Dibaca: 1,836 kali    Komentar: Belum Ada  

Sartika: “Beasiswa untuk Pesantren”

Sartika, kisah.docDi tengah kehidupan yang penuh masalah ini, aku memulai dan membangun impian. Impian yang tak kunjung terwujud seakan-akan menjadi beban berat bagiku. Aku berkata dalam hati, aku harus dapat mewujudkanya walaupun hanya sedikit asa tertanam.

Aku  hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah. Memang di sekolah aku berada, terselip pelajaran-pelajaran agama tapi tak dapat di pungkiri bahwa umumlah yang lebih unggul. Kedua orang tuaku berdebat akan akhir kelulusanku ini. Masuk pesantrenkah atau masuk sekolah negeri?, yah akhirnya aku masuk pesantren dengan kemampuan bahasa arab yang sangatlah minim. Maklumlah nilai bahasa arabku hanya 7 waktu itu sedangkan bahasa inggris lebih tinggi. Sungguh berbanding terbalik. Seharusnya tak pantas masuk pesantren tapi demi ibuku yang aku cintai dan sayangi akhirnya aku bersedia masuk.

Di tahun pertama, aku mendapat beberapa masalah. Terbayang aku harus menghafalkan 10 kitab berbahasa arab semua. Memang kitab itu bisa di kategorikan tipis tapi untuk ukuran aku yang  tak pandai berbahasa arab itu sangatlah sulit. Untunglah Allah Swt. selalu mempermudah langkahku, aku dipertemukan dengan guru bahasa arab yang telaten dan ulet mengajari kata-perkata padaku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukai apa itu arab. Aku mulai rajin mengahafalkan dan mendalaminya. Dengan kata lain arab sudah aku buat seperti kebutuhanku.

Di tahun berikutnya, aku tertimpa masalah lagi. Aku harus belajar tata bahasa arab. Di tambah lagi ustad yang mengajar bukanlah ustad yang ramah. Tiap saat dan pelajaran di mulai, lontaran pertanyaan di tujukan pada kita semua. Tak terbayang betapa stressnya aku waktu itu. Di saat capek dan lelah menyerang tubuhku, aku harus berkutat dengan buku dan murojaah demi target dan impian semata. Tak kusangka Alloh Swt, selalu menjawab doa-doa yang terpanjat tiap sholat dan sepertiga malamku. Hasil itu di depan mataku, mengantarkan ke masa depanku.

Di tahun terakhirku, aku mendapat kesempatan mengikuti seleksi beasiswa Mesir. Tiap hari aku berkutat dengan Al Quran, muhadasah dan latihan mengarang berbahasa arab. Semakin hari semangat itu muncul hingga tibalah waktu paling mendebarkan itu. Tepat 28 april 2008, aku menjalani ujian yang bertempat di Jakarta. Perasaan lega menyelimutiku dan keputusasaan pun hilang dari benakku. Yah akhirnya ujian pun usai, meskipun aku tak tahu hasilnya bagaimana nanti.

Tepat 1 bulan setelah prosesi ujian dilaksanakan. Masalah itu pun tak kujung selesai. Yah, jangan hidup kalau tak ingin kena masalah. Ternyata pihak kedutaan mesir tidak mau menerima hasil ujian pesantrenku. Problematika yang cukup rumit jika dijelaskan. Akhirnya aku berusaha membuka diri dan menerima hasil yang menurutku sangatlah tidak adil. Hanya karena permasalahan yang tidak kubuat, aku harus meneggelamkan mimpi-mimpi itu. Kekecewaan yang terlintas dan membekas di diri ini. Rabbi, masih adakah kesempatan bagiku?

Setahun aku menggeluti kimia, fisika dan matematika. Setahun itu pula fase penyembuhanku sempurna. Aku mulai membangun mimpi yang tertunda itu. Merangkai kegagalan itu dengan kenangan manis yang tertuang di dalamnya. Tanpa ada kegagalan dan kesalahan maka kesuksesan itu tak akan sempurna. Aku menjadikan kenangan itu sebagai tombak penembus cita-citaku.

Aku semakin bangkit dan maju, jalan terjal di mataku dan kungkungan keterbatasan informasi tidak menghalangiku. Berbagai informasai beasiswa telah dapat. Justru saat itu, aku mendapat kebingungan yang luar biasa. Di lain sisi aku mempertahankan impianku itu dan dilain sisi ingin mengambil kuliah yang sesuai dengan jurusanku. Akhirnya agama yang jadi pilihanku. Pendaftaran beasiswa dan SNMPTN kubiarkan lewat tanpa ku ikuti satupun. Batinku menenangkan, aku berjodoh dengan luar negeri.

Allah Swt, memang merencanakan lain. Di saat aku acuh pada pendaftaran dalam negeri, ternyata pendaftaran luar negeri dipersulit. Hanya tangisan yang ku lakukan. Apakah akan seperti dulu lagi? Tak adakah kesempatan bagiku? Tidakkah aku mengecewakan kedua orang tuaku untuk yang kedua kalinya? Rabbi, la tadzarni fardan (tuhan, jangan tinggalkan aku sendiri).

Dua bulan aku terdiam di rumah. Aku mengisi kekosongan itu dengan berbagi ilmu di TPQ. Di fase itu pula aku mondar-mandir pesantren-rumah begitu seterusnya guna untuk mendapat informasi. Semua tetangga menanyakan tentang kuliahku. Tertunduk malu ingin rasanya aku menutup wajahku dengan gumpalan kain besar hingga orang tak dapat melihatnya.

Hari demi hari silih berganti, jawaban itu telah datang. Ning pesantrenku menawariku beasiswa ke Maroko. Kebahagiaan tiada tara meledak begitu saja. Aku pun segera mempersiapkan keperluan dan persiapan ke Maroko. Dalam waktu singkat akhirnya persiapan itu pun usai. Dengan persiapan yang tak matang aku pun berangkat ke negeri seribu benteng itu julukan untuk Kerajaan Maroko.

Sesampainya di bandara Mohammed V Casablanca, seorang mahasiswa telah menungguku di sana. Yah akhirnya terjadilah percakapan di antara kita bertiga. Bagaimana aku bisa di sini? Bagaimana aku bisa telat? Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan. Aku semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ada gerangan apa lagi ya Rabb?

Ternyata dan ternyata keganjalan itu muncul. Mulai dari surat dari Kementrian Agama yang tidak lengkap ditambah lagi pertanyaan kakak kelas yang aneh. Tak lupa melihat sosok mahasiswa yang tak lain adalah ketua PPI melihat kita berdua dengan gurat kebingungan. Aku hanya bisa pasrah dan positif thinking semoga dijauhkan dari keburukan. Keesokan harinya kita berdua bergegas menuju KBRI untuk melapor diri. Tiba-tiba seseorang datang sembari menenangkan bahwa aku akan kuliah. Ada apakah sebenarnya? Apa yang terjadi? Pikiran-pikiran negatif pun kembali menghantuiku.

Hari demi hari tak ada kepastian datang bahwa aku menjadi mahasiswi di Maroko. Tak ada kejelasan. Sebagai orang baru di Maroko, maka aku pun tak tau langkah mana yang semestinya dilakukan pertama kali. Mendengar beberapa masukan dari berbagai pihak juga membuatku kewalahan. Akhirnya ku putuskan menjadi mustami’ di tempat kuliah yang aku tuju.

Kenitra, tempat dimana aku tinggal dan menggali ilmu saat ini. Di sinilah perjalanan hidupku di mulai. Dari mulai makan, tidur dan belajar semua ku lakukan di kota kecil ini. Betapa tidak enaknya menjadi posisiku saat itu. Untung teman-temanku memahami apa yang terjadi padaku. Meringankan beban finansial yang membebaniku, tapi setidaknya aku sudah bersyukur akan itu masih ada yang peduli denganku. Tiap hari aku mengikuti perkuliahan tanpa memperdulikan apakah aku resmi jadi mahasiswi kenitra ataupun tidak. Pikiranku hanya setengah-setengah dalam menerima pelajaran. Bercampur aduk dengan izin tinggalku di Maroko. Tanpa ada surat keterangan sebagai mahasiswi maka aku tidak bisa pula tinggal di Maroko. Jika surat itu tak kunjung keluar, apakah aku harus pulang dengan tangan hampa? Pulang  tanpa ada kesuksesan yang di raih? Pulang dengan sia-sia?

Dua bulan pun telah berlalu tanpa adanya kabar yang menggembirakan. Dua bulan pula aku hidup dengan kebaikan teman-temanku walaupun memang orang tuaku mengirim uang itupun tak banyak hanya di gunakan buat kehidupan sehari-hari dengan pas-pasan. Yah memang Alloh Swt, selalu mempermudah langkahku dalam hal apapun. Niatku untuk belajar dan bisa hidup di Maroko pun ada. Tanpa ada kabar dan musabab, kyai pesantrenku mengirimku biaya guna mengurus bolak-balik berkasku yang tak kunjung ada hasil itu. Setidaknya aku bisa hidup layaknya mahasiswa lain tanpa harus merepotkan kedua temanku.

Akhirnya ujian kuliah pun datang sedangkan aku belum mendapatkan surat izin kuliah. Bagaimana bisa aku belajar 100% jika aku tidak bisa mengikuti ujian kuliah. Melihat kedua temanku yang sibuk belajar dan menatap buku yang diujikan. Aku hanya berdiam diri di depan buku tapi pikiranku tak tentu arah kemana larinya. Batinku sesak, mengapa aku tak seberuntung mereka? Mengapa aku tak bisa seperti mereka yang mendapat kesempatan belajar dengan mudah? Perasaan tidak terima itu menghantuiku dan mencuci batinku. Ya Rabbi, izinkan aku bersabar atas kehendakmu!

Tiga bulan pun telah berlalu. Masa visaku pun telah habis. Secara tidak langsung, aku harus segera mengurus izinku. Berbagai upaya telah di lakukan ketua PPI demi diterimanya aku di Kenitra. Bertanya kesana kesini, mondar dan mandir hingga tak ada kelelahan dirasa. Pak Suparman selaku Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Rabat yang berurusan langsung dengan masalah kemahasiswaan pun kebetulan juga mengurus berkas kuliahku ikut kebinggungan harus bagaimana ini. Memang semuanya juga tak mau, aku pun khawatir jika berkasku di tolak di manapun. Mereka selalu menenangkanku seakan-akan tak ada hal buruk terjadi. Sebenarnya aku tahu gurat ketidakpastian di wajah-wajah beliau. Maafkan saya yang tak bisa berbuat apa-apa!

Empat bulan pun berlalu, akhirnya titik cerah itu datang. Berita yang di tunggu pun datang. Rektor kuliahku akhirnya bersedia memberikan surat muwafaqoh (persetujuan-red). Satu jalan ini yang mengantarkan keputusan AMCI. Kesabaran dan keikhlasan yang aku pelajari dari semua kesulitan ini.

Tepat  14 maret, aku mendapatkan surat yang aku nantikan selama ini. Hanya selembar kertas yang menentukan aku di sini. Selembar itu pula membuat hati ini menangis, haru, dan mendebarkan. Aku merasa orang yang paling beruntung di dunia ini. Ya Rabbi, inilah rencana terbaik yang kau rencanakan! Terima kasih buat semua orang yang rela memberikan waktunya pada perempuan lemah ini. Terkhusus buat ketua PPI Maroko, Pak Suparman ,dan Pak Dedi dan teman-teman semua. Aku menangis terharu karena kalian.

Sartika, 22 Oktober 1993 .

Anggota PPI Maroko, Mahasiswi tahun pertama Jurusan Studi Islam di Universitas Ibn Tofail-Kenitra, Maroko.

Facebook : Ukhty Tyka

http://www.facebook.com/Tyka.Arabic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>