Dibaca: 5,563 kali    Komentar: 5  

Muhamad Syadid: “Sukses Beasiswa Al-Azhar (Mesir)”

MUHAMAD SYADID - Mesir - akhisyadid@gmail.com - Cropped“Karena komitmen adalah sebuah loyalitas perjuangan” Adalah selarik kalimat yang ditulis Muhamad Syadid, seorang mahasiswa Universitas Al Azhar, Mesir. Sebuah lembaga pendidikan tertua di dunia, yang menjadi tempat jujugan pelajar seluruh dunia, yang ingin menimba ilmu agama Islam.

Di kota tempat Ramses II pernah berkuasa itu, naskah-naskah kuno, lembaran-lembaran masa lalu tentang sejarah peradaban umat Islam berikut pengetahuannya yang memikat, berkumpul menjadi satu.

Menjadi sebuah daya tarik intelektual yang agamis bagi pencinta teologi Islam. Tak mengherankan jika banyak anak-anak muda, khususnya yang mendalami teologi Islam akan menjadikan Mesir, dengan Al Azhar sebagai rujukan pertama, untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka. Di tempat ini pula, Habibburahman El Sirazy atau yang kerap dipanggil Kang Abik, menuliskan sebuah buku fenomenal tentang mahasiswa Al Azhar dalam Ayat-Ayat Cinta (AAC).

Kang Abik sendiri juga pernah menjadi mahasiswa di Al Azhar. Sehingga, dengan mudah dia menjabarkan kondisi mahasiswa asal Indonesia di negeri piramida itu. Di tempat yang sebagian besar berupa gurun pasir itu, Syadid, yang kini menjadi mahasiswa di Fakultas Teologi Islam (Ushuluddin) jurusan Tafsir merengkuh mimpi. Sejak tahun 2005, alumnus SMAN 2 Lumajang ini hijrah dari kota Pisang ke Negeri Piramida.

“Alhamdulillah, niat saya untuk memperdalam ilmu di sini terlaksana. Mudah-mudahan bisa lebih bermanfaat,” katanya. Kesungguhan Syadid untuk mendapatkan jalan menuju Al Azhar bukan hal yang mudah. Apalagi, di sekolahnya dulu, tidak ada pendidikan agama secara spesifik.

Itu sebabnya, dia banyak memperdalam ilmu dari berbagai diskusi dan berguru di Ma’had. Selepas SMA, dia pergi ke kota Pahlawan untuk menjalani pendidikan di Ma’had Umar Bin Al Khattab. Kemudian, dia melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Ma’had Usman bin Affan Jakarta.

“Baru setelah itu, saya memperoleh kesempatan ke Al Azhar,” tuturnya. Kesuksesan Syadid belajar di sebuah universitas tertua di dunia bukan diperoleh dengan perkara mudah. Dengan susah payah dan ketekunan serta niat yang menghunjam di dalam hati, dia terus menggali potensi dan kemampuannya. Belajar bahasa Arab dilakoninya untuk memperlancar komunikasi di Mesir. Begitu juga dengan kemampuan bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional.

Di Mesir, Syadid tidak hanya mengisi kegiatannya dengan memperdalam ilmu pengetahuan di bidang agama saja. Di negeri orang, jangan harap mendapatkan banyak kemudahan seperti di negeri sendiri.

“Yang jelas, kami dituntut sangat mandiri. Entah dalam mengurus diri sendiri, maupun untuk memajukan diri dan tentunya mahasiswa dari Indonesia lainnya,” tuturnya.

Untuk itu, dia menceburkan diri dalam Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Islam di Kairo secara aktif. Saat ini, dia menjabat sebagai wakil presiden PPMI Mesir. Benih kecintaan pada kegiatan kepemudaan dan budaya berorganisasi, sudah tumbuh sejak dia masih duduk di bangku SMA. Ketika itu, Syadid masuk dalam jajaran pengurus remaja Mushalla Al Azhar SMAN 2 Lumajang.

Dari kegiatan ini pula, keingintahuannya terhadap Islam juga tumbuh mekar seiring dengan keikutsertaannya dalam setiap diskusi-diskusi keagamaan di musala kecil itu.

“Sampai saat ini, saya memang masih senang berorganisasi,” katanya. Dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-65 di KBRI Kairo, dia bersama rekan-rekannya mengadakan sebuah kegiatan amal, yakni donor darah. Selanjutnya, dia juga pernah menjadi wakil mahasiswa Indonesia dari Mesir dalam Konferensi Internasional Pelajar Indonesia 2010 di Victoria University, Melbourne, Australia.

“Di sana, kami membicarakan tentang pendidikan di Indonesia bersama dengan pakar-pakar pendidikan. Tidak hanya dihadiri pembicara dari Indonesia dan Australia, namun juga dihadiri oleh pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri. Seperti Mesir, Inggris, Amerika Serikat, Taiwan dan Filipina. Dalam kegiatan ini membahas kontribusi pelajar dan mahasiswa di luar negeri untuk kemajuan pendidikan.

“Yang jelas, kami tidak hanya mendapat informasi baru, namun juga mendapat kawan baru. Sehingga, keberadaan kami di luar negeri bisa tetap bermanfaat bagi tanah air,” pungkasnya. (*)

Tulisan ini pernah dimuat dalam Radar Jember [ Minggu, 12 September 2010 ]
Rubrik :Aktivitas Mahasiswa Asal Indonesia Mengenyam Pendidikan Luar Negeri
Judul: Meski Kuliah di Kairo, Jalin Jaringan Hingga Australia

Reporter: Elita Sitorini

akhisyadid@gmail.com

5 Komentar di Posting “Muhamad Syadid: “Sukses Beasiswa Al-Azhar (Mesir)”

  1. asasamualikum wr wb salam akhikum fillah saya siti shofiatul marwah ingin bertanya,apa saja yang meliputi mengenai tes bahasa arab secara tulis maupun lisan …dan berapakah minimal hafaalan quran sera bgaiman tes tulis inssssssssssya …apakah nahwu sorofkah yang dikedepankan ?ssekian syukron terimakasih jazakumullah..

  2. assalamualikumm wr wb saya siti shofiatul marwah siswi akhir ponpes daar et taqwa banten ingin bertanya apa saj ates yang meliputi beasiswa mesir baik secara lisan amupun tulisan dan berapa minimal harus menghafal quran serta apa yang lebih domnan yang keluar dalam tes apakah kemampuan nahwu sorof yang ditonjolkan syukroo…jazakumullah mohon jawabannya

  3. ASSALAMUALAIKUM WR.WB.
    Saya dari pondok bustanul mutaalimat blitar jawa timur indonesia.
    Saya juga sekolah di SMA AL MUHAFIZHOH
    tp saya bingung, kata guru saya orang yg hafal qur’an 10-30 juz akan bisa mendapatkan bea siswa disana, apa betul?
    Ulfa minta btlong di jawab pesannya..
    WASSALAMUALAIKUM WR.WB.
    Sukron jazaakumullah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>