Jepang di Jakarta untuk wawancara. Kamis, saya kembali ke Bandung untuk sidang tugas akhir. Seru banget deh!

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat telepon dari kedutaan, saya lolos seleksi Monbukagakusho di kedutaan Jepang. Tahap selanjutnya adalah mencari profesor di universitas Jepang yang mau menerima kita menjadi muridnya. Kalau tidak ada hambatan, insya Allah bisa berangkat ke Jepang tahun depan. Keesokan harinya, saya pun mendapat e-mail pemberitahuan dari KAIST bahwa saya diterima. Alhamdulillah! Kalau dulu dalam seminggu saya mendapat 2 penolakan berturut-turut, sekarang mendapat 2 penerimaan berturut-turut.

Awalnya, saya akan mengambil Monbukagakusho. Saya sudah menghubungi beberapa profesor dan ada 2 profesor yang bersedia menerima saya. Saya pun sudah menyerahkan segala persyaratan ke kedutaan Jepang, bahkan sampai menandatangani formulir pengajuan visa Jepang. Namun, alur ceritanya berubah. Sehari setelah wisuda, seorang pria bersama keluarganya datang untuk melamar saya. Dia juga diterima di KAIST. Orangtua saya menyarankan saya untuk menikah dulu sebelum melanjutkan S2. Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk mundur dari beasiswa Monbukagakusho dan mengambil beasiswa KAIST.

Akhirnya, dua minggu setelah wisuda sarjana, saya menikah. Sebulan kemudian, saya berangkat ke negeri ginseng untuk mengikuti program Master di KAIST bersama suami saya. Perjalanan mencari beasiswa, sampai akhirnya mendapat beasiswa, hanyalah satu proses awal. Perjuangan yang sebenarnya baru dimulai ketika menjalani program tersebut. Saat ini saya baru menyelesaikan semester pertama saya, dan masih berjuang untuk 3 semester berikutnya, juga untuk perjalanan selanjutnya setelah master.

Ada beberapa orang yang hanya perlu mendaftar sekali untuk mendapatkan beasiswa yang diinginkannya. Ada juga orang seperti saya yang harus mencoba berkali-kali sebelum dapat. Kalau belum berhasil di percobaan pertama, teruslah mencoba. Karena kita tidak pernah tahu, di percobaan ke berapakah kita akan berhasil. Kalau kita sudah menyerah di percobaan yang ini, siapa tahu sebenarnya rejeki kita ada di percobaan berikutnya?

13 Komentar di Posting “Fadia Dewanda: “Seminggu 2x diTolak, Minggu Lain 2x diTerima”

  1. Asalamualaikum mba,
    Wahh, senangnya membaca pengalaman mba,
    Jadi pengen. Hehe :)
    Saya mau tanya mba,
    Mba dulu daftar ke KAIST nya dengan cara apa mba?
    Menghubungi profesor dulu atau ikutan program beasiswa KGSP mba?
    Trimakasih sbelumnya atas tanggapannya mba..
    ^^

  2. kak,mau nanya dong cara daftar dr jalur universitas gimana si?aku mau coba daftar ke KAIST juga nih,boleh kasi tips2nya ga kak?btw, kita satu almamater loh ka s1nya hehe :D

    • Halo!
      Yang penting, siapin dulu nilai tes bahasa inggrisnya.. Bisa IELTS, TOEFL iBT, TOEIC =)
      Sediakan waktu yang banyak buat nulis statement of purpose. Buat yang kira-kira bisa menarik minat profesor utk merekrut kita di lab nya. Karena sekarang utk graduate program, tuition fee tetap gratis tapi monthly stipendnya dari profesor. Minta proof read juga sama temen, kalo bisa yang grammarnya bagus biar sekalian ngecek :D

  3. mba, mau tanya dong, kira” persiapan apa yaa yang hrs bebener’ disiapin kalau mau ikut beasiswa monbukangusho? maksudnya dari sisi akademisnya, nilai biar lolos seleksi tulisnya hrs berapa yaa?? makasih :) )

  4. assalamualaikun mba / kak… saya asmi kelas 2 . dan baru” lgi bingung milih tempat kuliah yg cocok . tapi saya ngerasa pengen kuliah di KAIST karena pernah liat di acara korea dan tertarik bgt pengen disana . saya masih bingung apa yg harus dilakuin kalo mau kesana dan apa aja persiapannya? ~ makasih~ wassalamualaikum.. ^^

  5. Kak saya tertarik mau kuliah S1 chemical engineering di KAIST.. bisa minta alamat emailnya gak kak? Saya mau kontak kakaknya.. makasih

Leave a Reply to Tuah Kudratzat Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>