Dibaca: 2,632 kali    Komentar: 1  

Arba’iyah Satriani: “Pengunjung Setia Pameran Pendidikan Luar Negeri”

Menjadi Pemburu Beasiswa
aanSekolah gratis ke luar negeri, tinggal di negara lain yang berbeda adat dan budayanya dengan kita, berkenalan dengan orang dari berbagai bangsa, bahasa dan status sosial, serta mempelajari hal-hal baru dalam hidup keseharian adalah empat hal dari berbagai manfaat dan keuntungan yang kita peroleh jika kita mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Sebagian orang yang lain merasakan bahwa hidup di negeri yang jauh dari negara kita, membuat patriotismenya muncul atau meningkat. Sebagian yang lain merasa menjadi lebih arif dan bijak dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, menjadi lebih dewasa dan menjadi lebih realistis.

Memang, tak perlu pergi ke luar negeri untuk menjadi orang yang berbeda dan lebih baik, tetapi sebagian orang memerlukan kesempatan tersebut untuk berubah. Memang, tinggal tergantung bagaimana kita menyikapi hidup kita. Tetapi, jika ada kesempatan untuk mendapatkan satu atau sekian manfaat dari mendapatkan beasiswa, mengapa tidak? Hanya saja, keinginan-keinginan indah itu seringkali terkendala oleh sebuah pertanyaan mendasar, “bagaimana memulainya?” Karena itu, saya ingin berbagi pengalaman menjadi “pemburu beasiswa” selama tiga tahun sebelum akhirnya saya benar-benar mendapatkan beasiswa dan sekolah ke luar negeri.

Nama lengkap saya Arba’iyah Satriani, tetapi biasa dipanggil Aan. Saya menikah setahun sebelum berangkat ke Brisbane Australia untuk sekolah S2. Suami saya menemani saya belajar di sana. Sambil belajar, Allah SWT mengaruniai saya seorang anak yang lahir di Brisbane. Kini saya menetap di Bandung dan sementara saya memposting tulisan ini, saya sedang berada di Singapura untuk mengikuti program fellowship selama tiga bulan. Saat ini saya masih bekerja sebagai wartawan lepas (freelance).

Kala itu, keinginan untuk sekolah ke luar negeri sudah muncul, tetapi tak tahu bagaimana memulainya..bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan beasiswa seperti orang-orang lain. Lalu, datanglah saya ke sebuah pameran pendidikan luar negeri. Dari sanalah semuanya dimulai…

Mendatangi pameran pendidikan luar negeri menjadi sebuah motvasi bagi saya sekaligus sumber informasi yang penting, sebab di sana saya mendapatkan informasi yang saya perlukan.Mulai dari persyaratan untuk masuk universitas (termasuk skor bahasa inggris, biayanya, jurusan yang tersedia) hingga informasi kota dan negara tempat universitas itu berada. Intinya, semakin banyak kita bertanya, semakin banyak informasi yang kita peroleh.

Dari informasi di pameran pendidikan itu,saya kemudian tahu bahwa kita perlu meningkatkan kemampuan berbahasa inggris kita dulu, mencari beasiswa untuk membiayai sekolah kita – sebab saya tak punya uang untuk biaya tersebut – dan lebih menggali jurusan-jurusan yang saya minati. Langkah selanjutnya, adalah mencari tempat kursus bahasa inggris yang memadai. Saya katakan memadai, sebab tak melulu harus yang mahal – kalau mahal, saya pun tak punya banyak uang untuk itu.

Sebenarnya, tak perlu pergi ke tempat kursus bahasa inggris untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris kita. Belajar sendiri pun bisa, dengan berbagai cara. Masalahnya, saya bukan tipe orang yang bisa belajar sendiri…saya perlu motivasi dan teman untuk belajar. Jadilah saya ambil kursus. Tentu saja ini membutuhkan “pengorbanan” sebab saya harus menyisihkan waktu buat belajar, yang tadinya nggak pernah belajar. Saya juga menyisihkan biaya untuk kursus, yang tadinya bisa digunakan untuk keperluan. Tapi itu memang harga yang mesti dibayar kan?

Sambil kursus, saya mulai berselancar lebih aktif di dunia maya, mencari informasi beasiswa. Jika ada yang menarik, saya coba kontak ke pihak universitas atau pihak pemberi beasiswa. Tapi seringkali, informasi di websites yang disediakan sudah memadai. Keuntungan lain dari mengambil kursus adalah saya bertemu dengan orang-orang lain yang bermimpi sama dengan saya, pergi ke luar negeri untuk sekolah dengan beasiswa. Jadi kami bisa share informasi dan sekaligus share semangat…

Setelah kunjungan pertama di pameran pendidikan luar negeri, setelah itu saya menjadi pengunjung setia pameran pendidikan di kota saya. Demi mendapatkan informasi terbaru mengenai beasiswa dan universitas-universitas di luar negeri. Saya menjadi salah seorang pemburu beasiswa (scholarships hunter) yang bikin orang lain geleng-geleng kepala karena “keukueh” ingin mendapatkan beasiswa.

Tiga tahun menjadi seorang scholarshiphunter, alhamdulillah kesempatan itu datang…Saya mendapatkan beasiswa ADS dan mengambil kuliah S2 di Griffith University. Belum selesai kuliah itu, saya mendaftar kembali untuk program fellowships di Singapura selama tiga bulan, dan saya diterima. Jadi selesai kuliah S2, saya balik ke Bandung sekitar tujuh minggu, dan kemudian berangkat lagi ke Singapura.

Jadi (juga), langkah pertama itu diiikuti oleh langkah-langkah berikutnya. Tak ada hal yang tak mungkin.. jika kita mau mencoba dan terus berusaha sambil tak lupa berdoa senantiasa. Selamat berjuang….@

EMAIL: satriani251@gmail.com

Komentar di Posting “Arba’iyah Satriani: “Pengunjung Setia Pameran Pendidikan Luar Negeri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>