Dibaca: 1,859 kali    Komentar: Belum Ada  

Muhammad Yasir Arafat: “Perjuangan Kuliah seorang Santri”

Muhammad Yasir ArafatCeritaku tiga puluh lima tahun yang lalu, ada sepasang pengantin yang sedang berbahagia merayakan pernikahannya. Keduanya berasal dari desa dengan kehidupan yang serba kekurangan. Setelah menikah, keduanya tinggal satu rumah bersama kedua orang tua-nya (dari pihak suami). Hari demi hari dilalui dengan bekerja keras membanting tulang mencari nafkah, membantu orang tua mencangkul di sawah demi kehidupan sembilan orang adiknya. Setelah dua tahun menikah, akhirnya pengantin tersebut bisa membangun rumah dari hasil keringatnya sendiri. Meskipun sangat sederhana, mereka sangat bahagia tinggal di rumah tersebut. Hari demi hari berlalu, mereka merindukan kehadiran anggota baru dalam rumah tangga mereka. Jarum detik jam dinding tak kunjung berhenti berputar menemani kehidupan mereka. Berbagai usaha mereka lakukan, namun tidak ada tanda-tanda yang mereka tunggu itu muncul.

Setelah sembilan tahun, sang istri merasa putus asa menjalani kehidupan. Dia ingin dibuatkan rumah untuk ditinggali ia sendiri. Merelakan sang suami mempunyai keturunan dengan wanita lain. Namun sang suami menolak keinginan tersebut. “tidak mungkin aku melakukan hal itu” jawab suami dengan tegas. jarum jam dinding terasa terlalu cepat berputar. Mereka menjalani kehidupan seadanya dengan berjuta rasa putus asa. Pada tahun ke lima belas, demi kelahiran bayi yang diimpikan, mereka memutuskan pergi ke tanah suci dengan segala keterbatasannya untuk melantunkan do’a-do’a sesuai keinginannya tadi. Mereka menjual apa saja yang mereka punya untuk bisa berangkat ke sana.

Singkat cerita, mereka bisa tiba di tanah suci dengan selamat. Tak henti-henti air mata menetesi kain ihram yang dipakainya. Itu mungkin usaha terakhir yang mereka bisa lakukan. Tidak tahu, apa yang bisa dikerjakan setelah tiba dari tanah suci. Penantian panjang serta do’a mereka akhirnya mendapat jawaban. Tidak lama setelah mereka tiba dari tanah suci, sang istri dinyatakan positif hamil oleh dokter. Betapa senangnya keluarga yang hanya memiliki kursi-meja di dalam rumahnya itu. Bagi mereka kehadiran pahlawan kecil ini lebih berarti dari pada harta benda yang mereka kumpulkan. Setelah sembilan bulan, akhirnya bayi itu benar-benar menjadi anggota baru keluarga itu. Dan bayi itu adalah aku.

Masa kecilku dihabiskan dengan bermain dengan teman-teman tetangga kampung. Aku kecil sering dijuluki sebagai ‘pikun’ yaitu orang yang sering lupa. Julukan itu bermula dari suatu hari ketika aku dijemput teman-teman untuk berangkat ke sekolah TK, aku sibuk mencari tas yang biasa aku gendong manja setiap hari. Tas itu ternyata tidak ada. Tidak tahu dimana. Aku kebingungan, mencari dan mencari. Akhirnya aku berangkat ke sekolah dengan teman-teman tanpa tas kesayangan-ku. Tiba di sekolah ternyata pintu kelas masih tertutup rapat, sepi tidak ada orang, terlalu pagi mungkin. Aku dan teman-temanku sebanyak lima orang mendobraknya keras-keras. “ satu, dua, tiga, bruak” dengan penuh riang gembira diselingi tawa kami behasil membukanya setelah sebelumnya beberapa kali dorongan kami lakukan. Setelah pintu terbuka, kami diam sejenak. Pandangan terarah pada satu bangku. Dan kemudian tertawa lagi. Karena tasku berada di bangku itu. Setelah kejadian itu banyak yang berkata kepadaku “kamu pikunan”.

Banyak kisah pikunku setelah itu. Mulai dari sandal yang menginap di rumah tetangga, sepeda onthelku yang bermalam di halaman rumah tetangga, salah pakai baju seragam, dan lain-lain. Predikat itu membawa dampak yang kurang baik pada kehidupanku pada masa-masa selanjutnya. Hal itu membuat aku sering melupakan hal-hal penting.

Aku kecil sekolah di madrasah terpencil di desaku. Setiap hari aku melewati pematang sawah untuk sampai di madrasah. Aku kecil tergolong siswa yang pandai. Ketika kelas satu dan kelas dua, aku selalu mendapat ranking satu. Akan tetapi setelah itu aku kecewa. Ketika kelas 3, ada salah satu siswi yang mencontek pada ujian sekolah. Singkat cerita, dia mendapat rangking 1. Setelah itu, aku sudah tidak pernah rangking satu lagi. Hanya ranking dua atau tiga saja. Suatu pagi di sekolah, aku dengan kantong plastik es cendol yang aku beli bertemu siswi cerdik itu. Aku benci padanya. Langsung saja aku semburkan cairan es di mulutku menuju bajunya. Terlihat jelas basah dan sisa kunyahan cendolku pada bajunya. Dia terlihat sedih. Aku di maki-maki teman di kanan-kirinya. Aku juga merasa kasihan ketika itu. Aku heran, mengapa aku bisa setega itu kepadanya, berbuat apa yang sebelumnya belum pernah aku lakukan. Setiap harinya aku meminta maaf atas kejadian menyedihkan tersebut. Tidak aku hiraukan apapun responnya, yang penting aku meminta maaf. Sering meminta maaf, membuat aku heran pada diri sendiri, seperti ada rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku memikirkannya siang-malam, sepulang sekolah dan sebelum tidur, ingat terus menerus. Aku rahasiakan rasa ini. Jangan sampai ada siapapun yang tahu. Kelas empat, lima dan enam. Masih kusimpan rasa itu. Sangat malu kalau sampai ketahuan. Malu kalau sampai dia tahu. Aku jadi malu ketika bertemu atau sekedar berpapasan dengannya.

Aku jadi ingin tahu, apakah dia juga punya rasa yang sama seperti aku rasakan. Aku menyuruh sahabatku untuk menyelidikinya. Apakah benar dia juga menyukai aku, membenci aku, atau justru biasa-biasa saja. Hari selalu berganti, cuaca-pun demikian seperti bergonta-gantinya berbagai rasa di hatiku. Sahabatku berhasil menyelidiki siswi itu. Ternyata siswi itu memiliki perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan. Sahabatku tadi bilang kalau siswi itu selalu memeluk tas kesayanganku ketika jam istirahat, ketika jam istirahat dan aku tidak berada di kelas. Tas yang pernah tertinggal itu. Mendengar berita tersebut hati-ku semakin tidak jelas keadaannya. Tapi aku masih sangat malu kalau rasa ini diketahui siapapun.

Seiring berjalannya waktu, aku dan siswa itu saling mengetahui hal tersebut meskipun sama-sama saling sembunyi-sembunyi. Kami saling cemburu kalau bermain dengan teman yang lain. Terus seperti ini hingga kami lulus sekolah MI. Kami kemudian melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Orang tuaku melarang aku bersekolah di tempat siswi itu sekolah. Dia di SMP Negeri sedangkan aku masih di madrasah (MTs). Sejak aku sekolah di madrasah swasta itu, aku menjadi siswa yang pendiam, yang ada di pikiran selalu dia. Hal ini berdampak pada hasil tesku. Aku masuk di kelas unggulan dengan predikat nilai paling jelek. Satu bulan dua bulan, masih terbayang-bayang tentang dia. Aku juga berpikir kalau begini terus, nilaiku bisa anjlok. Dengan belajar sambil terbayang-bayang di pikiranku tentang dia aku tidak dapat mencapai tiga besar di kelas unggulan itu. Selanjutnya nilaiku terus menurun. Semester demi semester aku lalui dengan penurunan raihan peringkat kelas. Terlihat jelas kalau aku sedang di masa galau.

Memasuki kelas tiga MTs, aku mencoba melupakan bayangan yang tidak jelas itu. Aku mendapat berita kalau siswi itu telah berpacaran dengan siswa yang masih satu sekolah dengannya. Tekatku semkin kuat untuk melupakannya. Tetapi belum berdampak signifakan terhadap nilaiku. Aku belum mampu menembus tiga besar. Ujian nasional menanti. Bagi kami siswa-siswi madrasah swasta, ujian nasional adalah hal yang menakutkan. Meskipun aku tergolong pandai di kelas, tetap saja menakutkan. Ditambah cerita-cerita guru yang menakutkan, bahwa ada siswa di sekolah lain yang selalu rangking satu tetapi tidak lulus ujian nasional.

Akan tetapi aku lalui semuanya dengan usaha penuh sampai akhirnya aku dinyatakan lulus dari sekolah itu. Aku di madrasah Aliyah (MA) tetaplah pendiam, seakan itu sudah mendarah daging menjadi sifatku. Aku di madrasah Aliyah seperti sendirian, sekolah, pulang, sekolah lagi, pulang lagi dan seterusnya. Aku menjadi siswa biasa. Ditambah aktivitas di pesantren, aku seakan tidak menghiraukan yang namanya sekolah. Aku lebih suka mengaji bersama ustadz-ustadz di pesantren. Aku menjalani kehidupan seperti seorang sufi. Aku lebih menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha dari pada melanjutkan mengikuti pelajaran di kelas. Aku berpura-pura ijin ke belakang, namun lama sekali kembali ke dalam kelas.

Di pesantren aku diberi wawasan, bahwa sekolah saja tidaklah cukup. Banyak lulusan yang kebingungan mencari kerja. Aku di beri wawasan bahwa rezeki itu semua ada yang mengatur. Bukan kita yang mengaturnya. Aku menjalani kehidupan yang bisa dikatakan menjenuhkan bagi sebagian besar orang. Aku sempat iri kepada teman-teman yang bersekolah di tempat-tempat bonafit. Ada teman yang dulunya satu kelas mengaji di pesantren yang berhasil masuk SMA Negeri ternama. Karena terlalu sibuk, ia rela meninggalkan aktivitas mengajinya. Ia lebih memilih beraktivitas di sekolah tersebut. Banyak yang bilang masa-masa SMA adalah masa terindah. Namun itu tidak berlaku bagiku. Tetapi aku tetap yakin, setelah fase ini, tidak tahu kapan, aku akan bisa bersenang-senang dengan banyak teman.

Seperti cepat sekali rasanya. Aku tiba-tiba harus segera menghadapi ujian nasional. Tetapi kali ini aku tidak terlalu banyak belajar. Aku hanya berlari setiap pagi di sepanjang jalan, bahkan tidak tahu kemana arahnya sambil meyakinkan diri bahwa aku setelah fase ini akan berada di tempat yang luas dan penuh rasa gembira. Aku baru berbalik arah ketika kaki sudah terasa lelah. Kelas tiga, waktu itu banyak sekali presentasi dari berbagai perguruan tinggi. Sedikitpun aku tidak menoleh. Menarik memang, “Itu bukan jalanku” bisik hatiku . Aku berteriak dalam hatiku kalau aku tidak akan kuliah atau akan kuliah asalkan gratis. Pilihan kedua tersebut terucap karena hal tersebut mustahil bagiku. Bagaimana bisa siswa dari sekolah swasta bisa diterima di perguruan tinggi tanpa biaya, Tidak mungkin.

Suatu ketika, aku sedang duduk mengikuti pelajaran matematika di dalam kelas. Aku yang tidak terlalu menghiraukan penjelasan guru, tetapi tiba-tiba aku terfokus ke papan tulis. Guru menghentikan sejenak penjelasannya. “Coba buka website www.pondokpesantren.net !” sambil menuliskan website tersebut di papan tulis. Aku juga menuliskannya pada buku tulisku. Sepulang sekolah aku segera melihatnya. Aku sedikit tertarik tetapi masih enggan untuk mendaftarkan diri. Sampai batas hari terakhir pengumpulan formulir pendaftaran, hanya sekitar 5 siswa yang mendaftarkan diri, tidak termasuk aku. Aku merasa ada sesuatu yang harus aku lakukan kepada para guru yang telah menyiapkan formulir pendaftaran dengan begitu banyak. Aku ambil satu dan memulai mengisi sambil sedikit menertawakannya. Bersamaku, ada 3 siswi lagi yang mendaftarkan dirinya mengikuti seleksi tersebut. Semua persyaratan aku kumpulkan pada hari itu juga. Besok saya harus berangkat jam 3 pagi untuk sampai tepat waktu di tempat seleksi. Semua persiapan terlihat lengkap. Aku dan teman-temanku diantar beberapa guru pendamping.

Bel sudah berbunyi, menandakan seleksi akan segera dimulai, aku baru mengetahui kalau di sana tidak menggunakan kursi beralas untuk mengisi lembar jawaban. Akupun masih mencari alas untuk menuliskan jawaban dari beberapa pertanyaan seleksi. Akhirnya aku menyobek kardus air mineral sebagai alas lembar jawaban. Sejumlah 321 soal harus saya selesaikan hari itu juga. Soal demi soal aku perhatikan. Aku coba menyelesaikan soal nomor 1. Banyak sekali waktu yang habis hanya untuk mengerjakan 1 nomor tersebut. “Ini tidak mungkin selesai” kataku. Tanpa berpikir panjang aku langsung isi satu persatu lembar jawabanku. Bahkan tanpa melihat soal, lembar jawabanku seperti terisi dengan sendirinya. Aku tidak melewatkan satu soalpun, semuanya terjawab. Tidak peduli benar atau salah, plus atau minus. Aku sampai di rumah jam 10 malam, Lelah sekali rasanya. Sejak itu aku tidak pernah berpikir positif tentang seleksi tadi. Aku kembali ke desa membantu orang tua, setiap hari seperti itu.

Suatu hari ada kabar aku diterima dari seleksi tersebut, aku tertawa bohong. Seratus persen aku tidak percaya, tidak segera mencari kebenaran berita itu. Keesokan harinya, aku dipanggil ke sekolah untuk menemui kepala sekolah. Ternyata benar sekali berita itu, aku siswa satu-satunya dari sekolah itu yang lolos seleksi kuliah berbeasiswa, di ITS katanya. Seketika itu aku ditunggu teman-teman, ditunggu traktiran maksudnya. Mereka memang sedikit menjengkelkan. Aku tidak tau ITS, akan tetapi aku diterima sebagai mahasiswa di sana. Setiap hari aku searching gambar ITS di handphone mungilku, yang muncul adalah gambar gedung berlantai enam. “wah, bagus sekali, tinggi sekali” dalam hatiku.

Apa yang aku yakini selama ini benar-benar tewujud. Setelah aku pergi ke Surabaya, aku melihat seperti apa yang aku mimpikan sebelumnya. Sangat luas sekali ternyata, aku langsung memiliki banyak teman, riang gembira, dan banyak memperoleh fasilitas gratis. Aku diterima lebih dulu di kampus dari pada teman mengajiku yang tadi di terima di SMA Negeri ternama. Ternyata dia juga melanjutkan studinya di sini, ITS. Aku dan teman-teman menjalani serangkaian prakuliah, salah satunya adalah kuliah penyegaran matrikulasi. Aku dengan kondisiku yang seperti ini, minder dengan teman-teman lain yang berasal dari pesantren besar di negeri ini. Kalau ingat pesantrenku yang santrinya kurang dari 100 orang, rasanya aku tidak pantas menerima beasiswa ini. Berbagai rasa bercampur aduk. Aku menjalani hari-hari dengan penuh beban. Beban yang tak mungkin aku pikul untuk saat ini. Dari awal matrikulasi aku sudah berniat untuk tidak meloloskan diri agar tidak dapat melanjutkan studi di ITS.

Matahari cepat sekali berputar semu mengelilingi bumi. Tiba saat-saat pengumuman kelulusan matrikulasi. Benar saja, aku dinyatakan tidak lulus, tetapi masih diberi kesempatan untuk menjalani tes ulang. Pikiranku bercampur aduk ketika menghadapi soal. Tiba-tiba bel tanda berakhir mengerjakan soal berbunyi. Lembar jawabanku diambil oleh pengawas, kakiku kesemutan, susah untuk berdiri. Singkat cerita, aku diperbolehkan melanjutkan studi. Detik, menit, jam dan hari aku lewati penuh beban. Pikiran itu muncul kembali. Aku berpikir berbagai cara aman meninggalkan beasiswa ini. Teman-teman memotivasi aku agar tetap melanjutkan studi. “Omong kosong” teriak dalam hatiku. Aku tetap bersikeras untuk menjalankan rencana awalku. Berpikir sambil berjalan tanpa arah. Tidak tahu aku harus berhenti dimana, Lelah pikiranku. Sore itu, ibu dosen mengucapkan salam tanda kuliah sudah berakhir. Aku langsung meraih tas. Bukan tas yang dulu pernah tertinggal itu. Aku menuju sudut kampus. Melihat langit yang penuh dengan mendung, seperti langit dalam hatiku. Tetes-tetes air hujan perlahan turun memantul di atas danau di depanku. Aku berpikir buruk. Besok aku berencana mengurus sendiri segala apapun yang memungkinkan aku bisa keluar dari tempat yang sudah aku anggap sebagai penjara ini. Pagi-pagi sekali segala perlangkapan sudah siap. Aku berencana pergi ke kantor menemui bapak pegawai yang dulu pernah aku temui ketika registrasi beasiswa. Lupa-lupa ingat. Hanya bermodal tekat, aku sudah sampai di depan kantor. Aku langsung masuk, namun harus mengantri terlebih dahulu untuk menemui beliau, banyak yang berkepentingan di sana.

 

Setelah satu jam ditemani rasa galau, aku bisa menemui beliau. “Jangan teburu-buru, pikirkan sekali lagi” sahut beliau. Setelah panjang lebar berbicara dengan beliau akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah menemui orang tuaku. Rabu itu aku langsung naik bus jurusan malang tanpa peduli dengan kuliah yang sedang berlangsung. Setiba di rumah, aku berusaha menampakkan mimik muka tanpa masalah. “Besok pagi saja aku bilang hal ini” dalam hatiku. Setelah tahu hal itu, mereka tidak merespon negatif. Hanya memberikan pilihan, menyuruh menimbang mana yang terbaik bagiku. Aku buka lebar papan putih dalam hatiku untuk menuliskan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Aku terdiam milyaran bahasa. Mengingat keceriaan canda tawa teman-teman di kampus perjuangan. Aku segera bergerak, berwudhu’ dan berniat melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Aku melakukannya dengan hikmah dan penuh perenungan. Aku teringat satu ayat dalam Al-Quran, bahwa setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Aku teringat lagi masa-masa sulitku dulu yang kemudian dibayar dengan berbagai kemudahan. Ini mungkin bagian dari rasa sulitku untuk mencapai kemudahan di tahap berikutnya. Aku berpikir lagi bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambanya. Kemudian aku berpikir lagi, “ini mungkin jalan terbaik bagiku yang telah digariskan di sana. Ini tantangan sesudah ujian yang pernah aku lewati sebelumnya” dalam hatiku. Besok pagi aku memutuskan untuk pergi ke Surabaya, beraktifitas seperti biasa. Aku jalani kehidupan terbaik yang telah diberikan kepadaku. Sesampai di sana, aku aktif di berbagai kegiatan. Tidak banyak prestasi memang. Tetapi menjadi penentu kemenangan tim olah raga merebut juara, ditunjuk menjadi pimpinan organisasi, menjadi pembicara pada suatu kegiatan, cukup membanggakan bagiku. Hingga sampai sekarang aku mengetik ceritaku ini bersama ribuan sahabat dari seluruh penjuru tanah air yang senasib denganku. Salam terhangat dariku untuk sahabat-sahabatku di seluruh Indonesia, sahabat-sahabat komunitas santri

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>