Dibaca: 2,937 kali    Komentar: 2  

Meika Kurnia: “Ikhlas Kehilangan Beasiswa Dalam Negeri, Allah Ganti Beasiswa Luar Negeri”

Ya Allah..

Aku ini hanya manusia yang lemah..

Aku hanya bisa memohon dan meminta padaMu..

Sekarang..Mamaku sedang menuntut ilmu di Australia..

Ayahku juga kerja mencari uang supaya aku dan keluargaku bisa menyusul dan menemani mamaku di Australia..

Di sini aku sekarang lebih sering murung..

Aku merasa sendiri..Sepi..
Aku ingin keluargaku berkumpul ya Allah..

Tapi aku sadar..Mungkin itu sudah kehendakMu..

Aku hanya bisa memohon kepadaMu..

Berikanlah aku Keikhlasan dan Kesabaran untuk melewati hari2ku yang sepi ini menjadi keceriaan untuk selamanya ya Allah..Aku mohon kabulkanlah Do’aku ya Allah..

Aamiin..(Nadira Izza, 2011)

 

Postingan FB di atas dikirim oleh putri pertamaku, Nadira Izza Rania Putri, seminggu setelah keberangkatanku ke Darwin. Sebagai ibu, hati mana yang tidak akan terkoyak, menangis. Serasa ingin berlari kencang kembali ke belakang. Aku ingin pulang. Seribu pertanyaan yang tak bisa kujawab ada di kepalaku: Untuk apa aku melakukan semua ini? Kenapa harus di luar negeri? Apakah aku seorang ibu yang egois? L

Seribu tanya kuhaturkan padaNya, sang Maha Kasih dan Maha Pemurah..berharap..memohon DIA selalu melapangkan dan meluaskan kesabaran serta keikhlasan hati kami sekeluarga. Kukuatkan hati pada keesokan harinya untuk menyapa mereka yang tercinta melalui Skype….alhasil…..hanyalah suara tangis yang bisa kami pertukarkan…pun ketika aku berusaha menyapa suami tercinta…..tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya, menahan rindu. Ya Allah, betapa sulit untuk bersyukur di setiap kehendakMu…

Awal cerita, Mei 2008, aku terima surat penerimaanku sebagai mahasiswa S3 di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Alhamdulillah, betapa senangnya ditambah beasiswa BPPS yang ada di tangan. H-1 batas akhir registrasi, telepon dari Wakil Rektor 1 yang membuatku syok:

“Ibu..pimpinan meminta Ibu menunda studi lanjut Ibu, karena tahun ini adalah masa transisi kepemimpinan baru, sehingga semua pejabat struktural diperpanjang masa tugasnya”

Ya Rabb, apa ini?! Diskusi dan negosiasi berbuah ketidakberhasilan, kutulis surat permohonan ke UGM untuk dapat menunda periode kuliah. Dua hari kemudian jawaban datang: “TIDAK BISA”. Bisa dibayangkan, betapa tidak enaknya aku bekerja dengan suasana hati yang marah dan kecewa hingga suatu hari pak Rektor menemui dan memberikan beberapa nasihat:

”Ibu, saya berharap Ibu tidak sekolah di Indonesia, cobalah mencari beasiswa ke luar negeri tidak hanya bermanfaat untuk Ibu tapi juga lembaga kita…bahkan keluarga”.

Pertemuan itu akhirnya menjadi media negosiasi dengan pak Rektor, Alhamdulillah keputusannya perpanjangan masa jabatan hanya 1 tahun, sampai dengan Juli 2009. Alhamdulillah…

Kunci keberhasilan I: mendengar, menerima dengan ikhlas bernegosiasi dengan santun. Persiapan demi persiapan kulakukan untuk sebuah kata “beasiswa”.

Sangat tidak mudah mengingat kemapuan bahasa Inggris yang di bawah rata-rata. Kursus demi kursus kulakukan untuk mendapatkan nilai TOEFL atau IELTS yang sesuai standard…..capek….tidak yakin…..bahkan sedikit putus asa sempat mampir di otakku…..apa ya mungkin bisa aku sekolah di luar negeri? Alhamdulillah ada sahabat2 yang selalu memotivasiku.

Kunci keberhasilan II: Cari komunitas yang frekuensinya sama, supaya saling memotivasi. Ingat cerita klasik: kalau kita dekat dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi juga. Dukungan dari suami (materiil dan spirituil), sahabat-sahabat dan kampus alhamdulillah mengantarku pada keberhasilan yang pertama: memiliki nilai IELTS sesuai persyaratan.

Tantangan kedua adalah menulis draft proposal lalu mencari supervisor. Entah berapa puluh nama professor ku email, ku kirimi draft sekaligus berapa kali gagal dalam beasiswa: ADS, Fullbright, beberapa beasiswa di UK.

Akhir 2010, akhirnya nekat kukirimkan aplikasi beasiswa ke DIKTI meski belum memenuhi syarat (Letter of Acceptance dan supervisor) yang penting IELTS sudah oke dan nothing to lose saja lah, pikirku, at least namaku akan muncul di daftar yang belum lolos.

28 Februari 2011, namaku muncul di daftar lolos seleksi tahap I DIKTI, Subhanalloh, bukannya aku belum memenuhi syarat? Senang…..jelas….tapi sesaat kemudian panik luar biasa karena seminggu lagi wawancara dan harus menyertakan semua kelengkapan! Telepon sana sini, bingung luar biasa, akhirnya SMS ke wakil rektor I, minta saran. Secara kebetulan, beliau dan pak Rektor berada di sebuah forum rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah seIndonesia, dari sanalah aku mendapat informasi sebuah universitas yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehku untuk apply ke sana: Charles Darwin University.

”Kalau Ibu berminat, 8 Maret 2011, Dekan Fakultas Bisnis CDU akan datang ke Indonesia, silahkan temui beliau, dan sampaikan apa keinginan Ibu.

Kunci keberhasilan III: tidak segan bertanya, percaya ada jalan. Meski dalam situasi bingung dan panik

Singkat cerita dengan ditemani staf bagian Akademik aku berhasil mendapatkan supervisor secara langsung disusul kemudian LoA yang dikirim sehari sebelum wawancara DIKTI.

10 September 2011, kuinjakkan kakiku di Darwin, kota besar yang sepi penduduk. Iklim yang tidak beda dengan Indonesia (yang kurasakan sebagai kemudahan dari Allah yang luar biasa mengingat ada keterbatasan

kesehatan diriku). Ya, jika melihat ke belakang maka seharusnya syukur-syukur-dan syukurlah yang harus kulakukan. Semua ikhtiarku, ikhtiar suami dan anak-anak, dan doa orang tua berbuah pada apa yang kucapai hari ini: sekolah di Luar Negeri. CDU yang dulu tidak masuk daftar universitas yang kupilih sekarang kurasakan sebagai pilihan Allah yang Maha Tahu kemampuan hambaNya.

Syukur…Sabar…Ikhlas….adalah obat yang harus kuminum setiap hari. Setiap kali kurasakan rindu yang teramat hebat dengan suami dan anak-anak, ketika mendengar suara mama yang sedang sakit, ketika menerima kabar mbah kakung meninggal……luar biasa……dan lebih bersyukur lagi karena suami dan anak-anak akan mendampingiku di Darwin. Subhanalloh, Walhamdulillah, Walaailahaillalloh, Allahu Akbar. Semoga Allah melindungiku dari rasa takabur dan riya dan semoga Allah memudahkan untuk meraih PhD tepat waktu dan gelar itu berkelimpahan manfaat dan barokah…aamiin.

2 Komentar di Posting “Meika Kurnia: “Ikhlas Kehilangan Beasiswa Dalam Negeri, Allah Ganti Beasiswa Luar Negeri”

  1. Selamat ya Ibu.. Kalo boleh tahu, Ibu mengambil PhD bidang apa? Sy jg sdh memperoleh LOA dari CDU utk program DBA. Mgkn saya bisa berdiskusi lebih lanjut mengenai Darwin dan CDU. Makasih

  2. Subhanallah..luar biasa mbak..sy terharu membaca tulisan mbak .. selamat yaa ..
    Saya juga seorang ibu.. yang juga pengen sekolah di Luar Negeri juga .. tapi saya dilema dengan meninggalkan suami dan anak-anak ..
    Setelah saya baca tulisan mbak .. intinya ikhlas dan terus berusaha ya mbak .. Ikhlas dimanapun takdir menanti kita.. dan senantiasa terus berusaha dan bersikap santun, serta tak henti negoisasi .. hehehe …
    at least, congratz .. smg antara tanggungjawab sebagai seorang istri, ibu dan profesional bisa dilaksanakan seimbang ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>