Dibaca: 6,004 kali    Komentar: Belum Ada  

Afiatun Hasanah: “Perjuangan Anak Buruh Tani Kuliah di PTN”

Camera 360“Knowledge is power” sebuah kata mutiara yang mendorongku untuk terus menempuh pendidikan. Mungkin bagi sebagian penduduk di negeri ini pendidikan adalah akses yang begitu murah dan mudah didapat, tapi tidak bagiku kala itu. Lahir dalam keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan membuat pendidikan barang mewah bagiku. Ayahku seorang buruh tani dan ibuku seorang ibu rumah tangga dengan 5 orang anak. Aku adalah anak keempat. Dengan segala keterbatasan orang tuaku tetap mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya.

Aku masih ingat waktu itu tahun 1998 ketika hari pertama aku pergi ke Sekolah Dasar Negeri Curug 1 diusiaku yang ke tujuh tahun. Aku memakai seragam warisan tetanggaku,dengan Bed bertuliskan SD Mardi Yuana, Tas yang disandangkan pun dari tetanggaku. Tas Gemblok warna merah dengan dua resleting dan satu ikatan yang sudah kumal. Nampak di bagian depannya logo  INDOCEMENT, tetanggaku itu memang bekerja di Indocement, sebuah pabrik semen yang berlokasi di Citeureup.

Berbekal satu buku tulis dan pensil kayu, aku diantarkan ibuku dengan sepeda. Ibuku mencarikan kursi yang paling depan untukku, sesaat aku pandangi kelas, kulihat anak-anak sebayaku ada yang tertawa, menangis atau sedang dinasihati oleh ibunya, akupun teringat kepada ibuku, aku pedarkan pandangan ke kaca, pintu, seisi kelas, namun aku tak melhatnya. Aku pun berdiri dan terus mencari, dari balik kaca kelas yang kulihat hanya punggung ibuku yang sedang berjalan menuntun sepedanya keluar sekolah ku. Aku duduk dan menanti apa yang akan terjadi berikutnya, Ternyata hari ini baru perkenalan dan sedikit ramah tamah dengan wali kelas. Waktu pulang pun tiba, kutunggu Ibuku di pelataran kelas, waktu beranjak tak nampak ibuku, hingga satu persatu teman-temanku pulang bersama ibu atau ayahnya.

Aku pun memberanikan diri melangkah keluar gerbang sekolah bersama salah satu temanku yang bernama Oki. Aku melangkah sambil mengingat-ingat jalan pulang, maklum aku sebelumnya belum pernah ke daerah ini dan jaraknya pun cukup jauh. Ketika sampai rumah kulihat Ibu baru mengeluarkan sepeda dan aku pun mencium tangannya.

Hari berlalu, ternyata teman –temanku sebagian besar sudah bisa membaca karena mereka masuk Taman Kanak-Kanak terlebih dahulu, sedangkan aku tidak bisa membaca sama sekali, aku tidak masuk TK karena faktor biaya, Padahal jarak rumahku dan TK Edellweis hanya sekitar 50 meter saja, Setiap pagi kala anak-anak TK itu belajar, aku hanya memandanginya lewat kaca yang berhias warna-warni dengan berbagai gantungan, Kulihat mereka berdoa, menyanyi dan belajar. Kadang aku iri kepada mereka ketika Hari Kartini tiba, mereka memakai baju adat daerah masing-masing. Ketika sudah melihat mereka, aku akan pergi ke taman bermainnya. Aku sangat senang bermain disitu karena ada banyak wahana bermain seperti ayunan, perosotan, bola dunia. Selain itu juga, terdapat banyak pohon bunga.

Saat waktu istirahat tiba,  anak-anak TK Edellweis pun menyerbu taman bermain. Akupun segera menaiki pohon Bunga Tanjung yang besar. Tubuh kecilku tertutup rimbunnya daun Bunga Tanjung. Dibalik daun-daun aku menikmati harumnya Bunga Tanjung dan menggerak-gerakkan kakiku. Saat waktu istirahat usai, barulah aku turun dari pohon dan kembali bermain di taman bermain itu.

Aku tidak bisa membaca. namun kakakku mengajariku sedikit demi sedikit. Tapi ternyata kemampuan membaca teman-temanku sudah lancar sekali, sehingga aku terus tertinggal di kelas, Selalu pulang paling akhir, sebab yang bisa membaca apa yang diberikan guru di papan tulis dapat pulang lebih dahulu. Aku tidak bersedih sama sekali, Aku malah bertambah semangat untuk mengejar ketertinggalan.

Waktu itu pembagian raport masih per caturwulan, Aku tidak mendapat ranking pada Cawu pertama. Namun setelah aku bisa membaca, penguasaanku terhadap pelajaran pun bertambah luas. Pada cawu ketiga saat akan naik ke kelas dua, aku mendapat ranking 1. Senang sekali rasanya.sampai kelas 6 aku menjadi anak berprestasi, banyak mendapat ranking 1 dan berada di 5 besar. Saat kelas 6 pun aku menjadi lulusan terbaik SDN Curug 1.

Banyak yang bilang aku mendapat juara karena fasilitas dan gizi yang cukup, padahal kalau boleh jujur, fasilitas belajarku kurang memadai, rumahku hanya terdiri dari satu kamar ukuran 3×3 meter, isinya hanya ada tempat tidur ukuran besar dan satu lemari. Kami tidak punya dapur, ibuku masak di ruang terbuka menggunakan batu-batu yang disusun membentuk tungku dan masak menggunakan kayu bakar. Kamar mandinya ada di luar juga, di atas septi-tank dan hanya dikelilingi seng dan tumbuh-tumbuhan.

Kami juga jarang makan pagi. Makan siang sepulang sekolah yang paling sering kami temui adalah singkong rebus ,dan sambal terasi. Aku hafal sekali menu-menu yang sering ibuku masak. Sayurnya adalah sayur bening, terdiri dari timun yang diiris iris dan kuahnya berwarna merah karena efek terasi. Cita-cita setelah lulus SD adalah sekolah di SMPN 2 Cibinong. Di detik-detik masuk SMPN, keluargaku masih kelimpungan mencari uang pinjaman. Saat meminta pinjamanpun, aku ikut. Ada salah satu tetangga mengatakan kepada ibuku bahwa aku tidak perlu melanjutkan SMP, lebih baik aku menjadi Baby Sitter saja, lumayan bisa membantu ekonomi keluarga.

Sepulang dari rumah tetanggaku itu aku menangis, satu hal yang membuat aku merasa sedih adalah ketika aku diminta berhenti sekolah. Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat, beberapa waktu kemudian akhirnya aku dapat bersekolah di SMPN 2 Cibinong. Berbekal tekad dan do’a orangtua aku belajar disana. Di sekolah ini aku berkesempatan menorehkan beberapa prestasi berkat kerjasama dan dukungan dari teman dan guru-guru. Diantaranya aku berhasil menjadi juara 8 dalam olimpiade Biologi Tingkat Kabupaten Bogor, juara kelas, juara 1 Cerdas Cermat Tingkat Kabupaten Bogor dan mewakili ke tingkat provinsi, juga beberapa lomba bahasa Inggris.

Saat aku kelas 9 SMP, orangtuaku sangat berharap agar aku masuk SMAN 1 Cibinong, Bu Murti, Wali Kelasku menawarkan aku masuk SMAN 2 Cibinong dengan jalur prestasi, Namun keputusanku sudah bulat ingin masuk SMAN 1 Cibinong. Ternyata masuknya menggunakan tes. Akupun lulus dan belajar disana.

Rutinitas belajar sangat menyenangkan. Aku juga bukan tipe anak yang suka hang-out ke sana kemari. Aku membawa dagangan makanan kecil. Kebetulan kelasku terletak di lantai 3, sehingga jauh dari kantin sekolah. Peluang itu aku manfaatkan untuk berdagang makanan dan minuman. Malah terkadang aku dibantu teman yang beda kelas dan kakak kelas untuk berdagang. Semasa SMA ini aku mendapat peringkat 2 dari semester 1 sampai semester 5. Pada semester 6 aku mendapat perigkat 1.

Waktu kelas 10 SMA guruku membentuk tim debat untuk perlombaan se-JaBoDeTaBek,dan akhirnya mendapat juara 4. Saat itu tim terdiri dari Kak Ari,Sheera, Kak Mahdi dan Aku sendiri. Kami belajar bekerjasama dan mendebat. Ada salah satu guru yang menginspirasiku di SMA, Beliau bernama Ibu Elis. Seorang guru Bahasa Inggris. Beliaulah yang banyak memberi bekas Inspirasi.

Mungkin aku tidak lebih cerdas dari anak-anak lainnya di SMA namun Bu Elis memilihku tergabung dalam Tim Lomba Bahasa Inggris. Beliau melatih kami dengan tekun dan sabar, dan kami sebanyak 10 orang mengikuti lomba Simulasi Sidang  ASEAN Tingkat Kabupaten Bogor. Bukan Aku yang hebat tapi kerjasama tim.kami saling bekerjasama menjadi diplomat perwakilan Brunei Darussalam dalam lomba tersebut,

Ada yang berperan sebagai ketua delegasi, sekertaris dan lobby stand-by dan lobby mobile. Kami berlatih hingga larut malam di sekolah dan kehujanan. Sampai saat pengumuman, ternyata kami mendapat juara 1. Oleh karena itu,  kami akan mewakili Kabupaten Bogor di tingkat Jawa Barat pada lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Pasundan bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Perlombaan digelar di gedung konferensi Asia-Afrika Bandung. Sekolahku mengirim pula sekitar 30 supporter untuk mendoakan dan menyemangati kami. Disini kami pun mewakili Negara Brunei Darussalam. Berkat Allah SWT kami menjadi juara 1 Tingkat Provinsi Jawa Barat.

Saat perpisahan sekolah. Siswa memakai jas dan siswi memakai kebaya. Perpisahan tahun 2010 ini diadakan di GOR Cilodong, Ada kata sambutan, tarian adat dan acara hiburan lainnya di tengah-tengah acara. MC perpisahan mengutus 3 orang untuk menjemput 3 orang siswa berprestasi setiap jurusan, Saat itu aku sedang memangku aufa keponakanku yang masih kecil, Aku melihat salah satu dari utusan itu menarik temanku Danang dari Jurusan IPA dan Bella dari jurusan IPS, Saat itu mataku masih memandang mereka, dan tiba-tiba ada seorang wanita berkebaya menarikku  dan mengajak ke atas pangggung bersama Danang dan Bella.Ternyata didepan sana kami bertiga dianugerahi piala sebagai mahasiswa berprestasi. Kulihat ibuku berlinang airmata saat melihatku memegang piala dan disuapi nasi tumpeng oleh Kepala Sekolah.

Pulangnya aku dan ibuku jalan kaki menuju kerumah. Ditengah jalan, salah seorang wali siswa menawari kami naik mobilnya sehingga kami tidak jadi jalan kaki. Tak terasa masa SD-SMA ku yang dilalui dengan beasiswa dari pemerintah segera berakhir. Saat SMA aku mengambil program Bahasa. Saat kelas 3 diadakan acara University Day di sekolahku, dimana dikumpulkan berbagai universitas dan membuka Stand di sekolahku selama 2 hari.

Program ini bertujuan untuk mengenalkan dunia kampus,jurusan dan biaya serta dibuka tanya jawab bagi para siswa-siswi yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bukannya tak ada motivasi, namun aku tidak mau muluk-muluk bermimpi akan melanjutkan studi di universitas mana saja. Teman-temanku sudah bercerita bahwa ia akan mendaftar ke universitas ini dan itu. Universitas-universitas negeri favorit di Indonesia.

Saat ditanya aku mau kemana mungkin aku hanya menjawab dengan senyum. Aku realistis dengan keadaan orangtuaku dan perekonomian kami. Tawaran-tawaran PMDK terus dilayangkan dari berbagai Universitas ke sekolahku. Teman-temanku sudah sibuk mengisi dan mengirimnya kembali, namun aku tidak. Karena formulir-formulir itu tidak gratis.

Suatu hari sampailah tawaran PMDK UNJ, akupun memberanikan diri meminta izin kedua orangtuaku untuk mencoba PMDK UNJ. Aku diizinkan dan mulai mengisi aplikasi baik secara online ataupun print-outnya bersama 4 orang teman lainnya. Aku tidak yakin aku diterima karena nilai-nilaiku tidak terlalu bagus dan prestasiku masih sedikit. Saat aku sedang berjalan di lorong kelas, salah satu teman yang sama-sama ikut seleksi PMDK UNJ menyalamiku dan mengucapkan selamat Aku bingung ternyata aku diterima PMDK UNJ jurusan Bahasa dan Sastra Arab,

Saat detik-detik menunggu pengumuman itu, aku mendaftar beasiswa Bidik Misi, Informasi ini aku dapatkan dari temanku yang sekolah di SMKN 1 Cibinong, Dewi Elfina. Ia sangat berjasa karena sudah memberitahuku tentang Bidik Misi. Dia menjelaskan dengan seksama apa yang ia ketahui tentang Bidik Misi. Dewi di SMK mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, sehingga sangat sering bersinggungan dengan komputer dan dunia informasi internet. Ia mengajakku ke warnet untuk membuka web dikti.go.id dan mengunduh aplikasi.

Di sekolah aku dibantu oleh guru-guru, terutama Pak Djatmiko. Beliaulah yang membantu mengetik aplikasi dan surat-surat yang akan ditandatangani oleh Kepala Sekolah. Sungguh besar jasa Pak Djatmiko. Padahal yang mendaftar beasiswa bidik misi dari sekolahku ke UNJ hanya aku saja. Tapi tak ada sepatah pun kata-kata keberatan keluar dari lisan beliau. Hampir setiap hari kami berdiskusi tentang kelengkapan aplikasi Bidik Misi. Selanjutnya kuantar aplikasi ini ke UNJ. Aku bingung karena UNJ luas sekali dan sangat berbeda dengan SMAku yang berada di Kabupaten. Aku datang ke BAAK Fakultas FBS dan menanyakan kemana aplikasi ini diberikan. Petugas BAAK menyarankan agar aku memberikan kepada PR3 di gedung rektorat.

Satu persatu kunaiki anak tangga gedung Rektorat dan akhirnya sampai di ruangan PR 3. Saat itu aku bertemu dengan Pak Samsi dan Pak Mudjo. Beliau menanyakan asal sekolah dan memeriksa aplikasi Beasiswa Bidik Misi. Setelah aku menyampaikan aplikasi, akupun pulang dan berdoa semoga aku bisa melanjutkan studiku di UNJ dengan beasiswa Bidik Misi.

Beberapa hari kemudian aku datang kembali ke PR3 untuk menanyakan apakah pengumuman Bidik Misi sudah keluar. Namun ternyata belum. Hal itu aku lakukan hingga beberapa kali dan akhirnya pada hari yang membahagiakan ternyata aku merupakan penerima Beasiswa Bidik Misi UNJ. Aku sangat bersyukur. Guru SMAku bilang bila beasiswa sudah turun jangan lupa membeli kamus dan buku nahwu sharaf. Aku mungkin tidak bisa membalas jasa-jasa orangtuaku, guru-guruku, PR3 dan Bidik Misi. Karena Allah menjadikan mereka perantara agar aku dapat terus belajar. Aku ingin membuktikan bahwa orang miskin boleh sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>