Dibaca: 4,766 kali    Komentar: 3  

Early Rahmawati: “Jalan Lebar Beasiswa bagi Aktivis LSM”

Early RahmawatiMendapatkan beasiswa ke luar negeri memang merupakan dambaan tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk saya. Bisa mengalami berbagai budaya dan kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia merupakan salah satu keinginan terbesar saya. Jujur saja alasan tersebut adalah alasan yang paling kuat dan tentu saja disamping belajar untuk meraih jenjang yang lebih tinggi di bidang pendidikan.

Suka duka mendapatkan beasiswa tentu saja ada, karena sejak tahun 2000 saya sudah mencobanya sejak lulus S1, tetapi karena berbagai kesibukan di lembaga tempat saya bekerja (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil – PUPUK) dan belum mempunyai nilai bahasa Inggris yang memadai, membuat saya harus menahan diri serta mau ngga mau harus mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris dengan lebih baik. Sebenarnya di tahun 2003, saya sudah mendapatkan beasiswa ke luar negeri yaitu ke Perth Australia untuk mendalami small business consulting training melalui program Indonesia Australia Special Training Project (IASTP) dari AusAID (Pemerintah Australia)selama 6 bulan. Nah, sebelum berangkat ke Perth kami dibekali kursus bahasa Inggris di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) Jakarta selama 4 bulan, sehingga waktu mempelajari bahasa Inggris itulah yang saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mengikuti kursus tambahan persiapan ujian IELTS. Sebelum berangkat ke Perth pun saya berusaha untuk mencoba ikut ujian IELTS, tapi hasil skor-nya cuma 5. Ya sudahlah, mungkin memang lebih baik saya memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya selama di Perth dan memang benar, di sana kemampuan bahasa saya lumayan terasah. Sehingga ketika pulang ke Indonesia di pertengahan tahun 2003 saya sudah lumayan lancar berbahasa Inggris dengan baik. Kembali kemudian saya mendapatkan beasiswa dari Friedrich Naumann Stiftung (FNS) sebuah lembaga Jerman untuk mengikuti seminar di Jerman, dan jadilah kemampuan berbahasa saya semakin baik.

Tetapi untuk mendapatkan beasiswa sekolah S2 ternyata tak semudah itu, karena saya ternyata memutuskan untuk berkomitmen dengan lembaga dimana saya bekerja untuk menjadi direktur dari tahun 2004 – 2008. Masa yang panjang selama 5 tahun itu saya manfaatkan juga untuk coba-coba melamar beasiswa, walaupun setengah hati karena saya merasa tidak bisa meninggalkan tanggung jawab saya di Indonesia meskipun ada banyak tawaran beasiswa ke Inggris, Australia, Belanda dan Amerika. Skor IELTS saya pun sudah lumayan, yakni 6, sudah cukup untuk berangkat sekolah lagi. Tetapi sekali lagi karena pekerjaan yang luar biasa banyak di kantor plus menjadi konsultan di banyak daerah (alhamdulillah saya sudah hampir ke semua daerah di Indonesia kecuali Papua dan Kep. Riau) membuat saya mengenyampingkan keinginan sekolah ke LN. Terakhir tahun 2008 saya sudah mendapatkan posisi di Inggris dan Jepang (masih dalam proses), tetapi sekali lagi dengan alas an pekerjaan saya belum bisa berangkat. Banyak teman yang menyarankan saya mengambil S2 di Indonesia saja, tetapi saya ngga mau. Alasannya adalah pasti saya tidak akan selesai tepat waktu, alaias molor kuliah seperti yang banyak dialami teman-teman saya lainnya, rata-rata mereka menyelesaikan S2 di Indonesia selama 4 – 5 tahun karena kesibukan pekerjaan lain yang sudah di depan mata. Banyak teman saya juga yang tidak selesai kuliahnya, sayang sekali bukan ? Padahal kalau kuliah di Indonesia biasanya jarang ada beasiswa, jadi kenapa harus susah-susah bayar sendiri dan belum tentu selesai pula ? Maka saya pun tetap menyimpan keinginan belajar ke LN untuk menempuh S2 dan harus mendapatkan beasiswa :)

Pertengahan 2008 saya berkesempatan menunaikan ibadah umroh, dan disanalah saya berdoa agar saya mendapatkan beasiswa tahun depan (2009) dan memang sepulang dari Haramain saya sampaikan keinginan saya untuk berhenti jadi direktur tahun 2009 ! Saya bilang saya sudah saatnya mundur dan memberi kesempatan pada yang lain karena saya mau sekolah ke LN, hmmm padahal waktu itu saya belum tahu kemana dan dapat beasiswa apa ngga. Tetapi memang itulah mungkin takdir yang harus saya jalani, di akhir bulan Oktober 2008 saya mendapatkan informasi beasiswa dari DAAD (Deutsche Akademische Austausch Dient – Lembaga Pertukaran Pelajar dari  Pemerintah  Jerman) di Program Public Policy and Good Government. Akhirnya dengan persiapan yang cukup mepet selama seminggu saya bisa menyelesaikan semua persyaratan dan saya kirim ke kantor DAAD Jakarta. Tidak ada proses wawancara apapun (titik berat penilaian hanya pada dokumen dan referensi serta publikasi – kebetulan saya memang salah satu tim yang membuat Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau lebih dikenal dengan one-stop service termasuk menuliskan dalam buku panduan yang disebarkan ke seluruh kota/kabupaten di Indonesia dan memang itulah alasan saya harus ke banyak pelosok daerah untuk melakukan workshop perbaikan pelayanan publik ini), dan DAAD hanya bilang saya hanya harus menunggu, jika sampai awal April 2009 tidak ada email dari DAAD berarti saya tidak diterima.

Hari-hari terus berjalan, saya pun sudah melamar beasiswa short course ke Jerman juga, disamping berdoa agar saya lolos kali ini. Apalagi ada teman baik saya di SMA yang juga mendapatkan beasiswa dari DAAD untuk program doktor di Potsdam University (dia memang dosen, di Universitas Mataram) juga satu teman SMA lain yang sudah pindah tugas ke Paris (dia bekerja di TOTAL), dan kami memang berencana reuni bertiga di Eropa ! Kesibukan saya pun tetap menumpuk, keliling Indonesia antara Bangka, Kaltim, Aceh, Flores, Halmahera, Maluku, Kupang dan sekitarnya tiada henti. Namun akhirnya email dari DAAD itu datang juga, alhamdulillah…

Akhir Januari 2009 saya mendapatkan email itu, segera saya menelpon bapak ibu di rumah dan beliau berdua menangis mengucapkan selamat karena saya mendapatkan impian saya selama ini, demikian juga dengan adik-adik dan teman-teman kantor saya. Tetapi memang tidak mudah menyiapkan semuanya, karena saya harus sudah berada di Jerman pada tanggal 1 April 2009 untuk memulai kursus bahasa Jerman di Freiburg, bayangkan saya cuma punya waktu 2 bulan untuk menyiapkan semuanya !

Segera saya menyampaikan berita ini ke semua kolega, pemerintah daerah yang demikian banyak, menyusun jadwal kegiatan, persiapan pindahan kos, mengurus visa, periksa kesehatan, dsb. Rasanya begitu hectic karena saya pun harus menyiapkan pergantian direktur dan mengatur semua proyek yang harus saya tinggalkan, meski capek tapi senang ! Saya pernah juga bertanya ke DAAD agar kursus bahasa Jerman di Indonesia saja, pikir saya biar saya bisa punya waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab saya di Indonesia dulu, tetapi mereka menolak dan saya tetap harus berangkat ke Jerman pada awal April !

Itulah tantangan yang saya hadapi justru setelah saya dapat beasiswa. Tetapi toh semuanya bisa saya selesaikan dan bisa berangkat ke Jerman di akhir Maret 2009, sehingga saya dan beberapa teman yang bersamaan berangkat ke sana tidak mengikuti Pemilu 2009 hehe…

Belajar bahasa Jerman juga merupakan tantang tersendiri karena saya nantinya akan kuliah di Jurusan Management for Non-Profit Organization di FH (Fachhochschule – University of Applied Sciences) Osnabrueck yang kuliahnya semuanya memakai bahasa Jerman ! Waduuhhh, benar-benar siksaan tersendiri padahal kami sama sekali nggak tahu bahasa Jerman, belajar di Goethe Institut Freiburg pun dimulai seperti anak TK belajar bahasa hahaha….tetapi setelah 6 bulan belajar ternyata kemampuan bahasa kami sudah lumayan walaupun masih belum layak belajar di universitas, hanya karena pihak universitas sangat baik, kami masih diberi toleransi untuk menjawab ujian semester pertama dengan bahasa Inggris meski pertanyaan pakai bahasa Jerman hehe….

Tantangan yang terberat bagi saya adalah kendala bahasa dan cuaca, kalau soal kangen sih ngga terlalu karena bisa setiap saat telepon, kadang pakai skype dan kebetulan sejak usia 15 tahun saya sudah kost di luar kota (saya asli Ngawi dan SMA di Solo) jadi kalau soal kangen sudah teratasi dari dulu.

Saya bersyukur karena berbagai kendala yang saya hadapi bisa diatasi dengan baik termasuk soal studi. Banyak orang Indonesia baik di Freiburg maupun kota-kota lain yang sangat membantu jika kita kesulitan sehingga sudah seperti saudara sendiri. Teman-teman dari negara lain pun sangat membantu, kami sama-sama sepenanggungan di negara orang sehingga akrab satu sama lain, salah satunya adalah sahabat dekat saya dari Mexico yang bernama Octavio. Dia memang mahasiswa doktor tetapi karena sama-sama kursus bahasa Jerman di Goethe Insitut Freiburg dan kami sering berdiskusi tentang apapun, meski kuliah kami beda kota dan beda tantangan, hingga sekarang kami tetap dekat, bahkan meskipun sekarang saya sudah pulang ke Indonesia. Kami saling memberikan support, saling bertukar masakan Indonesia dan Mexico, saling berbagi tempat tinggal jika diperlukan, dia juga yang membantu saya mengatasi masalah ketika paspor saya hilang (dihilangkan Deustche Post ketika pengiriman ke KJRI Frankfurt), dan berbagai dukungan lain khususnya ketika saya sempat stress dengan kuliah bahasa Jerman yang membuat saya sakit berhari-hari. Kedekatan kami ini akan saya tuliskan dalam sebuah buku, sebagai kenang-kenagan kisah kami di Jerman, disamping foto-foto kami yang memakai batik dan saya juga berkebaya di tengah-tengah kota Freiburg (difoto oleh teman baik asal Indonesia yang menjadi fotografer di Freiburg), yang pastinya akan menjadi dokumentasi yang berharga jika kelak dia benar-benar menjadi Presiden Mexico seperti cita-citanya :)

Selama studi di Jerman, saya juga menjadi DJ Radio PPI Dunia (dengan program : Keliling Indonesia) yang siaran dari kamar saya di depan laptop, mendapatkan beasiswa dari UNDP untuk summer school di Central European University Budapest dengan tema Sustainable Human Development, mendapatkan beasiswa dari kampus untuk summer school lagi di Tallin University (Estonia) dan SSE Riga (Latvia) di bidang Creative Media and New Management, serta dari DAAD lagi untuk mengikuti Right Livelihood Award Conference di Bonn (sebuah acara yang menghadirkan para pemenang Nobel Alternative), dimana tulisan saya tentang hal itu dimuat di website kampus, dan juga berkesempatan untuk mengunjungi 15 negara di Eropa untuk liburan, menjadi kado masak plus menulis buku tentang tips hidup di Jerman dengan salah satu sahabat saya yang lama tinggal di Jerman (karena menikah dengan orang Jerman), menjadi salah satu penulis buku online Aku Bangga Aku Anak Indonesia (2010), juga rame-rame nulis di buku 30 Hari Dalam CintaNya (pengalaman mengalami Ramadhan di luar negeri), plus menjadi penari di even-even budaya hehe….Pokoknya belajar di Jerman membuat hidup saya jadi komplit, terlebih lagi saya sudah bisa cerita tentang banyak hal di Indonesia karena memang sebelum ke Jerman saya sudah keliling Indonesia terlebih dahulu..sehingga teman-teman menjuluki saya The Real Ambassador of Indonesia ! :

Kini setelah saya kembali ke Indonesia saya mengembangkan ekonomi kreatif dan perbaikan kebijakan publik sesuai dengan tema thesis saya yang membandingkan antara kota Solo dengan Pforzheim. Saya bekerja menjadi konsultan independen untuk beberapa lembaga dan di beberapa daerah, mengurus lembaga saya sebagai komisaris dan menulis buku plus artikel di beberapa majalah di Indonesia tentang kota-kota di Eropa. Semua itu adalah hikmah yang luar biasa. Semoga pengalaman saya bisa memotivasi rekan-rekan yang lain untuk mengikuti jejak saya mendapatkan beasiswa.

Salam sukses selalu !

FH Osnabrueck,
Freiburg im Breisgau, Germany

EMAIL : early_rahmawati@yahoo.co.uk

3 Komentar di Posting “Early Rahmawati: “Jalan Lebar Beasiswa bagi Aktivis LSM”

  1. wah menarik sekali ceritanya mbak, saya dari dulu pengin banget dapet S2 di jerman. terlebih lagi ada teman baik sejak SD dulu yg udah menetap disana.
    doakan juga ya mbak biar saya bisa kesana :)

  2. Danke infonya ibu rahmawaty..sangat memotivasi… aku juga lagi cari cari beasiswa….aku mau bertanya …apakah untuk memdapatkan beasiswa itu lebih diprioritaskan kalau yang aktif di LSM ? Dan apakah kalau setelah lulus kita boleh cari kerja di negara tempat kita sekolah atau di luar negeri atau harus balek ke indonesia? Mohon bantuannya infonya….trimakasih sebelumnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>