Dibaca: 4,516 kali    Komentar: 11  

Muhammad Nugraha: “Orang Pintar Kalah ama Orang Beruntung”

Muhammad NugrahaSebelum masuk ke cerita saya mau memperkenalkan diri dulu. Nama saya Muhammad Nugraha, di Indonesia biasanya di panggil Nugraha tapi kalau oleh temen-temen dan profesor-profesor di Korea, saya suka dipanggil Muhammad. Kenapa demikian, karena saya kasihan dengan mereka kalau memanggil Nugraha, mereka akan kesulitan ketika memanggil saya dengan sebutan Nugraha, karena mereka susah menyebut huruf “R”. Maka dari itu, agar mereka tidak susah dan bingung memanggil saya, saya saranin untuk panggil saya dengan sebutan Muhammad aja.

Dulu ketika kuliah S1 saya kuliah di Jurusan Teknik Informatika di salah satu univeritas swasta di Jogjakarta. Universitas ini tidak terkenal bahkan banyak dari sebagian orang yang tidak tahu dengan universitas yang satu ini. Sebenernya saya bisa masuk ke universitas ini karena saya tidak lulus ketika tes masuk ke STAN kemudian saya juga nggak lulus PMDK ke Ilmu komputer IPB, terus saya juga nggak lulus SPMB ke Ilmu Komputer UGM. Oleh karena itu, saya mau nggak mau harus masuk univeritas ini biar nggak nganggur atau harus nunggu lagi untuk test tahun depan. Memang kualitas jurusan Teknik Informatika di universitas itu tidak terlalu bagus, bahkan akreditasinya juga hanya mendapat akreditasi “C”, sumber daya manusianya atau dosen nya juga kurang, bahkan ada beberapa dosennya yang hanya lulusan S1. Ketika masuk semester 2, Saya sempat kepikiran ingin pindah kuliah karena melihat perkuliahan yang kurang saya suka, tapi orangtua saya menyarankan agar lanjut aja di universitas tersebut. Ibu saya menasehati untuk terus melanjutkan kuliah di sana, dan untuk masalah kualitas, ibu saya menasehati saya kalo untuk kualitas seseorang itu tergantung kepada diri kita masing-masing, bukan dari orang lain ataupun kampus, kalo kita bagus maka insya Allah hasilnya juga akan bagus. Mendengar nasehat dari orangtua saya, saya pun menurutinya dan melanjutkan kuliah disana sampe saya selesai. Selama masa kuliah saya tidak begitu pintar dan tidak juga begitu bodoh, saya berada di tengah-tengah yaitu menjadi orang yang biasa-biasa aja dengan hasil yang biasa-biasay aja. Bahkan hasil akhir atau IPK pun saya tidak terlalu besar, saya hanya mendapatkan IPK yang pas-pasan dan jauh di banding teman-temen saya yang IPKnya tinggi. Meskipun begitu, saya tetap optimis kalau dengan IPK saya yang kecil itu saya bisa dan akan menjadi orang yang besar daripada teman-teman saya yang IPKnya tinggi.

Setelah wisuda, dari dulu saya memang sudah ada cita-cita ingin melanjutkan kuliah S2, kalau tidak mampu ke luar negeri di dalam negeri juga tidak apa-apa, akan tetapi saya sangat berharap bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri dan itu sudah cita-cita saya semenjak masih duduk di bangku SMA. Kemudian hari demi hari saya lalui dengan mencari cari beasiswa ke luar negeri, akan tetapi tidak pernah membuahkan hasil dan untuk antisipasinya saya pun mendaftar S2 di dalam negeri di salah satu universitas negeri di Jogja. Hal ini saya lakukan untuk mengantisipasi kalau sampai nanti pengumuman penerimaan S2 di Jogja sudah di umumkan dan saya belum mendapatkan beasiswa ke luar negeri juga maka saya akan putuskan untuk melanjutkan kuliah S2 di jogja aja.

Suatu saat saya chating dengan teman saya yang sedang studi di Korea, tepatnya di Chonnam National University(CNU). Waktu itu saya ngobrol dan nanya-nanya tentang beasiswa di Korea. Dan pas lagi chating itu saya ditawarin temen saya untuk mengajukan beasiswa ke CNU dan nanti teman saya akan bantu saya untuk menguruskannya dan meminta rekomendasi dari profesornya di lab. Mendengar informasi itu saya pun menyiapkan berkas-berkas yang di perlukan dan mengirimkannya ke teman saya tadi agar nanti temen saya bisa menguruskannya ke kampus. Sebenarnya di pikiran saya untuk melanjutkan kuliah ke CNU itu masih di liputi perasaan ragu dan bimbang karena kemampuan akademik saya yang sangat kurang, IPK saya yang kecil, kemampuan bahasa inggris saya yang masih ancur dan bahasa korea pun saya tidak bisa sama sekali. Tapi karena tekat yang kuat dan cita-cita yg tinggi ingin melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri saya pun nekad untuk mencoba ke sana. Perlu di ketahui ketika nge-apply beasiswa ke Korea itu berkas-berkas yang saya kirimkan sangat minim sekali, mulai dari nilai TOEFL saya yang rendah, IPK saya juga rendah, dan profil saya pun biasa2aja (tidak ada prestasi satupun). Meskipun demikian saya tetap optimis dan selalu berdoa agar di berikan yang terbaik. Di setiap doa yang saya panjatkan saya selalu minta keridhoan Allah SWT untuk meridhoi saya agar bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Tibalah saatnya pengumuman mahasiswa yang keterima untuk kuliah di CNU dan sayapun cepat bergegas membuka web dimana pengum0uman beasiswa itu di umumkan. Dan setelah saya lihat Alhamdulillah ternyata saya diterima untuk kuliah S2 di CNU, tapi kesenangan itu sirna ketika melihat keterangan ternyata saya tidak mendapatkan beasiswa untuk kuliah disana melainkan harus biaya dari sendiri. Dari hasil pengumuman tersebut saya pun berniat untuk tidak mengambil kuliah ke CNU karena saya tidak mendapatkan beasiswa. saya berniat dan sudah bulat mau melanjutkan kuliah S2 di Indonesia saja, lebih tepatnya di Jogjakarta. Setelah beberapa hari saya mengambil keputusan tersebut keajaiban pun datang, yaitu saya mendapatkan kabar dari teman saya bahwa saya ternyata mendapatkan beasiswa. Mau tau kenapa saya tiba-tiba mendapatkan beasiswa padahal tadinya saya tidak mendapatkannya? Ternyata ketika teman saya mendapatkan info bahwa saya lulus masuk CNU dan tidak mendapatkan beasiswa maka 2 orang teman saya yang di CNU menyarikan dan meloby ke professor agar saya bisa mendapatkan beasiswa, dan akhirnya  setelah beberapa proses saya pun mendapatkan beasiswa. Selain berkat bantuan perjuangan dari teman saya tersebut ini juga berkat do’a kedua orang tua saya dan keridhoan Allah SWT yang mengabulkan doa-doa saya. Semenjak mendapatkan informasi tersebut saya pun segera mengurus keberangkatan saya ke Korea.

Hampir semua teman-teman saya tidak ada yang percaya kalau saya mendapatkan beasiswa S2 ke Korea, karena mereka juga tahu kepintaran dan kemampuan saya yang hanya biasa-biasa saja. Jangankan teman-teman, orang tua pun tidak percaya kalau saya mendapatkan beasiswa ke Korea, kedengarannya ini seperti becanda. Disinilah peranan Allah SWT yang berbicara, segala sesuatu itu tidak ada yg tidak mungkin bagi Allah, segala sesuatu itu akan mungkin kalau Allah berkehendak. Maka dari itu jangan bosan-bosannya meminta dan mohon pertolongan sama Allah SWT dan tentunya di barengi dengan usaha juga.

Main point

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari beberapa pengalaman saya adalah:

  1. Positif thinking, yakin bakal kecapai apa yang kita tuju dan inginkan di barengi dengan doa terus menerus.
  2. Mintalah restu dan do’a orang tua untuk mencapai tujuanmu itu agar lebih di lancarkan.
  3. Untuk yang ngerasa dirinya biasa-biasa aja seperti saya, jangan minder, pasti ada jalan untuk menjadi orang besar, tetap berusaha dan terus berjuang semampunya. “orang pintar kalah dengan orang beruntung”
  4. Link atau relasi akan sangat membatu baik dalam mendapatkan beasiswa ataupun untuk mendapatkan pekerjaan. Berkat link teman yang saya punya di Korea saya bisa mendapatkan beasiswa ke Korea meskipun kemampuan saya biasa-biasa aja.

Mudah-mudahan cerita ini bisa menjadi penyemangat dan motivasi untuk yang minder dengan keadaan yang biasa-biasa aja. cerita ini real 100% saya alami tanpa ada rekayasa sedikitpun. “Orang pintar kalah dengan orang beruntung”, mungkin buat orang yg ngerasa biasa-biasa aja itu kata-kata bisa jadi penyemangat dan motivasi bahwa kamu yakin kamu itu adalah orang-orang yang beruntung yang bisa mengalahkan orang pintar. Orang pintar belum tentu bisa beruntung. Dan untuk bisa jadi orang beruntung terus positif thinking, berusaha, dan do’a.

 Gwangju, September 29th 2012

E-mail             : kertas_24@yahoo.com

Skype              : nugraha8989

YM                   : kertas_24

Facebook      : http://www.facebook.com/nugraha1

Twitter           : @nugraha8989

11 Komentar di Posting “Muhammad Nugraha: “Orang Pintar Kalah ama Orang Beruntung”

  1. salam mas, menarik sekali ceritanya mas nugaha.. sengaja tanpa “R” :-)

    tapi sy salah satu org yang kurang sepakat dg kata2 “orang pintar kalah sama org yang beruntung”. seringkali memang kita mendengar kata2 itu.. tapi pada dasarnya keberuntungan kita itu ditopang oleh tindakan/perbuatan yang kita lakukan sebelumnya, dan termasuk juga do’a dari orang2 disekeliling kita terutama ORANG TUA.

    Memang, saya sepakat kalo bukan hanya orang pintar yang bisa mendapatkan beasiswa. orang biasa2 saja juga bisa (krn sy merupakan salah satunya.. :-) ) tapi, terkadang SEMANGAT JUANG orang biasa itu terkadang lebih HEBAT dan HEBOH dan bahkan sangat LUAR BIASA dari orang yang memang sudah dianugerahi otak yang luar biasa..

    Jadi, sy berkesimpulan bahwa apa yang mas nugaha dapatkan saat ini adalah merupakan bagian dari jawaban ALLAH atas segala doa2 orang2 disekitar mas nugraha, termasuk DOA RESTU orang tua serta bagian dari jawaban atas segala USAHA mas nugaha lakukan sebelumnya.. :-) bukan suatu keberuntungan yang tiba2..

    So, as your conclusion TETAP SEMANGAT untuk BERJUANG, BERUSAHA dan terutama sekali BERDO’A (terutama do’a orang tua) meski otak kita biasa – biasa saja.. :-)

    • Sepakat atau tidak sepakat dengan kata2 “orang pintar kalah sama org yang beruntung” tidak perlu di perdebatkan. Tapi point yang paling penting adalah kita bisa mengambil pelajaran dari point2 yang sudah saya tuliskan di atas.
      Keberuntungan itu bisa di dapat baik oleh orang pintar ataupun orang yang tidak pintar, tapi keberuntungan itu jangan di jadikan sandaran atas semua aktifitas kita. jadikanlah keberuntungan ini sebagai penyemangat dan kabar gembira agar kita terus semangat. Usaha dan doa sudah pasti harus tetap di kerjakan, dan itu menjadi point penting. Karena klo tanpa usaha itu sama aja dengan malas dan malas itu pangkal gagal dan malas itu tidak di ajarkan dalam agama. jadi hindarilah malas dan terus berusaha dan jangan lupa juga berdoa, karena segala yang terjadi di dunia ini semuanya atas kehendak dan keterlibatan Allah SWT. Mintalah keridhoanNya.

  2. mmbaca story k’muhammad bt impian sya dari SMP bangkit kmbali… hehehehe
    jujur, saya sudah lama sekali ingin bisa kuliah d luar negeri (khusunya korea)
    bkan krna demam k-pop/k-drama nya, tetapi (yg sya ktahui saat klas 3 SMP) kemajuan teknologi ny sngat psat. Dan itu membuat saya saat klas 3 SMP ingin sklai bsa kuliah di ngeri gingseng tsb.

    Tapi, menginjak klas 1 SMA, smngat untuk bsa blajar di LN itu hilang krna saat dibicarakan dgn ibu, ibu blang klo ibu tak tau apa bsa Ibu klak mampu atau tidak untuk membiayai kuliah sya di LN.(Itu jga mmbuat sya berfikir sya tdk ingin mmbebani orgtua dgan impian sya) Kecuali, jika saya bsa mndapat beasiswa Ibu akan dgn senang mmbantu saya. Tapi sya kmbali brfikir bahwa “MANA MUNGKIN, ORANG SEPERTI SAYA (Yg hanya siswa biasa) BISA MENDAPATKAN BEASISWA?”
    dari sejak itu saya melepas impian sya untuk bsa kuliah di LN.

    Naik k klas 2 SMA, entah mengapa semangat untuk mencari beasiswa pun datang kembali, entah itu krna sya melihat di brbagai blog tntang pngalamannya kuliah di LN, atau entah apa yang jelas semangat untuk mencari beasiswa itu muncul kembali.

    tapi sekarang (saya klas 2 SMA bru semster 2) yg mmbuat sya bingung adalah :

    1. JURUSAN apa yang hrus sya plih? (krna JUJUR mata pel. yg disukai/ dikuasai pun sya tidak tau. | Cita2 pun skrang sya tdk tau mau jadi apa. Tapi, yg jlas, saat ini ‘saya ingin bsa kuliah di Ln dan ingin bsa mnjadi ‘LEBIH’ dari orangtua sya’

    2. Saya tdak ykin dgan NILAI RATA2 sya yg (slama 3 semester ini) 80,67. Apa bsa untuk md=ndapatkan beasiswa?

    3. TOEFL pun, sya tdk tau bagaimana cara saya mndapatkan nilainya.

    4. LINK/RELASI, smpai saat ini sya masih bingung bagaimana cara mndapatkan tman d LN. Karenas sya sring dngar klo beasiswa itu bsa dgn mudah d dpatkan jka pnya Link teman. Seperti k’Muhammad jga kan.. hehehe

    Tolong k’ minta pndpat dan srannya…
    hehehehe

    sblumnya, sya ucapkan trima ksih… :)

  3. Terimakasih Infonya mas,

    baca ini saya jadi tambah semangat, jujur saya saya juga hampir sama pas-pasan semua… saya akan coba tipsnya, mudah2an keberuntungannya sama ya mas =)

  4. Sungguh kisah yang sangat mengisnpirasi. Kemampuan saya mungkin tidak jauh berbeda dengan Mas M.Nugraha. Dan, semoga saja keberuntungan Mas Nugraha pun tidak jauh berbeda dengan saya. :D

  5. mas saya lulusan elektro. sempat kerja 1 tahun sbg spv.. saya ingin S2 tapi di dalam negeri saja…. permasalahannya saya lupa dengan perkuliahan di s1.. pertanyaan saya.. apakah di s2 ada semacam penyetaraan/matrikulasi gt? mohon pencerahannya
    email saya
    m.maskhur.hidayat@gmail.com
    terima kasih

  6. Assamualaikum.. Wr. Wb. Mas, saya sangat kagum membaca tulisan mas. Ini membuat saya termotivasi dan saya ingin medapatkan keberuntungan untuk belajar di LN seperti mas. Tolong Do’akan ya.. Mas. Semoga saya lulus ikut Training Teacher ke Jepang. Pengumumannya tgl 14 Feb ni. Awalnya saya ragu dengan kemampuan saya yang biasa-biasa saja. Sama persis seperti mas alami. Saya juga kuliah di tempat yang tidak terkenal. Tapi itu semua saya serahkan kepada ALLAH SWT. Karena saya juga yakin tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, atas izin ALLAH SWT. Terima kasih mas. Semoga terus success..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>