Dibaca: 2,662 kali    Komentar: Belum Ada  

Nirma Faris :”Kugenggam Restu Ibu”

MB_Kugenggam Restu Ibu.docxHari ini 5 Oktober 2012, saya menulis cerita ini pada saat saya mengumpulkan kembali puing-puing semangat, usaha, waktu, pikiran, dan modal untuk menjemput mimpi saya yang sudah terpatri dalam diri ini sejak tahun 2006 lalu. Mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke Australia. Semangat saya semakin berkobar untuk meraih mimpi itu setelah saya mendapatkan kesempatan merasakan pendidikan di luar negeri.

Perkenalkan saya Nirma Paris, anak kedua dari tiga bersaudara putri. Saya dilahirkan dari sebuah keluarga golongan menengah kebawah di sebuah desa di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Ayah adalah seorang pendidik dan ibu adalah ibu rumah tangga. Bagi penduduk di desa saya, pendidikan adalah hal yang sangat mahal harganya dan harus dibayar mahal. Walaupun Ibu saya tidak sempat menamatkan pendidikannya di Sekolah Dasar, tapi saya sangat salut dan bangga dengan semangatnya untuk memberikan pendidikan kepada kami anak-anaknya apapun tantangannya. Pada saat sekolah dasar, saya berjalan kaki sejauh 1,5 km untuk pergi ke sekolah dan belajar mengaji. Saya tidak punya sepeda seperti teman-teman saya. Panas matahari tidak jadi masalah demi mendapatkan ilmu dari Bapak/Ibu guru. Untuk mendapatkan uang jajan, saya membawa jajanan yang telah dibuat ibu seperti bakwan, karokko lasuna (makanan ringan tradisional Bugis), es lilin, snack, dan lain-lain untuk dijajakan pada saat istirahat di sekolah. Dari hasil jualan tersebut, saya dapat upah jajan dari ibu. Uangnya saya sisihkan sebagian untuk ditabung. Ibu saya mengajar saya untuk mandiri dari kecil. Beliau memang keras dalam hal ini.

Setelah tamat SD, saya melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Ibukota Kecamatan. Bahagia rasanya saya dapat sepeda baru dari orang tua. Setiap hari saya mengendarai sepeda itu sejauh 5 km untuk pergi ke sekolah. Saya meninggalkan rumah pada jam 6.00 pagi dan tiba di rumah sepulang sekolah pada jam 03.00 sore. Lalu, pada tahun 2004, saya beranikan diri meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Pondok Pesantern DDI Lil-Banat Parepare. Disanalah saya ditempa oleh guru-guru saya dalam mendapatkan pendidikan agama. Dan di sanalah saya memiliki dunia baru yang lebih luas. Berteman dan bersosialisasi dengan siswi dari berbagai suku dan kabupaten/kota. Waktu istirahat biasanya saya gunakan untuk membaca buku diperpustakaan BJ.Habibie di sekolahku. Pada saat kelas dua MA, secara tidak sengaja saya mendapatkan buku yang bercerita tentang Australia. Disanalah mimpi untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri bermula dan tertancap di hati saya. Untuk meraih mimpi itu saya harus melanjutkan kuliah di universitas besar dan ternama ibukota agar saya bisa meraih mimpi itu dengan mudah dengan mengambil jurusan sains, pikirku.

Takdir berkata lain, pada tahun 2007 setelah saya tamat MA, keinginan itu saya sampaikan kepada orang tua. Apa boleh dikata, orang tua saya tidak memberikan restu untuk melanjutkan kuliah di Ibukota karena alasan pergaulan bebas di kota besar yang menurut saya adalah alasan yang klise. Namun alasan utama sesungguhnya adalah biaya. Orang tua saya tidak mampu membiayai pendidikan saya kalau di kota besar karena biayanya akan lebih mahal. Terlebih lagi waktu itu, ayah saya masuk rumah sakit. Ini adalah cobaan pada keluarga saya. Kami harus membayar biaya rumah sakit dan membeli obat-obatan. Sungguh sedih rasanya. Orang tua saya hanya memberikan restu jika saya melanjutkan kuliah di Kota Pinrang atau Parepare. “Apalah artinya saya kuliah dan meraih mimpi tanpa restu orang tua”. Saya teringat pelajaran saya di Madrasah Aliyah “Restu Allah ada pada orang tua, dan murka Allah ada pada orangtua”. Sungguh saya tak ingin melanjutkan pendidikan tanpa restu orang tua. Tanpa sepenuh hati, saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare Jurusan Bahasa Inggris. Keputusan tersebut merupakan salah satu keputusan besar dalam hidup saya untuk memilih jurusan itu. Hanya modal nekat. Karena saya tidak punya modal bahasa Inggris sama sekali. Saya lebih tertarik belajar sains, namun sayangnya belum ada jurusan sains di kampus tersebut.

Maka perjuangan sesungguhnya baru saya mulai ketika kuliah. Hatiku sangat miris ketika melihat teman speak in English and I was a BIG ZERO. How embarassed I was. Saya tidak boleh dikalahkan oleh keadaan, pikikku dalam hati. Nobody can change my life, except myself. Saya harus punya motivasi yang besar untuk belajar, ikhlas terhadap apa yang saya jalani, mencintai apa yang saya lakukan, dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Saya belajar dari NOL, semua celah yang bisa saya gunakan untuk mendapatkan pelajaran saya manfaatkan dengan baik. Belajar pada kakak tingkat, baca buku, ikut study club, kursus, dan ikut organisasi bahasa.

Pada saat semester tiga, salah seorang kakak tingkat saya mendapatkan beasiswa keluar negeri. Saya menggali informasi itu, berharap mimpi saya kuliah di universitas besar apalagi di luar negeri bisa terwujud. Maka pada saat pulang kampung bertemu orang tua, niat untuk mendapatkan kesempatan beasiswa dan keluar negeri saya sampaikan pada orang tua. Jawaban yang saya dapat, lagi-lagi tidak sesuai dengan harapan saya. Tak perlu berkhayal tinggi-tinggi nak, kita tidak punya apa-apa. Informasi beasiswa sudah saya kantongi, niat saya sudah bulat untuk mendapatkan beasiswa itu, tapi restu orang tua belum saya dapatkan. Maka sekali sebulan setiap pulang kampung, tak henti-hentinya saya bercerita tentang beasiswa, kakak tingkat saya, dan mimpi saya dengan harapan untuk meluluhkan hati orang tua. Hingga setahun berlalu, salah seorang teman sekelas saya mendapatkan kesempatan dan beasiswa ke luar negeri. Tentunya hal ini saya ceritakan lagi kepada orang tua, dan akhirnya mereka bilang “kejarlah cita-citamu dan carilah jalanmu, saya hanya mampu mendoakan dan merestuimu nak”. Akhirnya saya sudah menggenggam restu itu.

Perjuangan itu rupanya tidak cukup hanya dengan restu orang tua. Saat saya menggenggam restu itu, saya belum mempunyai score TOEFL sebagai salah persyaratan beasiswa yang ingin saya apply. Apalagi di tempat saya belum ada tempat untuk tes toefl, tes hanya bisa di ambil di Ibukota Provinsi, Makassar. Namun, saya percaya rejeki tak lari kemana kalau kita mencarinya, saya mendapatkan informasi bahwa salah satu dosen saya yang mempunyai institusi untuk tes toefl di Ibukota bisa memfasilitasi untuk mengadakan tes toefl di kampus saya di Parepare jika ada minimal 10 peserta. Dan beruntungnya, sebelum ikut tes toefl, Laboratorium bahasa di kampus saya mengadakan prediction test dan akan membayarkan sebagian pembayaran untuk mahasiswa yang nilainya masuk 6 besar. Alhamdulillah, saya salah satu diantaranya. Lalu, untuk pertama kalinya saya mengikuti test toefl dan mendapatkan score 473. Scorenya lebih dari cukup untuk apply. Score tersebut akhirnya bisa saya gunakan untuk apply. 2 minggu setelah deadline pendaftaran, saya mendapatkan telpon dari kantor IIEF (Indonesian International Education Foundation) yang menyatakan bahwa saya lulus berkas dan diminta untuk mengikuti tes selanjutnya, yaitu tes wawancara. Alhasil saya tidak lulus pada saat itu. Rejeki saya belum saatnya.

Beberapa bulan berselang, Yudi, teman sekelas saya dari alumni program beasiswa tersebut mengabarkan bahwa pendaftaran beasiswa itu terbuka lagi untuk group selanjutnya. Di akhir tahun 2010 untuk kedua kalinya saya apply beasiswa itu lagi. Saya tidak terlalu kepikiran lagi untuk mendapatkan beasiswa itu seperti sebelumnya. Saya ikhlas jika memang ditakdirkan memperolehnya. Dan ternyata Kesabaran berbuah hasil. Saya lulus beasiswa tersebut. Akhirnya pada tanggal 31 Mei 2011 saya meninggalkan bandara Soekarno-Hatta dan terbang bersama beberapa mahasiswa Indonesia untuk belajar di Amerika dalam program IELSP (Indonesia English Language Study Program). Dari perjalan panjang tersebut saya menyimpulkan bahwa: Pertama, Restu orang tua sangat berperan penting terhadap apa yang kita impikan, maka jadi jangan ragu untuk meminta restunya. Kedua, Allah memberikan kita yang terbaik, bukan yang kita inginkan. Seandainya saya tidak menuruti keinginan orang tua untuk lanjut di kampus saya, saya tidak tahu apakah saya akan memiliki kesempatan itu. Saya tidak menyesal menuruti kata-kata mereka. Ketiga, Hasil yang kita dapat tergantung dari usaha kita karna Semangat dan motivasi terbesar ada dalam diri kita. Selamat berjuang menjemput bola mimpi itu kawan.

 

Samarinda Kaltim, 05 Oktober 2012

 

Nirma Paris

Email: faris_nirma@yahoo.co.id

Blog: http://nirmaparis.blogspot.com/

FB: http://www.facebook.com/nirma.paris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>