Dibaca: 4,351 kali    Komentar: 4  

Scholarship Hunter: “Penerima Beasiswa Juga Manusia Biasa”

Kesan pertama yang hampir selalu kita tangkap setelah membaca pengakuan, testimoni, tips, kiat, pengalaman – atau apapun itu sebutannya – dari beberapa orang yang berhasil menerima beasiswa adalah mereka orang-orang hebat, pantang menyerah, dan selalu termotivasi. Api semangat para laskar-laskar pejuang beasiswa tersebut menggelora dengan hebatnya di dalam diri mereka. Namun jamak dilupakan bahwa sumber kayu-kayu bakar itu seringkali tidak berasal dari hutan belantara yang tumbuh di hati mereka. Kenyataannya, mereka sangat tergantung kepada pasokan kayu berkualitas tinggi yang tumbuh di hati orang lain dan didukung iklim lingkungan sekitar. Mereka – para pejuang tersebut – hanya bisa memelihara api itu supaya tidak segera padam, seredup apapun cahayanya. “Aku ingin mencintaimu dengan sederharna: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya debu…”; kawan, masih ingatkan kita pada penggalan puisi karya Sapardi Djoko Damono ini?

Teman, ijinkan saya bercerita – iya, hanya sekedar bercerita – tentang orang-orang dan lingkungan yang telah membuat api itu tetap menghasilkan cahaya semangat. Pemaknaan dari kisah ini terserah masing-masing, namun satu yang pasti: kita pasti, perlu mencari, mendekati sumber-sumber kehidupan cahaya tersebut. Kita hanyalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan diperngaruhi oleh lingkungan kita berpijak. This story , hopefully, will be your story, not history

Dua kali, alhamdulillah, atas ijin Tuhan Semesta Alam, dengan keikhlashan mereka untuk menjadi debu dan kebaikan lingkungan sekitar, saya – sebut saja A – menerima beasiswa dari pemerintah Australia: Australian Development Scholarship (ADS), 8 tahun lalu, untuk program master, dan, Australian Leadership Award (ALA), saat ini, untuk program PhD.

Tidak dipungkiri, posisi saya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) memegang peran penting dalam kesempatan tersebut, walaupun perlu kesabaran selama tiga tahun sebelum diijinkan oleh institusi untuk bersekolah lagi. Kategori sektor publik, secara statistik memang lebih menguntungkan: dua dari tiga orang penerima beasiswa ADS adalah seorang PNS. IP tinggi namun pegawai swasta? Maaf, PNS sedikit (sedikit loh…) lebih beruntung. Ini ilmu peluang dasar, kawan! Kalau tidak percaya, bacalah dua halaman pertama formulir yang harus kita isi itu  (Tapi jangan kuatir, peluang sebesar 0,33333… itu tidaklah terbilang kecil, harapan tetaplah ada teman). Menerima beasiswa pun bukan hanya tergantung kecerdasan, keberuntungan juga berperan. Bukti lain? IP S1 saya pun hanya 2,94, (lagi-lagi) sedikit lebih baik dari ketentuan minimum 2.90, dan, itu pun dengan dua nilai D: satu abadi, satunya lagi sedikit tertutupi dengan nilai B untuk mata kuliah yang sama di semester yang berbeda. Dengan angka-angka yang tidak akan pernah beubah selamanya ditranskip nilai ini, saya pernah ditolak oleh British Chevening Scholarship satu tahun sebelumnya. Satu dokumen, dua nasib. Nah, jangan berkecil hati atas apa yang sudah terjadi, harapan akan semakin tampak jelas jika kita tetap terus berjalan mencari sumbernya.

Modal awal yang diperlukan adalah kemampuan bahasa Inggris yang diukur dari skor TOEFL atau IELTS. Memang, nilai institusional TOEFL awal saya sebesar 553 sangat membantu. Sedikit berbeda dengan teman-teman seangkatan saya yang lebih memilih ikut kursus TOEFL, saya lebih memilih memulai dari dasar: ikut program regular dari Basic sampai akhirnya menyelesaikan program Advanced dalam waktu 2,5 tahun! Bagi saya nilai TOEFL/IELTS yang tinggi hanya cerminan dari kemampuan dasar kita berbahasa asing: no short cut, period. Salah satu hambatan terbesar memulai dari awal lagi adalah seringkali ego kita sendiri. Siapkah kita membayangkan teman sekelas kursus kita adalah adik-adik kita yang baru kelas satu SMA, sedangkan kita sudah lulus S1, bahkan sudah menikah? “I was a student; but, I promise you all, somehow… someday … I will be a student again,” itulah kalimat yang sering saya ucapkan saat diminta memperkenalkan diri. Ayo, jangan malu! Bahan bakar api motivasi lainnya, ketika saya berpikir untuk berhenti kursus, adalah – ah, sebuah janji lain – ucapan saya kepada anaknya calon mertua saat itu: “I can’t promise you anything, I have nothing; but, I still have a dream to take you overseas, and raising our children there. Please, trust my words.” Alhamdulillah, I never break the promise; Instead, I did it twice.
Sebenarnya kemampuan bahasa inggris untuk program ADS tidak terlalu ditekankan, karena, jika kita lulus seleksi, nanti akan diberikan pelatihan persiapan bahasa, mulai 2 s.d. 9 bulan lamanya, tergantung skor awal IELTS kita. Proses wawancara, yang menurut saya adalah bagian terpenting, pun tidak disyaratkan harus dilaksanakan dalam bahasa Inggris walau salah satu pewawancara adalah akademisi asing. Saya ingat mereka bilang: ini bukan test bahasa.

Silahkan membaca tips dari guru-guru kehidupan saya di situs ini tentang bagaimana melewati tahapan wawancara ini dengan sukses (lihat tulisan Ibu Salwa, misalkan). Saya tidak ingin membuang waktu temans dengan hal-hal yang sudah diketahui. Sedikit tambahan, please. Satu hal: persiapankan dan ceritakanlah (ditanya atau tidak, ceritakan ini ke mereka!) rincian rencana tentang mata kuliah yang temans akan ambil, termasuk elective courses-nya. Ini menunjukkan bahwa kita tahu apa yang mau kita lakukan. Print-lah silabus dan tunjukan ke mereka. Hal kedua, bertanyalah ketika mereka memberi kesempatan kepada kita untuk bertanya di akhir wawancara. Sulit bertanya? Gantilah pertanyaan menjadi pernyataan: ucapkan terima kasih telah mengundang kita, ulangi lagi tujuan kita berada di depan mereka, dan yakinkan mereka, yakinkan sekali lagi, bahwa keputusan mereka untuk memilih kita adalah keputusan yang tepat. “It’s an honor for me to be here, in the front of you. I would like to thank you very much for this opportunity. I do believe today will be another important day in my long journey to achieve my dream – to be a person who will contribute to my beloved country development, to be someone who will be beneficial for others. With your support and trust, I will be a significant part of the Indonesia future: Insya Allah.”

Saya menghabiskan dua tahun untuk menyelesaikan program master in finance, walaupun harus melewati dua program lainnya: postgraduate in finance and master in financial management di universitas terbesar di ibukota Australia. Satu gelar master
untuk saya, satu postgraduate certificate untuk istri, dan satu anak lelaki yang menggenapkan keluarga kami menjadi empat orang: itu lah hasil dalam dua tahun.
Untuk yang masih memelihara mimpinya untuk meneruskan program PhD. Pemilihan program master juga menentukan, walau bukanlah harga mati. Usahakanlah pilih program yang memungkinkan lulusannya untuk dapat meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi (kata kunci: leading to PhD). Biasanya – namun kadang yang tidak biasa pun bisa terjadi – program doktoral mensyaratkan kita memiliki dasar riset. Minor thesis bisa menjadi salah satu mata kuliah pilihan yang bisa diambil, atau setidaknya ambillah mata kuliah kuantitatif atau metodologi penelitian. Strategi lainnya adalah memanfaatkan tugas-tugas paper yang kita kerjakan untuk dapat dimuat di jurnal akademis, setidaknya yang diterbitkan di Indonesia. Ini tidak melanggarkan etika akademis, selama dalam paper tersebut kita jelas sebutnya ini bagian dari program master yang kita ikuti – dan tentu saja dengan beberapa perubahan. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Publikasi merupakan hal yang cukup menentukan untuk seorang calon mahasiswa PhD. Download-lah banyak-banyak artikel terkait dengan keahlian kita, simpan dalam CD, buat databases. Insya Allah akan bermanfaat.

Memang menjaga motivasi untuk tetap bersemangat sangatlah sulit. Jabatan dan penghasilan seringkali berjaya memojokkan kita ke zona nyaman dengan tiupan anginnya yang bisa mematikan api semangat itu. Peran keluarga disini sangatlah penting. Perlu ada yang mengingatkan kembali tentang mimpi-mimpi kita. Strategi maju bersama juga perlu dipikirkan. Maksud saya adalah jika istri/suami atau anak-anak juga bisa mendapatkan keuntungan dari perjuangan kita, kenapa tidak? Salah seorang guru kehidupan saya pernah mengatakan: satu beasiswa=empat beasiswa (ps: kebetulan jumlah anak kami sama: 3, pps: per tanggal tulisan ini dibuat, subject to change, ppps: banyak kasus, persamaan itu bisa diekspansi menjadi 1=5, dimana pasangan kita bisa mendapatkan beasiswa dari universitas Australia).

Ternyenyak di zona zaman selama 5 tahun, saya kehilangan kesempatan untuk merealisaikan mimpi sekolah di Jerman dengan beasiswa DAAD karena batasan umur. Menyadari hal tersebut, saya kembali mencoba melamar beasiswa ADS dengan tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi, dibekali nilai transkrip S2 yang jauh lebih baik dari S1 dan daftar publikasi yang cukup. Namun, saya gagal dalam tahap pre-selection! Lagi-lagi hidup membolakbalikan harapan dengan kenyataan. Namun, Sang Arsitek Kehidupan mempunyai rancangan lain untuk saya: ALA – tentu saja dengan lika-likunya.

Program ALA cukup berbeda dengan ADS. Sebelum dapat mengajukan lamaran ALA, disini kita diminta untuk sudah diterima oleh salah universitas di Australia (mendapatkan unconditional Letter of Offer), artinya kemampuan bahasa dan akademis kita harus sudah siap. Disinilah peran kehidupan kita di program master menjadi penting. Jaga hubungan baik dengan pembimbing thesis/research project, dosen, atau head of school/faculty karena kita akan membutuhkan mereka untuk membuatkan surat rekomendasi ataupun meminta mereka bersedia dicantumkan sebagai academic referee di CV kita. Selain itu pemilihan topik penelitian dan p.d.k.t. ke calon supervisor juga menjadi fakto penting (lihatlah tulisan Pak Ali atau Pak Made). Bagi yang masih berjuang meraih gelar master, pikirakanlah hal ini sejak awal.

Menurut saya, hal tersulit dalam proses seleksi ALA ada menjawab pertanyaan “Kenapa seorang PNS perlu menjadi PhD? Bukankah sebagai birokrat, kita bisa memanfaatkan lembaga penelitian yang tersebar di Indonesia dalam proses penyusunan kebijakan?” Jujur, sampai saat ini saya masih belum puas dengan jawaban saya sendiri. Dalam hati, saya hanya bisa memendam dalam-dalam dan berkata:, “Someday…somehow…I will be one of the answers: Insya Allah”.

Perjuangan saya di kota Melbourne saat ini masih dalam fase pembukaan. Masih sangat panjang. Satu kayu terpenting yang selalu bersedia untuk dibakar dan menjadi debu dalam perjuangan ini: Ibuku, Nurhayati, adalah cahaya kehidupan abadiku

4 Komentar di Posting “Scholarship Hunter: “Penerima Beasiswa Juga Manusia Biasa”

  1. Satu kayu terpenting yang selalu bersedia untuk dibakar dan menjadi debu dalam perjuangan ini: Ibuku, Nurhayati, adalah cahaya kehidupan abadiku.

    Terima kasih sudah berbagi :)

  2. Tulisan cukup mengisfirasi ku dan membangkitkan motivasi terimakasih pak tip n triknya semoga saya juga meraih impian saya , sama seperti bapak , regard zahara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>