Dibaca: 2,354 kali    Komentar: Belum Ada  

Devi Dwi Kurniawati : “Rasa sakit berkali-kali, Impian dikabulkan berkali-kali”

Devi Dwi Kurniawati_Bidik Misi_Indonesia - Copy

Perjalanan ini saya mulai ketika masuk SMA. Sebuah perpindahan dari SMP favorit ke SMA favorit. Sering saya minder ketika masuk ke sekolah-sekolah yang lingkungannya anak-anak orang kaya. Yang ada saya berpikir saya punya apa, hanya punya otak aja. Begitu pikir saya. Kalau dulu masuk ke sekolah favorit, orang-orang senang. Saya masih bingung ini disebut anugerah atau bukan. Astaghfirullah.

Ditambah lagi dengan kabar ekonomi bapak yang bekerja sebagai penjual roti. Bukan pengusaha, Jadi bapak hanya anak buah saja yang mendorong roti keliling berjalan kaki. Itupun kalau laku puluhan roti atau berapa, yang masih aku ingat satu hari biasanya bapak bawa uang 15.000. Dipukul lagi dengan fakta kakak perempuan saya yang mendapat danem tertinggi kedua se-kabupaten yang bersekolah di SMA yang sama dengan saya, tidak bisa kuliah karena harus memilih sekolah adiknya atau kuliahnya. Sebagai anak yang dari kelas 1 SD, ditinggal sendirian di rumah karena orangtua pulang kerja pun malam-malam, membuat watak saya menjadi keras pada masa puber. Stress ditambah beban-beban yang pada saat itu terasa berat yang saya pikirkan di usia belia saya yang masih 15 tahun. Masa-masa puber saya yang labil sehingga membuat saya pernah berpikir untuk bunuh diri pada masa itu SMP atau SMA. Tetapi untung saja karena kebingungan bagaimana caranya bunuh diri, saya tidak jadi bunuh diri.

Dengan rasa sakit hati, luka, stress dan beban hidup tinggallah saya sendiri yang harus memperjuangkan nasib saya sendirian dan nasib keluarga saya. Tak ada mentor, tak ada teman cuhat. Untuk itu pada waktu masuk SMA, karena hanya punya modal otak dengan tekad bulat sebulat-bulatnya, saya bertekad karena kepepet..iya kepepet karena hidup saya harus berubah.

“LULUS SMA HAPPY ENDING DAN MAJU WISUDA+BEASISWA KULIAH GRATIS”

Saya tulis tekad itu di kertas kemudian saya tempel di dinding kamar. Dengan tekad itu saya berjuang mati-matian melalui hari-hari SMA saya. Entahlah karena terlalu melihat masa depan , saya lupa untuk menikmati hari-hari masa SMA saya. Tulisan yang sempat saya tempel di dinding kamar saya, Beberapa saat kemudian, karena merasa diolok-olok dan dikomentari oleh anggota keluarga. Saya putuskan saya robek, dan saya simpan sendiri niat itu.

Hari-hari saya hanya diliputi lingkungan segitiga bermuda (sekolah, rumah, kamar). Anak yang kuper? jelas. seorang anak yang hobinya belajar-belajar-dan belajar. Dengan memegang tekad itulah, peritiwa-peristiwa yang mengacau, menghentak, mengacak-acak hati, menguras air mata, saya lalui dengan pernah jadi pemulung di lingkup sekolah untuk bisa ikut tour ke Bali, memilih duduk sendirian karena ada salah paham dengan teman, duduk sendiri di pojokan belakang pada waktu kelas 3 yang biasanya duduk di belakang adalah tempatnya anak laki-laki, dimanfaatkan teman-teman disuruh mengerjakan tugas-tugas, dibutuhkan hanya saat ujian, menjadi seorang pendiem yang ikut organisasi remaja masjid dan kopsis, kemudian berjuang meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Biasanya kan jika upacara baris dua-dua, nah kebetulan jumlah perempuannya ganjil, akhirnya saya baris sendirian. Entahlah waktu itu saya merasa hati ini sudah kebal dengan berbagai cobaan, hingga semuanya itu tidak saya pedulikan.

Hari-hari mendekati ujian sudah mulai tiba, ekstra belajar, beribadah, berdoa tentu saya lakukan serius, shalat dhuha, shalat tahajud dan amalan-amalan lainnya. Ketika saya jatuh terpuruk saya selalu mengucapkan dalam hati, “Tenang dev, gapapa-gapapa, sekarang kamu sengsara, tapi besok pas wisuda, kamu maju, dapat beasiswa kuliah gratis, harus happy ending, harus!”. Itu saya ucapkan berkali-kali.

Setelah mengucapkan kata-kata itu berkali-kali, saya mendapatkan kekuatan untuk lanjut terus berjuang.

Memasuki pendaftaran kuliah:

Devi berusaha mencari informasi-informasi sendiri kesana kemari. Deg! Tiba-tiba orang tua saya tidak mengijinkan saya kuliah. Karena beliau berpikir tidak cukup biayanya, beliau takut tidak dapat membiayai.Dengan perasaan hancur saya sedih membujuk “saya cuma butuh dukungan ibu bapak. Doanya bapak ibu, siapa lagi yang akan menaikkan derajat bapak dan ibu kalau bukan saya anak terakhir.” Entahlah akhirnya orang tua saya setelah menghitung-hitung hanya mampu membiayai D1 sekolah lokal.

Dengan perasaan sedih merasa tidak didukung, saya berusaha cari info beasiswa, cari dukungan orang-orang yang mau mendukung saya kuliah. Akhirnya saya sudah tidak tahan, saya memilih curhat dengan Ibu guru saya pada saat itu. Namanya bu Insiyah, guru bimbingan dan konseling sekolah saya. Tepat saya curhat kebetulan beliau mendapatkan undangan untuk mengirimkan delegasi sekolah anak berprestasi tetapi kurang mampu untuk mengikuti seminar sosialisasi beasiswa bidik misi dari menteri pendidikan Pak Nuh di Gresik.

Singkat cerita dari situlah saya mendengar dan mengetahui secara langsung ada beasiswa Bidik Misi. Pulangnya saya langsung cerita ke orang tua saya. Hancur hati saya mendengar respon beliau “yakin nggak bayar sama sekali?mana ada beasiswa gratis nggak bayar?nggak mungkin nggak ngeluarin duit sama sekali?” duh saya cuma bisa marah. Ya saya stres orang tua saya tidak mendukung saya. Mbok ya saya itu didukung, dikasih kesempatan begitu. Untuk melangkah saja saya sudah disurutkan semangat. Benar kata pak Mario Teguh, jangan pernah mematikan nyala lilin impian anakmu.

Akhirnya saya secara diam-diam saya membuat peta hidup saya. Karena saya berpikir hidup saya hanya satu kali, masa depan saya ada di diri saya sendiri bukan di orang tua saya. Masa bodoh ah nanti saya harus membayar kuliah berapa. Itu nanti saya pikirkan. Saya bisa kerja atau apa. Minimal saya mencoba mendaftar.

Karena impian saya di UI dan Unair. Tetapi di UI jauh maka saya tidak diijinkan orang tua daftar di UI. Saya rombak lagi peta jalan pendidikan saya.

  1. Perbanas       : Jalur beasiswa penuh.
  2. Unair              : Bidik Misi
  3. Unesa             : Bidik Misi (ini pilihan orang tua saya).
  4. STAN
  5. D1 lokal
  6. Kerja

Dan hasilnya setelah saya mencoba mendaftar dan mengikuti tesnya.

  1. Perbanas: Lolos beasiswa Penuh D3 Akuntansi tanpa biaya hidup.*untuk bagaimana mendaftar beasiswa ini akan saya ceritakan di cerita berikutnya.
  2. Unair: jalur PMDK tidak lolos, diberi kesempatan unair ikut lagi jalur SNMPTN tulis Bidik misi tanpa biaya dan diberi bimbingan dari mahasiswa Unair. Ternyata dua kali saya tidak lolos.
  3. Unesa: lolos jalur bidik misi beasiswa penuh+biaya hidup S1 Akuntansi.
  4. STAN Tidak lolos.

Semua itu saya list, saya buat tabel, saya coret-coret+memohon petunjuk padaNya dengan sholat Istikharah, dengan rahmat Allah akhirnya saya memilih kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan pertama bidik misi yaitu angkatan 2010. Beasiswa penuh plus biaya hidup.

Selang beberapa saat pengumuman UAN dan kelulusan. Tibalah saat Wisuda masih saya ingat saya maju 2x pada saat wisuda, sebagai siswa berprestasi jurusan IPS dan peraih nilai tertinggi kedua. Seperti mimpi saja waktu itu saya maju dengan disebut nama orang tua saya. Devi Dwi Kurniawati anak dari Ponimin sebagai bla bla bla..haru saya mengingat kejadian itu. Yah..impian saya maju wisuda berhasil. Berhasillll..Allahu Akbar!! Tulisan yang saya dulu sempat saya robek karena tidak ada yang mendukung saya. Mimpi yang sempat saya kubur ternyata masih diikat oleh Tuhan.

Masih saya ingat buku kecil yang saya baca.

“Jangan takut bermimpi besar sebab mimpi-mimpimu akan diikat oleh Tuhan sampai kamu siap mewujudkannya. Allah tidak akan diam hanya melihat kamu mewujudkan mimpi-mimpimu sendirian.”

Beberapa hari kemudian saya direkomendasikan sekolah mendapatkan beasiswa dari perusahaan BUMN di Gresik. Total dari satu mimpi beasiswa kuliah gratis dan maju wisuda yang saya perjuangkan, saya mendapatkan berhasilnya berkali lipat maju dua kali wisuda, dan dua beasiswa gratis kuliah PTN dan PTS, ditambah satu beasiswa berupa uang jutaan rupiah.

Subhanallah..perjuangan saya, kurang tidur saya, air mata saya, dan tak lupa doa orang tua saya semuanya berhasil dikabulkan Allah. Saya yakin orang tua saya berlaku seperti itu karena beiau sayang sama saya. Beliau takut jika nanti saya kuliah harus putus di tengah jalan karena tak ada biaya. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum , sampai kaum itu mengubah nasib mereka sendiri ” Qs al-anfal (8):53. Dengan jalan ini Insya Allah saya berjuang meraih mimpi-mimpi saya. “Pendidikan adalah tangga untuk keluar dari kemiskinan….” Rhenald Kasali..( motivator dan seorang guru besar bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia )

Duh Gusti..kalaupun saya dulu Kau ijinkan bunuh diri, saya tidak akan pernah merasakan ini semua. “ Maka nikmat manakah dari Tuhanmu yang kamu dustakan? Q.S Ar-Rahman”. Man Jadda Wajada: siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Akan berhasil. Walau badai menghadang, Insya Allah akan slalu ada jalan-slalu ada jalan. Barakallah..Semangat!. semoga saya dijauhkan dari sifat riya’ dan sombong ketika menulis dan berbagi cerita ini.

Nama : Devi Dwi Kurniawati
alamat FB: Devi Dwi Kurniawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>