Dibaca: 11,060 kali    Komentar: 1  

Yuli Amalia Husnil: “Semua Terjadi pada Waktu Terbaik dengan Skenario Terbaik”

Yuli Amalia HusnilWalaupun kesempatan itu sudah terlihat dan bahkan tangan pun sudah hampir mencapainya, jika memang belum waktunya tetap tidak akan teraih. Allah Maha Tahu waktu yang terbaik dengan skenario yang terbaik pula.

Aku masih bisa ingat dengan jelas rasa bingung yang menyerangku terutama menjelang lulus S1. Dunia terasa begitu buram. Jalan di depan terlihat begitu berkelok-kelok tak berujung. Mau ngapain aku setelah lulus? Teman-temanku semuanya bersemangat mengurus transkrip, ijazah, berburu informasi lowongan kerja, ikut bursa kerja, dan semua hal yang berhubungan dengan MELAMAR KERJAAN. Aku? Hanya ikut-ikutan tanpa niat. Yang lebih anehnya lagi, saat sang perusahaan yang aku lamar memanggilku untuk ikut tes kok aku malah tidak bersemangat. ‘Yaah, kok dipanggil sih?’ begitu kira-kira reaksiku saat itu.

Mungkin ini yang namanya sedang mencari jati diri. Keinginan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat begitu besar tapi tak tahu mesti melakukan apa. Aku hanya punya satu keyakinan bahwa menjadi pegawai perusahaan bukanlah jalanku. Lalu aku memutuskan kembali kuliah di jurusan dan universitas yang sama. Semua kebingungan sedikit demi sedikit sirna digantikan oleh semangat yang membara untuk mencari ilmu.

Aku kemudian semakin mengenali diriku sendiri. Pribadi yang suka menyendiri memang paling cocok jadi peneliti J. Tapi jangan salah, ‘sang bingung’ belum lelah mengikuti aku. Dia selalu kembali mengetuk pada situasi yang sama, menjelang lulus! Pertanyaan yang sama kembali menghantui. Mau ngapain aku setelah lulus? Tapi kali ini aku sudah lebih mantap dengan pilihanku untuk tidak menjadi pegawai perusahaan. Aku ingin menjadi peneliti atau pengajar.

Belum kusebutkah bahwa aku pernah menyampaikan keinginanku ke kepala departemen tempatku S2 kalau aku ingin menjadi dosen di sana? Tiga kali aku sampaikan ke beliau, tiga kali juga jawabannya sama yang intinya departemen butuh S3. ‘Mungkin memang sebaiknya aku melanjutkan S3’, pikirku.

Di semester 3 tahun 2008 kesempatan itu datang. School of Chemical Engineering Yeungnam University mengirimkan informasi lowongan untuk graduate student. Aku memilih lab Process System Design and Control (PSDC). Bukan karena aku tertarik dengan bidangnya tapi karena memang tak ada pilihan lain. Bosan berada dalam kebingungan membuatku tak mau melepaskan kesempatan apapun yang paling tidak bisa membawaku keluar dari situasi yang sungguh tidak nyaman ini. Bahkan kenyataan bahwa bidang ini adalah kelemahanku tak membuatku surut. Di S1 dulu ada mata kuliah Process Control (sama persis kan dengan nama labku?). Nilaiku D dan setelah mengulang pun aku memperoleh B-. Ibarat pergi ke medan perang tapi tak bawa senjata. Sungguh bodoh. Tapi terserahlah, yang penting ke luar negeri dan sekolah. “Belajar saja yang giat!”, pikirku.

Tapi perjalanan sampai ke lab ini butuh waktu 1.5 tahun disertai dengan deraian air mata di sepanjang tahun itu.

Air mata pertama.

 Aku berniat mendaftar untuk spring semester tahun 2009. Artinya aku harus lulus semester itu juga. Kalau diingat-ingat memang waktu itu aku semuanya serba nekad. Dalam waktu 4 bulan aku harus mendapatkan data yang tidak hanya banyak tapi juga berkualitas sehingga aku layak maju sidang. Tidak mungkin kesampaian tapi aku terus maju. Penelitian S2-ku bisa dibilang lumayan susah karena semuanya serba terbatas. Terbatas literaturnya, alat penelitiannya, zat kimia untuk analisa, dan tentunya terbatas waktunya. Tapi dalam segala keterbatasan itu ada beberapa pelajaran penting yang aku terima dan sungguh aku syukuri. Pelajaran pertama adalah bagaimana menggunakan gergaji dan parangJ. Aku meneliti proses produksi bioetanol dari serat bambu. Alhamdulillah kampusku rimbun dengan bambu jadi tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Persoalannya adalah aku harus memotong sendiri bambu-bambu yang lumayan keras itu. Pekerjaan belum selesai karena bambu-bambu tersebut harus dipotong sekecil mungkin untuk memudahkan proses produksi bioetanol. Jadilah aku mahir menggunakan gergaji dan parang. Tapi bukan itu intinya. Kondisi yang begitu tidak mendukung mengajarkan aku untuk benar-benar mengandalkan diri sendiri. Terkadang kita tidak sadar dengan kemampuan kita namun begitu dihadapkan pada keadaan yang mendesak potensi diri akan keluar dengan sendirinya. Pelajaran kedua adalah bagaimana memaksimalkan setiap menit waktu yang ada dalam satu hari. Waktuku tidak banyak tapi daftar eksperimen yang mesti dilakukan sungguh panjang. Lalu aku membuat daftar pekerjaan harian yang sungguh padat. Tidak ada waktu kosong sedikitpun. Bahkan untuk duduk pun aku harus mencuri-curi waktu. Pelajaran ini sungguh penting karena aku jadi lebih memahami betapa berharganya waktu. Sampai sekarang alhamdulillah pelajaran ini masih aku terapkan. Lalu setelah semua daftar eksperimen selesai dikerjakan dan semua data selesai dianalisa, saatnya untuk maju sidang pun tiba. Aku tidak yakin dengan data yang aku punya cukup untuk menghasilkan kesimpulan. Tapi pembimbingku meyakinkan aku untuk tetap maju. Lalu hari sidang tiba. Karena sudah disetujui oleh pembimbingku, aku pun yakin bisa lulus. Tapi ternyata….

“Yuli, kelulusan kamu di-pending dulu ya karena datanya tidak cukup. Kalau kamu tetap diluluskan kamu bakal dapat C”. Byaaarrrrr! Di perjalanan pulang susah payah aku menahan air mata. Begini ya rasanya tidak lulus. Sakitnya luar biasa.

Kalau sudah begini suka tidak suka aku harus menerima kenyataan bahwa rencanaku melanjutkan studi ke Korea harus ditunda. Professorku maklum dengan keadaanku dan masih memberiku kesempatan untuk kembali mendaftar untuk Fall semester.

Aku pun lalu kembali berkutat dengan rutinitas menggergaji bambu dan eksperimen seharian untuk melengkapi data penelitianku. Alhamdulillah 3 bulan kemudian aku kembali sidang di pertengahan semester dan lulus.

Tapi pengalaman ini ternyata memberi dampak yang cukup kuat padaku. Aku kembali menjadi labil dan ragu akan niatku untuk melanjutkan studi. Apa tujuanku? Keraguanku itu bukannya tak beralasan. Jika aku terus melanjutkan studiku sampai S3 sedangkan aku belum bekerja dan tidak juga terikat dengan instansi pendidikan manapun, lalu apa yang harus aku lakukan setelah menjadi doktor? Dari cerita-cerita yang aku dengar, perusahaan manapun akan ragu menerima S3. Dan biasanya para dosen sudah terlebih dahulu mengajar di universitas sebelum mereka melanjutkan S3. Ya Allah…lagi-lagi aku bingung.  Meskipun tetap dalam situasi yang sungguh kelabu seperti itu aku masih saja tetap keras kepala tidak mau mencoba melamar ke perusahaan-perusahaan. Something tells me inside that its just not the road that I have to take. Aku masih tetap pada pendirianku bahwa aku ingin menjadi seseorang yang bergerak di bidang penelitian atau pendidikan.

Air mata kedua

Kemudian musim penerimaan PNS pun dimulai dan aku dengan semangat mendaftarkan diri ke LIPI. Mungkin ada jalan yang terbuka lebar untukku disini. Aku melupakan niatku untuk melanjutkan studi. Kepada Professor Lee kemudian aku sampaikan perubahan rencanaku dan beliau lagi-lagi menanggapi dengan positif. Akan tetapi musim penerimaan PNS tiba saat aku belum menerima transkrip resmi S2-ku. Aku pun terpaksa menggunakan transkrip S1 yang IPK-nya hanya sedikit di atas 3.0. Alhasil aku bahkan tidak dipanggil untuk tes tertulis karena IPK-ku tidak lolos seleksi. Oh Tuhan. Aku juga melamar ke BPPT tapi yang ini pun nasibku tidak lebih baik.

Beberapa bulan setelah semua jalan yang aku tempuh tak berujung pada keberhasilan, dunia terasa benar-benar gelap dan bukan lagi kelabu. Aku merasa seperti orang yang tak berguna. Sudah 25 tahun tapi masih bergantung pada orang tua. Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata perasaanku saat itu. Cemas, bingung, marah, takut, sedih, semuanya campur aduk dan hanya bisa diekspresikan melalui satu hal. Menangis. Di tengah tangisan itu aku berdoa pada Allah memohon pertolongan. Lalu seperti lampu yang dinyalakan di ruangan gelap, tiba-tiba pikiranku kembali terang. Professor Lee!

Waktu itu kira-kira 5 bulan setelah e-mail terakhir aku kembali mengirimkan e-mail pada Professor Lee yang isinya menanyakan apakah masih ada kesempatan untukku menjadi mahasiswa S3 di lab beliau. Saat itu aku sungguh tidak peduli dengan imej seperti apa yang muncul di benak Professor Lee melihat aku yang maju mundur dengan rencanaku. Alhamdulillah aku tak perlu menunggu lama. Hanya hitungan 1 atau 2 jam setelah e-mail aku kirim beliau langsung menjawab dengan respon yang sungguh membahagiakan. Masih ada kesempatan! Bahkan beliau langsung meminta aku segera mengirimkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Beberapa dokumen bisa langsung aku selesaikan dan aku kirimkan.

Sebenarnya ada satu cerita lagi tentang kebodohanku. Selain ke Yeungnam University, aku juga mendaftar ke TU Delft. Tapi program yang ditawarkan bukan S3 melainkan postmaster. Seperti biasa aku tak mau berpikir terlalu lama, kesempatan ini pun aku coba. Tapi tau ga kebodohan apa yang aku lakukan? Aku mengirimkan transkrip asli S2-ku ke Belanda! Aku bahkan tidak ngeh kalau yang aku kirimkan itu ternyata transkrip yang asli karena bentuknya yang seperti legalisiran J. Berkali-kali aku mengutuk kebodohanku saat sadar kalau transkripku ternyata sudah pindah benua. Aku mesti ke kantor polisi untuk mengurus surat hilang supaya aku bisa tetap mendapatkan legalisir foto kopi transkrip. Subhanallah.

Tapi sungguh alhamdulillah, Allah tak pernah berhenti memberiku petunjuk. Pengalaman berkali-kali berkirim e-mail dengan Professor Lee mengajarkan aku pentingnya mengkomunikasikan segala hal. Kemudian aku mengirimkan e-mail pada TU Delft berisi permohonan untuk mengirimkan kembali transkripku ke Indonesia. Aku sampaikan dalam e-mail itu bahwa aku sangat membutuhkan transkrip itu untuk melanjutkan studiku. Dengah bahasa yang baik, sopan, memohon tapi tidak merendahkan diri, mereka pun mengerti dan mengirimkan kembali transkripku. Bahkan biaya pengiriman mereka yang tanggung. Masya Allah.

Memang, jika rezeki yang sudah digariskan oleh Allah akan menjadi milik kita sudah pasti akan sampai ke tangan kita. Hanya dalam waktu seminggu setelah e-mail aku kirimkan ke Professor Lee, aku mendapat kabar gembira bahwa aku diterima di lab beliau. Alhamdulillah. Semuanya berjalan lancar. Bahkan untuk TOEFL sekalipun. Aku tidak pernah ikut kelas persiapan TOEFL tapi alhamdulillah, lagi-lagi memang sudah rezeki dari Allah, tanpa banyak persiapan aku bisa meraih score yang lumayan tinggi. Setelah semua syarat terpenuhi, aku pun resmi diterima sebagai mahasiswa S3 di School of Chemical Engineering Yeungnam University. 1.5 tahun yang kelabu dan penuh air mata alhamdulillah terlewati dan sampai pada tempat yang terang dan membahagiakan.

So, what is the moral of my story?

Perjalanan 1.5 tahun yang singkat tapi terasa lama itu benar-benar aku pegang sampai sekarang. Aku belajar untuk percaya pada kata hatiku dalam setiap mengambil keputusan. Aku belajar untuk tidak takut salah melangkah. Aku percaya jika kita benar-benar pasrah pada Allah SWT, Allah akan selalu mengarahkan aku kembali ke jalan yang benar. Aku juga belajar untuk benar-benar percaya pada kemampuanku sendiri. Allah tidak akan menghadirkan tantangan untukku jika aku tidak sanggup melaluinya.

Aku semakin menyadari bahwa kenikmatan dalam meraih cita-cita itu ada dalam perjalanannya dan segala tantangannya. Mulai sekarang aku akan memilih impian yang lebih tinggi karena tantangannya akan semakin besar dan insya Allah pelajarannya akan jauh lebih bernilai.

Pepatah bahwa waktu adalah uang benar-benar meresap ke dalam jiwaku setelah melalui fase 1.5 tahun tersebut. Aku berusaha untuk mengisi setiap saat dalam hidupku dengan hal yang bermanfaat, sekecil apapun itu.

Sembari menulis pengalaman ini, aku semakin diingatkan tentang pentingnya mengkomunikasikan sesuatu. Ada banyak pertolongan di luar sana tapi kita tak akan bisa mendapatkannya tanpa komunikasi yang baik. Bahasa memang penentu tapi bukan di posisi pertama. Lancar berbicara atau menulis dalam suatu bahasa bukan berarti kita menjadi ahli berkomunikasi dalam bahasa itu. Menurutku, ketulusan hati dan penghargaan terhadap orang yang kita ajak berkomunikasi adalah faktor yang paling utama.

Mulai sekarang, teruslah berjalan untuk meraih impian mu. Jangan pedulikan tujuannya. Raup semua pelajaran yang kamu temukan di sepanjang jalan. Percayalah itu lebih berharga dari impian yang ingin kamu raih. Pegang teguh keyakinanmu pada Allah, karena hanya Allah-lah satu-satunya pemberi cahaya di terowongan sempit nan gelap gulita ini. Jangan pernah lepaskan impian mu. Tapi terus ingat bahwa hanya Allah yang Maha Tahu waktu terbaik dan skenario terbaik.

Nama: Yuli Amalia Husnil

Asal Sekolah: Universitas Indonesia (S1 dan S2)

Komentar di Posting “Yuli Amalia Husnil: “Semua Terjadi pada Waktu Terbaik dengan Skenario Terbaik”

  1. Dear Mbak Yuli,

    I’m a final year student in chemical engineering at Curtin University and I’m currently doing my final year project. While looking through journal databases related to my topic, I came across this one journal (Design and Optimization of Fully Thermally Coupled
    Distillation Scheme for the Naphtha Splitter Process) and I saw your name on there. The first thing on my mind was that “hey she might be an indonesian” by just looking at your name. So I thought I’d google you, and I was right you were an Indonesian, and apparently from the same Uni (I was transferred from UI to Curtin). You are such a bright woman because I read your paper and I thought you were amazing. I hope you’re doing well right now dan salam kenal, kak!

    Regards,
    Libbis Sujessy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>