Dibaca: 3,661 kali    Komentar: 3  

Rifki Furqan: “Usaha Keras sampai Batas Maksimal!”

Tulisan ini aku persembahkan khusus untuk orang-orang yg ku kenal sangat berdedikasi terhadap cita-cita dan mimpinya. Orang-orang yang memiliki kemampuan melebihi apa yang dia sangka, mereka terkadang sangat bersemangat untuk tujuan dan arah hidupnya, tapi sekali waktu kehilangan pegangan dan motivasi untuk melanjutkan perjuangannya. Mereka, yang aku paling tau adalah keinginannya untuk terus menjadi lebih baik, itulah yang menginspirasiku hingga aku mencapai titik hidup seperti yang kurasakan sekarang. Terima kasih, tanpa mereka, mungkin aku belum bisa menulis seperti ini. Karena mereka, aku pun terus berjanji pada diriku sendiri, untuk terus bersyukur terhadap apa yang telah aku dapatkan sekarang, dan terus berjuang sekuat tenaga akan apapun yang masih aku impikan.

Mari kita berbicara tentang pencapaian hidup, kawan. Bagiku pribadi, seorang cerdas harus memiliki target dan tujuan dalam hidupnya, mungkin sangat idientik dengan yang namanya prinsip. Aku ingin sedikit bercerita kawan, bagaimana Allah sang Maha Kuasa telah menuntun dan memberikanku kesempatan secepat ini untuk aku menikmati tanggung jawab akan permohonanku tentang salah satu pencapaian penting dalam hidupku, beasiswa!

Kata beasiswa bagiku seperti sebuah anugerah dan penghargaan, sesuatu yang membuatku yakin memilihnya dibandingkan sebuah kesempatan mendapatkan gaji tetap seumur hidup, dulu. Beasiswa adalah sebuah pembuktian bahwa kita ada, bahwa kita pasti bisa jika kita mau bersungguh-sungguh. Jangan sekalipun meragukan kebesaran kuasa Allah, jangan pernah kawan!

Aku, dulu sebelum masuk ke salah satu perguruan tinggi kedinasan miliki negara itu, melihat laut saja takut. Namun lihatlah foto-foto underwater-ku 3 tahun belakangan ini. Aku bisa berguling di dalam laut kawan. Begitulah Allah menyadarkanku bahwa ketika kita sudah mengambil keputusan, maju terus, perbaiki, jangan berhenti dan mengeluh. Semua yang terjadi kepada kita akan berakhir dengan kebaikan, jika itu belum mendatangkan kebaikan bagi kita, artinya hal itu belumlah berakhir!

Aku, yang selama semester-semester di sekolah tinggi ibukota itu sekalipun tidak pernah di posisi teratas, tetap berbaik sangka, bahwa ini belum berakhir, aku bisa buktikan kemudian, bahwa aku adalah salah seorang yang terbaik di sekolah itu. Beasiswa menjadi resolusiku, bukan posisi nyaman dengan jadwal kerja mingguan jam 08-16an. Bukan, aku ingin buktikan kepada Ibuku terutama, bahwa anaknya ini, yang selalu ada di dalam do’a-do’a panjangnya, selalu ingin membuatnya bersyukur memilikiku. Pembuktian ini juga terlebih untuk diriku sendiri dan lingkungan pertemananku. Jika kita ingin diakui, maka harus ada bukti, pengakuan dari sesuatu. Bukan sebuah kesombongan dan keangkuhan jika kita berbicara tentang ambisi dan mimpi-mimpi kawan, bukan! Karena setelah kita melafadzkan ambisi dan mimpi-mimpi itu, pekerjaan berat tak berujung kita selanjutnya adalah ikhtiar dan do’a sekuat mungkin, sampai batas hati kita menjadi lemah dan memilih untuk kalah.

Beberapa teman dan kenalan dalam 2 bulan terakhir yang sempat bertemu kata denganku dalam dunia maya ini, banyak yang mengucapkan selamat dan keinginannya untuk juga ikut ke Eropa, seperti beberapa foto yang kupublish di profile-ku ini. Terimakasih kawan, syukur tak henti aku ucapkan karena aku bertemu dan berkawan dengan kalian semua. Aku sadar, mungkin mereka tidak tau benar bagaimana perjalananku hingga sampai tahap ini. Tidak mudah kawan, aku menyebutnya sebagai mukjizat do’a ibu, kombinasi mimpi yang berani diucapkan, dituliskan dan dikerjakan, serta kemurah-hatian Tuhan Semesta Alam, Allah swt.

Perjalananku hingga titik ini sempat kupublish dibeberapa tulisanku sebelumnya. Aku berharap itu bisa menjadi cambuk semangat bagi rekan-rekan sekalian. Intinya, setiap pencapaian adalah hasil dari berbagai kombinasi baik yang dilakukan dengan keyakinan akan kuasa Tuhan. Pencapaian kita sekarang adalah juga akibat dari do’a dan sujud panjang orang tua kita. Tanpa ridho mereka tak kan mungkin kita bisa seperti ini kawan.

Juga diri sendiri, keyakinan terhadap kemampuan diri, kekuatan untuk terus menyemangati dan berdamai dengan diri, keseriusan dan kedisiplinan usaha, adalah kombinasi kunci pencapaian mimpi. Aku pribadi, ketika dulu selesai mendapat motivasi, nekat untuk menuliskan mimpiku di buku catatan kecil yang sering kubawa. Sederhana saja logikanya, agar kita ingat dan punya tanggung jawab. Rangsangan lain bisa kita dapat dari bacaan, obrolan, atau bahkan sentilan-sentilan meremehkan yang dapat memacu keberanian kita menantangnya.

Sejak bertemu dengan seorang kakak kelas yang baru pulang dari England, aku mulai bermimpi untuk sekolah ke luar negeri. Setelah itu tema bacaanku selalu tentang beasiswa, karena aku sadar, tak mungkin sekolah dengan biaya orang tua lagi, justru kita harus membuktikan kepada orang tua bahwa kita bisa dan pantas mendapatkan beasiswa. Novel bersetting Eropa habis kubaca, setiap aku tamat membacanya, sejenak aku menutup mata, berharap dejavu kisah itu akan kualami suatu saat nanti. Eropa yang kurasakan baru sebentar, telah mengajarkan banyak hal tanpa melalui kata. Keteraturannya mengajarkan kita untuk konsisten, keterbukaan dan kebebasannya mengajarkan kita untuk terus berfikir kreatif dan inovatif, budaya tua yang dijaga dan dihargai juga mengajarkan kita untuk tidak saling meremehkan dan menjatuhkan, justru untuk saling mendukung dan bangkit bersamaan. Udara dinginnya mendatangkan kesejukan pada hati-hati tropis kita yang emosian. Individualitasnya mengingatkan kita akan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai makhluk sempurna dengan kombinasi sempurna, akal dan nafsu ciptaan Tuhan.

Banyak cara untuk menjaga semangat kawan. Dalam Sang Pemimpi kita lihat dinding kamar kost Ikal tertempel peta dunia, khususnya Eropa. Sekarang di kamarku tepat di atas meja, kutempel besar-besar peta Deutschland, tanah central Eropa yang udaranya sedang kuhirup sekarang. Menulis seperti ini juga sebagai salah satu alternatif untuk kita terus berada dalam zona semangat. Teringat juga salah satu percakapan Ikal danArai, bahwa anak-anak miskin seperti mereka, jika tak punya mimpi dan semangat maka tidaklah berarti apa-apa. Kita juga seperti itu kawan, tetaplah semangat..

Huffh, sudah hampir tengah malam waktu Eropa ketika aku menulis ini kawan, mungkin beberapa dari kalian di tanah air sana masih nyaman tertidur lelap, lebih beruntung yang bersujud berdo’a dalam hening agar mimpi dan usahanya dimudahkan Sang Pencipta, atau mungkin juga masih begadang sehabis menonton bola. Aku juga baru selesai nonton Champion kawan, beruntung untuk minimal 2 musim kedepan aku tak perlu begadang untuk menikmatinya. Saranku cuma satu kawan, jika kau ingin membuktikan pencapaian dan mimpimu, apapun itu, kejar, lakukan dengan serius dan sepehun hati. Usaha keras sampai batas maksimal, mohon do’a dari orang tua, dan cari jalan menuju kesana. Aku beri contoh kawan, jika kau ingin mendapatkan beasiswa, paling tidak mulai sekarang jangan alergi dengan belajar bahasa, bergabung dengan maillist beasiswa, dan berkawan dengan orang-orang luar biasa yang murah hatinya,lalu isi mimpi itu dengan prestasi.

Mulai dari mimpi, lalu ikuti dengan usaha dan do’a tiada henti.

Semoga bermanfaat, kawan!

Germany, 31.01.2011, 11.57 ECT

3 Komentar di Posting “Rifki Furqan: “Usaha Keras sampai Batas Maksimal!”

  1. kaka benar2 berbakat jadi penulis hebat..bahasa yg kaka gunakan benar2 luar biasa indah,membuatku kagum..terima kasih telah membagi pengalaman hebat kaka… :)

  2. very inspiring story, saya sudah sejak lama bermimpi melanjutkan S2 di Jerman, namun hingga kini masih belum kesampaian, Sampai detik ini masih menjadi scholarship hunter…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>