Dibaca: 7,094 kali    Komentar: 4  

Rezki Handarta:”Walau jadi buruh dan penjual ayam namun berkado Amerika Serikat…!!!!!”

Rezki HandartaPerkenalkan, nama saya Rezki Handarta mahasiwa FKIP Universitas Haluole angkatan 2008. Lahir dari seorang Ibu hebat membuat saya selalu termotivasi untuk menantang kerasnya dunia dengan semangat yang tak pernah luntur. Saat ini saya sangat menikmati peran dibeberapa organisasi kemahasiswaan seperti HMPS, DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), IAAS (International Agricultural Assiciation Students), dll. Selain sebagai instructor Bahasa Inggris di MECK, juga aktif mengajar bahasa Inggris di CES dan yayasan Prima global yang saya dirikan. Walaupun sudah menginjakkan kaki di Amerika Serikat tetapi masih punya mimpi bisa meraih gelar Master dari Universitas di Australia. Hal ini di buktikan dengan 4 celengan penuh bertuliskan ke Australia.

Bermimpi mendapat beasiswa luarnegeri bermula dari sebuah cerita berikut ini. Ketika itu rasa enggan telah mengalahkan segalanya seakan tak khawatir lagi tentang apapun yang akan terjadi. Saya putuskan untuk berhenti setelah menamatkan SMP yang  saya anggap sebagai keputusan paling tepat daripada keputusan pemerintah yang sekarang ini mencanangkan wajib belajar 12 tahun membuat saya punya kebanggaan besar. Tertawa dalam hati membuat hati serasa memenangkan peperangan dalam melawan arus kebiasaan akan melanjutkan sekolah hingga SMA. Fakta yang terjadi adalah saya sedang menghibur diri akan situasi bahwa saya hidup bersama Ibu dan adik yang terhimpit masalah ekonomi. Keadaan membuat saya tak menerima bahwa sekolah hanya membuat Ibu susah dan harus membanting tulang. Saya tak tega lagi melihatnya menjadi pembantu di pagi buta dan malamnya menjadi tukang urut bahkan hari sabtu dan minggu digunakannya  untuk mencuci baju orang.

Banyak alasan yang saya kemukakan untuk tidak melanjutkan sekolah termasuk ingin mencari pekerjaan. Namun detik itu hati saya terguncang ketika sebuah tolakan kata-kata saya tak digubris oleh bidadari ini. Ibu saya dengan semangatnya yang menggebu-gebu menarik tangan saya yang sedang beradu layaknya lomba tarik tambang acara agustusan. Beliau yang tak putus harapan akan masa depan anak bujangnya mencoba memaksa saya untuk mendaftarkan diri masuk SMA. Akhirnya saya menyerah juga ketika beliau meminjam sepeda ontel yang akan dikayuhnya sejauh 5 km mengantar saya mendaftar ke SMAN 1 Mojokerto. Terlihat kakinya yang masih kuat mengayuh pedal sepeda diiringi bunyi rantai tua yang bergerak kencang selaras perputaran roda. Air mata saya jatuh dan kegilaan tersadar dan detik itu pula ketika air keringat Ibu saya jatuh, sayapun berjanji bahwa saya akan meraih pendidikan setinggi-tingginya. Ternyata Ibu yang selama ini bekerja keras siang malam adalah hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia dan tak ingin menderita seperti dirinya, semampunya ia sisihkan uang untuk membiayai sekolah saya dan adik dimana sebelumnya saya ingin meninggalkan harapan tersebut. Saya genggam dalam hati bahwa saya tak ingin mengecawakannya apalagi durhaka pada beliau. Ya Allah terima kasih telah melahirkan saya dari bidadari hebat ini.

Nah dari situlah  ketika SMA saya selalu mengunjungi perpustakaan dan bertanya pada guru bagaimana cara agar saya dapat bersekolah setinggi-tingginya dengan cara gratis dan tidak ingin membebani Ibu sang pelita hati. Dan kemudian satu-satunya referensi yang saya dapat ketika itu adalah dengan beasiswa. Berburulah saya informasi tentang beasiswa. Hati saya selalu membumbung tinggi ketika menemukan artikel atau buku yang menceritakan tentang seseorang yang mendapatkan beasiswa luarnegeri sampai pada akhirnya saya memantapkan hati dan berdoa bahwa saya akan mencari beasiswa guna bersekolah sampai tinggi dan mewujudkan mimpi untuk melihat bintang dari sisi benua yang lain.

Lulus SMA saya mencoba mencari beasiswa yang memungkinkan saya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pada saat itu Dikti menawarkan beasiswa namun dua kawan saya yang terseleksi mendapat beasiswa tersebut. Tapi saya tidak menyerah, karena tak punya biaya melanjutkan kuliah yang terkenal mahal maka saya putuskan untuk mencari pekerjaan. Alhamdulillah 2 minggu setelah mendapat ijazah SMA di tahun 2006 sayapun di terima bekerja sebagai buruh di PT.INTEGRA INDOCABINET di Sidoarjo. Bekerja sebagai buruh tak menghentikan semangat saya untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tinginya dan mewujudkan mimpi saya ke luarnegeri. Setiap gajian saya selalu menyisihkan uang setelah membayar kos, uang makan, keperluan sehari-hari, mengirimkan adik untuk uang sekolah, dll. Maka setelah 2 tahun bekerja terkumpulah uang sebesar empat juta rupiah. Maka ketika pendaftaran SPMB akan dibuka, sayapun memutuskan untuk berhenti bekerja. Saya pun memutuskan untuk mendaftar SPMB di tanah kelahiran saya karena PTN (Unhalu) di Kendari terbilang murah. Contohnya saja uang SPP hanya Rp. 350.000 tanpa uang gedung lain halnya PTN di Jawa yang menurut saya mahal sekali. Alhamdulillah sayapun dinyatakan lulus seleksi SPMB di tahun 2008 dan masuk di FKIP Pendidikan Bahasa Inggris. Biaya pertama masukpun saya hanya bayar Rp. 1.500.000 dan seterusnya saya hanya membayar uang SPP saja. Lebih beruntung lagi saya mempunyai tante yang tinggal di sekitar kampus Unhalu dan sayapun tidak usah mengeluarkan uang kos atau uang makan namun saya juga harus bekerja dirumah tante.

Semasa kuliah tepatnya di semester 1 hingga 2 saya memenuhi kebutuhan saya dengan berjualan ayam di pasar wua-wua Kendari. Jadi ketika jam kosong atau jam kuliah telah usai sayapun bergegas ke pasar dan siap berkecimpung dengan bulu dan daging ayam. Beruntung di semester 3 saya mendapat beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) dari Dikti yang lumayan bisa mencover biaya kuliah dan buku bahkan di semester 5 saya sudah bisa beli laptop. Rezeki saya tidak sampai disitu, di semester 5 saya mendapat tawaran kerja sebagai intructur Bahasa Inggris di MECK Kendari.

Nah tibalah moment bersejarah itu tepatnya di semester 7. Dua bulan sebelum deadline (18 November 2011) beasiswa IELSP Cohort 10, di kampus ada sosialisasi beasiswa IELSP untuk pertama kalinya, mungkin saja  karena selama beasiswa ini bergulir gak pernah ada mahasiswa Sultra yang mendapatkannya. Nah pada saat itu saya langsung antusias memenuhi persyaratannya. Namun yang membuat saya merasa berat mengikuti beasiswa ini bukanlah karena bersaing dengan mahasiswa hebat dari seluruh Indonesia ataupun teman2 kampus yang lebih berkompeten dari saya akan tetapi tes TOEFL, bukan karena scorenya tapi biayanya (Rp. 400.000). Bagi saya jumlah itu terlalu besar maklum saya kuliah saja sepeserpun tak dibantu orang tua alias kuliah sambil kerja (jualan kue, jualan ayam, pengajar di tempat kursus) tempat tinggalpun menumpang dirumah tante, ditambah lagi uang tabungan saya habis buat keperluan sehari-hari dan kuliah. Karena saya antusias maka sayapun meminta pinjaman uang pada adik yang kebetulan setelah lulus SMA juga datang di Kendari dan bekerja pada sebuah travel di Kendari sebesar Rp. 400.000. walaupun saya sebenarnya sangat malu karena tidak bisa mengkuliahkan adik justru malah datang pinjam uang. Adik perempuan saya satu-satunya inipun langsung memberi saya uang tersebut dan berkata “ambil saja Kak, gak usah pinjam Insya Allah barokah”. Dan dengan ucapan terima kasih dan basmalah saya meyakinkan adik saya bahwa saya akan lakukan yang terbaik. Ditengah perasaan antusias ikut beasiswa IELSP, saya sempat menyerah 1 minggu sebelum deadline karena 2 hal, pertama: Judul saya diterima oleh PA saya sebagai tugas akhir sehingga niat saya sempat berubah untuk fokus penyelesaian tugas akhir saja, kedua: ternyata saya baru sadar bahwa saya tidak punya KTP dari Kendari karena SMP-SMA saya di Mojokerto Jawa Timur. Tapi pada akhirnya sekali lagi adik saya yang bernama Tamika Ayunintias menasehati dan menyemangati saya untuk terus berusaha sehingga hanya dalam 2 hari saja KK dan KTP saya jadi tentu dengan biaya yang tidak sedikit yakni Rp.160.000 pemberian adik dan tante Uni (tempat saya tinggal). sebelum saya mengirim berkas 4 hari menjelang deadline, saya menelepon ibu saya di Mojokerto atas nasehat adik saya guna meminta doa dan dukungan beliau. Alangkah beruntungnya saya pun dinyatakan lulus berkas dan berlanjut ke tahap wawancara beberapa minggu setelahnya (segala puji bagi Allah). Yang menjadi lucu adalah saya lupa jadwal wawancara. Jadi pada hari sabtu setelah makan siang dirumah tante saya, saya di wawancarai dalam keadaan sedang mencuci piring (tugas saya) dan tidak ada persiapan yang memadai hanya menggunakan headset yang dicolokkan ke HP. Dan sayapun menjadi bahan tertawaan dan tontonan tante, om, dan sepupu2 yang tidak percaya bahwa saya sedang diwawancara untuk beasiswa IELSP bahkan saya masih ingat perkataan om saya yang sinis “hei kalau mimpi jangan ketinggian ntar patah tulang lo kalau jatuh” sambil tertawa, tetapi saya cuek saja dan berusaha menjawab pertanyaan pewawancara dengan baik dan jelas. Dan akhirnya tepat tanggal 21 Desember seantero fakultas, lorong, dan orang-orang di rumah tante saya tercengang dan kaget akan teriakan, senyum bahagia dan syukur saya mendapat beasiswa IELSP ke USA. Pada saat itu, sebagian orang sempat menganggap saya gila, bahkan ada yang menganggap saya kena tipu. Akan tetapi itu semua menjadi nyata, benar, dan terwujud tepat di hari ultah saya yang juga menjadi kado spesial, tanggal 4 maret saya berangkat ke Amerika Serikat dengan tekad dan syukur yang teramat kepada Allah SWT.

Alhamdulillah saat itu pagi yang dingin tak seperti biasanya. Suhu dingin yang terasa sungguh asing bagi tubuh Indonesia ini, berada di negeri Paman Sam tuk pertama kalinya membuat suasana hati semakin tak bisa digambarkan hanya dengan kata bahagia, senang, bahkan haru sekalipun. Saat melewati beberapa koridor bandara San Fransisco kami langsung naik pesawat lagi menuju bandara Sky Harbor Phoenix. Semakin merasa deg-degan di persinggahan terakhir setelah melewati 20 jam penerbangan dari negara tercinta  membuat hati terasa mimpi dan nyata berulang-ulang terngiang butuh penegasan.  Akhirnya tibalah kami anak-anak terpilih dari seluruh Indonesia di Arizona sebagai duta budaya, duta pendidikan, pembelajar, negarawan, bahkan bisa juga disebut diplomat…he..he…!!!!

Surprise! bertemu kordinator program (Amy Jordan) dan IIE (Injoong Kim) dan beberapa hostfam termasuk hostfam saya yang membawa poster bertuliskan “Happy Birthday Rezki Handarta” sungguh mengguncang hati. Dari kecil hari ultah saya tak pernah dirayakan maklum untuk makan saja harus banting tulang apalagi waktu SMP orang tua bercerai, kemudian saya dan adik hanya dihidupi dan disekolahkan dari hasi Ibu bekerja. Sungguh merupakan hadiah yang tak disangka-sangka 4 maret tepat hari Ultah dirayakan di empat tempat yang belum pernah saya kunjungi yakni Jakarta, Singapore, Jepang, dan USA maklum perbedaan jam dan harilah yang membuat perayaannya berkali-kali..he..he…dan hadiahnya wah mulai dari kue tart, makan di restorant, diajak jalan-jalan hostfam, sampai souvenir dari Direktur AECP Arizona State University. Kayaknya sujud syukur aja gak cukup karena kalau dibilang kebetulan sungguh pas banget jadi sekali lagi Alhamdulillah ya Rabb!!!

Namun yang ingin saya sampaikan adalah seperti yang disampaikan Agnes Monica bahwa bermimpilah, jagalah mimpimu, percaya, dan buat itu terwujud. Tentunya dengan usaha keras, kerja cerdas, yakin, dan berdoa. Dan perlu saya tekankan bahwa beasiswa bukan hanya semata-mata persoalan bantuan finansial buat si miskin tetapi juga makna prestasi, penghargaan, dan imbalan atas sesuatu pada diri kita yang telah kita usahakan dan yakini. Untuk itulah saya juga menghimbau para pejuang beasiswa untuk tidak menyerah karena Dia (Allah) telah mengetok pintu hati anda untuk mencari beasiswa maka pasti Dia juga akan bertanggung jawab untuk memberikannya mungkin bukan diusaha yang pertama namun ketiga bahkan ada yang sampai ketujuhkalinya karena tentunya beasiswa tidak akan datang sendiri pada kita, kitalah yang mengusahakannya “Man Jadda wajada” siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil……..

4 Komentar di Posting “Rezki Handarta:”Walau jadi buruh dan penjual ayam namun berkado Amerika Serikat…!!!!!”

  1. Sungguh kisah yang sangat menginspirasi mas..salam kenal dg saya peraih beasiswa Maroko dan Sudan.. kisah kita hampir sama dan juga sudah dipublis disitus ini.

    Sukmahadi Mahasiswa Indonesia di Maroko, asal sulawesi.

    • Iya mas Sukmahadi sama2…btw sy jg kaget barusan teman kasitau klw dia nemu tulisan ini padahal tahun 2012 situs ini dirusak hacker mungkin karena bnyak yg share kali ya..he..he…@##@#@#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>