Dibaca: 4,092 kali    Komentar: 2  

Imroatul ‘Alimatun Nafi’ah: “Hanya Allah yang Maha Tahu”

Imroatul 'Alimatun Nafi'ahAwalnya saya berniat sekolah MA setingkat SMA di negeri Mesir, tapi hal itu tidak terjadi, karena ketidakrelaan orang tua melepas saya yang masih terlalu kecil pergi jauh ke negeri orang. Saya pun pasrah masuk sekolah biasa, 3 tahun berlalu dan inilah tahun penentuan dimana saya akan melanjutkan studiku. Terfikir di benak saya akan melanjutkan study ke Mesir. Kenapa saya ingin melanjutkan study ke negeri itu padahal masih banyak universitas yang jauh lebih maju dari al-Azhar ???. pertama karena mesir itu sendiri tekenal akan ilmu agama yang berkembang pesat disamping al-Azhar yang merupakan universitas tertua di dunia juga karena banyaknya lulusan al-Azhar yang tidak diragukan lagi kehebatan ilmunya. saya pun merundingkan masalah ini bersama kedua orangtua saya, orangtua saya pun menyetujui dan ridho akan keinginan saya. Setelah itu saya mengikuti bimbingan pra-tes beasiswa Mesir, bimbingan itu mencakup syarat-syarat yang di ajukan oleh pihak universitas al-Azhar, salah satunya adalah calon mahasiswa diharuskan hafal al-qur’an minimal 3 juz. setelah mendengar syarat yang disebutkan, saya kaget karena saya hanya hafal juz 30 saja. saya bingung bagaimana saya harus ikut tes sedangkan saya belum hafal itu sama sekali. Ujian itu masih membayangi fikiran saya hingga ujian itupun tiba.

Waktu berjalan dan akhirnya saya sudah hafal 2 setengah juz meski belum mencapai target. Tes itupun tiba dengan modal nekat akhirnya saya mengikuti tes tersebut, meskipun minder sama teman-teman saya yang sudah mempunyai banyak hafalan. Minder adalah penyakit mental yang menggrogoti semangat seseorang, tapi tak akan pernah bisa jika seseorang itu mempunyai semangat membara. Bermodal semngat yang membara dan wajah penuh percaya diri, saya jawab soal dengan rasa puas. Ujian pun berlangsung begitu cepat. setelah ujian selesai kami serta pembimbing segera pulang saat itu juga. Jarak Surabaya-Jakarta begitu jauh tapi akan tergantian jauhnya perjalanan itu dengan jerih payah kesuksesan. Aminn …

Ujian tes pun sudah saya lalui, hanya untuk doa dan harapan yang saya panjatkan kepada Allah SWT. Pasrah akan keadaan adalah cerita dibalik susahnya perjuangan, maka dari itu tidak gampang bisa lolos menjadi calon mahasiswa al-Azhar. Tapi, setelah lama menanti pengumuman itupun tak kunjung muncul. dengan sangat terpaksa mereka daftar ulang ke universitas tempat mereka diterima sebelum tes al-Azhar. padahal impian mereka adalah melanjutkan study ke Negeri pyramid. hanya saya yang tidak memiliki cadangan universitas di negeri sendiri, karena saya yakin sepenuhnya bahwa saya pasti diterima agar saya juga bisa membuat orangtua bangga dengan saya bahwa saya juga bisa sekolah dengan beasiswa. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa seperti kakak saya yang sudah 2 kali sekolah tanpa biaya sepeserpun dari orang tua dengan tujuan agar saya tidak akan lagi dibeda-bedakan dengan kakak saya.

Dengan semangat itu saya punya inisiatif masuk pondok pesantren lagi yaitu ponpes yang khusus menghafal al-qur’an karena saya masih ingin mengejar target kuliah di negeri pyramid. setelah lama mencari info ponpes akhirnya saya menemukan pondok pesantren yang sesuai dengan keinginan saya dan kualitasnya pun termasuk baik.

Setelah saya menjadi santri di ponpes itu saya mentargetkan diri saya untuk bisa hafal al-qur’an maksimal 1 tahun setengah, meskipun masih dalam penantian pengumuman al-Azhar. Di pondok ini saya mendapat sambutan hangat dan ramah, mungkin karena saya sebagai santri baru. Tapi tak berapa lama keadaan berubah dratis, mereka mulai menjauhiku. Semngatku pun mulai luntur. Saya nekat mengadukan hal ini kepada kyai. Namun nasehatnya pun sama dan intinya pun sama seperti apa yang kawan saya katakan. Perbedaannya kyai saya berbicarasingkat seperti ini ”yang sabar! hatinya di tata! tidak usah hiraukan apa kata orang, karena pikiran, hatimu dan derajatmu akan di tingkatkan!!! dengan adanya kesempatan ini angkatlah derajat orangtuamu dengan derajat yang kamu miliki saat ini.”

Nasehat dan motivasi itu membuatku lebih lega, tapi hati ini tetap tidak tenang karena kesan teman-teman tentang diri saya.

Saya sudah pasrah dengan apa yang terjadi. saya hanya berdo’a kepada-NYA supaya Allah memberikan jalan yang terbaik buat saya, keluarga, teman, dan lingkungan di sekitar saya.

Singkat cerita, beberapa hari kemudian abi saya datang untuk memberitahukan saya agar ikut seleksi ujian Mesir yang tahun lalu sempat tertunda. Setelah semua di jelaskan, saya segera bersalaman ke semua teman-teman saya yang sangat saya sayangi sambil berucap “terima kasih banyak atas semuanya dan saya minta maaf atas segala kesalahan selama saya berada di ponpes ini, dan maaf jika saya tidak bisa menjadi teman baik seperti yang kalian inginkan”. setelah saya berkata seperti itu, merekapun ternyata meneteskan air mata. dalam hati saya berkata”ternyata mereka juga sedih dengan ketiadaan saya”.

Setelah 9 bulan berada di ponpes itu saya kembali lagi ke ponpes yang sebelumnya saya pernah mondok. Di sinilah waktu saya memulai kegiatan baru yaitu mengikuti bimbingan belajar bagi yang ingin mengikuti tes universitas al-Azhar Cairo Mesir. bimbingan tersebut berjalan dengan lancar, saya pun mempunyai teman baru yang awalnya saya dan mereka tidak saling mengenal, karena mereka bukan teman-teman saya yang ikut tes ujian pada tahun lalu, tapi saya juga tidak lupa mengajak teman-teman saya yang pernah sama-sama ikut tes beasiswa mesir, akan tetapi semuanya menolak dengan alasan mereka sudah terlanjur kecewa, mereka menunggu hasil hingga satu tahun berlalu namun tidak ada pemberitahuan sama sekali, hanya ada satu teman saya yang bersedia ikut bimbingan tersebut. Awalnya teman saya menolak keras ajakan saya dengan berbagai alasan, berikut celotehannya ” butuh uang banyak untuk kembali ke pulau jawa…uang dari mana saya bisa kembali ke pulau jawa ??? terus, apa jaminannya ketika saya tidak keterima dalam tes seleksi itu ??? siapa yang mau menjamin saya jika saya pasti berangkat ke negeri orang??? jika tidak terima, apa tindakkan selanjutnya ??? apa seperti tahun lalu di biarkan begitu saja???”.

Pernyataan itu membuat saya takut untuk mengajaknya kembali disamping karena kekecewaan yang sudah larut dalm batinnya juga karena faktor kondisi ekonomi. Berbagai motivasi saya berikan kepadanya hingga akhirnya ia kembali ke pulau jawa untuk mengikuti bimbingan tes al-Azhar Mesir.

Tes itupun dimulai, ibu kota jakarta adalah tempat ujian tahap pertama, ujian hari itupun terasa menyenangkan, dengan berbagai macam raut wajah para peserta membuat saya larut dalam anugerah ni’mat ini, seakan semuanya hilang tanpa bekas, senyum tak lagi asing di setiap perjalanan pulang ke kota Surabaya. Alhamdulillah

Beberapa hari berlalu, akhirnya pengumuman tiba, kami dipersilahkan melihat pengumuman itu di internet, saya membuka situs penerimaan beasiswa, mata saya tak berkedip memandang dengan jeli nama-nama yang terpampang dalam lembaran kertas hingga akhirnya hal yang ragukan itupun muncul, nama saya tidak ada dalam daftar peserta yang lulus tahap pertama dan secara pasti impian kuliah di negeri pyramid hilang ditelan butiran-butiran penyesalan, ternyata Allah berkehandak lain …

Hari demi hari saya lewatkan dengan diam seribu bahasa. Rumah yang biasanya ramai tak lagi menghiasi sudut-sudut canda tawa, fikiran ini bebas melalang buana hingga hal yang saya fikirkan mustahil hinggap dan bersemayam. Semua teman-teman saya sms satu persatu dengan balasan yang hampir sama, “ini kehendak dari Allah, insya Allah kamu akan mendapatkan yang terbaik. Allah sedang membentuk kekuatan imanmu, mewujudkan impianmu tanpa kau sadari. Allah  mewariskan al-qur’an padamu untuk di letakkan dalam benakmu dan itu bukan orang sembarangan. yakinlah bahwa Dia sangat mengetahui isi hati, yakinlah bahwa selalu ada penguat ketika kamu rapuh…..bangkit ya kawan….semua orang pernah jatuh tapi tidak semua mampu bangkit lagi. Berpikirlah dengan tenang, lalu berusaha mengambil keputusan, langkah terbaik agar Allah memberi yang terbaik tentang mimpi yang selaras dengan kenyataan dan jugaterbaik akan tetap jadi yang terbaik untuk dirimu,agamamu…. Semangat kawan!!! J “.

Begitulah kata-kata yang membuat saya kembali bangkit untuk mengejar impian saya yang tertunda. Tapi satu hal yang membuat saya gembira adalah teman yang saya ajak akhirnya diterima dan lulus tahap pertama. Alhamdulillah ..

Setelah saya bangkit dari kesedihan itu saya mempunyai keinginan untuk mengikuti bimbingan lagi yaitu mengikuti seleksi tes ke negeri seribu benteng Maroko.bimbingan pun lancar, dalam pengumuman itu para calon penerima beasiswa harus mengumpulkan berkas-berkas kelengkapan guna diseleksi menjadi 15 orang. Semua persyaratan sudah terkumpul dan akhirnya terkirim. Satu bulan kemudian tiba-tiba setelah saya melaksanakan sholat maghrib hp saya pun berdering yaitu nada sms. Setelah saya selesai berdo’a saya pun langsung meraih hp saya dan membukanya ternyata dari kawan lama saya, apa yang saya lihat setelah itu, kawan saya pun mengucapkan selamat kepada saya, dia bilang kepada saya bahwa saya sombong karena saya tidak memberi kabar bahwa saya sudah keterima untuk study ke maroko. Saya bingung, saya saja tidak tahu kabar tentang seperti itu mengapa tiba-tiba kawan saya yang tidak pernah sms pun sekali sms dia memberi kabar seperti itu.saya bingung mau jawab apa,ya sudah saya jawab saja.

“iya, semoga do’a kamu di kabulkan oleh Allah”

Karena saya bingung mau jawab seperti apa, saya pun belum tau pasti tentang kabar itu semua bahkan saya tak mendengar bahwa saya sudah diterima. karena saya sadar bahwa saya masih harus menunggu kapan waktunya mengikuti tes tersebut. dari pada saya bingung memikirkan apa yang di katakana oleh teman saya. saya pun membuka FB dari hp yang ada di genggaman. Ketika saya melihat FB ternyata ada pesan bahwasannya saya sudah resmi menjadi calon mahasiswa di negeri maroko. pesan itu di kirim dari kakak kelas saya yang sedang kuliah di salah satu universitas yang ada di maroko.seperti inilah dia mengatakannya “selamat yah…. Kamu sudah resmi jadi calon mahasiswa maroko. saya tunggu kedatanganmu di negeri seribu benteng ini.”

Saya pun bertambah bingung. apa yang terjadi ??? ya sudah dari pada saya bingung terlalu lama, pesan itu pun saya jawab “amin….,makasih atas do’anya mbak…semoga terkabulkan.”

Kakak kelas saya pun menjawabnya lagi

“ini sudah betul fa….,kamu sudah terdaftar dan sudah ada lembarannya bahwa kamu sudah menjadi calon mahasiswa negeri maroko.”

Saya pun langsung memberi tahu kawan seperjuangan saya untuk meneruskan study ke negeri orang.dia pun menjawab ”saya juga belum tau tentang kabar ini semua mbak….”

Mungkin karena dia sudah keterima jadi calon mahasiswa mesir itu.makannya dia juga tidak tahu.

Ternyata apa yang dikatakan kakak kelas saya itu benar. Akhirnya saya diterima, seketika itupun saya langsung datang ke pengurus pondok pesantren dan saya mengatakan apa yang terjadi, seketika itu air mata saya pun menetes dengan sendirinya. sampai-sampai semua pengurus bingung dengan saya yang tiba-tiba meneteskan air mata.gimana tidak meneteskan airmata ?? dibayangan saya ketika itu adalah saya harus mengikuti tes layaknya tes mesir tapi ini tidak terjadi karena saya sudah diterima.

Coba bayangkan kawan … Ketika kalian semua di posisi saya??? apakah yang kalian rasakan??? tidak bingungkah dengan kejadiaan yang begitu mengagetkan. pengurus pun menganjurkan saya untuk pergi ke warnet agar lebih meyakinkan, mungkin di benak pengurus, komputer ponpes lagi eror atau kacau atau jangan-jangan dibajak sama hacker .. tapi coba bayangkan pemirsa !! (bayangkan dan bayangkan)

Air mata saya pun tak sengaja menetes dari pelupuk mata saya. dari dalam diri saya berkata,

”….ya rabb…..agung sekali nama-Mu, saya selalu menyebut-Mu rabbi ku….sungguh tak terduga bahwa nama saya terdapat pada lembaran pengumuman hasil seleksi berkas-berkas calon mahasiswa maroko. ya rabb……kau tuhanku yang tak kan pernah terganti Allah.”

Allahu akbar, spontan saya kabari kedua orangtua dan kakak saya yang berada di rumah. Orangtua saya pun terkejut karena setiap yang ingin sekolah di luar negeri harus mengikuti tes. Saya jelaskan bahwa sistem penerimaan tahun ini melalui berkas dan tahun kemarin melalui tes.

Keagungan Allah begitu abadi, ketika itu saya dapat kabar bahwa teman saya diterima di al-azhar tapi tidak dengan beasiswa namun dengan biaya sendiri. Dalam hati saya berkata  “kasihan sekali teman-teman saya….ya rabb….sesungguhnya Engkau mengetahui yang terbaik bagi hamba-hamba-MU”.

Setelah saya sadar tentang ini semua, saya mengambil kesimpulan bahwa Allah telah menjawab sebagian dari mimpi saya yang tertunda. Dan tepat saat ini saya menuliskan ini semua, diri saya selalu mengingat gimana perjuangan saya dalam berdo’a yang tiada henti dan perjuangan keluarga saya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan saya sebelum saya berada di negeri orang, terutama abi saya yang setia mendampingi saya mengurus semua keperluan dan persyaratan yang dibutuhkan. Seperti SKCK, ayah saya meminta izin ke sekolahnya untuk mengurus keperluan anaknya dan ayah saya juga berdo’a gimanapun caranya hanya Allah yang memberikan jalan ini semua. saya sekarang berfikir bahwa hanya Allah yang menghendaki semua ini, padahal kalau kalian semua tahu, saya dan keluarga saya bukanlah orang yang banyak harta tapi mengapa saya bisa sampai di negeri orang ????

Dalam hal ini saya teringat, suatu hari sempat bertengkar ummi dan abi saya mengenai biaya.ummi saya berkata,

“dari mana bi….mendapat uang segitu banyaknya??? kita kan tidak bisa mempunyai uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat???”

Abi saya pun menjawabnya dengan santai tapi beliau sangat yakin dengan perkataannya yang seperti ini “ummi….yakinlah bahwa Allah itu kaya.”

Dan kenyataannya pun saya bisa berangkat dan study ke negeri orang meski bukan negeri yang saya inginkan karena ayah saya pun yakin dengan apa yang beliau ucapkan.

Semua mimpi kita pasti terwujud tapi belum tentu mimpi itu selaras dengan apa yang kita alami karena hanya Allah saja yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

yah….!!! begitulah cerita singkat saya hingga akhirnya saya bisa sampai di negeri seribu  benteng Maroko. Negeri di mana tempat saya sekarang menuntut ilmu dan tempat di mana saya sedang menuliskan cerita singkat ini.

2 Komentar di Posting “Imroatul ‘Alimatun Nafi’ah: “Hanya Allah yang Maha Tahu”

  1. Kami ikut bangga & senang atas sgl usaha nanda yg gigih ini.
    Kami ikut berdoa & mendukung atas usaha nanda, semoga Allah SWT memenuhi janji-Nya krn Allah SWT tak akan mengingkari janji yakni Allah SWT memberikan solusi terbaik bg hamba-hamba-Nya.
    Krn Allah SWT sbg perancang skaligus pemelihara semesta alam ini termasuk manusia smua berada dlm genggaman-Nya.

  2. tak ada kata yang bisa ku ucap untukmu keluargaku, karena do3a yg sering kau panjatkan kepada Robb kita semua akhirnya semua di permudah, terima kasih sangat akan ku balas dengan menjadi anak yang kalian banggakan, bukan hanya di dunia namun kelak di hari akhir yaitu akhirat kehidupan yang abadi.
    *salam rindu dari negeri seribu benteng_putrimu*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>