Dibaca: 2,698 kali    Komentar: Belum Ada  

Eka Puspitawati: “Jangan Takut Bermimpi”

EkaPuspitawatiSaya adalah salah seorang perempuan yang beruntung mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri atas beasiswa pemerintah Australia. Bernama lengkap Eka Puspitawati dengan panggilan Eka, sebelum berangkat studi saya bekerja sebagai asisten dosen dan peneliti di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bogor. Dengan modal ijazah S2 dalam negeri dengan spesialisasi S2 Ekonomi Pertanian (Sosek Pertanian), saya mulai menata mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di negeri yang kualitas pendidikan rata-ratanya lebih baik dari di negeri sendiri.

Awalnya saya diliputi rasa ketidakpercayaan diri akan kemampuan untuk meraih mimpi itu. Saya bukan termasuk katagori cum laude saat menempuh jenjang sarjana, tapi punya mimpi besar untuk bisa meraih pendidikan yang lebih baik dan bisa berinteraksi dengan dunia internasional baik melalui tulisan maupun penelitian.

Masih ingat lagu ini?

 “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya”

 Penggalan lirik Laskar Pelangi sepertinya pas buat gambaran sepenggal kisah saya dalam meraih pendidikan tinggi di luar negeri, Australia. Ya, semua berawal dari mimpi. Mimpi yang saya bangun semenjak hampir kelulusan dari sekolah pascasarjana di Bogor. Lingkungan pula yang ikut membangkitkan dan menjaga mimpi-mimpi itu. Di kelilingi lingkungan bekerja yang selalu mendengungkan kenyamanan dan kelebihan dari bersekolah di luar negeri, mau tidak mau mengubah paradigma saya bahwa perempuan juga bisa dan dan mampu bersaing merebut kursi beasiswa sekolah di luar negeri yang terbatas, apalagi untuk meraih beasiswa PhD.

”Tidak ada sesuatupun yang diperoleh dengan tanpa usaha dan doa”, prinsip saya. Mimpi yang terus mendengung untuk bisa melanglang buana ke luar negeri menuntun alam pikir untuk mengupayakan menyusuri jalan ke arah itu. Faktor bahasa adalah faktor utama untuk bisa sekolah di negeri orang. Karena lemah dalam penghapalan kosa kata baru, akhirnya menetapkan hati untuk menargetkan beasiswa yang membiayai sekolah di negera-negara berbahasa utama bahasa Inggris. Menyadari kemampuan bahasa asing (Inggris) yang pas-pasan bahkan bisa dikata kurang, akhirnya disela-sela waktu bekerja saya sempatkan kursus bahasa Inggris. Dari kursus bahasa Inggris yang bareng dengan anak-anak SMP, sampai kursus tips dan trik menghadapi IELTS selama lebih dari satu tahun, semua saya lakoni supaya saat test IELTS/TOEFL tidak mengecewakan. Tes IELTS di lembaga kursus kampus di Bogor untuk syarat pengajuan beasiswa pun saya jalani meski hasilnya tidak sepuas yang diharapkan, tapi cukup untuk modal pengajuan beasiswa.

Untuk pertama kali, aplikasi beasiswa ADS pun saya layangkan. Baru seleksi administratif, sudah tidak lolos karena berkas-berkas tidak lengkap seperti surat rekomendasi (saat itu dibutuhkan surat keterangan/rekomendasi dari atasan kerja/kolega). Akhirnya untuk mendapatkan peluang yang sama, saya harus menunggu kesempatan selanjutnya. Tapi usaha mencari sumber beasiswa lainnya pun tidak henti saya sisir. Informasi beasiswa selain ADS pun terbuka karena keterlibatan saya pada suatu penelitian dengan ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) atau semacam lembaga penelitian Departemen Pertaniannya Australia. Lembaga ini memberikan grant beasiswa JAF (John Allwright Scholarship) yang diprioritaskan bagi orang-orang yang punya kontribusi dan atau diperkirakan punya potensi besar sebagai agen pembangun pertanian di Indonesia terutama dalam hubungan kerjasama riset antara Indonesia-Australia, alias punya latarbelakang keterlibatan langsung dan tidak terhadap proyek-proyek ACIAR.

Dari pengajuan beasiswa JAF ini, saya jadi belajar strategi mendapatkan beasiswa. Berikut tips yang bisa saya sharing buat teman-teman yang punya mimpi sama, terutama yang punya keinginan meneruskan pendidikan S3nya di luar negeri.

  1. Kalau kamu punya kapabilitas dan kapasitas di bidang tertentu yang lebih dari rata-rata, tidak perlu khawatir soal bahasa dalam pengajuan aplikasi beasiswa. Kemampuan bahasa bisa diasah dengan pelatihan (kursus) yang diadakan di beberapa sponsor beasiswa seperti ADS dan JAF. Kebanyakan lembaga sponsor (pemberi beasiswa) mencari orang-orang yang dianggapnya punya potensi sebagai agen pembangun di daerah/bidangnya masing-masing atau punya ide penelitian yang dianggap penting. Sang sponsorship akan ’mati-matian’ mengusahakan perbaikan kualitas bahasa (Inggris) si calon penerima beasiswa yang dianggapnya punya potensi besar. Bahkan ada teman yang dikursuskan hingga satu tahun lebih hanya karena skor IELTS-nya belum mencukupi syarat minimal. Oleh karena itu, penting artinya ’surat sakti’ atau rekomendasi dari seseorang yang punya otoritas tinggi di tempat kamu bekerja atau berorganisasi yang menyatakan bahwa kamu punya potensi besar di lingkungan kerja atau lebih luas. Saran saya, jangan menunggu nilai IELTS mu mencapai batas minimum di universitas tujuan di luar negeri dalam mengajukan lamaran beasiswa, tapi coba dulu dengan nilai IELTS yang ada.
  2. Kalau kamu perempuan, apalagi berdomisili di wilayah Indonesia bagian timur, kans besar buatmu untuk mendapatkan sponsorship. Apalagi akan melakukan penelitian seputar gender.
  3. Buat pengaju beasiswa riset (baik S2 maupun S3), disarankan punya hubungan/kontak dengan calon supervisor (pembimbing) terlebih dahulu. Mereka bisa dijadikan nilai tambah (bahkan nilai kunci untuk pengaju S3). Tapi hal ini bukan harga mati, karena saya pun baru mengenal supervisor saya setelah saya mendapatkan beasiswa JAF. Hal ini dikarenakan beasiswa yang saya peroleh sifatnya terikat, dalam artian mereka penerima JAF harus ikut serta dalam penelitian yang dikerjakan ACIAR.
  4. Saat test wawancara, rileks dan tenang dalam menjawab semua pertanyaan. Tunjukkan pula bahwa kamu bersungguh-sungguh untuk studi dan akan kembali ke tanah air untuk mengabdikan ilmu yang diperoleh sekembalinya nanti baik untuk pengembangan diri pribadi maupun (jika mampu) untuk kemaslahatan orang-orang sekitar.
  5. Jika mengalami kegagalan, coba dan coba lagi sampai batas umur maksimal! Pantang menyerah dan terus mencari sumber-sumber beasiswa lain yang memungkinkan.
  6. Berdoa dan mohon restu (keikhlasan) dari orang-orang sekeliling, terutama orang tua dan suami/istri. Menuntut ilmu ke negeri orang laksana jihad, apapun bisa terjadi nantinya di tempat yang jauh dari sanak saudara. Doa kesehatan dan keselamatan yang tiada henti kita perlukan selama proses beasiswa hingga selama studi berlangsung.

Mudah-mudahan cerita ini bisa menjadi inspirasi dan penyemangat teman-teman yang punya mimpi yang sama. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar! Usaha dan doa yang terus-menerus niscaya akan mendekatkan mimpi-mimpi itu hingga kita bisa mendekapnya. Segala pertanyaan dan komen akan tulisan ini bisa menghubungi saya melalui email ekapuspitawati@yahoo.com, atau jaringan facebook, dengan mencari kata kunci Eka Puspitawati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>