Dibaca: 12,909 kali    Komentar: 39  

Rahmila Murtiana: “Don’t Stop Dreaming, Don’t Stop Believing!”

Panggil saja aku Mila. Aku ibu dari dua anak yang tengah beranjak remaja. Pekerjaanku mengajar, dan mengajar membuatku selalu merasa remaja & Aku adalah pemimpi, one of my wildest dream adalah bisa merasakan hidup di luar negeri. O ya, aku lahir, besar, dan sekarang tinggal di Banjarmasin.

Mimpiku diawali dengan rasa ketertarikanku dengan bahasa Inggris. Back in the eighties, bahasa Inggris baru mulai diajarkan di SMP, dan kursus bahasa Inggris adalah ‘sesuatu’ , tidak seperti zaman sekarang yang dianggap lumrah. Orang tuaku sebenarnya sudah sejak lama mendorongku untuk ikut kursus, kata mereka betapa enaknya kalau bisa ngomong bahasa Inggris, tapi aku masih ragu apakah aku mampu. Pernah suatu hari aku merasa malu luar biasa ketika di sekolah guru bahasa Inggrisku memarahiku karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan beliau, yang terus terang aku tidak mengerti sama sekali apa yang diucapkan. Akhirnya di kelas dua SMP, aku memutuskan ikut kursus bahasa Inggris, setelah aku iri pada teman-teman di sekolahku yang terlihat pandai karena mereka ikut kursus. Waktu itu di tempat kursusku bukunya masih pakai English 900 yang penuh dengan drills. Terus terang, aku murid yang sangat rajin, walaupun aku bukan murid yang pintar. Bahasa Inggrisku pasif, aku paham aturan-aturan grammar, aku mengerti arti kalimat-kalimat yang diajarkan, tapi aku tidak mampu mengekspresikan dengan kata-kata sendiri, aku hanya bisa menghafal ungkapan-ungkapan yang ada di buku, tanpa tahu persis apakah pemakaiannya sudah tepat. Mungkin ini efek dari audiolingual method yang berkembang pada waktu itu. Mungkin juga karena sifatku yang sedikit introvert dan pemalu, sehingga productive skill ku tidak berkembang sepesat teman-temanku yang extrovert dan berani berbicara. Namun aku tidak pernah absen kursus, mungkin karena jarak tempat kursus yang dekat dengan rumahku sehinggga aku cukup jalan kaki kesana, sementara teman-temanku harus naik sepeda. Pernah, suatu hari di bulan Ramadhan, hanya aku satu-satunya murid yang datang di kelasku.  Aku terus kursus hingga SMA, hingga level yang cukup tinggi, namun masih dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan…

Aku suka sekali membaca. Cerita-cerita yang kubaca di majalah tentang para pelajar yang berkesempatan sekolah ke luar negeri selalu membuatku iri. Ketika aku masuk kelas satu SMA, aku begitu terkagum-kagum dengan dua orang kakak kelasku yang baru pulang dari program pertukaran pelajar di Jerman. Kebetulan bahasa asing yang diajarkan di sekolahku adalah bahasa Jerman. Sejak itu aku bertekad juga ingin belajar bahasa Jerman, siapa tahu bisa mengikuti jejak kakak kelasku, apalagi kudengar bahasa Jerman lebih mudah dari bahasa Inggris karena pengucapan dan tulisannya sama. Meski kemudian keinginanku gagal, karena ketika aku naik kelas 2, guru bahasa Jerman di sekolah kami keburu pensiun, dan diganti dengan bahasa Arab, dan akhirnya tidak ada lagi program pertukaran pelajar ke Jerman. Sekolahku juga pernah menerima exchange student – kalau tidak salah dari Australia, selama 2 bulan. Aku ingin sekali mempraktekkan bahasa Inggrisku dengannya, tapi aku malu.

A miracle happened to my life, ketika di kelas dua, aku dengan tekad dan nekat mengikuti seleksi program pertukaran pelajar AFS, yang informasinya kudapat dari sebuah majalah. Para pesertanya waktu itu cukup banyak, dari berbagai sekolah di kotaku, dan kelihatannya mereka sudah pe-de dengan kemampuan bahasa Inggris mereka. Tes tahap pertama adalah tes tertulis, yaitu pengetahuan umum, mengarang bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang alhamdulillah dapat kulewati. Kemudian, dengan bahasa Inggris yang kaku, aku menjalani tes interview. Kebesaran Allah SWT lah yang membuatku lolos ke tahap berikutnya, hingga kemudian aku dan dua rekan lainnya yang seprovinsi denganku berhasil terpilih bersama sejumlah pelajar dari provinsi lain di seluruh Indonesia untuk menjadi exchange student selama setahun (1988-1989) di luar negeri. Seperti mimpi, aku mendapat host family dan menjadi siswa year 12 di salah satu high school di New Jersey, US. Aku seperti katak yang keluar dari tempurung. Terus terang aku ke tanah Jawa saja belum pernah. Sering kalau teman-teman di sekolahku bercerita tentang liburan mereka ke Jakarta atau Surabaya, aku hanya bisa membayangkan betapa luar biasanya kota-kota tersebut. Ternyata Allah SWT justru memberiku kesempatan untuk ‘terbang’ ke belahan bumi lain. Suburb tempat tinggal keluarga angkatku tidak jauh dari New York, sehingga aku sering diajak jalan-jalan kesana. Salah satu tempat yang berkesan adalah ketika naik Twin Towers atau gedung WTC, yang
sekarang tinggal nama.

Karena setiap hari dikelilingi oleh orang-orang bule, akhirnya aku lancar berbahasa Inggris, bahkan mimpi pun dalam bahasa InggrisJ Aku yakin, semua ini berkat doa dan dukungan orang tuaku. Keluargaku bukan golongan berada, ayahku hanya pegawai negeri biasa, dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Namun aku tahu, orang tuaku punya cita-cita tinggi buatku. Komunikasi waktu itu belum secanggih sekarang, jangankan internet dan handphone, my parents even couldn’t afford to have a home telephone, sehingga untuk berhubungan harus lewat surat atau postcard yang baru sampai sekitar 2 minggu. Surat adalah barang yang amat berharga, yang bisa membuatku berurai air mata setiap membaca tulisan-tulisan dari orang tua dan teman-temanku. Karena tidak pernah berbicara langsung selama setahun dengan orang tua dan teman-temanku di kampung, dan nyaris tak pernah berinteraksi dengan orang-orang Indonesia kecuali lewat telpon dengan sesama peserta AFS yang tinggal di lain state, pulang dari Amerika aku gagap bahasa daerahku sendiriJ Aku pun harus mengulang di kelas tiga. Namun pengalamanku setahun disana tak ternilai harganya, tidak sekedar kemampuan bahasa, namun juga pemahaman budaya dan wawasan yang berbeda. Pengalaman itu amat membekas, membuatku selalu ingin kembali ke luar negeri. Seperti orang yang pergi haji, selalu rindu ingin kembali… Tentu tidak mudah mewujudkan mimpiku. Apalagi setelah aku menikah, dan keluarga adalah prioritas utama. Statusku sebagai ibu mungkin adalah tantangan terbesar. Aku ‘terikat’ oleh komitmenku untuk mengurus keluargaku, tidak ‘sebebas’ mereka yang belum berumah tangga. Namun dalam doa-doaku selalu terselip keinginan semoga Allah SWT memberiku kesempatan untuk pergi lagi ke luar negeri, tidak sendiri, tapi bersama keluargaku.

Setelah tamat dari Fakultas Sastra Undip Semarang tahun 1995, aku sebenarnya tak pernah berpikir untuk kuliah lagi. Aku hanya ingin bekerja dan mencari uangJ Apalagi aku anak tertua, dan merasa bertanggung jawab melanjutkan tugas ayahku yang hampir pensiun. Aku baru mulai tertarik kuliah lagi beberapa tahun kemudian, ketika anak pertamaku baru berusia sekitar satu tahun. Waktu itu aku tinggal di Bandung, ikut suami yang kebetulan bertugas disana. Aku mengajar bahasa Inggris part time di sebuah lembaga kursus. Seorang teman membawa info kalo ada beasiswa dari Aminef. Wow, kuliah S2 di Amerika! Siapa tak ingin? Kubawa pulang potongan koran yang ditunjukkan temankubtersebut. Deadline pendaftaran masih lama, masih cukup waktu untuk menyiapkan persyaratan. Aku bertekad akan membawa anakku kalau aku lulus tes. Ternyata impianku tinggal impian. Mungkin karena tekad dan usahaku yang tidak maksimal, suami juga kelihatannya kurang mendukung, akhirnya aku putuskan untuk memendam impianku. Prioritas mementingkan keluarga dan membesarkan anak menjadi pilihanku waktu itu. Pertengahan tahun 2000 keluargaku memutuskan pulang ke Banjarmasin. Anak keduaku lahir. Aku sibuk menjadi ibu rumah tangga sambil terus mengajar part time. Impianku untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri
tak pernah pudar…

Tahun 2005, aku diterima menjadi PNS di IAIN, di saat batas usia untuk melamar PNS nyaris habisJ Terus terang, menjadi PNS bukan impian utamaku, apalagi aku sering mendengar kalau ada praktek-praktek tertentu agar lulus tes. Namun, rupanya Allah menentukan jalanku untuk menjadi PNS. Dengan hanya latar belakang S1, meskipun formasi waktu itu adalah dosen, status kepegawaianku hanya sebagai tenaga pengajar merangkap staf administrasi. Aku baru bisa diangkat sebagai dosen fungsional bila telah memiliki gelar S2. Kebanyakan rekan-rekan seangkatanku sudah mengantongi sarjana S2, sementara segelintir rekan yang baru bergelar S1 sudah bersiap-siap melanjutkan ke S2, baik dengan biaya sendiri maupun bantuan ala kadarnya dari pihak institut.

Impianku untuk pergi ke luar negeri yang dulu terpendam kembali mucul di permukaan. Aku mengumpulkan semua info tentang berbagai program beasiswa LN, dari Stuned, AusAid, Fulbright, Ford Foundation, Chevening. Aku rajin ke warnet untuk search info, download form aplikasi, maupun mengirim email ke pihak lembaga yg menangani beasiswa. Kukerahkan tenaga dan pikiran untuk mengisi form aplikasi sebaik mungkin. Kukirimkan sejumlah aplikasi. Kegagalan beruntun pun kuterima. Dari Ford Foundation/IIEF, aku mendapat surat balasan kalau aplikasiku gagal. Lewat Stuned, aku juga gagal, padahal aku sudah sempat diterima di program MA Applied Linguistics di Groningen. Beasiswa Stuned memang mengharuskan kita untuk apply sendiri ke universitas yang dituju. Dari Fulbright/Aminef aku sempat dipanggil untuk interview, namun ternyata langkahku pun terhenti sampai disitu. Rupanya jawabanku pada saat wawancara kurang meyakinkan sehingga aku dianggap belum qualified. Tahun berikutnya aku dipanggil lagi untuk wawancara, namun entah kesalahan teknis apa yang membuat ku terlambat mengetahui panggilan tersebut. Aku ingat betul, hari itu seorang officer dari Aminef menelponku apakah aku akan datang untuk interview, katanya hari itu jam sekian sekian adalah jadwal interview ku. Tentu saja aku terkaget-kaget karena merasa tidak menerima surat panggilan untuk wawancara. Di email juga tidak ada. Aku memohon apakah jadwal interview ku bisa di reschedule. Ternyata tidak bisa. Surat panggilan itu baru kuterima di kantorku beberapa hari kemudian. Mungkin Fulbright memang bukan rezekiku.

Beasiswa AusAid kebetulan paling populer di tempatku bekerja. Alasan klisenya, pertama karena Australia dekat, yang kedua karena beasiswa ini terkenal paling ‘generous’& Setiap tahun kami beramai-ramai mengirimkan aplikasi, dan beberapa rekan sudah berhasil memperoleh beasiswa ini. Tahun pertama aku mengirim aplikasi (waktu itu program APS), aku sudah gagal di tahap administrasi. Sementara temanku yg TOEFLnya lebih rendah dariku justru berhasil masuk shortlisted. Tahun kedua, alhamdulillah aku masuk shortlisted, dan dipanggil untuk tes IELTS dan JST interview. Aku positive thinking akan lulus, IELTSku sudah mencapai 6.5, tiket masuk universitas di Australia sudah di depan mata. Namun ternyata aku gagal lagi. Sementara temanku yang IELTSnya cuma 5 malah lulus. Aku sadar performanceku pas di interview tidak memuaskan. Dari sini aku belajar, bahwa nilai TOEFL ataupun IELTS, betapapun tingginya, tidak menjamin kita akan memperoleh beasiswa. There’s more than that!

Tahun ketiga, ketika APS sudah tidak ada lagi dan hanya ada ADS, aku pun berjuang lagi. Aku harus belajar dari kegagalan yang dulu. Aku belajar dari teman-teman yang sudah lulus, aku tanya kiat-kiat sukses mereka. Kelemahanku di interview harus diperbaiki. Aku bukan tidak bisa bahasa Inggris, cuma penyakitku yang susah sembuh adalah terlalu gugup sehingga kacau ketika harus mengatakan sesuatu, ditambah perasaan rendah diri bila melihat betapa hebatnya para peserta lain. Aku cenderung tidak bisa mempromosikan diri sendiri, padahal kata teman-temanku, we have to show and ‘sell’ our potentials!

Menjelang akhir tahun 2007, panggilan untuk IELTS dan JST interview datang. Tidak seperti APS yang lokasi tesnya di Banjarmasin, untuk tes ADS aku harus berangkat ke Balikpapan. Ibuku bersikeras menemaniku ke Balikpapan, padahal kondisi beliau tidak begitu fit. (Ternyata doa restu ibu adalah surat sakti yang mengantarku untuk memperoleh beasiswa ini). Perjalanan Banjarmasin – Balikpapan ditempuh dengan naik bis antar propinsi yang amat bising oleh house music dan dangdut sepanjang malam. Ibu sempat muntah dan sakit, entah karena berisiknya musik atau memang karena jalan raya antar propinsi yang penuh kelok dan lubang besar. Sambil memijat pundak ibu, aku cuma bisa berniat dalam hati, kalau aku bisa ke Australia, ibu juga harus bisa berangkat haji.

Alhamdulillah, tes IELTS dan interview berjalan lancar. Aku lewati wawancara dengan jauh lebih percaya diri dari tahun sebelumnya karena aku sudah mempersiapkan lebih total dan mempelajari dengan sungguh-sungguh apa saja tentang Australia dan universitas-universitasnya dari CD yg dikirim ADS, maupun dari browsing di internet. Sewaktu ditanya kemana aku ingin kuliah, aku sudah tahu pilihanku: Flinders University. Meskipun progam yg kupilih (MA TESOL) tergolong baru, dan Flinders juga bukan top ten rank, tidak seperti Melbourne Uni, ANU, atau UQ, tapi aku menyukai mata kuliah yang ditawarkan dan merasa bahwa mata kuliah tersebut itu paling relevan dengan ilmu yang ingin kukuasai dan kuterapkan bila aku pulang nanti.

Alhamdulillah, tahun 2008 adalah tahun penuh berkah. Salah seorang temanku yg sama-sama tes mengirim sms kalau pengumuman ADS sudah bisa dilihat di website. Dengan gugup, akupun ke warnet. Tidak seperti pengumuman tahun sebelumnya yang menyisakan sedikit kecewa karena nomerku tidak terpampang, kali ini layar monitor di warnet seolah-olah ikut tersenyum karena bisa dengan gagah menampilkan nomer pesertaku. Alhamdulillah… alhamdullillah… alhamdulillah…

Orang pertama yang kukabari adalah suamiku. Selama ini suamiku adalah orang yang paling tidak setuju kalau aku kuliah ke LN dan meninggalkan keluargaku, namun dia juga adalah orang yang paling mendukungku begitu kuyakinkan kalau keputusanku untuk kuliah di LN tidak akan mengabaikan tugas utamaku sebagai ibu. Mungkin selama beberapa kali aku tidak lulus adalah karena suamiku kurang ikhlas. Izin suami ternyata adalah salah satu rahasia keberhasilanku. Mungkin juga aku tidak lulus Stuned, Ford, Fulbright, karena aku akan sulit mengajak keluargaku. Allah SWT memang punya rahasia sendiri…

Hari-hari selanjutnya terasa berjalan cepat, diisi dengan berbagai kesibukan. Aku mengikuti EAP/pre-departure training di Jakarta selama 6 minggu dari akhir Maret hingga awal Mei. Proses placement di Australian Uni cukup lancar, alhamdulillah, mungkin karena nilai IELTSku sudah mencapai 7. Aku menuliskan 3 pilihan Uni wkt itu, Flinders, UQ, dan Monash. Terus terang aku cukup bimbang dengan tiga pilihan ini, karena program TESOLnya sama-sama bagus. ADS official yang mengurus placementku ternyata menempatkan Flinders di nomer 1 pilihanku berdasarkan email yang aku kirim ke dia, padahal waktu itu aku asal tulis saja dan mengira akan ada semacam diskusi atau pengarahan lagi dari pihak ADS, tidak tahu kalau yang aku tulis dianggap udah final, dan offer letter dari Flinders pun langsung keluar Mei itu juga. Memang Allah sudah memilihkan jalanku untuk kuliah di Flinders.

Selesai EAP dan cek up kesehatan di Jakarta, aku pulang ke Banjarmasin, ngurus surat ini itu, ngurus keperluan keluargaku, seperti paspor buat suami dan anak-anak, dan mengajak mereka cek up kesehatan di Balikpapan (kembali naik bis bising). Aku ingin segalanya beres sebelum keberangkatanku bulan Juni. Meskipun disekelilingku banyak yang menyangsikan apakah niatku membawa keluargaku adalah ide yang baik. Pernah ada yang bilang kalau ingin membawa keluarga kita harus punya rekening di bank sejumlah sekian sekian sebagai jaminan, ada yang meragukan bagaimana nanti anak-anak akan beradaptasi, bagaimana sekolah mereka, bagaimana biaya hidup disana, bagaimana kalau…, bagaimana kalau…, dan sejuta bagaimana kalau yang lain, yang maaf sekali terpaksa aku tulikan, karena aku tak ingin niatku goyah. Aku justru banyak bertanya pada alumni yang pernah membawa keluarga mereka. Aku juga menghubungi PPIA Flinders, yang baik sekali membantuku berkaitan dengan keperluan keluargaku.

Tanggal keberangkatanku dijadwalkan ADS tanggal 8 Juni, namun tertunda karena paspor dinasku belum selesai. Sebenarnya aku sudah membuat paspor hijau, tapi atas saran teman-teman dan juga pihak ADS, karena aku PNS, sebaiknya aku menggunakan paspor biru. Perjuangan yang melelahkan memang karena banyak surat yang harus dibuat dan jalur yang harus dilalui mulai dari kampus, Kemenag, Setneg, Deplu, dan yang pasti harus kuat hati menghadapi proses birokrasi. Minggu 8 Juni aku berangkat dari Banjarmasin ke Jakarta, waktu itu aku sempat pasrah, kalau memang proses paspor biru begitu rumit, biarlah pakai paspor hijau saja, karena harus segera dibuatkan visanya di kedutaan. Selain itu jadwal IAP di Flinders sudah akan dimulai seminggu lagi. Alhamdulillah, akhirnya pasporku selesai 2 hari sebelum keberangkatanku ke Australia, berkat bantuan seorang bapak dari Kemenag. Proses pembuatan visa di kedutaan berjalan cepat karena diurus pihak ADS, tiket langsung dipesan, dan aku berangkat malam harinya tanggal 11 Juni ‘08 menuju Sydney, tiba pagi hari, dan siangnya berangkat ke Adelaide.

Aku tinggal di temporary accomodation yang sudah di arrange oleh PPIA. Alhamdulillah, keluarga yang aku tempati baik sekali. PPIA juga membantu untuk mendapatkan permanent accommodation. Alhamdulillah, aku diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Sepulang dari IAP di kampus sore itu aku secara tidak sengaja berkenalan dengan mahasiswa Indonesia yang akan selesai studinya. Ngobrol-ngobrol, dia akhirnya menawarkan unitnya untuk aku teruskan. Dia juga membantuku untuk berurusan dengan landlordnya. Mungkin karena dia merasa punya kesamaan denganku yang punya dua anak seusia dengannya.

Keluargaku menyusul pada akhir Juli. Proses pengurusan visa yang dibantu oleh pihak ADS berjalan lancar. Tiket ke Australia juga tidak terlalu mahal karena waktu itu sedang musim dingin, sehingga establishment allowance dari ADS masih lebih dari cukup. Dengan bekal bahasa Inggris yang hancur-hancuran, suamiku akhirnya berhasil membawa kedua anak kami mengalami unforgettable journey of their lifetime. Dari Banjarmasin, Jakarta, tertinggal pesawat di Perth, karena transit dari international ke domestik yang cukup membingungkan, sehingga yang seharusnya bisa tiba di Adelaide siang hari, akhirnya baru tiba pada malamnya.

Dua tahun hidup di Australia, tentu countless experiences yang kami alami, full of tears and laughters. Mungkin perlu episode tersendiri untuk menceritakannya. Yang pasti aku bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan padaku dan keluargaku.

Kini aku telah kembali ke Indonesia. Sebagian besarku impianku telah menjadi kenyataan. Impian-impian yang aku tulis di form ADSku dulu: menyumbangkan ilmuku untuk daerah kami yang masih tertinggal, meningkatkan kualitas pengajaran di tempatku bekerja, melakukan penelitian, menulis, menjadi presenter di international conference, dimana aku bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan terus belajar dari mereka. Impian yang aku tulis dalam hatiku, agar keluargaku bisa ikut mengalami bagaimana rasanya tinggal di luar negeri, dan Insya Allah kedua orangtuaku akan berangkat haji tahun depan…

Ternyata, beasiswa ADS membawaku mewujudkan impianku. Membawaku dari hal yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin. Allah SWT selalu memilihkan yang terbaik buat kita. Doa orang tua, ridho suami, endless efforts adalah gateway to success. Tidak pernah ada kata terlambat. Menjadi ibu bukan halangan untuk terus sekolah. Aku memperoleh beasiswa S2 di saat anak-anakku sudah besar dan teman-teman seusiaku sudah kuliah S3 dan punya jabatan tinggi.

Kini, pengalamanku memperoleh beasiswa S2 membuatku ingin bermimpi lagi untuk memperoleh beasiswa S3, untuk terus mengejar ilmu. Seperti janji Allah dalam Al Qur’an bahwa Dia akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Mungkin aku sudah belajar banyak hal, namun ternyata dibanding para orang-orang hebat yang aku kenal dan temui, aku bukan apa-apa. Seperti kata Steve Jobs: “stay hungry, stay foolish”. So, never stop dreaming. Dan, seperti syair sebuah lagu: …don’t stop believin’… hold on to that feelin’….

EMAIL: rahmila_murtiana@yahoo.com

39 Komentar di Posting “Rahmila Murtiana: “Don’t Stop Dreaming, Don’t Stop Believing!”

      • Aslm, mbak saya seorang mahasiswa jurusan b,ing, saya pengn bngt bisa berbicara lgsg dg org bule atau sehari2 ngomong b,ing biat b,ing ku lancar, saya pgn bgt ke luar negeri untuk memperlancar b,inggris saya mbak, tapi bagaimana caranya mbak? Disana tidak ada satupun yang ku kenal, kalau mbak ada kenalan warga muslim indonesia di australia atau dmana aja, beritahu saya ya mbak, cita3 saya pgn bisa lancar berbahasa inggris.

        • wa’alaikumsalam. Dgn teknologi maju spt sekarang, kl mau memperlancar bhs Inggris sebenarnya tdk harus bertemu secara langsung dgn org bule atau native speaker. Lewat social media atau jejaring sosial juga bisa:) kalau ada skype malah bisa ngobrol langsung dgn bule yg ada di negara lain. Btw, utk memprlancar bhs inggris, tdk harus dgn bule kok, dgn sesama org Indonesia jg bisa, kan sdh banyak yg bisa bhs Inggris:)

    • Terimah kasih sudah menulis artikel luar biasa iini bu Rahmila, sangat memotivasi pemburu beasiswa seperti saya. Bu, Bolehkah saya meminta bantuan ibu untuk menjadikn aplikasi beasiswa mbak sebagai salah satu bahan referensi untuk penyempurnaan aplikasi saya yang rasanya masih kurang di beberapa point. Bisakah ibu mengirimkan aplikasi beasiswa ibu. Untuk hal ini saya ucapakan banyak terima kasih :-)

    • Terimah kasih sudah menulis artikel luar biasa iini bu Rahmila, sangat memotivasi pemburu beasiswa seperti saya. Bu, Bolehkah saya meminta bantuan ibu untuk menjadikn aplikasi beasiswa mbak sebagai salah satu bahan referensi untuk penyempurnaan aplikasi saya yang rasanya masih kurang di beberapa point. Bisakah ibu mengirimkan aplikasi beasiswa ibu. Untuk hal inii saya ucapakan banyak terima kasih :-)

  1. bagus sekali mbak artikelnya..so inspiring..saya juga pengen ke flinders, boleh saya minta bantuannya?saya lulusan sastra inggris IAIN solo..ingin melanjutkan studi TESOL juga..mohon bantuannya..terimakasih

  2. i got a goosebumps somehow. i read it more than three times. and this article make me motivated to make my dreams come true. we must dare to dream of

  3. Ceritanya sungguh membangkitkan semangat saya…saya sekarang juga tinggal di Banjarmasin,tapi bingung mau belajar inggris ke mana ?

  4. Wow… This is a great and so awesome experience , Bu Rahmi. Saya Agnes, sekarang saya akan duduk di kelas 11. Saya punya cita” jg mau kuliah di luar negeri tetapi bahasa inggris saya jg masih kacau… Setelah lulus SMA apakah saya bisa kuliah di luar negeri dgn kemampuan bhs inggris yg pas2an ? Kebetulan saya juga orang Banjarmasin, Bu.. :D Please reply ya, Bu… Thank you :)

    • bisa aja sih, tp di negara yg tdk menggunakan bhs Inggris sbg bhs pengantar.. hehe..
      Sebenarnya kalau rajin berlatih, ntar juga lancar bhs Inggrisnya:-)

  5. Ceritanya sungguh menyentuh sekali bu, saya juga sering mendapatkan kegagalan tetapi dibalik itu selalu ada hikmahnya. Kebetulan tahun 2005 saya lulus Fulbright Aminef utk S-2 ke US. Saya apply visa Januari 2006 tapi tertahan visa sampai dua bulan sehingga Maret 2006 baru bisa nyampe US, untung masih language program, kelas M.Ed ESL di Texas A&M Univ baru mulai summer 2006. Summer 2007 saya pulang ke Indonesia mau menjemput keluarga, apply visa lagi dan visa saya ketahan lagi 2 bulan sehingga saya harus non aktif kuliah satu semester gara2 masalah visa US. Alhamdulillah winter 2007 saya, istri dan anak tiba lagi di US. Hikmah yang saya dapatkan selama ngga keluar visa dan non aktif kuliah 1 semester itu saya sempat ikut tes Cados IAIN pada bulan Oktober-November 2007. Alhamdulillah lagi ternyata saya lulus jadi CPNS TMT 1 Januari 2008. Saat itu saya masih di semester terakhir dan Mei 2008 saya graduate dan resmi mendapat degree M.Ed in ESL and Multicultural Education. Juni 2008 saya sudah mendapatkan nota dinas dan melapor utk bertugas di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Karena status CPNS saya ditempatkan di bagian administrasi, dan mulai menghadapi dunia kerja yg sangat berbeda. Baru tahun 2010 saya mendapatkan SK Fungsional Dosen, sekaligus menjadi Ketua Lab Prodi. Awal tahun 2011 saya mulai terbangun untuk S-3 lagi, saya menghubungi mantan Profesor di US untuk mendapatkan rekomendasi dan alhamdulillah mereka dengan senang hati mengirimkan pada saya. Mei 2011 saya apply ke University of Malaya, karena tidak mau jauh2 dari keluarga lagi. Januari 2012 saya mendapatkan offer letter, saya diterima di program PhD Academy of Islamic Studies nya. Saya pun mulai hunting beasiswa melalui biro akademik IAIN dan sumber-sumber beasiswa di Pemda Aceh. Tanpa beasiswa tak mungkin mendaftar karena membutuhkan sekitar 20 jutaan saja utk pendaftaran. Hampir setahun saya menunggu, Desember 2012 saya ditelepon dari Komisi Beasiswa Aceh kalau tidak ada sisa anggaran untuk saya pada thn anggaran 2012, kalau mau saya harus menunggu 2013. Ternyata awal 2013 terjadi perubahan struktur dan oganisasi di Komisi Beasiswa Aceh sehingga kami dipanggil kembali, dan karena saya alumni US disarankan jangan ke Malaysia, kembali saja ke US dengan beasiswa dari kami, kata mereka. Akhirnya saya membatalkan ke Malaysia dan menguatkan hati untuk kembali ke US. Sampai saat ini masih dalam proses admission, belum tau apakah bisa diterima Spring 2014. Saya masih terus berdoa.

    • Salam kenal pak Thalal, semoga langkah untuk ke US lagi bisa tercapai, insya Allah yang terbaik buat bapak. Kalau bisa cerita lengkap dan pengalaman bapak memperoleh beasiswa dimasukkan aja di grup ini, biar pembaca yg lain bisa belajar dan terinspirasi dari pengalaman bapak. Oya, kalau boleh nanya, beasiswa nya cukup ya pak buat keluarga? soalnya menurut cerita bberapa teman, agak susah kalau bawa keluarga ke US. Bisa kerja part time juga ya pak kayak di aussie?

      • Alhamdulillah, saya sudah mulai belajar semester pertama di US. Keluarga insya Allah menyusul. Kalau kerja part time nya paling gampang on kampus, asal semangat dan bersedia pasti ada lowongan. Salam sukses semuanya dari Texas Tech University.

    • bawa surat pengantar dari rektor, terus di kemenag ngisi form dan melengkapi berkas2 spt foto, offer letter dari ADS, dll, agak lupa juga sih soalnya udah 5 thn yg lalu:-) Nanti begitu surat tugas belajar dari kemenag udah jadi, ada staf kemenag yg nguruskan ke setneg utk pengantar ke deplu buat dibikinin paspor, kita tunggu dikabari aja kapan selesainya. Tp kudu pro aktif nanya2 (kl bisa pake maksa dikit hehe), soalnya kl ga, agak lama selesainya.

  6. Mbak…aku juga punya mimpi pingin bisa sekolah dan ngerasain tinggal di luar sana :) , aku pikir aku dah telat usia aku sudah 37 th sekarang…tapi baca tentang mbak…kok kepikiran lagi ya…jadi semangat,,,tapi cara buat dapet beasiswanya gimana ya…?…ipk aku di S1 disini juga nggak bagus-bagus banget sih…bisa kasih info nggak mbak ?

  7. kalo baca cerita2 para penerima beasiswa di group ini, banyak kok yang ipk nya pas-pasan:) yang penting tidak mudah menyerah dlm berusaha & rajin cari info. Ikut aja di Facebook Group Motivasi Beasiswa, biasanya banyak info ttg berbagai jenis beasiswa disitu. Kl utk beasiswa ADS thn ini barusan tutup 19 Juli kemarin. Tapi bisa mulai nyiapin diri dr sekarang buat apply thn depan. Good luck!

  8. Assalamu’alaikum ma’am. Sya Tyas, seorng mhsiswa semester akhir di sebuah univ. swasta. Sya adlh seorng scholarship seeker yg sdh mncoba brbagai mcam scholarship dan student exchange, tpi blm brhasil. Baru satu kali sya smpai tahap wawancara namun gagal. Sbnrnya dr skor toefl dan ip sya sdh ckup mmnuhi syarat, motivation letter pun sya sdh mngkuti tips dan rmbu2 yg brlaku, nmun tetap saja sya gagal, kira2 faktor apalagi ya ma’am yg hrus sya penuhi, dan khusus untk mmbuat motivation letter, apa yg hrs kita tulis agar motivation letter benar2 unik, berbeda, dan menarik?. Thank you ma’am.

    • Wa’alaikumsalam.
      Kalau sudah sampai tahap wawancara, berarti motivation letter yang dibuat sudah oke. Tinggal mengasah kemampuan di interview spy lebih meyakinkan. Utk tips lebih rinci, bisa dibaca artikelnya mba Salwa atau artikelnya mas Made Andi Arsana di grup ini juga.
      Terus berjuang, jangan patah semangat. Insya Allah suatu saat Tyas akan berhasil, Amiin.

  9. bu mila saya ingin menanyakan apakah prestasi selama kuliah(diluar ipk) baik akademis atau pun non akademis juga menentukan keberhasilan seseorang lolos ke tahap wawancara?

    • mungkin bisa, namun sebaiknya sdh punya pengalaman kerja minimal 2 tahun, karena dalam application form biasanya ada kolom dimana kita harus menjabarkan ttg pengalaman kerja dan peran yg sudah kita lakukan, dan kontribusi apa yg akan kita berikan utk tempat kerja kita nanti – tidak harus jadi pegawai sebenarnya, kerja di LSM juga bisa.

  10. permisi mbak, bisa saya minta emailnya mbak buat nanya2? saya ingin bertanya kepada mbak mengenai studi ke luar negeri..aku harap mbak bales ya, makasih;-)

  11. Asalamualaikum, ulun tekajut pas baca, sekalinya urang banjar. no problem, so..its inspiring for me..Mba/Acil atau siapapun…Saya sudah meniatkan hati untuk bisa berangkat ke USA untuk lanjut studi, saya minta doanya mba, sekaligus juga minta info kalo ada short course dalam waktu dekat, atau ada professor yang mau menjadikan saya tenaga siap pakai disana, saya siap asalkan saya bisa sambil menyelesaikan magister saya, saya berfikir bahwa anak-anak bornneo sudah saatnya bisa mengecap pendidikan dalam kancah internasional, mohon masukannya mba ya

    # Qairy Artha – Anak Palangka Raya – Bekayuh Beimbai,

    • kalau untuk beasiswa atau short course ke USA coba aja cari info dari website Aminef/Fulbright atau IIEF. Good luck!

  12. Assalamu’alaikum mba…salam kenal…
    saya ga sengaja ketemu blog ini.Pas ngebaca tulisan mba ini, saya ngerasa melihat mimpi saya sendiri.Saya sangat suka bahasa inggris.Saya sekarang lagi berusaha nyari beasiswa s2 ke luarnegeri.Tapi sekarang masih ikut TOEFL preparation class.Karena selama ini belum pernah ambil tes TOEFL.sementara untuk daftar beasiswa sudah ditanya nlai TOEFL nya….Mba,kalau boleh saya hubungi mba lewat email buat tanya2 tentang beasiswa s2 di australia, boleh kan?

  13. Assalamualaikm bunda mila. Subhanallah sy smpai meneteskn airmata saat mmbaca postingan bunda,beruntung di pagi ini sya menemukn tulisan yg memotivasi dan menginspirasi sy. Never stop dreaming, doakan bun mimpi sy utk bsa melanjutkn study ke luar negeri tercapai. Skrg sy msh mnjalani study s1 smstr 3 di FKIP PG PAUD universitas bengkulu.target sy bsa mengikuti student exchange, dan mlanjutkn S2 ke luar negeri.amin.. Salam utk keluarga dirumah bunda, beruntung mrk mmiliki ssok ibu sprt bunda, suatu saat sy ingin mjd ssorg sprtimu. Thx bunda.wasalamualaikm

  14. Ya Allah Bu, ulun iri bacanya. Baca bagian awal berasa bekaca, soalnya impian terbesar ulun jua pengen tinggal di luar negeri. Cuman kd kawa terealisasi sampai ini. Pengen banget bisa kaya ibu.

  15. Assalamualaikum mbak mila, saya sangat terinspirasi membaca cerita mbak. Saya sangat ingin melanjutkan studi s2, terlebih ke luar negri seperti mbak. Saya lulusan s1 pend bhs inggris dan alhamdulillah saya diterima di IAIN baru-baru ini sebagai pns di bag akademik. membaca cerita mbak, mbak diterima dengan formasi s1 untuk dosen dan mbak bisa s2. apakah saya yang diterima untuk formasi staf bisa melanjutkan s2 seperti mbak?

  16. Assalamualaikum.
    masyaAllah mbak..sugguh sebenernya saya ‘nyasar’ bisa sampai ke blog ini..tp mgkn ini sdb rencana Allah..dengan membaca pengalaman hidup mbak, saya bisa lebih mempersiapkan mental sebagai seorang pemburu beasiswa. Saat ini sy sedang menunggu pengumuman shortlisted AAS (dulu ADS) yg akan keluar desember ini. Mohon doanya mbak..agar saya juga bisa menghidupkan impian saya : tinggal dan melanjutkan sekolah ke luar negeri.
    Oiya tujuan saya juga sama dengan mbak..di flinders univ :) )

Leave a Reply to santi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>