Dibaca: 1,323 kali    Komentar: Belum Ada  

Dini Nuzulia Rahmah: “Allah Maha Tahu Negara Terbaik Beasiswa Kita”

Dini Nuzulia RahmahBukan masalah dimana kita berada, tapi bagaimana kita bisa mendapatkan ilmu baru serta memanfaatkan ilmu kita dan bisa berguna bagi orang lain dimanapun Allah menempatkan kita.

Negeri Sakura adalah salah satu motivator saya untuk segera lulus dari salah satu kampus terbaik di ibukota Jawa Timur ini. Sejak kecil saya memang suka sekali melihat semua yang berbau tentang Jepang dan belajar tentang kebudayaannya. Saya juga sempat belajar bahasa Jepang juga selama kurang lebih 6 bulan. Tidak hanya itu, bahasa Jepang saya menjadi lebih ter-improve karena hobi saya melihat film drama maupun kartun asal Jepang, yang kadang tanpa subtitle bahasa Inggris.

Menjelang kelulusan S1, saya pun bertekad akan melanjutkan studi saya ke negeri Sakura tersebut. Memulai mencoba peruntungan dengan mendatangi Konsulat Jenderal Jepang yang berada di Surabaya, saya pun mempersiapkan dokumen yang diperlukan untuk belajar ke Jepang. Monbukagakusho Scholarship, masih saya ingat betul bagaimana perjuangan saya saat itu di kala mempersiapkan Tugas Akhir kuliah S1 saya dan dibarengi dengan persiapan memasukkan dokumen ke Monbu. Bersama dengan beberapa teman yang tertarik untuk mengikuti program beasiswa yang sama, kami pun sama-sama ‘berlari’ mengejar deadline pengumpulan dokumen yang waktunya berdekatan dengan pengumpulan draft Tugas Akhir S1.

Alhamdulillah, kami semua berhasil memasukkan berkas beasiswa Monbu tepat waktu. Selang beberapa waktu, akhirnya muncul lagi beasiswa Panasonic yang juga bisa mengantarkan saya ke negeri Sakura. Saya pun melihat requirement-nya yang ternyata harus menyertakan ijazah kelulusan S1. Waktu itu sidang Tugas Akhir saja belum, bagaimana bisa saya memasukkan berkas untuk seleksi calon penerima beasiswa Panasonic.

Akhirnya saya tidak bisa memasukkan berkas aplikasi tersebut. Penantian pengumuman beasiswa Monbu pun terjawab sudah, saya belum lolos tahap dokumen. Tidak menyerah sampai disini, saya bertekad untuk memasukkan berkas tahun depan atau mengikuti beasiswa Hitachi seperti yang telah dilakukan oleh salah satu dosen saya. Waktu itu saya berpikir untuk mengikuti beberapa tes kerja, belum berminat apply beasiswa ke negara lain selain Jepang. Entah mengapa tekad kuat pergi ke Jepang mampu ‘membutakan’ saya untuk melirik negara lain. Sekolah di Jepang merupakan mimpi saya sejak kecil, namun takdir berkata lain. Allah Maha Mengetahui tempat mana yang terbaik untuk saya melanjutkan sekolah. Bukan di Jepang –negara yang sangat saya idam-idamkan– melainkan di Taiwan, Formosa Island.

A blessed land, kata penemunya. Negara yang terletak di selatan Jepang ini termasuk negara maju dengan berbagai kecanggihan teknologi yang sempat membuat saya sangat takjub saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Negera dimana para penduduknya jauh lebih disiplin dan teratur dibandingkan dengan tanah air saya. Perjuangan saya ke Taiwan tidak kalah seru dengan perjuangan saya meraih asa di Jepang. Diawali dari beberapa Professor yang mendatangi kampus S1 saya dan mengadakan interview singkat dengan beberapa mahasiswa. Bagi yang beruntung akan langsung mendapatkan surat penerimaan dari salah satu kampus di Taipei. Saat itu saya masih belum yakin akan mengikuti interview ini, tapi tekad kuat sekolah tanpa biaya ke luar negeri mematahkan semua keraguan saya. Intinya adalah melanjutkan menimba ilmu, dimanapun asalkan bisa bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara tercinta. Tidak disangka-sangka saya berhasil memperoleh Letter of Acceptance (LoA) ke salah satu kampus negeri di Taipei, NTUST. Perjuangan saya selama 4 tahun terbayar sudah, dengan adanya LoA di tangan.

Perjalanan saya belum berakhir disini. Persiapan keberangkatan menuju Taipei saya lalui dengan penuh harap dan cemas. Cemas karena persiapan yang sangat singkat, sementara berkas dan dokumen yang dibutuhkan lumayan banyak dan menyita waktu. Persiapan passport, VISA, legalisir dokumen ke TETO (Taipei Economic and Trade Office), tes kesehatan dan berbagai persiapan lainnya. Semua itu harus diselesaikan kurang lebih dalam waktu satu bulan. Dengan biaya yang masih tersisa berkat beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) yang saya dapatkan di semester 7 dan 8 serta hasil jerih payah riset yang saya kerjakan bersama dosen saya selama 3 bulan, saya membiayai keperluan untuk berangkat ke Taipei. Jujur saja, saya merasa tidak pantas untuk meminta biaya tambahan kepada kedua orang tua saya. Karena menurut saya, seharusnya saya saat itu telah bisa memberi kepada kedua orang tua saya, bukannya malah meminta. Perjuangan memenuhi persyaratan beasiswa ke Taiwan tidak semudah yang dibayangkan, apalagi dibatasi dengan waktu yang singkat. Alhamdulillah, ada ‘tangan-tangan’ Allah yang selalu membantu saya di saat-saat genting. Bulan Februari 2012, bertepatan dengan akhir Winter dan awal Spring di Taiwan saya dengan beberapa teman lain akhirnya menginjakkan kaki di blessed land.

Di awal perkuliahan, semua terasa berat karena belum terbiasa. Lingkungan baru, gaya hidup baru, teman-teman baru, serta bahasa ‘baru’ yang belum akrab di telinga membuat saya harus cepat beradaptasi dengan lingkungan. Ada suka dan ada duka. Duka, karena tiba-tiba berada jauh dari kedua orang tua yang telah membesarkan saya selama lebih dari 2 dekade. Dan mendadak harus meninggalkan comfort zone menuju dunia antah berantah di suatu pulau bernama Taiwan. Suka, karena disambut dengan berbagai kegiatan positif di luar kuliah. Saya mengajar komputer kepada beberapa pekerja Indonesia di Taipei. Saya juga aktif dalam organisasi Islam di kampus. Selain itu mendadak saya jadi suka menulis, cerpen dan artikel. Blog yang sebelumnya sepi mendadak ramai oleh tulisan saya. Dan alhamdulillah beberapa cerpen saya dimuat dalam majalah online dan majalah lokal Taiwan. Yang lebih tidak disangka lagi, salah satu cerpen saya dibukukan oleh salah satu penerbit di Indonesia. Saya merasa saya jauh lebih produktif selama berada disini, berada di luar area zona nyaman. Saya merasa jauh lebih mandiri karena disini Allah ‘menggembleng’ saya untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dan lebih aware dengan kondisi lingkungan di sekitar saya.

Formosa, negeri 1000 asa. Semua harapan dan tujuan saya, saya bangun lagi disini. Mulai dari awal, saya menuliskan hundred dreams dan banyak rencana setahun, 5 tahun bahkan 10 tahun ke depan. Banyak harapan dan impian yang saya bangun kembali sejak berada di negeri ini, negeri pemberi asa. Allah mengajari saya banyak hal disini. Tidak hanya akademis, tapi juga makna kehidupan dan empati terhadap orang lain. Di negeri yang jauh dari sanak saudara dan orang tua, hanya teman yang bisa menjadi satu-satunya keluarga. Kami semua sesama orang Indonesia di sini mempunyai beberapa komunitas dan saling membantu apabila ada yang sedang kesulitan. Taipei, kota yang mendewasakan sekaligus memberikan banyak harapan baru dan pandangan baru tentang kehidupan. Walaupun saya masih belajar dan butuh banyak belajar lagi tapi saya yakin bahwa di sinilah Allah “menggembleng” saya dengan memberikan banyak kesempatan belajar dari siapapun dan dimanapun. Tetap semangat untuk para pengejar beasiswa luar negeri, dimanapun kalian berada bermanfaatlah bagi siapapun di sekitar kalian!

Dini Nuzulia Rahmah Mahasiswi Master Computer Science and Information Engineering (CSIE),National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) Taipei, Taiwan

FB : Dini Nuzulia Rahmah

Email : nuzulia.rahmah@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>