Dibaca: 12,321 kali    Komentar: 18  

BN: “D3 bisa hingga S3!”

anonimBolehkah jika saya hanya menyebutkan inisial dari nama saya, BN. Karena saya lebih nyaman untuk menyebut inisial saya.

Setelah lulus dari diploma 3, dari akademi di bawah Deperindag (saat itu, sekarang Deperin), saya tidak membayangkan untuk melanjutkan studi lebih jauh lagi. Saya hanya ingin segera bekerja dan membantu kedua orang tua saya. Tetapi, setelah berada di dunia kerja yang nyata, saya merasa ‘diperlakukan’ sedikit berbeda dengan lulusan S1. Akhirnya, sebelum genap satu tahun, saya mencari informasi untuk melanjutkan studi untuk mendapatkan gelar S1. Dan prinsip saya saat itu tidak hanya mendapatkan gelar, tapi ilmu dan kompetensi harus saya dapatkan juga. Jadi saya berprinsip harus melanjutkan studi di tempat yang berkualitas tinggi.

Setelah dinyatakan lulus ujian masuk ekstensi UI, saya mengundurkan diri dari tempat kerja saya. Setelah bekerja selama 1 tahun 3 bulan dan 11 hari (lengkap banget, kan?..hehe..:D….demikian yang tertulis di surat keterangan berhenti kerja yang saya dapatkan dari HRD perusahaan). Walaupun saat itu kondisinya cukup membuat bimbang, karena akan ada promosi kenaikan pangkat, dan saya termasuk salah satu kandidat. Tapi dengan tekad bulat saya memilih untuk berhenti.

Waktu itu angkatan saya merupakan angkatan ekstensi pertama di departemen tersebut di UI, tentu saja sering dibanding-bandingkan oleh beberapa dosen pengajar dengan kelas regular, jika mahasiswa kelas ekstensi kurang cepat dalam hal menerima pelajaran, dll. Tetapi tentu saja tidak semua dosen berpendapat seperti itu, karena beberapa dosen yang lain masih menilai kemampuan ekstensi dan reguler adalah sama, bahkan perjuangan beberapa teman di kelas ekstensi menurut saya sangat luar biasa, karena mereka harus kerja full time dari pagi hingga sore dan dilanjutkan kuliah pada sore hingga malam harinya. Tentu saja perjuangan ini yang mungkin harus juga dipertimbangkan, bahwa tidak semua mahasiswa kelas ekstensi kurang daripada kelas reguler…(jadi curhat..hehe). Tapi saya ingin membuktikan juga ke dosen-dosen tersebut, bahwa kelas ekstensi pun mampu berprestasi. Oiya, selama kuliah ekstensi, saya mengajar privat ke siswa-siswa SMU.

Lulus dari UI dengan IPK yang cukup, saya masih memiliki keinginan untuk melanjutkan S2, tentu saja harus dengan beasiswa, karena tanpa beasiswa akan cukup sulit. Akhirnya, sambil menjadi asisten praktikum di departemen/jurusan, saya mencari kesempatan untuk mendapatkan beasiswa S2, terutama di luar negeri. Beberapa waktu setelah itu saya mendapatkan informasi dari pembimbing akademik dan skripsi saya untuk melamar beasiswa ke korea, waktu itu yang menawarkan beasiswa adalah Korea Institut of Science and Technology (KIST). Dan segera melengkapi semua persyaratan yang diperlukan, termasuk menghubungi alumni yang sedang menjadi mahasiswa di sana dan mengirimkan aplikasi+persyaratan-persyaratannya. Akhirnya kabar gembira itu datang. Alhamdulillah saya diterima di KIST, dan tiba di negeri ginseng bulan Maret 2006.

Perjuangan studi di Korea cukup ‘challenging’ karena mahasiswa master dan PhD, selain harus menghadiri kelas dan ujian, merekapun harus membantu riset professor di laboratorium. Karena umumnya mahasiwa yang mendapatkan beasiswa di KIST adalah by research. Jadi, selama 2 tahun di korea, waktu yang dihabiskan di laboratorium lebih lama dari pada waktu di kelas. Tapi, banyak juga keuntungan yang didapatkan. Saya jadi sangat menguasai peralatan riset yang saya gunakan, sampai membongkar pasang dan membersihkan bagian-bagian penting alat-alat laboratorium (bukan membersihkan ruangan-ruangan lab loh ya..hehe).

Akhirnya gelar master saya dapatkan dan kembali ke Indonesia bulan Maret 2008. Di Indonesia, saya mendapatkan posisi untuk menjadi dosen honorer selama satu semester. Karena masih ingin menimba ilmu lebih banyak lagi, saya melamar banyak beasiswa/lowongan untuk PhD, terutama ke negara-negara di Eropa. Sudah banyak sekali yang saya lamar, tetapi jawaban yang diterima kebanyakan adalah negatif. Sempat merasa down karena terus terang, saya juga harus membantu perekonomian keluarga. Saya cukup dilemma, karena sempat terpikir untuk bekerja di industry atau tetap melanjutkan sekolah lagi? Sempat di panggil untuk interview dan presentasi ke Max Planck Jerman bulan Agustus 2008, tapi rupanya belum berjodoh. (Tetapi jadi sempat jalan-jalan gratis ke Jerman..hehe)

Akhirnya, salah satu lamaran saya untuk menjadi asisten riset diterima di salah satu kampus di Jerman juga. Bulan Maret 2009 saya mendarat di Jerman untuk kedua kalinya. Setelah satu tahun bekerja menjadi asisten, saya mendapatkan tawaran dari prof apakah bersedia untuk mendapatkan doctoral degree dari tempat dia? Tentu saja tawaran ini saya sambut dengan baik. Tapi perjalanan riset saya tidaklah mulus, karena saya harus mengganti topik. Tapi itu bukan halangan bagi saya, bahkan saya merasa mendapatkan ilmu baru. Walaupun riset yang saya lakukan cukup membuat sibuk, tetapi terkadang rasa bosan dengan riset menghampiri, karena cukup monoton. Akhirnya saya meminta pekerjaan tambahan dari si professor untuk mendapatkan variasi pekerjaan. Akhir tahun 2010 saya diikutkan untuk menjadi panitia konferens, menjadi asistennya dia dan juga secretary of abstract review committe untuk sebuah konferens yang akan diadakan tahun 2011 di level negara-negara Baltic dan Laut Utara (BLU), seperti Jerman, negara-negara Skandinavia, UK, Lithuania, Latvia, Estonia, Belgia, Perancis, dll. Walaupun riset tetap berjalan, tapi saya sangat menikmati pekerjaan tambahan ini, karena selain belajar lebih mengefektifkan waktu, belajar juga banyak hal dibidang organisasi pada level yang cukup tinggi, bahkan berkenalan dengan orang-orang hebat dari negara-negara BLU tersebut, bahkan cukup sering mengunjungi negara-negara tersebut untuk melakukan meeting. Walaupun seperti sering jalan-jalan untuk meeting, tetapi sebetulnya tidak, karena jadwal meeting sangat ketat. Cukup puas dengan pekerjaan saya, dia meminta saya untuk membantunya kembali untuk konferens yang sama yang akan diadakan pada tahun 2013, tetapi untuk saat ini, saya tidak hanya sebagai secretary of abstract book, tapi juga sebagai scientific committee dan local organizing committee. Bahkan untuk World Congress tahun 2015 yang direncanakan untuk diadakan di Jerman, si Prof sekaligus meminta saya untuk menjadi asisten kongres presiden (kebetulan prof saya akan menjadi salah satu kongress presiden). Walaupun saya tidak tahu sampai kapan akan melakukan riset di kampus saat ini. Dan meeting-meeting sudah mulai dilakukan untuk kongres tahun 2013 dan juga 2015 tersebut.

Oiya, selain riset dan menjadi panitia untuk konferens-konferens, awal tahun 2012 si prof mendistribusikan flyer tentang kursus online yang diadakan Harvard Medical School (HMS), yang kebetulan sangat berhubungan dengan bidang saya. Dari departemen tempat saya melakukan riset, menurut si prof, hanya saya yang merespons diantara puluhan staf lainnya. Tapi tentu saja dia tidak mau untuk membiayainya, karena cukup mahal sekitar 5000 USD. Tapi HMS menawarkan potongan harga untuk sejumlah student dengan persayaratan-persyaratan tertentu. Saya mencoba melamar untuk mendapatkan potongan harga tersebut dan alhamdulillah saya mendapatkan potongan harga, sehingga hanya membayar 1200 USD. Dan alhamdulillah lagi, setelah berdiskusi dengan prof, akhirnya departemen bersedia memberi bantuan 70% dari biaya tersebut.

So, selama tahun 2012 kegiatan saya selain berjibaku dengan riset yang kadang melelahkan (dan mudah-mudahan bisa menyelesaikan disertasi dan ujian doctor tahun ini), panitia-panitia kongres, tetapi juga kuliah online HMS yang menyita banyak waktu (kuliah seminggu sekali, dengan tugas-tugas yang cukup banyak, dari bulan februari sampai oktober nanti). Alhamdulillah kuliah online dari HMS telah selesai dan saya dinyatakan menjadi salah satu dari 15 students diantara 300 students lainnya yang mendapatkan AWARD setelah selesai mengikuti kuliah ini.

Sekarang pekerjaan saya selain riset, menulis disertasi, dan konferens2, saya juga dilibatkan dengan pekerjaan internasional lainnya, yaitu menjadi sekretaris di suatu perkumpulan international dibidang saya yang bekerja sama dengan WHO yang benar2 menuntut profesionalitas sangat tinggi. Terus terang, dengan semakin mendekatnya jadwal kongres tahun 2013, saya cukup kewalahan….. Tetapi dibalik aktifitas yang cukup menyita banyak waktu tersebut, saya mendapatkan pelajaran yang sangat banyak.

So, teman-teman yang masih bermimpi untuk meraih beasiswa, jangan patah semangat, karena sayapun tidak hanya melamar sekali untuk mendapatkan beasiswa yang sekarang. Untuk teman-teman dengan background D3, tetaplah berusaha.

Setelah mendapatkan beasiswa, belajarlah banyak hal, tidak hanya riset, jika memungkinkan, aktiflah dikegiatan-kegiatan positif yang lainnya.

18 Komentar di Posting “BN: “D3 bisa hingga S3!”

  1. Wah mau banget saya jg tahun ini lulus dari Diploma IPB pengen bgt ekstensi terus lanjut nyampe S3 pake beasiswa, tapi sulit bgt beasiswa ekstensi pdahl udh nyoba2 tpi blm ad blsan, brangkali d jerman ada lowongan mas buat sy hehehe :) ))

  2. wah amazing, keren untuk ka BN, semoga selalu diperlancar kedepannya, jd terinspirasi supaya lebih keras kepala dalam mewujudkan cita-cita..

  3. Menginspirasi mas BN..
    Perkenalkan nama saya Fajar Setiawan
    Saya kuliah di D3 – Teknik Telekomunikasi di POLITEKNIK NEGERI SEMARANG dengan beasiswa
    Saya mempunyai cita-cita lanjut hingga S3 dengan beasiswa
    Untuk ekstensi ke S1 atau lanjut D4 itu Perguruan Tinggi Negeri mana saja mas yang membuka program beasiswa untuk ekstensi?
    mohon jawaban dan bantuannya ..Terimakasih mas..

  4. kepinginnya bisa sampe kesana,
    tapi alhmd sekarang sudah dapet beasiswa dalam negeri,
    mudah2 an untuk S3 nya bisa luar negeri… aamiin

  5. Alhamdulillah mas, senang sekali ana membaca cerita d balik kepahitan antum.
    Ana akn selesai D3 bulan oktober tahun 2015, ana mau mencari beasiswa ke S1, jika mas berkenan berbagi alamat untuk daftar beasiswa ana sangat terima kasih.
    Alhamdulillah ana kuliah D3 dengan beasiswa bidikmis dan jurusan informatika.
    Semoga ada baiknya ya masss

  6. saya lulus d3 unj semester ini
    rencana nya saya ingin bekerja sambil persiapan lanjut kuliah s1 menurut kk lebih baik saya kejar ekstensi ui, ekstensi unj atau saya langsung fokus beberapa tahun di indonesia untuk persiapan kejar beasiswa ke luar negeri ?…

  7. Hai mas….salam kenal yah…inspiratif bgtt blognya
    Oia km pnya info klo scholarship keluar negri dari D3 ke s1 ada ga yah? Mhon advisenya yah mas. Thx, eva

  8. thx mas atas insprrasinya.. sya jg lulusan d3 deperin dn skrg msh krja d dinas perindag di ntt dgn honor yg pas2an dbwah umr. tpi bsa bntu adik utk kuliah (jdi curhat ni),pngin sklli lnjut s1 mas tpi masih bimbang klau sya hrus kluar dan lanjut kuliah., yg mas ceritakan itulah cita2 sya.. bsa gak tlong infrmasix ttang info beasiswa utk s1 atau klau tdak bgmna jalur untuk tes extensi di kampus negeri sperti ui atau lainnya.. ? dan waktu kuliahx bgmna? thanks. slam sukses..

  9. Assalammu’alaikum, perkenalkan nama saya Ari Sutrisno, saya berasal dari Universitas Gadjah Mada Jurusan Teknik Sipil Angkatan 2012, saya juga lagi mencari beasiswa ekstensi S1 ataupun D4 dalam negeri. Mohon infonya :) :D terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>