Dibaca: 2,464 kali    Komentar: Belum Ada  

Muhammad Adib Abdushomad: “Mensiasati Master Degree langsung ke Ph. D (dari pesantren ke Australia)”

Muhammad Adib Abdushomad - CroppedTulisan ini saya maksudkan sebagai “tahaddust lin nikmah” atau berbagi kenikmatan sehingga saya mohon kepada Allah swt agar dijauhkan dari sifat riya’ dan sombong diri. Judul tersebut saya beri stressing dari Pesantren ke Australia, untuk memberikan snapshot bahwa dari kalangan pesantren yang dikenal sebagai “kaum sarungan” pun sangat bisa untuk berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa yang cukup bergengsi. Asal memiliki kemuan yang keras, insyalllah cita-cita akan tergapai, man jada wa jadda.  Karena rumus bagi saya untuk mendapatkan beasiswa adalah harus memiliki mimpi sebagaimana telah disampaikan sebagian dari success story orang lain serta terus berdo’a dengan penuh khusnudzhon, atau good thinking kepada Tuhan YME/Allah swt sehingga dari mulai mendapatkan beasiswa, proses penyelesaian, sampai kepada pemanfaatan ilmunya akan dimudahkan dan diberikan keberkahan.

Lewat tulisan singkat ini saya akan secara singkat menggambarkan historisitas beasiswa yang saya dapatkan melalui Australian Government yang sungguh merupakan mimpi saya waktu kuliah S1. Bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri barangkali menjadi sebuah keinginan bagi semua orang. Bagi saya salah satu kunci untuk bisa meraih cita-cita sekali lagi adalah memiliki mimpi atau keinginan. Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini sudah masuk dalam daftar yang memiliki keinginan tersebut., meskipun untuk saat ini Anda akan mengatakan “ ah mana mungkin saya ini bisa”. Inilah yang terjadi kepada saya. Ketika saya mendapatkan pengumuman termasuk yang dipanggil dalam short list APS saja rasanya sudah senang sekali, apalagi dikirimi surat yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai penerima beasiswa dari sekian banyak kompetitor, meskipun pada akhirnya saya masih harus berjuang meraih IELTS yang bagus di IALF.

Nama lengkap saya Muhammad Adib Abdushomad, biasa dipanggil Adib. Lahir di kota yang memiliki motto sebagai kota ‘Santri’ disamping dikenal juga sebagai produsen pakaian ‘Batik’ yakni Pekalongan Jawa Tengah, 2 Agustus (30-an tahun yang lalu). Saya dibesarkan dari lingkungan dan keluarga pesantren dari Ibu Hj. Umi Hanik yang merupakan putri dari alm.KH. Nachrowi Hasan pengasuh salah satu pondok tertua di Kota Pekalongan yakni Ponpes. Ribatul Muta’allimin (Lebih lanjut baca, Autobiography Kenangan Masa Kecil, Abdushomad, 2010).

Saya bekerja di Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI Jakarta mulai tahun 2003.  Saya sekarang sedang menempuh Ph.D di bidang Public Policy and Management di Flinders University. Saya menyelesaikan Master of Education (M.Ed) bidang leadership and management selesai bulan Juli 2009 dari beasiswa APS (Australian Partnership Scholarship) dan Ph.D dari Endeavour Flinders yang sekarang berganti IPRS (International Postgraduate Scholarship mulai 2010). Saya adalah alumni pesantren yang menyelesaikan sarjana Fakulas Syari’ah di IAIN Walisongo Semarang tahun 2000 dan Magister Hukum Islam di lembaga yang sama pada tahun 2003.

Awal beasiswa saya dimulai dari ketika saya melanjutkan pasca sarjana di dalam negeri yakni magister hukum Islam di IAIN Walisongo Semarang pada tahun 2001. Pada saat yang sama saya juga diterima di Magister Hukum UNDIP Semarang dan UGM namun karena pertimbangan biaya semester yang dua kali lipat dari IAIN, serta belum ada kejelasan format beasiswa, akhirnya saya memilih untuk melanjutkan di lembaga yang sama. Alhamdulilah, waktu itu karena saya nilai ujian masuk saya di IAIN masuk ke dalam lima besar, maka saya mendapatkan beasiswa dari kampus IAIN sampai selesai. Dalam konteks mendapatkan beasiswa dalam negeri ini saya melihat bahwa keinginan kuat serta do’a adalah kunci yang paling utama. Waktu itu saya terinspirasi salah satu dosen saya yang baru saja menyelesaikan studi master degree-nya di IAIN Imam Bonjol Padang yang memiliki pemahaman ke Islaman yang mendalam. Saya melihat pola pemahaman keIslaman yang lebih integrated dan interconnected sangat mungkin harus dilalui salah satunya adalah melalu studi lanjut. Hemat saya apa yang saya dapatkan di S1 sifatnya umum, bahkan masih sangat dangkal. Dengan niat seperti itulah saya berdo’a kepada Allah swt, semoga saya dimudahkan dalam meraih cita-cita.  Alhamdulilah dengan modal uang kurang lebih 150 ribu untuk biaya pendaftaran ke program pascasarjana IAIN Semarang saat itu saya mendapatkan kesempatan studi lanjut sampai selesai April 2003. Di tahun ini pula saya mendapatkan amanah menjadi PNS di Deparatemen Agama (sekarang Kementerian Agama) bagian Direktorat Pendidikan Tinggi Islam setelah lolos seleksi CPNS pada tahun sebelumnya 2002.

Lewat karir baru ini tidak merubah dan menutup diri saya untuk selalu ingin belajar atau study lanjut.  Meskipun kenyataan di lapangan kesempatan belajar (studi lanjut) lebih terbuka lebar bagi pada dosen, namun keinginan kuat saya untuk studi lanjut masih membara terlebih ajaran agama saya sangat mendorong seorang muslim untuk terus belajar (uthlubul ilma faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin). Momentum untuk terus studi lanjut setidaknya saya dapatkan ketika kantor memberikan kesempatan kursus bahasa Inggris di tahun 2004 di lembaga bahasa UI serta pada tahun 2005 di IALF Bali selama enam bulan.

Setelah rampung pelatihan bahasa Inggris di IALF Bali saya beranikan diri untuk ikut berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa dari ADS dan APS. Alhamdulilah saya termasuk dalam short list dan lolos wawancara. Sehingga pada tahun 2006 saya masuk lagi ke IALF, namun kali ini saya memilih Jakarta untuk program bahasa (IAP) yang selesai pada tahun 2007 (enam bulan). Singkatnya saya diterima di M.Ed (Master of Education) Leadership and Management di Flinders Univesity 2007-2009. Selesai pada akhir July 2009 dan mulai studi lanjut untuk Ph.D pada akhir bulan Maret 2010.

Barangkali yang menjadi pertanyaan sebagian teman-teman adalah bagaimana caranya agar bisa mendapatkan beasiswa yang langsung “nyambung” dari M.Ed ke Ph.D tanpa harus menunggu waktu 2 tahun di Indonesia sebagai prasyarat dari pemberi beasiswa sebelumnya yakni APS/ADS. Berikut ini merupakan strategi yang saya lakukan untuk mendapatkan beasiswa Ph. D IPRS Flinders University tanpa harus menunggu dua tahun serta yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara mendapatkan beasiswanya.

Pertama, tekad ingin melanjutkan studi yang harus terus dijaga dengan dibarengi ikhtiyar (usaha) mencari informasi beasiswa yang variasinya berbagai macam cara dan prosedur, terutama bertanya kepada yang sedang mendapatkan beasiswa tertentu atau search di google serta kampus masing-masing yang dituju.

Kedua, sebelum saya merampungkan M.Ed pada saat yang sama saya manfaatkan untuk membuat proposal Ph.D pada akhir semester di tahun 2009. Pada bulan mei 2009 saya mendapatkan Conditional Offer untuk Ph.D dan full offer akan diberikan setelah saya merampungkan master saya dengan average distinction. Catatan dari Conditional Offer ini memacu saya untuk membuat tesis master yang harus bagus. Alhamduliah saya mendapatkan nilai yang memuaskan, sehingga saya tinggal mencari jenis scholarship yang mau membiayai sekolah Ph.D saya ini. Saya pilih IPRS Flinders University karena mumpung posisi saya masih di Australia sehingga memudahkan saya untuk melengkapi berkas-berkas persyaratan yang diajukan, salah satunya adalah dukungan kuat dari calon supervisor serta melangkapi bukti-bukti publikasi jurnal, buku serta tuisan lainnya baik nasional ataupun international. Saya melihat point kuat untuk IPRS adalah pada bidang ini.

Ketiga, setelah berkas-berkas dilengkapi kita tinggal nunggu dan berdo’a agar Allah swt berikan yang terbaik untuk saya. Alhamdulilah pada tahun 2010 tepatnya tanggal 14 January saya mendapatkan konfirmasi sebagai salah satu penerima beasiswa IPRS. Banyak hal yang harus urus, terutama untuk membuat ‘letter of no objection’ dari pemberi beasiswa sebelumnya (ADS/APS) karena saya belum ada dua tahun tinggal di Australia. Meskipun saya sudah dapat beasiswa tapi tidak keluar letter of no objection saya tidak bisa urus visa ke Australia. Oleh karena itu, bagi yang sedang studi di Australia dan berancana studi lanjut, jagalah track record yang baik selama disana dan mestinya dimanapun kita berada (khasuma kunta). Untuk mendapatkan surat ini, kita harus kirimkan dokumen-dokumen pendukung ke Canbera seperti Justification letter untuk Ph.D apa kontribusinya dan kaitannya dengan program sebelumnya, surat pemberi beasiswa, izin belajar dari kantor (rekomendasi). Berkas-berkas ini sebagai dasar untuk dibuatkan perjanjian atau deed of amendment antara saya dengan Commonwealth of Australia yang pada dasarnya membolehkan adanya externally funded post AusAID Scholarship.

Keempat, terus bersyukur dan berdo’a setelah diterima beasiswa sampai semoga nanti dimudahkan dalam merampungkan studinya. Rasanya baru kemarin saya pulang dari Adelaide  ke Indonesia dan saya berjumpa dan bersilaturahmi lagi dengan kawan-kawan yang sedang belajar di sini. Oleh karena itu bagi saya, ke Adelaide serasa pulang kampung, apalagi saya akan menempati unit yang dulu saya tempati sewaktu kuliah master degree. Ya Allah, semoga kenikmatan yang saya dapatkan ini bisa menular dan melimpah ke teman-teman yang lain, serta mudahkanlah kami yang sedang belajar ini agar dapat menyelesaikan studinya secara baik dan ilmu yang diraih nantinya akan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amin. Bagi teman-teman yang ingin bersilaturahmi kepada saya bisa ke Facebook saya atau email ke abdushomad@gmail.com. Insyallah akan saya sempatkan menjawab pertanyaan yang dimaksudkan semampu saya, kecuali saya sedang dalam posisi research ke Indonesia mulai bulan depan,  maka sangat mungkin akan lelet menjawabanya. Al-faqir ila rahmati rabbihi.

Pagi hari. Blackwood to Pasadena, SA

M.Adib Abdushomad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>