Dibaca: 2,366 kali    Komentar: Belum Ada  

Fairuz ‘Ainun Na’im: “Pergi Untuk Kembali”

Fairuz 'Ainun Na'imKamis 31 mei 2012 saya sudah berada di stasiun Kota Cirebon untuk melakukan perjalanan ke Jakarta. Ya, perjalanan menggapai Ridlo Allah Yang Maha Kuasa, mengikuti seleksi beasiswa S1 Al-Azhar mesir, Sebenarnya, aku mengikuti seleksi beasiswa Mesir hanya untuk menjaga-jaga kalau kondisi Damaskus, tempat yang aku inginkan untuk menuntut ilmu belum kondusif. Tak lupa, sebelum menggapai Ridlo Allah, saya berpamitan dan meminta Ridlo kedua orangtua. Pukul 05.40 pagi itu kereta berangkat menuju stasiun gambir, Jakarta . Kereta melaju sangat cepat. Membelah sawah,sungai dan pemukiman. Menyapa  sambil lalu jalan raya yang sedang merayakan kemacetan.

Pukul 08.30. aku tiba di stasiun gambir. Segera aku bawa langkahku menuju ke Kantor Kementrian Agama RI yang letaknya tak jauh dari stasiun guna menyerahkan berkas administrasi seleksi beasiswa. Setelah Selesai, saya menuju ke Ciputat, tangerang selatan ke rumah Pamanku untuk singgah sambil menunggu sabtu, waktu yang ditunggu untuk “beradu”.

Sabtu pagi, 2 juni 2012 aku sudah berada di Masjid Fathullah UIN, bergabung bersama kawan-kawan dari Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM), tempat dulu menimba ilmu. PIM adalah sebuah Sekolah Islam pimpinan Dr. KH MA Sahal Mahfudh.Pagi itu kami sudah berjanji untuk berkumpul dulu sebelum bertandang ke auditorium untuk mengikuti seleksi. Seleksi beasiswa pagi itu dikuti sekitar 6000 pendaftar dari seluruh Indonesia yang diadakan di 6 kota besar dan salah satunya Jakarta. Aku dan kawan-kawan mengikuti ujian   tahriri (tulis) dengan baik dan kami yakin dengan kemampuan kami masing-masing, berusaha semaksimal mungkin serta berserah diri kepada Allah atas segala hasil. Ini yang dinamakan tawakkal ideal.Setelah selesai, aku berpisah dengan kawan-kawan dan segera pulang ke rumah masing-masing sembari menunggu pengumuman hasil seleksi.

Waktu pengumuman tiba. Segera kunyalakan komputer dan membuka website kementrian agama untuk melihat hasilnya. Alhamdulillah aku dan kawan-kawan lulus  beserta 600 lebih peserta seleksi tahap pertama dan akan mengikuti seleksi tahap II yang akan digelar pada 23 juni 2012 di MAN 4 Pondok Pinang Jakarta Selatan. Seperti biasa, saya singgah di Ciputat, Tangsel.

Waktu seleksi itu telah tiba. Ujian hari itu sudah menyaring 600 lebih peserta yang lulus pada tahap pertama dari seluruh Indonesia. Seperti biasa pula,saya berkumpul dengan kawan-kawan PIM sebelum mengikuti ujian. Pada hari itu, tempat seleksi dipusatkan pada satu tempat. Ujian terbagi menjadi 2. Ujian tulis, kemudian ujian lisan. Yang akan menguji pada ujian lisan hari itu adalah Dosen dari Al-Azhar. Ujian pada hari itu berakhir pada sore hari. Alhamdulillah, saya dan kawan-kawan melewati tahap II itu dengan baik.

Waktu demi waktu telah berlalu hingga hari yang ditunggu. Ya, pengumuman seleksi tahap II itu pun dirilis. Kembali aku diberi kabar baik oleh Allah bahwa aku dinyatakan lulus, namun masuk kategori non beasiswa, karena hanya 20 orang peringkat teratas yang berhak. Begitu pula kawan-kawanku. Aku langsung memberi tahu ayahku. Ketika ku ujarkan hasil itu, ayah menanggapi dengan biasa saja. Dan aku pun biasa saja dengan hasil itu, sambil tetap bersyukur. Lalu ayahku berkata, “Sudah, sabar saja. Tunggu kesempatan yang lain, barangkali masih ada”. Ayahku berujar seperti itu karena takut mesir tidak sepenuhnya kondusif. Takut mesir kembali bergejolak. Prinsip kenyamanan dan keselamatan dalam menuntut ilmu adalah faktor penting yang harus diperhatikan.

Kawan-kawanku sudah memutuskan untuk pergi ke mesir dan setelah itu mereka segera menyiapkan segala kelengkapan administrasi dan urusan non teknis lainnya.

Aku pun melewati hari-hariku dengan aktivitas bebasku. Jalan-jalan, baca buku, dan bersepeda menjelajah kota udang. Setiap hari selalu tak lepas dari kegiatan itu sambil terus menjelajah internet mencari informasi beasiswa lainnya dari Jazirah Arab. Sampai akhirnya aku menemukan informasi mengenai beasiswa s1 maroko. Aku pun segera memutuskan untuk mengikutinya. Dan setelah kubaca, ternyata salah satu persyaratannya adalah lulus seleksi tahap II beasiswa Mesir. Segera saja aku menyibukkan diri dengan menyiapkan segala berkas untuk dikirimkan via email. Seleksi beasiswa kali ini dilakukan dengan hanya mengirim berkas melaui email, tanpa ujian.

11 hari setelah itu, tepatnya jum’at 27 juli 2012 pengumuman seleksi beasiswa maroko keluar dan aku pun diterima. Aku menerima kabar itu dari ayahku yang sudah melihatnya lebih dulu, dan ayahku pun akhirnya senang dan memilih hasil ini. Begitu pula aku. Mulai hari itu pula, perjuanganku dimulai. Perjuangan melengkapi berkas-berkas yang harus dikirimkan mulai dari surat kesehatan, SKCK kepolisian, paspor,hingga penerjemahan ijazah ke bahasa arab. Yang pertama kali aku lakukan ketika itu adalah meminta surat kesehatan dan SKCK kepolisian. Pukul 11 menjelang siang hari itu, aku langsung ke puskesmas untuk mendapatkan surat kesehatan. Namun saying, ketika itu sudah tutup. Akhirnya kuputuskan untuk pulang, karena waktu sudah mendekati adzan jum’at. Dalam perjalanan mengendarai sepeda motor menuju ke rumah satu peristiwa yang sangat mengesalkan di hari yang terik di bulan ramadlan, terjadi. 200 meter sebelum sampai gang rumah, rantai sepeda motorku lepas. Beruntung, ketika itu lajuku sedang pelan dan aku baik-baik saja. Dan segera sepeda motorku pun kubawa ke bengkel dekat lokasi kejadian dan aku pun berjalan menuju rumah. Usai Shalat Jum’at, aku memutuskan untuk meminta SKCK kepolisian ditemani oleh pamanku. Proses mendapatkan SKCK kepolisian ini  sangat panjang dan waktu yang dimilik sangatlah singkat. Seperti yang diketahui, bahwa SKCK kepolisian untuk ke luar negeri adalah SKCK dari Kepolisian Daerah. Dan ketika itu, harus ku mulai dari meminta surat keterangan RT/RW, ke kelurahan, kecamatan, polsek, sampai mendapatkan surat rekomendasi dari polres  untuk mendapatkan SKCK dari Polda Jawa Barat dan artinya saya harus ke Bandung. Di tengah proses penghasilan rekomendasi polres untuk polda, aku sudah mendapatkan surat kesehatan pada hari sabtu itu. Hari senin, kudapatkan surat rekomendasi polres untuk mendapatkan SKCK Polda Jabar.

Bandung dan jejak kaki di kota

Selasa, 31 juli 2012 waktu sahur. Aku sudah bersiap dengan tas pinggang yang berisi rekomendasi untuk mendapatkan SKCK di bandung. Lepas sahur, aku pergi ke bandung dengan mobil travel ke bandung, meskipun sebenarnya saya lebih suka naik bus. Tapi orangtuaku menganjurkan itu demi mengejar waktu di bandung yang setiap hari meramaikan jalannya dengan kendaraan bermotor serta kepulan asapnya. Pukul 7 pagi, aku sudah sampai di Mapolda Jabar dan ketika itu suasana masih lengang. Sambil menunggu, aku seret langkah menelusuri jalanan di sekitar daerah itu. Satu jam kemudian aku kembali dan memproses SKCK hingga setengah jam berikutnya selembar kertas itu didapat. Aku pun kemudian mencari warnet di dekat situ untuk mengirimkan SKCK agar diterjemahkan. Sepenjang jalan itu tak kutemui satupun warnet dan akhirnya, kuputuskan untuk pergi ke alun-alun bandung,mungkin di daerah sekitarnya ada warnet dan juga tempat scan. Kunaiki angkot arah alun-alun. Pagi itu matahari sangat terik mencekik, jalanan kota bandung tumpah ruah mobilm pribadi, mmotor dan motor. Waktu tempuh yang seharusnya 30 menit menjadi 2 jam. Sampai di alun-alun, kuputuskan untuk berjalan mencari warnet dan tempat scan. Kali ini kuputuskan untuk berjalan mencari. Naik angkot hanya akan menyita waktu dan tenagaku, bandung terlalu sembit bagi ribuan kendaraan yang ada pagi itu. Aku berjalan ke  berbagai arah. Tak jelas arah, yang penting aku temui warnet dan tempat scan.

Sampai sekitar 5 km aku berjalan, di daerah braga kutemukan tempat scan, namun belum kutemukan warnet. Sambil bercucuran peluh, aku kembali berjalan menelusuri jalanan kot, melewati berbagai keramaian, sampai ke tempat yang jaraknya cukup jauh dari situ kutemukan warnet dan dengan terengah aku pun singgah. Selesai mengirim berkas, aku berjalan kembali menuju alun-alun. Dipayungi matahari serta cucuran peluh, aku menuju masjid raya bandung untuk istirahat dan melepas lelah, sambil menunggu waktu ashar. Sore itu, aku langsung kembali ke Cirebon dengan meninggalkan butiran peluh dan jejak langkah lelah sumringah.

Sesaknya waktu di Jakarta

Pukul 10 malam, aku baru sampai di rumah. Waktu yang sangat panjang untuk perjalanan bandung-cirebon yang harusnya ditempuh maksimal 3 jam. Langsung saja aku merebahkan tubuh yang teramat lelah yang menanti perjalanan berikutnya ke Jakarta. Malam itu juga. Malam itu aku tak menutup mata. Tengah malam aku dan pamanku pergi ke Jakarta dengan mobil pribadi. Ya, urusanku belum selesai. Adalah legalisir ijazah dan berkas lainnya di Kemenkumham dan kemenlu sebagai salah satu syarat penting untuk melanjutkan studi di luar negeri. Aku berangkat tengah malam itu pula dan akan sahur dan shalat shubuh di perjalanan. Pagi pukul 7, setelah melewati macetnya Jakarta, aku sampai di UIN Jakarta, ciputat untuk mengambil berkas yang aku terjemahkan pada Dr. Ahmad Ridho, salah satu alumni Mahasiswa Maroko yang menjadi dekan di fakultas ushuludin. Selesai, dan aku segera menuju ke kemenkumham di kuningan, Jakarta selatan untuk legalisir berkas. Aku sampai disana pukul 1 siang, hamper habis waktu permohonan legalisir berkas,beruntunglah aku masih sempat. Aku serahkan seluruh berkas kepada pegawai dan dia bilang prosesnya selama 2 hari. Di sisi lain, aku harus menyerahkan berkas ke kemenlu dan waku yang dimiliki teramat sangat sempit. Jika proses 2 hari, artinya berkas usai dilegalisir kemenkumham hari jum’at. Praktis, hari sabtu adalahhari libur, dan hari senin adalah akhir penyerahan berkas. Jika di kemenlu butuh waktu 2 hari, maka kemungkinan hari senin baru selesai. Dan dari tempat yang jauh disana, ayahku berpesan agar tidak berlama-lama di Jakarta.

Aku pun memohon agar proses legalisir berlangsun satu hari saja dan akirnya pegawai itu mengiyakannya. Esoknya, kamis pagi aku kembali ke kemenkumham dan mengambil berkas itu. Tanpa membuang waktu, aku langsung pergi ke kemenlu yang ada di pejambon, Jakarta pusat. Aku pun mengajukan hal yang sama. Legalisir dengan waktu yang sama: Satu hari. Sampai pada jum’at pagi aku kembali dan mengmabil berkasnya. Setelah seluruhnya beres, aku serahkan berkas itu ke kantor kemenag. Waktu saat itu menjelang shalat jum’at. Dan kuakhiri sesaknya waktu di Jakarta dengan shalat jum’at di masjid istiqlal yang megah itu.

Kehangatan dan Perpisahan

Seminggu terakhir bulan Ramadlan sengaja kuhabiskan di kampungku Indramayu. Agar aku bisa menyambangi makam kakekku tercinta yang sangat menginginkan salah satu anaknya sekolah di luar negeri, dan aku sebagai gantinya.Dan sekaligus meminta doa dan  restu keluarga besar disana.sampai seminggu setelah lebaran barulah aku pulang.

7 hari sebelum keberangkatan aku menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa ke maroko dan yang paling penting adalah pakaian musim dingin. Selain itu, aku juga berkeliling ke seluruh kerabat dan keluarga di Cirebon untuk meminta doa dan restu dari mereka. Namun aku tak dapat menyambangi Kyai dan guru-guruku yang ada di PIM karena letaknya jauh di daerah jawa tengah sana. Ayahku tidak mengizinkanku pergi kesana karena khawatir kondisi fisikku drop mengingat waktu persiapan menuju keberangkatan amatlah sempit. Dan yang sedikit melegakanku adalah bahwa Kyai Sahal, selang beberapa waktu sebelum keberangkatanku berada di Cirebon untuk menghadiri Munas & Konbes NU dan aku harus sowan kepada beliau. Di tengah kesibukanku menyambangi seluruh keluargaku, terbersit fikiran untuk mengadakan syukuran, dan praktis saja ayahku langsung menginstruksikan seluruh keluarga,kerabat dan tetangga untuk datang. Juga tak lupa teman-teman lamaku  turut ku undang. Syukuran itu digelar dengan sederhana. Seperti tradisi masyarakat Cirebon pada umumnya, syukuran yang aku selenggarakan adalah tahlilan, hadiyuan dan ramah tamah. Dan tentunya, sekali lagi aku meminta doa dan restu kepada semua yang hadir, dan mohon dimaafkan segala kekhilafan. Aku berpamitan kepada seluruh yang hadir. Aku salami mereka satu per satu, dan yang paling pertama adalah ayahku. Sayang, ibuku tak hadir dalam acara tersebut karena sedang perjalanan pulang dari Jakarta. Momen ini adalah momen yang sangat krusial. Disini aku meminta hatiku agar benar-benar siap, benar-benar ikhlas, benar-benar memegang teguh 2 hal yang sangat fundamental dalam hidup : Prinsip dan komitmen.  Prinsip kehidupan sebagai manusia yang beragama dan berperadaban. Sebagai manusia Indonesia yang menjunjung tinggi semangat juang dalam hidup. Dan aku selalu berharap dan berusaha untuk memeluk erat komitmen menjalankan prinsipku tadi. Tak lepas, tak kandas. Sungguh malam itu sangat mengahangatkan. Setiap orang mendoakanku, mendukungku dan menasehatiku. Sungguh haru hati yang digenggam rasa bahagia dan sedih ini. Bahagia bisa mengejar keinginan, dan sedih harus meninggalkan ibu pertiwi.

 

Sampai jumpa, aku  pasti kembali

Sabtu pagi, 15 september 2012. Aku sudah memasukkan aebuah koper besar, beserta tas kecil yang akan kubawa. Pagi itu aku dan orangtuaku bergegas menuju ke kota, tempat dimana Sang Pengasuh Jiwa, Dr KH MA Sahal Mahfudh singgah selama menghadiri Munas & Konbes NU di Cirebon. Aku berpamitan dengan beliau, aku meminta restu dan doa, kemudian segera berangkat ke Jakarta. Esok harinya, aku bersama teman-teman senasibku, bersiap meninggalkan tanah air pada sore hari. Meninggalkan ibu pertiwi.

Aku tahu, pilihan yang aku genggam ini sangatlah berat bagi hatiku. Tidak hanya meninggalkan rumah dan keluarga. Aku renggut pilihan itu tatkala cintaku terhadap tanah air sedang tumbuh. Aku seperti bayi yang serba tak mengerti tentang Cirebon, tentang Indonesia. Kala itu benih cinta terhadap keluhuran Indonesia baru saja ku tanam. Aku baca setiap sudut jalan, aku lihat setiap bentuk kehidupan, aku pahami setiap butir tradisi,budaya dan keluhuran. Batin ini terus bergulat, dosakah aku meninggalkan cintaku? Kapan lagi kau mendapat kesempatan emas ini?. Lalu hati nurani segera menyergap. Akan kucari ilmu sampai dalam perut bumi, dimanapun. Tafaqquh fiddin menuju insan shalih akram adalah jalan hidupku. Al Qur’an mengajarkanku untuk selalu menuntut ilmu. Nabi Muhammad SAW menganjurkan manusia menuntut ilmu dari lahir sampai mati, bahkan sampai ke negeri cina. Al Qur’an menjadikan manusia pemimpin di muka bumi. Manusia harus mampu mengeksplorasi bumi dengan sebaik mungkin. Manusia akan berguna dengan ilmu juga etika agar menjadi manusia yang bertakwa. Karena itulah yang paling dimuliakan di sisi Allah.

Dengan mengucap syukur dan niat di lubuk hati yang paling dalam, aku bahagia. Perjuanganku tak sia-sia. Cucuran peluh dan jejak langkah yang lelah, telah memanen buah yang manis. Akan aku buka langkah baru dan lembar-lembar perjuangan selanjutnya. Akan ku serahkan segala hal yang ku dapatkan untuk ibu pertiwi sebagai kado perjuanganku. Dimanapun aku berada, darahku tetap darah Indonesia. Berlari kemanapun, aku akan kembali kepada cintaku. Aku selalu berdoa, semoga negeriku kembali damai, semoga ibu pertiwi merebut “ladangnya” kembali. Semoga pemimpin negeri ini selalu berbakti pada ibu pertiwi. Dan semoga aku selalu cinta dan menjaga ibu pertiwi.

*Mahasiswa s1 universitas Ibn. Thofail Kenitra, Maroko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>