Dibaca: 1,546 kali    Komentar: 7  

Awwaliatul Mukarromah: “Beasiswa Ibn Battuta Merit Scholarship”

Awwaliatul Mukarromah“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(Ar-Rahman: 13)
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah adalah satu kalimat yang patut saya ucapkan karena atas nikmat dan izin-Nya saya bisa memiliki kesempatan untuk merasakan musim dingin di negeri bernama “Maroko”, yang bahkan saat pertama mendengar namanya pun terasa asing di telinga. Ini menjadi sebuah penghargaan yang sangat besar bagi saya, Awwaliatul Mukarromah, mahasiswi FISIP Universitas Indonesia, yang telah diberikan beasiswa Winter School Session melalui program Ibn Battuta Merit Scholarship untuk belajar bahasa Arab di Qalam Wa Lawh Center selama satu bulan (31 Desember 2012-25 Januari 2013) di Rabat, Maroko.

Sebagian orang bertanya-tanya, kenapa saya bisa mendapatkan beasiswa tersebut, apalagi dengan tahu bahwa saya bukanlah mahasiswi yang kuliah bahasa arab. Oleh karena itu, saya ingin sedikit berbagi pengalaman tentang perjalanan saya mendapatkan beasiswa winter school ini dan sedikit menjelaskan tentang sistem belajar yang diterapkan di Qalam wa Lawh untuk memberikan gambaran bagi teman-teman yang berminat mengikuti program ini.

Waktu itu saya mendapatkan informasi dari seorang teman melalui email (milis). Saat membukanya saya tidak begitu tertarik untuk membacanya dan hanya menyimpannya dalam sebuah file. Sampai suatu ketika saya membukanya lagi dan membacanya. Setelah memahami isinya, saya mulai tertarik, tapi ada rasa keraguan untuk mengikuti program tersebut. Alasannya, saya berpikir jika saya ikut program ini, saya akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk melengkapi berkas aplikasinya. Berkas yang diminta adalah formulir pendaftaran, essay, transkip nilai, tiga surat rekomendasi yang salah satunya harus dari profesor bahasa arab, dan passport.

Masalahnya adalah saya belum memiliki passport dan tidak tahu kepada siapa akan meminta rekomendasi pada saat itu, karena tidak mengenal satu pun dosen atau profesor bahasa arab di UI. Kedua, saya tidak yakin akan bisa berangkat kesana karena beasiswa yang ditawarkan tidak mencakup biaya transportasi dan biaya hidup, itupun bagi yang mendapatkan full scholarship, sehingga jika saya lolos, pasti membutuhkan dana yang lumayan besar. Dua alasan itulah yang membuat saya sejenak melupakan program beasiswa tersebut.

Program yang ditawarkan adalah program belajar bahasa arab dengan nama beasiswa Ibn Battuta Merit Schlolarship yang pendaftarannya dibuka setiap tahun sebanyak 4 sesi sesuai dengan jumlah musim yang ada di Maroko: fall, winter, spring, dan summer. Beasiswa ini terbagi menjadi dua, full scholarship dan partial scholarship untuk setiap sesinya. Full scholarship berupa beasiwa untuk program dan akomodasi yang diberikan untuk 5 (lima) orang dan partial scholarship berupa beasiswa untuk program saja yang diberikan untuk 10 (sepuluh) orang. Dengan jumlah yang penerima beasiswa tersebut, saya sempat tidak yakin akan bisa lolos seleksi. Namun dengan dorongan dan motivasi yang kuat untuk belajar bahasa arab lagi, I decided to apply! Program yang paling mungkin saya ikuti adalah saat musim dingin karena bertepatan dengan liburan semester lima.

Selama satu bulan saya menyiapkan berkas pendaftaran, mulai dari mengisi formulir pendaftaran, menulis essay, membuat passport ke kantor imigrasi di jam kuliah dan harus bolak-balik sebanyak tiga kali, meminta rekomendasi ke beberapa orang dengan memanfaatkan link yang ada dan akhirnya bisa selesai dalam waktu satu bulan. Dengan susah payah, finally saya bisa mengirim semua berkas dan setelah itu hanya tinggal menunggu pengumuman.

Satu bulan berlalu, pengumuman pun akhirnya datang juga. Bahkan mungkin saya orang yang pertama kali melihatnya, satu detik setelah diumumkan di dinding facebook pada sore hari itu. Rasanya senang sekali karena bisa menjadi salah satu dari lima orang yang menerima beasiswa ini. Sejak itupun saya mulai merencanakan keberangkatan saya ke Maroko. Namun, ternyata saat itu saya dihadapkan dengan masalah finansial, sehingga rasa kebahagiaan itu menjadi kekhawatiran. Rasanya tidak mungkin bisa berangkat. Tidak mungkin bisa mendapatkan dana belasan juta dalam waktu kurang lebih satu bulan. Akhirnya, hal pertama yang terpikir adalah mengajukan proposal bantuan dana. Saya hanya punya waktu satu setengah bulan untuk mempersiapkan keberangkatan.
Pengajuan proposal pun tidak semudah dan secepat yang dibayangkan, birokrasi pembuatan surat pengantar pun butuh waktu kurang lebih 3 minggu. Sampai di dua minggu terakhir saya sempat menyerah dan memutuskan untuk tidak berangkat saja. Selain masalah dana, saat itu pun saya harus mengikuti ujian akhir dan saya masih memiliki ujian di awal Januari 2013. Meskipun saya memutuskan tidak berangkat, saya masih berharap masih ada keajaiban yang akan datang kepada saya, sehingga saya pun meminta izin kepada ketua departemen untuk ikut ujian lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan untuk mengantisipasi jika saya benar-benar berangkat akhir Desember.

Rasanya lelah sekali waktu itu, dengan aktivitas di kampus yang cukup banyak ditambah harus mempersiapkan keberangkatan dan mengikuti ujian akhir. Dua minggu sebelum keberangkatan saya hanya fokus pada ujian. Banyak teman yang bertanya saat itu, “Gimana persiapan ke Marokonya? Jadi berangkat kapan”, mungkin puluhan kali saya mendengar pertanyaan itu. Dalam hati, saya ingin mengatakan, saya tidak jadi berangkat. Namun, entah kenapa jawaban yang keluar adalah “Insya Allah akhir Desember”. Segala pikiran dan tindakan memposisikan diri bahwa saya akan berangkat walau hati ini tidak meyakininya. Hingga suatu ketika, di siang hari saat saya sedang mengerjakan soal ujian di ruang dosen saya mendapat telepon dari salah satu pihak yang saya ajukan proposal. Alhmdulillah, saya mendapat kabar baik bahwa saya diminta untuk datang ke kantornya, ini pertanda bahwa jalan menuju Maroko mulai terbuka meski sudah mendekati hari-hari keberangkatan.

Singkat cerita, H-1 keberangkatan saya baru memegang tiket pesawat setelah menyelesaikan semua ujian. Dan sudah bisa dibayangkan, saya sangat tidak mempersiapkan perlengkapan untuk satu bulan di Maroko, semuanya disiapkan dalam satu hari, bahkan packing pun baru selesai beberapa jam sebelum berangkat ke bandara.

Alhamdulillah, meskipun dengan waktu yang begitu sempit, saya akhirnya bisa berangkat dan sampai dengan selamat di Maroko. Ini semua tidak terlepas dari peran keluarga dan teman-teman yang selalu memotivasi dan mendukung saya. Setelah sampai di Maroko, tepatnya di Qalam wa Lawh, sebuah institusi Bahasa Arab ternama di Rabat, Maroko. Institusi ini telah diakreditasi oleh Brookhaven College (comprehensive American community college) di bawah lembaga Southern Association of Colleges and Schools (www.sacscoc.org) dan merupakan anggota The American Association of Teachers of Arabic. Kurikulum yang diajarkan di Qalam Center sesuai dengan The American Council for the Teaching of Foreign Languages.

Terhitung sejak 2009, Qalam Center telah menerima 700 mahasiswa dari Amerika, Eropa, Asia Timur dan Afrika Selatan. Banyak dari mahasiswa tersebut menerima beasiswa Ibn Battuta untuk belajar bahasa Arab secara gratis di Rabat, Maroko. Hari pertama adalah hari untuk mengikuti placement test terlebih dahulu, berupa tes tulis dan lisan. Mungkin untuk tes tulis tidak ada hambatan yang berarti, tetapi tidak untuk tes lisan. Kenapa? Karena saat itu saya benar-benar tidak siap dan tidak pula mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian ini. Apalagi saya sudah lama tidak belajar dan berbicara bahasa arab sehingga agak misunderstanding saat ujian dilakukan. Mungkin, bagi yang ingin mengikuti program ini sebaiknya harus mempersiapkan terlebih dahulu. Jangan pernah berperang tanpa senjata, seperti yang saya lakukan kemarin.

Dari hasil ujian tersebut akan ditentukan kelas mana yang akan diikuti oleh peserta. Mulai dari level beginner I-III, intermediate I-III, sampai advanced I-III. Berdasarkan pengalaman saya kemarin, satu kelas biasanya tidak lebih dari 5 orang bahkan ada yang hanya 1 atau 2 orang saja sehingga proses belajar akan menjadi kondusif dan pengajar akan lebih mudah mengukur kemampuan muridnya di kelas. Orang-orang yang belajar disini sangat beragam, tidak hanya berasal dari berbagai negara, namun mereka memiliki kemampuan bahasa arab yang berbeda. Ada yang benar-benar mulai dari awal sampai yang sudah cukup mahir berbahasa arab. Tidak perlu khawatir jika belum mampu berbahasa arab dengan fasih, saya pun dulu merasa seperti itu, karena proses belajar disana akan sangat membantu untuk mengakselerasi kemampuan bahasa arab terutama dalam kemampuan berbicara.

Program kuliah berlangsung dari senin-jumat selama 4-6 jam sehari atau 2-3 sesi. Di awal perkuliahan, pengajar akan memberikan silabus perkuliahan dan ada buku pedoman yang harus dimiliki selama pembelajaran berlangsung. Selama belajar bahasa arab, baru kali ini saya benar-benar merasa bahwa belajar bahasa arab itu sangat menyenangkan dan yang paling penting adalah sangat efektif. Hal ini dikarenakan, proses belajar lebih banyak berdiskusi dan tanya jawab, tidak hanya teori yang disampaikan dan kosa kata yang baru didapat langsung bisa digunakan dalam diskusi kelas pada hari itu.

Saya masih ingat ketika hari pertama masuk kelas, saya masih agak sulit mengucapkan kalimat dalam bahasa arab. Namun, setelah minggu pertama, saya bisa cepat berakselerasi dan akhirnya dapat mengikuti perkuliahan dengan lancar dan tidak takut untuk berbicara dalam bahasa arab. Bahkan ada seorang teman disana yang mengatakan kemampuan bahasa arab saya bagus, padahal menurut saya pribadi, bukan karena saya sudah bisa berbicara bahasa arab sebelumnya, tapi karena sistem belajar yang diterapkan di Qalam wa Lawh-lah yang membuat bahasa arab saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Intinya, belajar di Qalam wa Lawh sangat membantu untuk mengakselerasi kemampuan bahasa arab dengan cepat.

Selain kegiatan belajar di kelas, ada pula kegiatan lain yang menarik seperti media club, calligraphy class, cooking class, islamic club, literature club, excursion atau kunjungan ke tempat bersejarah di Maroko dan sebagainya. Program yang saya ikuti berlangsung selama 4 minggu, di pertengahan diadakan ujian tulis untuk mengukur pencapaian belajar selama 2 minggu dan di akhir program pun dilakukan ujian serupa ditambah dengan presentasi di depan seluruh pengajar dan murid yang dilaksakan sebelum pengumuman kelulusan. Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi siapapun yang ingin belajar dan meningkatkan kemampuan bahasa arabnya karena sistem yang diterapkan lebih banyak menuntut untuk berbicara. Selain itu, dengan belajar bahasa arab di sekolah ini, kita bisa lebih mengenal dan berbagi pengalaman dengan orang asing, serta benar-benar merasakan suasana di negeri arab karena dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar. Pada intinya, belajar bahasa arab itu mudah dan menyenangkan. Dari perjalananan saya selama Maroko, satu hal yang harus selalu diyakini, you will never know till you try. So, try and you will know how it is and for me, it was incredible thing to study arabic in Morocco!


FB: https://www.facebook.com/awwal.mukr?ref=ts&fref=ts
Link Beasiswa Qalam wa Lawh Center For Arabic:
http://www.qalamcenter.com/Enrollment/IbnBattutaScholarships/tabid/260/Default.aspx

7 Komentar di Posting “Awwaliatul Mukarromah: “Beasiswa Ibn Battuta Merit Scholarship”

  1. assalamu’alaikum….
    saya sangat tertarik dengan program ini…
    klo essay nya make bhs.Arab atau bhs. Inggris ya….?
    terimaksih sebelumnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>