Dibaca: 4,348 kali    Komentar: 4  

Irfan Rifai: “Ada Saatnya Sindiran itu Menjadi Kenyataan”

Oh ta kira sudah sampai Belanda”…“Wah habis pulang dari Inggris ya?” ucapan bernada sindiran seperti ini yang kerap kali saya dengar dari beberapa kawan sekitar 7 Tahun silam ketika beberapa kali usaha melamar beasiswa ke luar negeri belum membuahkan hasil yang membahagiakan. Hasil yang selalu bisa di tebak ujung-ujungnya, “Terimakasih telah melamar beasiswa, dikarenakan begitu banyaknya peserta yang melamar dengan berat hati anda belum bisa masuk nominasi kali ini”.

 Sedih pastinya, di saat orang-orang bersuka cita mengabarkan kesuksesan mereka di terima beasiswa ke luar negeri, di saat itu pula suara-suara bernada sindiran selalu terdengar setiap hari. Memang saya bukan mahasiswa cerdas seperti mereka, dan sayapun menyadari bahwa saya hanya lulusan universitas swasta di kota kecil yang bisa di tebak bagaimana kualitas belajar-mengajarnya maupun kualitas akademik mahasiswanya, tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang lulusan universitas ternama di negeri ini.

 Apakah saya marah? Sama sekali tidak, justru saya berdo’a dalam hati semoga doa dari teman-teman saya tersebut dikabulkan Yang Maha Kuasa. Ingat, “tutur adalah doa” ketika beberapa teman menyidir seperti itu berarti dia sebenarnya berdoa.

 Sejenak mengingat masa lalu. Nama saya Irfan Rifai anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Karena berasal dari keluarga besar dan orang tua yang pendapatannya hanya pas-pas an untuk hidup, kami putuskan untuk ikut paman di kota. Pastinya namanya ikut orang baik itu saudara sendiri maupun orang lain, tidak seenak ikut orang tua sendiri. Kebetulan didikan dari paman ini sangat keras, tidak hanya harus kebal dalam hal mental tetapi juga fisik. Bagaimana hampir setiap hari selalu mendapatkan kata “bodoh” jika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, juga pekerjaan rumah yang tidak ada habis-habisnya mulai dari hal-hal kecil sampai yang besar dari sepulang sekolah sampai jam 8 malam dan di teruskan dengan kebiasaan mendengarkan ceramah yang kadang-kadang sampai jam 12 malam. Tidak ada waktu untuk memegang buku apalagi mengerjakan PR. Kadang-kadang menangis dan meratap sedih

kenapa pada saat saya senang belajar dan membaca buku tidak di beri kesempatan. Sudahlah, semua demi tujuan mulia untuk keluar dari kebodohan dan kemiskinan….

Tahun demi tahun saya lewati dan tidak terasa sudah tiga tahun saya ikut paman dan tidak terasa pula telah menyelesaikan pendidikan SMA. Karena dipandang berdedikasi saya diberi janji akan di kuliahkan dengan catatan harus mengabdi dulu selama setahun. Saya sanggupi, ternyata dalam kurun waktu tersebut saya juga di suruh ikut les montir dan bahasa Inggris. Menarik sekali, ternyata saya bisa refreshing keluar rumah untuk bertemu dengan orang-orang ngobrol sana sini, masa yang sangat menyenangkan bagi saya, termasuk saat pertama kali memulai kursus bahasa Inggris. Ketika itu saya di tes berhitung angka 10 sampai 1, apa yang saya lakukan, saya harus menggunakan ke dua tangan saya untuk bisa menjawabnya dan itu butuh waktu beberapa saat. Bagaimana saya menjawab pertanyaan “do you know?”, juga sangat terbayang sampai sekarang. Memang pemahaman saya untuk pelajaran Bahasa Inggris sangat parah, sehingga maklum saya dapat nilai 5 pada waktu Ebtanas. saya terdiam, dan balas bertanya “do you know itu apa pak?”. Beruntung cara pengajaran kursus ini tidak terlalu kaku, murid-murid banyak di beri waktu luang untuk menghafal bacaan, berkomunikasi dan bertanya jawab dengan bahasa Inggris sehingga hanya dalam waktu sekitar 4 bulan dari yang tidak bisa sama sekali, saya bisa bertanya jawab topik sederhana menggunakan Bahasa Inggris dengan cukup lancar.

Setelah menyelesaikan kedua kursus tersebut saya di suruh daftar kuliah di jurusan Bahasa Inggris di universitas swasta di kota Madiun. Sebenarnya secara jujur, jurusan akuntansi adalah jurusan yang saya idam-idamkan sejak SMP bukan saja karena mata pelajaran ini saya dapatnilai sempurna setiap latihan dan ujian tetapi juga ketertarikan dengan hitung-hitungan dalam neraca membuat saya jatuh cinta untuk mendalaminya. Tetapi kenyataannya saya harus melenceng dari apa minat dan bakat saya untuk melanjutkan ke jurusan akuntansi. Perjuangan yang luar biasa, bagaimana saya harus menyesuaikan diri untuk menyenangi jurusan yang dipilihkan untuk saya, dan sekaligus juga berjuang meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya yang sangat pas-pasan hasil dari kursus selama 4 bulan.

Ternyata walau saya tidak bisa maksimal dalam mengikuti kegiatan akademik kampus (sering bolos) karena sering disuruh pergi luar kota untuk mengurusi berbagai masalah keluarga, saya masih bisa dapat Indeks Prestasi lebih dari 3 sehingga selama setahun saya mendapatkan beasiswa dari Supersemar. Sejujurnya saya tidak pandai, tetapi mengapa saya selalu dapat nilai bagus? Kemungkinan, saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, saya punya trik untuk selalu memperhatikan apa yang di ucapkan dosen di depan kelas dan kemudian saya menghafalkannya. Jangan dibayangkan saya menghafalkan materi kuliahnya, justru saya menghafalkan cerita dari dosen2 tersebut sehingga pada saat dosen-dosen tersebut bercerita lagi (kecenderungan manusia untuk mengulangi ceritanya) saya langsung bisa menebak dan mengatakannya. Hal ini membuat dosen-dosen itu heran kok si Irfan ini ingat dengan detail sekali ya, berarti dia sangat perhatian, fikir beliau-beliau itu. Saya tidak tahu apakah gara-gara ini saya sering mendapatkan nilai baik.

Menyelesaikan S1 saya mencoba untuk mencari pengalaman di kota besar dan di terimalah saya di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di Jakarta. Setelah hampir 8 bulan bekerja di Jakarta, saya mendapatkan tugas baru untuk pengembangan jaringan ke wilayah Jawa Timur dan mulailah saya menempati posisi yang cukup bagus, kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Di tengah kesibukan saya sebagai pengajar dan berurusan dengan masalah keadministrasian yang menurut saya tidak habis-habisnya dan sering kali menghabiskan energi, saya secara diam-diam mendaftarkan diri untuk melanjutkan studi S2 saya di salah satu universitas Negeri di wilayah timur pulau jawa. Karena tidak mendapatkan ijin dari atasan, saya sering tidak masuk kuliah yang ini mengakibatkan sering terbengkelainya tugas-tugas kuliah dan penyelesaian masa studi S2 saya. Bayangkan saya harus menyelesaikan dalam waktu 4,5 tahun yang rata-rata teman saya hanya butuh waktu 2– 3 tahun.

Kembali ke masalah beasiswa, sebenarnya semenjak kuliah S1 saya sudah termotivasi untuk melamar beasiswa. Hal ini disebabkan sering dimintainya pertolongan oleh sepupu saya untuk menyiapkan dokumen-dokumennya guna melamar beasiswa Luar Negeri, sehingga secara tidak langsung saya terinfeksi juga dengan demam kuliah ke luar negeri. Semenjak saat itu saya selalu terobsesi untuk bisa kuliah keluar negeri. Obsesi ini masih terbawa terus walaupun saya sedang studi S2 sekalipun terutama pada saat-saat tahun pertama saya kuliah. Saya mencoba mengirimkan beberapa aplikasi luar negeri tetapi semua usaha saya tidak menghasilkan buah yang manis untuk di dengar. Akibatnya, saya menjadi terkenal di kalangan teman-teman saya bahwa saya adalah pemburu beasiswa luar negeri yang selalu gagal sehingga mereka selalu menyindir dengan ucapan yang merujuk pada dua negara Belanda dan Inggris.

Setelah menyelesaikan S2 dan keterima mengajar di Perguruan Tinggi, semangat untuk mendapatkan beasiswa luar negeri semakin berkobar. Modal sebagai dosen membuat saya lebih pede untuk melamar beasiswa lagi. Untuk mengobarkan semangat belajar ke luar negeri, setiap ada pemeran pendidikan saya selalu dating dan membawa pulang brosur berbagai universitas yang saya datangi pada saat pameran tersebut dan meletakkannya di meja belajar sehingga hampir setiap hari saya selalu melihat dan membacanya. Selain itu saya juga browsing universitas2 lain yang tidak ada di brosur tersebut kemudian menyimpannya di komputer dengan tidak lupa saya juga menjadikan background salah satu universitas yang saya minati di layar komputer saya. Sehingga bisa ditebak, hampir semua nama dan tempat universitas-universitas yang saya baca dan browsing tersebut termasuk dosen-dosennya terekam baik di ingatan saya. Dari kegiatan membaca dan browsing universitas-universitas luar negeri saya jadi tahu keahlian setiap dosen yang ada di universitas-universitas tersebut, yang dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa bidang studi yang sedang ngetrend saat ini mesti menjadi topik interest bagi dosen-dosen di semua universitas dimanapun. Yang tidak kalah pentingnya, ternyata riset topik yang ngetrend itu (bidang saya) selalu di awali dari negara Amerika dan Inggris. Bisa dipastikan ke dua negara ini menjadi kiblat bidang lmu yang akan booming di masa depan. Hal ini saya buktikan, ketika saya browsing di Universitas paling hebat di Amerika dan saya menemukan topik yang saat itu diajarkan baik di tingkat master maupun doktor, yang kemudian saya berkesimpulan bahwa inilah topik yang sedang in saat ini. Ternyata benar adanya, setelah saya browsing lagi di universitas2 Inggris, kebanyakan calon pembimbing juga tertarik dengan topik riset ini.

Dengan berbekal kepercayaan diri dengan topik riset tersebut saya mencoba melamar empat universitas di Australia. Karena tidak pede dengan kemampuan akademik, saya melamar uni yang tidak nge-top di negara Kanguru tersebut. Apa yang terjadi, ternyata semua uni yang saya lamar tersebut tidak satupun mengabarkan saya keterima dengan alasan tidak ada pembimbing untuk topik riset itu. Hal inilah yang membuat saya mengubah strategy, tidak lagi melamar uni yang kecil tetapi langsung melamar uni yang besar baik di Australia, Inggris dan Amerika. Proses untuk melamar uni2 di Inggris ini ternyata harus mendapatkan Reference letter yang ditulis langsung oleh sipemberi Reference melalui email yang dikirim oleh universitas. Bergegaslah saya menemui mantan dosen S2 saya, dan memohon untuk sekiranya bersedia memberikan rekomendasi untuk melamar universitas-universitas yang di Inggris sekaligus melamar beasiswa Dikti LN. apa yang terjadi, bukan motivasi dan dorongan yang saya terima, justru Beliau memberikan rekomendasi untuk mengambil doktor di dalam negeri dengan alasan bahwa sangat susah kuliah di luar negeri itu. Beruntung masih ada mantan dosen saya yang kasihan melihat saya dan kemudian beliau ini bersedia untuk memberikan rekomendasi kemanapun saya mau melamar. Akhirnya saya melamar 6 universitas di Inggris, 2 universitas papan atas di Australia dan menghubungi 2 calon pembimbing di universitas besar di Amerika. Satu universitas yang di Inggris seminggu kemudian memberikan jawaban bahwa saya keterima dan dikirimlah LOA untuk saya.

Yang selanjutnya LOA ini saya gunakan untuk melamar beasiswa Dikti dan akhirnya sayapun bisa ke panggil untuk wawancara. Dikarenakan LOA saya masih bersyarat saya disuruh untuk mengikuti pelatihan bahasa Inggris selama 4 bulan di Bandung. Berangkatlah saya mengikuti pelatihan IELTS tersebut. Hampir dua bulan saya mengikuti kursus IELTS tersebut, secara kebetulan selepas selesai kelas berbincang masalah beasiswa dengan seorang teman yang menginformasikan ada beasiswa pemerintah Belanda untuk short course selama 6 bulan. Serta merta saya langsung tertarik, tetapi setelah saya baca semua persyaratannya saya jadi ragu untuk melamar, beberapa persyaratan beasiswa tersebut tidak mungkin saya penuhi. Tetapi atas desakan teman tersebut akhirnya saya beranikan diri untuk melamar dan mengirimkan semua dokumen yang saya miliki di hari terakhir. Setelah satu minggu menunggu, tiba-tiba dapat email balasan dari team seleksi beasiswa. Dalam hati saya mesti ini tidak keterima. Bukan hanya nada kalimat pembukaan yang biasanya mencerminkan isi pesan yang ingin disampaikan di kalimat terakhir, tetapi juga nada pesimis kejadian beberapa tahun lalu akan terulang. Kalimat demi kalimat saya baca, tidak juga saya temukan pernyataan yang mengabarkan saya tidak keterima, hal inilah yang membuat saya semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan membacanya dan memastikan bahwa saya memang belum layak untuk menjadi kandidat yang lolos seleksi dan segera akan saya hapus dari file email. Ternyata pada paragraph terakhir di kalimat terakhir tertulis “Selamat anda terpilih menjadi penerima beasiswa dan mohon segera emailkan foto dan pasport untuk keberangkatan awal bulan depan”. Betapa hati saya deg-deg an dan masih tidak percaya bahwa saya keterima beasiswa ke Belanda dan hanya di beri waktu dua minggu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Subhanalah, begitu cepatnya proses itu.

Akhirnya dengan persiapan yang hanya dua minggu saya berangkat ke Jakarta untuk mengambil Visa. Sangat beruntung, semua urusan administrasi mulai dari pengurusan Visa, tiket dan akomodasi selama saya di Belanda sudah di tangani oleh sponsor. Bergegaslah hari itu juga setelah saya mengambil Visa saya langsung ke bandara untuk diterbangkan ke negara yang terkenal dengan Kincir Angin dan Bunga Tulipnya ini, Netherlands, I am coming…

Kebingungan mulai muncul ketika harus turun dari bandara menuju ke stasiun kereta, ya karena lagi-lagi belum pernah sekalipun bepergian keluar negeri. Bukan hanya Instruksi yang keluar dari pengeras suara memakai bahasa yang tidak familiar di dengar, tetapi juga kebetulan petugasnya kurang antusias untuk menjelaskan tentang waktu dan kereta yang akan saya tumpangi ke tempat tujuan. Dia hanya menunjukkan papan pengumuman untuk dibaca sendiri. Ternyata, setelah saya fikir-fikir, memang ternyata saya di tuntut untuk selalu membaca instruksi yang tersedia dan semua sebenarnya tidaklah terlalu rumit untuk di fahami, ya karena kurang terbiasa dengan budaya tulis dan baca. Dengan perjuangan yang berat harus berganti kereta dua kali dan harus menyeret koper yang beratnya hampir 30 kg ini sejauh hampir 1 km akhirnya sampailah ke tempat tinggal saya, lega rasanya. Belum sempat memulihkan jet lag, saya harus segera mengikuti kegiatan summer school keesokan harinya, kursus dalam bidang language testing selama sebulan di universitas urutan teratas di Belanda, Utrech University. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa mejadi bagian dari universitas yang terletak di tengah-tengah negara Belanda ini dan sekaligus merupakan salah satu universitas terbesar di dunia untuk penyelenggaraan summer school, ribuan mahasiswa dari seantero Jagat setiap tahunnya datang dan mengikuti kursus di universitas ini. Sebenarnya saya juga tidak tahu kalau Utrech University itu adalah universitas nomer wahid dan nge-top di Belanda, baru setelah beberapa teman memberi tahu bahwa sangat beruntung bisa kuliah di universitas tersebut, ada perasaan bangga dalam hati ini. Terimakasih ya Alloh Engkau telah memilihkan universitas terbaik untuk saya.

Setelah menyelesaikan Summer School di Utrech Uni selama hampir sebulan, saya pindah ke Leiden Uni untuk mengikuti library research disana untuk sisa waktunya, 4 bulan. Belum genap dua bulan di Belanda satu persatu LOA unconditional dari Universitas-Universitas yang saya lamar baik di Australia maupun di Inggris masuk ke email saya memberitahukan bahwa saya keterima, dua calon pembimbing yang saya kontak di Universitas Amerikapun juga menyatakan kesediaannya dan meminta segera tes GRE untuk aplikasi secara formal. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya pilih Univeristas di Inggris dan berita ini segera saya sampaikan ke pengelola beasiswa yang ada di Indonesia untuk pindah Universitas kemudian saya dapat email balik yang mengabarkan kalau saya harus segera angkat koper dari Belanda untuk berangkat lagi ke negara yang bahasanya saya pelajari hampir 13 tahun.

Luar biasa jika Alloh sudah berkehendak tidak ada kekuatan satupun yang bisa menghalangi dan semua menjadi sangat mudah. Belum selesai kursus IELTS, saya harus segera berangkat ke Belanda. Belum selesai short course di Belanda, saya harus segera berangkat ke Inggris. Alloh Maha Kuasa. Akhirnya keinginan belajar bahasa Inggris ke negara Inggris tercapai. Hal ini sekaligus mengingatkan saya akan sindiran teman-teman “oh ta kira sudah sampai Belanda”, “habis pulang dari Inggris ya”. Seandainya dulu teman-teman menyidir “Amerika, Amerika”, barangkali?

4 Komentar di Posting “Irfan Rifai: “Ada Saatnya Sindiran itu Menjadi Kenyataan”

  1. saya suka tentang motivasi itu, sy jadi keinget dengan kisah saya, saya juga termasuk orang yang tak mampu dibandingkan semua keluarga saya, sampai-sampai mereka selalu bilang lo saya tidak mungkin bisa kuliah, sekarang saya semester 8 di salah satu universitas dijawabarat, dan keinginan saya yaitu melanjutkan ke S2.. cuman mencari beasiswa yang sekiranya bisa untuk membantu biaya kuliah agak susah..

    • Mari lebih semangat untuk menebar energi positif. Semoga anda segera bisa membuktikan bahwa anda bisa mewujudkan cita-cita anda tersebut.

  2. Bekal hidup yang paling jitu adalah sabar, bersyukur dan tawakal kepada Allah. Orang hidup di dalam kekuasaan Allah, manusia berada dalam bumi Allah dimanapun berada tidak masalah, asal tujuannya untuk kebaikan, apalagi menuntut ilmu di negeri orang lain , para Malaikat akan mengawal. Semoga kamu sukses cepat selesai, jangan lupa berdoa kepada Allah SWT.

  3. Fabiayyi ala i robbikuma tukadziban, inspiring sekali kisah bapak. Semoga suami saya termotivasi dengan membaca kisah bapak yang luar biasa, karena untuk saat ini saya dan suami LDR, saya menempuh program PhD di Swiss sedangkan suami menjadi dosen di Univ negeri di Indonesia. Hingga saat ini banyak yang memandang remeh suami sy dan mempertanyakan apa bisa dy nyusul sy. Tapi kisah ini bener2 sesuai dgn kondisi suami, rencana Allah itu indah, yg pntg terus ikhtiar dan berdoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>