Dibaca: 2,546 kali    Komentar: 2  

Eko Minarto : ”Hidup adalah Impian”

EKO MINARTOHidup adalah impian, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Rasa putus asa yang setiap saat mendera kita harus kita singkirkan jauh-jauh, karena segala sesuatu serba mungkin terjadi dalam hidup ini. Tulisan ini lebih bersifat memberikan semangat kepada rekan-rekan yang hidupnya merasa kurang beruntung karena berasal dari keluarga yang pas-pasan. Sebelumnya saya memperkenalkan diri dulu, nama saya Eko Minarto. Saya berasal dari keluarga pas-pasan, yang sejak kecil harus dipaksakan untuk mandiri karena kedua orang tua sudah meninggal sejak saya masih kanak-kanak. Hidup adalah impian, selalu terkenang dalam benak saya, dan saya harus mewujudkan hidup atau impian saya itu.

Saat ini saya sedang menyelesaikan kuliah doktoran saya di Institute of Geophysics University of Hamburg atas beasiswa DIKTI. Sudah masuk tahun ketiga, dan semoga di akhir tahun ini saya bisa menyelesaikan studi saya dan bisa kembali ke tanah air untuk mengamalkan ilmu yang telah saya peroleh. Saya saat ini tercatat sebagai PNS staf pengajar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Mengenang masa lalu mungkin saya tidak membayangkan akan berada di tempat saat ini saya sedang berada. Saya dilahirkan di kota kecil di Jawa Timur, Jombang yang terkenal dengan sebutan Kota Santri. Seluruh pendidikan dasar saya tempuh di kota kelahiran saya tersebut. SDN Kedawong menjadi tempat awal saya menuntut ilmu saat saya berusia 5 tahun . Meski awalnya sang kepala sekolah tidak memperbolehkan saya karena usia saya yang masih terlalu dini. Akhirnya saya bisa mewujudkan selalu menjadi juara 1 (karena sekolah di desa kali ya?) membuat saya bisa melanjutkan ke SMP favorit di kecamatan tempat saya berada yaitu SMPN 1 Diwek. Dari sini saya merasa perjalanan hidup saya mulai terasa berat. Dilahirkan sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara, saat saya berusia 14 tahun saya harus ditinggal ibu tersayang selama-lamanya. Selama SMP saya masih bisa menunjukkan prestasi saya dengan selalu menjadi juara 1, hingga saya bisa melanjutkan ke SMA favorit di kota Jombang yaitu SMAN 2 Jombang. Menginjak usia 14 tahun saya sudah masuk jenjang SMA, dan lagi-lagi saya harus menghadapi ujian dari Sang Pencipta dengan di tinggal oleh ayah tercinta selama-lamanya. Tidak terbayangkan hidup saya saat itu. Alhamdulilah selama di SMA saya termasuk 10 besar sehingga mendapatkan beberapa tawaran PMDK dari beberapa Universitas ternama di Indonesia. Namun karena keterbatasan dana semua tawaran itu akhirnya saya tolak. Saya tidak berpikiran sama sekali untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.

Tuhan telah memilihkan jalanNya buat hambaNya. Segala hal yang sepertinya tidak mungkin menurut kita bisa saja terjadi. Berawal dari keisengan saya dan teman untuk bertaruh apakah kami berdua bisa di terima di PTN favorit ternama di Indonesia, akhirnya saya mencoba mendaftar SNMPTN. Alhamdulilah nama saya tercantum sebagai calon mahasiswa yang diterima di jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Kepanikan mulai membayangi hari-hari saya, dengan uang apa saya harus membayar untuk kuliah di ITB?. Saat itu usia saya menginjak 17 tahun, saya beranikan diri menaklukkan kota kembang Bandung dengan modal uang seadanya. SPP yang harus saya lunasi saat registrasi untuk bisa kuliah di ITB ‘terpaksa’ saya utang dulu dengan janji akan saya bayarkan dengan mencicil kalau saya sudah punya uang. Alhamdulilah, Tuhan telah memilihkan jalanNya yang terbaik untuk hambaNya. Tanpa saya harus membayarkan SPP akhirnya saya mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) sampai saya lulus kuliah. Tanpa sepersen-pun saya harus membayar selama saya kuliah di ITB. Sesungguhnya sesudah kesulitan iu ada kemudahan, begitu bunyi surat Al-Insyirah, bahkan diulangi 2 kali untuk meyakinkan kita. Saat hampir menyelesaikan kuliah saya, saya ditawari untuk menjadi staf pengajar di almamater saya ITB. Namun saya tidak ambil kesempatan itu karena saya home sick dan ingin selalu berada di dekat saudara saya. Akhirnya saya pulang kampung dan mendaftar sebagai pengajar di ITS Surabaya hingga saat ini.

Setelah mengajar kurang lebih 4 tahun di ITS saya mencoba mendaftar beasiswa kerjasama Jerman-Indonesia dalam penanggulangan bencana untuk mengambil program master di Jerman. Mungkin Tuhan belum mengijinkan saya untuk berangkat ke Jerman saat itu, saat test wawancara saya belum bisa memenuhi kualifikasi mereka. Sedih, putus asa, kecewa campur aduk jadi satu. Karena selama saya kuliah di ITB satu hal yang selalu saya inginkan yaitu kuliah di Jerman atau Amerika seperti dosen-dosen saya di ITB saat itu. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil program master di almamater saya lagi, ITB. Dan alhamdulilah saya bisa menyelesaikan master saya selama 2 tahun di jurusan Seismologi ITB atas beasiswa grand due-like dari institusi asal saya. Kembali ke institusi asal ITS untuk mengamalkan ilmu yang sudah saya dapatkan.

Sekembalinya ke ITS saya mengajar kurang lebih 2 tahun saya mencoba mendaftar untuk mengambil program doktor. Dengan segala pertimbangan akhirnya saya diterima di University of Western Australia. Lagi-lagi rupanya Tuhan tidak mengijinkan saya belajar ke Australia (yang 2 tahun lalu terkena bencana banjir bandang) dengan tidak meloloskan beasiswa saya. Sedih saat itu, apalagi melihat yang lain dengan prestasi yang tidak lebih baik dari saya malah bisa berangkat kesana. Itulah kejelekan sifat manusia apabila keinginannya belum dikabulkan Sang Pencipta, Su’udzon. Setelah mendengar kabar bencana banjir bandang di Australia dalam hati saya justru bersyukur tidak jadi berangkat kesana. Hari ini boleh jadi kita di tolak di suatu tempat, tapi yakinlah esok hari boleh jadi kita diterima di tempat lain yang lebih baik. Begitu nasehat beberapa kerabat saya saat itu. Hingga akhirnya di tahun 2009 saya mencoba bangkit lagi dan mendaftar beasiswa DIKTI dan saya diterima di universitas saya sekarang Institute of Geophysics University of Hamburg Germany.

Sekali lagi, Hidup adalah impian, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Rasa putus asa yang setiap saat mendera kita harus kita singkirkan jauh-jauh, karena segala sesuatu serba mungkin terjadi dalam hidup ini. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan iu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan iu ada kemudahan (Q.S 94 : 5, 6). Jangan pernah putus asa dan berhenti berusaha, jalani semua kehidupan dengan sebaik-baiknya karena semua yang terbaik dari kita akan kembali kepada diri kita sendiri. Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.
Semoga sukses…..

FB : http://www.facebook.com/nothinglike.ekominarto
EMAIL: minarto@physics.its.ac.id

2 Komentar di Posting “Eko Minarto : ”Hidup adalah Impian”

  1. Suatu niat yg tulus tuk mengapai cita2 akan selalu ada jalan dan kemudahan yg diberi oleh Allah SWT krn semua perjuanganmu ada doa dr kedua orangtua. Yakinlah mereka disurga tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia sebagai hadiah utk mereka jgn lupa kirim Al fatiha.

  2. saya dulu pernah bapak ajar dan sekarang melanjutkan kuliah s2 di its, terima kasih atas ilmu yang diajarkan semoga bisa melanjutkan s3 seperti bapak aminn…:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>