Dibaca: 6,078 kali    Komentar: 2  

Herlina Jayadianti: “Life is Choice”

Herlina Jayadianti - CropedIni bukan sukses story, perjalanan ini baru saja dimulai dan saya berharap di akhir nanti akan menjadi sebuah sukses story dalam kehidupan saya. Perkenalkan nama Saya Herlina Jayadianti, saya bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogjakarta, sampai saat ini saya masih belajar sebagai mahasiswa S3 di Universitas Gadjah Mada Jurusan Teknik Elektro dan Teknik Informatika, dan juga mahasiswa PhD di Universiade do Minho Portugal di Departemen Sistem Informasi (Departemento Sistemas da Informacao). Portugal??? Ya dengan bangga saya menyebut nama negara ini.

Kisah ini dimulai bulan 27 Januari 2010, saat itu saya duduk sebagai mahasiswa S3 semester 4 di Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta. Hari itu saya dan teman-teman pascasarjana mendapatkan undangan dari Dekan Fakultas Teknik untuk menghadiri pengarahan dan penjelasan beasiswa Erasmus Mundus. Isi dari acara hari itu adalah mengajak kami semua untuk mencoba mendaftar dan berkompetisi dalam mendapatkan beasiswa ini. Hampir semua dari kami sangat tertarik namun pendaftaran online ditutup 31 Januari 2010 kami hanya punya waktu 4 hari!!! Dan  persyaratan yang harus dipenuhi sangat banyak…tak ada kata menyerah,harus dicoba.

Singkat cerita, beasiswa Erasmus Mundus adalah bantuan hibah yang bertujuan untuk mendorong dan membuka kesempatan kepada mahasiswa yang memenuhi syarat dari negara-negara non-eropa untuk mengikuti program-program Erasmus Mundus tertentu di Eropa dalam jangka waktu 1-2 tahun. Beasiswa Erasmus Mundus ada banyak macamnya, Nah kebetulan yang saya ikuti ini adalah beasiswa Erasmus Mundus EuroAsia.

Erasmus Mundus EuroAsia ini melibatkan universitas-universitas di Asia yakni Universitas Gadjah Mada-Indonesia, Asian Institute of Technology-Thailand, National University of Laos-Laos, Institut de Technologie du Cambodge –Kamboja, Ho Chi Minh City University of Technology- Viet Nam untuk menempuh pendidikan di beberapa universitas di Eropa yakni University of Borås – Swedia, Politecnico di Torino-Italy, Universidad de Alcalá-Spanyol, Universidade do Minho-Portugal, Chalmers University of Technology-Swedia, dan Université de Savoie-Perancis.

Tidak hanya Erasmus Mundus EuroAsia, namun ada pula beasiswa Emundus 18, Emundus 17, Emundus 15, yang khusus diperuntukkan untuk mahasiswa dari Brasil, Paraguay, Uruguay, Bolivia, Argentina, Peru, dan masih banyak negara lainnya. Hal inilah yang menjadikan salah satu motivasi bagi saya dalam mengikuti program beasiswa Erasmus Mundus ini, yang pertama adalah Benua Eropa yang terkenal dengan sebagai pusat keunggulan ilmu di dunia, dan kedua adalah program ini diikuti oleh mahasiswa dari seluruh dunia. Tentunya program beasiswa ini sangat menarik, dan keinginan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, itu adalah harapan terbesar saya.

Saya menyadari persaingan sangat ketat dan tidak mudah untuk menjadi salah satu penerima beasiswa ini, maka dengan semangat “nothing to loose” saya mencoba melengkapi semua persyaratan tersebut, mulai dari sertifikat TOEFL dengan batasan skor tertentu, bukti-bukti sertifikat keahlian, piagam prestasi yang pernah diraih, ijasah S1 dan S2, transkrip nilai, KTP, Proposal disertasi, rekomendasi supervisor, motivasi diri, CV dengan format eropa (yang dapat di download melalui internet), dinyatakan lulus ujian proposal dan ujian komprehensif, berstatus promovendus (Phd Candidate), dan masih banyak persyaratan lainnya.

Pada saat itu jujur keinginan saya adalah mencoba, tidak berharap diterima, bahkan takut untuk diterima. Loh?? Sungguh aneh kedengarannya, mengapa mencoba kalau tidak ingin diterima? Tapi posisi saya pada saat itu cukup berat, saya adalah seorang ibu muda dengan bayi berumur 1.5 tahun, diantara semangat untuk ikut mendaftar beasiswa dan melanjutkan studi lanjut ke luar negeri, dan rasa sayang yang demikian besar pada sang buah hati tentu hal ini bukan keputusan yang mudah. Saya berdoa yang terbaik, apapun hasilnya itulah jawaban terbaik dari Allah.

Doa saya terjawab tanggal 5 April 2010 tepat dihari ulang tahun ibu saya tercinta , saya diterima di Jurusan Sistem Informasi Universidade do Minho Portugal sebagai mahasiswa exchange selama 2 tahun!! Ya Allah sanggupkah saya meninggalkan bayi saya selama jangka waktu itu? Apa saya batalkan saja beasiswa ini? Namun ternyata dukungan suami tercinta yang berprofesi sebagai Geologist di salah satu pertambangan di Indonesia, juga dukungan orang tua terutama ibu saya yang sanggup menjaga Alif selama saya sekolah, membuat hati ini lebih ringan mengambil keputusan, ini pasti yang terbaik menurut Allah..Bismillah..:).

Proses pengurusan visa dan segala dokumen selesai sudah, Agustus 2010 tanggal 27 bertepatan dengan Ulang tahun saya, saya meninggalkan Jogjakarta, meninggalkan Alif dan keluarga tercinta. Keputusan ini sungguh berat bisa dibayangkan dalam perjalanan panjang itu tidak berhentinya air mata ini mengalir, saya terus berdoa semoga ini yang terbaik menurut Allah. Hampir setengah lingkaran bumi perjalanan panjang ini saya tempuh menuju Portugal, sebuah kota di barat daya Eropa, yang bersebelahan dengan Spanyol. Dulu yang saya tau tentang Portugal hanya Christiano Ronaldo, namun kini saya tau bahwa ada Universidade do Minho yang merupakan salah satu dari sekian banyak universitas terbaik di Eropa. Dulu yang saya tau tentang Portugal hanya karena mereka pernah “menjajah” Indonesia, tapi kini saya tau mereka sangat ramah dan baik hati. Menjadi bagian Negara ini juga universitas ini membuat saya bangga. Tidak hanya itu banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan disini, banyak sekali.

Enam bulan sudah saya disini, saya sudah mulai bisa menikmati hari-hari sibuk di kampus, bertemu dengan teman-teman Erasmus dari segala penjuru dunia, berinteraksi dengan masyarakat disini yang mayoritas katolik, serta mulai bisa menyesuaikan diri dengan bahasa dan budaya yang jauh berbeda. Saya mencintai Portugal sebagai Negara kedua saya. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, keramahan tamahan dan keindonesiaan saya disini berbalas dengan keramah tamahan penduduk Portugal..tidak sungkan mereka memberi bantuan apapun, dan tidak terhitung pula buah-buahan, makanan, bunga, ikan sampai naik taksi gratis pernah saya rasakan disini, Subhanallah.

Sekali lagi ini bukan sebuah sukses story, cerita ini baru saja dimulai dan saya berharap cerita ini berakhir dengan indah InsyaAllah. Sedikit hal yang saya dapat bagi disini adalah kita harus punya motivasi yang kuat, berani mencoba, pantang menyerah, jangan takut bersaing, dan apapun keputusan yang diambil Insyaallah mendapatkan Ridho allah. Saya jadi teringat pesan supervisor saya sebelum saya berangkat “akan ada lompatan besar setelah ini”, Insyaallah.

Terkadang rasa sedih pasti terasa bagaimanapun saya seorang ibu, “Nak kalau umi boleh memilih umi ingin duduk di lantai main bersama alif bukan duduk di lab seperti ini, Nak kalau umi boleh memilih umi ingin membacakan cerita Bernard Bear sebelum Alif bobo bukan membaca paper seperti ini, tapi hidup itu pilihan nak, semoga umi cepet pulang dan bisa berkumpul kembali”.

Sekali lagi life is choice, banyak sekali kesempatan menghampiri kita, semua berada ditangan kita, mengambil atau tidak kesempatan itu adalah pilihan.

Malam hari, 7 derajat
Guimaraes-Portugal
Herlina Jayadianti, ST, MT (Phd Candidate)

herlinajayadianti@gmail.com
FB : herlina jayadianti

2 Komentar di Posting “Herlina Jayadianti: “Life is Choice”

  1. asswrwb
    halo mbak apa kabarnya? apasih bagian tersulit saat mengisi persyaratan beasiswa erasmus mundus ini?

    saya jg sudah mengincar beasiswa S2 untuk tourism & leisure di 3 kampus eropa, mumpung saya masih pny waktu 1 tahun an sblm lulus, bagi tips suksesnya mbak? :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>