Dibaca: 3,949 kali    Komentar: 3  

Citra Hennida: “3 Langkah Menentukan Sukses Beasiswa”

Citra Hennida - CroppedBerbicara mengenai mendapatkan beasiswa bisa dikatakan jatuh bangun juga. Saya termasuk kurang percaya dengan yang namanya kesuksesan yang dibangun tanpa adanya kerja keras. Hanya saja mungkin ‘keras’ disini ada pada level yang berbeda-beda. Ada yang usahanya sangat keras, keras sedang atau ya keras saja. Pastinya saya yakin semua orang bisa mendapatkan beasiswa.

Baiklah ada beberapa hal dalam sukses tembus beasiswa: cari informasinya, siapkan prasyaratnya, isi dan kirim. Simple. Tapi tentu saja tidak sesimple itu. Ingat kita bersaing dengan banyak kandidat yang tentunya punya IQ dan EQ diatas rata-rata. Tapi ingat juga orang pintar belum tentu beruntung, jadi jangan berkecil hati. Ingat juga tiap usaha ada biayanya misalnya biaya fotokopi, biaya browsing internet, biaya tes IELTS/TOEFL, biaya kirim dsb. Anggap saja investasi dan jangan pelit. Bayangkan beasiswa yg kita terima itu besar.Misalnya  dua tahun sekolah di Australia kira-kira menghabiskan dana 700 jutaan. Hitunganya begini, sekolah saya per semesternya AUD$ 9,000, biaya hidup AUD$ 1,750 per bulan, biaya buku AUD$ 300 per semester, asuransi kesehatan AUD$ 1,000. Kalikan selama 2 tahun dan kalikan dengan kurs anggap saja 1 AUD$ = Rp 8,500. Itu untuk biaya sekolah dan biaya hidup, belum kalau berkesempatan bisa ikut konfrensi internasional, memperluas jaringan atau mendapatkan part time job, wah lebih banyak lagi. Jadi untuk mendapatkan itu, investasi  2-3 juta juga tidak jelek kan.

Cari Informasi

Cari informasi beasiswa misalnya gabung milis-milis beasiswa, join group beasiswa di situs-situs pertemanan macam facebook, cek surat kabar karena biasanya ada iklannya di surat kabar, cek situ-situs beasiswa, googling, rajin-rajin nengok international office yang ada di kampus atau juga di tempat-tempat kursusan bahasa macam IALF, YPIA, Goethe. Ini tergantung juga maunya yg full sekolah, model short course, ato model yg ikut seminar.  Menurut pengalaman. Saya gabung milis. Saya ikutan group beasiswa S1/S2 luar negeri di facebook.  Saya cek situs beasiswa favorit macam ADS, APA, ALA untuk yang ke Australia; NESO, eramus mundus untuk yang ke Eropa; dan AMINEF untuk yang mau ke Amerika dan DIKTI untuk yang mau kemana saja. Dalam situs-situs tersebut juga ada banyak pilihan mulai beasiswa penuh, sandwich program sampai short course. Jadi kalau ada waktu coba mampir.

Nah kadang kita suka sibuk juga dan ngecek situs-situs ini gak cukup 2-3 menit. Jadi alokasikan saja waktunya. Misalnya seminggu sekali selama 30 menit. Jadi minggu ini ngecek yanag Australia, minggu berikutnya ngecek yang Eropa, minggu lainnya yang Amerika.

Jangan lupa siapakan buku catatan khusus. Catat jenis beasiswanya, alamat situsnya, kapan duedate nya, apa prasyaratnya. Jadi tidak sekedar browsing tapi juga dicatat. Gak mau kan kerja dua kali. Kalau sudah, bikin roasternya, tempel di tempat yg gampang diliat. Misalnya dekat kaca, pintu lemari atau pintu kulkas. Kalau dekat meja belajar kok kayaknya saya malas, karena sudah terlalu banyak tempelan kerjaan juga.

Baca dan siapkan prasyarat beasiswanya

Setelah dapat yang anda inginkan. Hal selanjutnya baca dengan serius persyarat-persayaratnya. Ini penting soalnya tahap awal beasiswa adalah urusan administrasi. Sekali ada syarat yg gak lengkap, petugas sortir akan membuang aplikasi anda, lha wong yg daftar buuuuuuuuuuuuuuuaaaaanyyyyakkk, ya tho? Jadi jangan remehkan urusan administrasi ini. Secanggih apa pengalaman anda kalau aplikasinya gak lengkap ya kemungkinan tersingkir juga.

Syarat yang paling umum adalah IPK, score IELTS/TOEFL, surat rekomendasi, motivation letter dan CV. Kalau IPK dan score TOEFL/IELT ini tentu saja harga mati. Anda harus benar-benar berusaha mencapai nilai minimum yg diminta. Kalau dua lainnya yaitu rekomendasi dan CV masih bisa dipoles sana-sini.

IPK anda mepet dengan syarat minimum misalnya diminta IPK minimal 3,00 dan anda ternyata pas 3,00. Jangan berkecil hati. Kirim saja. Ingat seleksi pertama adalah syarat administrasi. Saya yakin anda lolos. Untuk seleksi berikutnya kita poles CV nya hihihi…

Mengenai score IELTS/TOEFL jangan pernah remehkan. Perhatikan apa yg diminta, TOEFL institusi atau internasional. Kalau bisa dipilih mending anda mencari yg institusi karena biayanya lebih murah. Berdasar pengalaman tes ini tidak cukup sekali. Jadi kalaupun diminta yg internasional, gak ada salahnya mencoba yg institusi dulu untuk mengurangi rasa gugup. Ingat bahasa inggris bukan bahasa ibu kita jadi sedikit banyak akan gugup. Apalagi saya yang seumur-umur belum pernah ikut kursus bahasa inggris, wah kalau berbicara mengenai grammar ya susah juga. Maklum selama ini saya belajarnya otodidak dari banyak baca literature bahasa inggris dan ngobrol pakai bahasa inggris. Percayalah itu tidak cukup, kalau punya duit sisakan untuk kursus. Kalau tidak punya duit kayak saya, mau tidak mau harus belajar. Buka buku-buku latihan IELTS/TOEFL. Pelajari dan latih. Gak punya duit buat beli bukunya? Gabung di perpustakaan kursus bahasa macam IALF, sebagai anggota perpus anda bisa meminjam buku-buku tersebut dan bisa menggunakan fasilitas lainnya macam latihan listening.

Untuk rekomendasi biasanya diminta dari dosen dan pimpinan. Kalau dosen biasanya lebih mudah apalagi dosen pembimbing kita. Datang ke kampus dan sertakan copy IPK beres. Kecuali anda termasuk mahasiswa yang terkenang sepanjang masa, ukuran dosen memberikan rekomendasi adalah melihat IPK anda.  Bagaimana kalau anda belum bekerja otomatis belum punya pimpinan kan. Nah caranya anda gabung dengan LSM. Biasanya mereka terbuka sekali dengan orang-orang yg bersifat voluntary alias sukarela. Gabung aja salah satu programnya kemudian dekati project directornya untuk ngasi rekomendasi. Atau juga terlibat dengan media-media kampus kemudian minta rekomendasinya. O ya jangan lupa selalu siapkan template karena terkadang orang-orang yg anda mintai rekomendasi adalah orang-orang sibuk dan kadang lemah juga bahasa inggrisnya so siap-siap saja dengan templatenya. Biasanya akan dimodifikasi. Kalau mereka punya template sendiri ya syukur Alhamdulillah, ya tho?? Intinya jangan lupa menawari.  Satu lagi untuk urusan meminta rekomendasi jangan sampai malu. Mungkin sudah lama anda gak sambang kampus atau sudah lama anda mengangur. Itu bukan alasan untuk malu. Tiap dosen senang membantu mahasiswanya. Penganggur saya yakin anda tidak selalu menganggur kan. Kerjaan-kerjaan lepas ada bobotnya sendiri. Kemas itu menjadi luar biasa di essay anda dan pas interview nanti.

Diminta surat keterangan dokter ya usahakan dipenuhi. Ada satu cerita, ketika saya mendaftar beasiswa dari pemerintah India, disebutkan salah satu syaratnya sehat dan sudah divaksin macam cacar. Wah saya harus cari surat dokter tersebut. Inilah gunanya koneksi.

Terakhir adalah CV. CV harus menarik. Perlu diperhatikan, apa yg anda tulis di CV sesuaikan dgn kebutuhan beasiswanya. Tidak semua pengalaman dan prestasi anda ditulis di CV misalnya juara menyanyi sekelurahan, gak ada hubungannya kecuali yg anda apply adalah beasiswa budaya. Untuk hal-hal yg gak ada hubungannya tersebut disimpan saja dan bisa dipakai sebagai bahan waktu interview. Misalnya begini untuk menunjukkan anda yg adaptable dan senang berteman anda bisa bilang saja saya senang tergabung dengan kelompok-kelompok kegiatan tertentu, di kampung saya punya kelompok angklung yg menang di tingkat kecamatan. Sebagai perwakilan negara saya, saya juga akan mengenalkan budaya Indonesia yang kaya kepada teman-teman internasional saya nantinya bla…bla..bla…Jadi dalam interview tidak semuanya mengenai hal-hal yg akademik. Nanti saya ceritakan di bagian lain.

Interview

Sebelum interview ada baiknya lakukan PR anda. Cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai universitas anda dan kota dimana anda tinggal nantinya. Ini penting untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya akademik dan non akademik. Yang ditanyakan dalam interview sejatinya ada tiga macam yaitu alasan anda memilih, hal-hal yang sifatnya akademik dan hal-hal yang sifatnya non akademik. Alasan memilih semacam mengapa anda memilih beasiswa ini, mengapa anda mimilih negara tersebut, universitas mana yang dipilih, kenapa itu bukan yang lain, mengapa mereka harus memilih anda, apa kelebihan anda. Intinya seberapa siap anda dan seberapa visible langkah-langkah yang akan anda lakukan.

Sedikit tips. Pada saat interview saya menyebutkan professor di universitas yang saya tuju dan betapa expertise beliau sesuai dengan proposal riset saya. Saya juga membawa tulisan-tulisan saya dalam jurnal-jurnal akademik. Hal ini membantu sekali karena meskipun saya apply master untuk coursework, penginterview mengejar saya mengenai rencana-rencana saya dan riset akhir saya. Jadi selalu well prepare kapanpun hihihi…

Yang terakhir tentu saja doa, saya merasa keberhasilan saya tembus beasiswa semata-mata karena doa orang tua saya hihihi… Demikian saja karena saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang. Kalau ada pertanyaan bisa japri atau melalui group ini. Tetap semangat dan optimis.

3 Komentar di Posting “Citra Hennida: “3 Langkah Menentukan Sukses Beasiswa”

  1. kak aku masih sma dan tertarik sama beasiswa ke luar negeri. setelah membaca aku masih bingung langkah awalnya saat cari informasinya. tolong bantuannya ya kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>