Dibaca: 3,410 kali    Komentar: 4  

Aditya Prana Iswara: “Teh pahit dari Taiwan”

Aditya Prana IswaraSaya Aditya Prana Iswara, cukup panggil Ade. Saya berasal di lereng Gunung Kelud, Alhamdulillah saat ini saya sedang studi program master di salah satu universitas di Taiwan. Saya salah satu dari sekian banyak penerima beasiswa universitas National Chiao Tung University (NCTU) di Taiwan.

Mimpi keluar negeri? Saya sudah bermimpi pergi keluar negeri sejak kecil. Namun setelah mengalami berbagai “revisi mimpi” karena prestasi saya pas pas an dan cenderung tidak berprestasi, maka pilihan pun jatuh menjadi pilihan di kalangan mayoritas, hidup standard, apa adanya. Ketika SMP ingin lulus dan melanjutkan ke SMA, ketika SMA hanya ingin melanjutkan kuliah, lulus dan kerja. Simple. Kalau ditanya motivasi beasiswa saya? Hmm… sudah runtuh 4 tahun lalu ketika semester pertama saya kuliah saya mendapat triple D. 3 nilai D menghiasi transkrip saya hingga sekarang. Selanjutnya saya tidak punya target muluk muluk. Lulus tepat waktu supaya bisa meringankan beban orang tua dan kerja menjadi target saya. Asal lulus, kerja dan berpenghasilan. Sudah cukup bagi saya hehehe…

Masalah muncul ketika menginjak semester 8 ibu mulai bertanya tentang rencana masa depan. Saya tidak bisa menjawab atau lebih tepatnya tidak berani menjawab. IPK pas pas an, tidak ada prestasi sama sekali. Such big talk if I just talk. Setiap ditanya jawabanku selalu sama, “bingung” atau “saya belum memutuskan”. Ketika banyak teman teman mahasiswa sudah menancapkan targetnya di untuk membuat rencana masa depan, saya masih tersekat diam. Suatu ketika ibu saya bertanya “kenapa kamu tidak lanjut S2 saja? Ibu masih ada dana untuk S2.”

Saya semakin bingung, bukan masalah pilihan kerja atau kuliah tapi pengorbanan yang dilakukan ibu saya, besar kemungkinan akan mengorbankan biaya hidup dan rencana financial pendidikan tinggi untuk adik saya. Saya tidak ingin egois namun saya juga tidak mau terus bimbang. Di tengah kebimbangan itu, ternyata secara tiba tiba sebuah pernyataan keluar dari mulut saya “Bu, saya juga pengen kuliah S2 tapi kalau biaya sendiri rasanya sulit, adik juga masih butuh biaya untuk kuliah. Insya Allah nanti saya kuliah S2 lagi tapi tidak dengan biaya dari ibu. S1 sudah cukup.” Pernyataan yang berani tapi saya gila di kemudian hari karena bagaimana mau kuliah lagi dengan nilai pas pas an, biaya sendiri, sedangkan saya sudah tidak punya motivasi untuk berburu beasiswa. Hingga di akhir semester 8 setelah siding laporan TA (skripsi) seorang dosen penguji tiba tiba bertanya tentang rencana masa depan saya.

Seperti sebelum sebelumnya, saya diam, menunduk, bingung. Hingga dosen itu berkata “kalau kamu mau sekolah lagi nak, saat ini di Taiwan ada beberapa universitas yang buka pendaftaran untuk spring season (Februari) untuk informasi hidup kamu bisa  menghubungi salah satu seniormu yang sekarang PhD di sana. Teknik Lingkungan di sana cukup bagus, minimal untuk membuka jalanmu.” Saya membuka web tersebut, memang ada beasiswa untuk spring jadi saya tidak perlu menunggu 1 tahun lagi untuk submit dokumen. Saya masih bimbang namun teman TA saya selalu mendorong dan memotivasi untuk menyiapkan application letter dan lain syarat lainnya. Di pertengahan ramadhan, saya menerima telepon dari dosen yang memberi informasi tentang beasiswa di Taiwan.

“Nak, sekarang dimana? Ini, ibu dapat proyek perencanaan dan penelitian tapi ibu butuh orang untuk mengerjakannya. Kamu masih ingin kuliah lagi kan? Kalau mau kuliah lagi, kamu ikut ibu sampai kamu diterima S2. Segera ke Surabaya setelah semua urusanmu selesai ya.” Saya diam, tidak percaya dengan apa yang telah saya dengar. Bagaimana mungkin beliau percaya kepada saya, begitu percaya saya akan diterima sedangkan saya sendiri tidak dan bahkan memberikan tempat sebelum benar benar memantapkan masa depan.

Saya berkonsultasi dengan ibu saya mengenai masalah ini dan rencana pendek saya. Dan ibu saya hanya bilang “Ibu karo ayah Cuma iso ndongakne le.” (Ibu dan Ayah hanya bisa mendoakan saja nak) pesan singkat dari ibu yang menandakan bahwa beliau setuju untuk saya berada sedikit lebih lama lagi di kampus. Saya kembali ke kampus untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan dan mempersiapkan wisuda. Keinginan dalam diam saya tercapai, untuk kerja sebelum wisuda walaupun hitungannya masih part time. Namun saya mengucap syukur yang sangat kala itu. Di tengah tengah pekerjaan, LOA (Letter of Acceptance) dari universitas yang saya tuju dikirim ke email saya yang menandakan saya diterima untuk melanjutkan studi di sana. Saya hampir terjungkir dari kursi ketika membaca email itu. Tidak tahu harus berkata apa, orang pertama yang saya hubungi adalah dosen tersebut dan kemudian ibu saya. Saya mulai menyiapkan persiapan teknis dan berbagai persyaratan lainnya untuk berangkat. Dari pekerjaan itu saya membiayai wisuda saya, tes toefl, berbagai persyaratan administrasi hingga tiket pesawat. Alhamdulillah kebutuhan tersebut tercukupi. Dan di sinilah wawasan saya lebih terbuka. Dan di sinilah saya melihat, saya tidaklah lebih besar dari sebuah cyanobacteria. Di sini juga, saya menulis artikel ini di kamar saya lantai 9 Hsinchu, Taiwan.

Apakah berhenti sampai di situ? Tidak.

Di Taiwan belajar dan riset harus seimbang. Beasiswa hanya sampai 2 tahun jika lebih berarti dari biaya sendiri dan susah bagi saya untuk nambal biaya tersebut. Pressure dari mata kuliah dan advisor, sudah tidak tahu lagi berapa banyak tekanannya. Sudah tidak terhitung berapa kali saya dimarahi professor karena dikira saya tidak belajar ataupun tidak ada progress, pressure yang tinggi dan hasil bagus belum cukup untuk memenuhi kriteria professor bahkan ancaman untuk dipulangkan sempat dilontarkan. Apapun itu, berbagai tantangan, masukan, sindiran, ejekan, kritikan, dan skirmish yang saya alami saya anggap sebagai teh pahit khas Taiwan yang berkhasiat menyehatkan tubuh.

Kesombongan saya sebagai alumni salah satu kampus terkenal di Indonesia diruntuhkan di sini. “Jika ingin belajar, buanglah segala gengsi, kebanggan dan kesombongan yang ada di dalam dirimu.” You’re nothing, there are much much more people better than you. Saya paham itu. Kenapa saya tetap bertahan? Jawabannya simple, karena saya suka belajar, karena saya suka tantangan. Teh pahit itu adalah suplemen untuk hidup saya. Kapan lagi akan merasakan teh pahit jika tidak di sini? ^^ . Di Indonesia teh disajikan dengan rasa manis. Bagaimana saya bisa sampai sini? Setiap ditanya pertanyaan itu saya selalu bilang “2 hal yang membuat saya berada di sini, pertolongan Allah dan doa dari ibu.”

Saya teringat pesan seseorang kepada saya, jika kamu punya mimpi dan merasa tidak sanggup mewujudkannya, simpan mimpi itu. Jangan kamu buang. Panjatkan di setiap doa doamu. Frustasi karena tidak terwujud? Benar. Tapi ingat satu hal. Allah tidak pernah lupa pada hambanya.” Saya frustasi namun saya mencoba membangun kembali puing puing mimpi saya yang berserakan.

Dan di sini saya belajar. Belajar menjadi insan yang berguna. Tidak hanya di dunia akademia tapi di dunia seutuhnya. Karena sebenarnya ilmu tidak berhenti dikejar setelah nilai keluar.

4 Komentar di Posting “Aditya Prana Iswara: “Teh pahit dari Taiwan”

  1. mas ade, salam kenal. saya hesna. ingin bertanya2 tentang lingkungan dan tmpt tinggal di nctu. mohon di approve friend request dr saya di facebook.. terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>