Dibaca: 2,718 kali    Komentar: 1  

Dzakwan: “Berawal Dari Keyakinan”

Tepat ketika jarum jam itu berbelok ke arah tiga, ketika itulah untuk kesekian kalinya Dzakwan merasakan udara dingin yang benar-benar menusuk ke pori-pori kulit yang sedari tadi semakin mengkerut dan membuat garisan-garisan tersendiri seperti jalanan setapak yang biasa dilewati para pendaki ketika hendak menaklukan tingginya pegunungan. Angin musim dingin pun kembali bersahutan menerpa wajah Dzakwan yang hanya dibalut dengan senyum kegembiraan, dengan polesan aroma zaitun yang kembali akan ia rasakan tak lama lagi.

Secara perlahan tapi pasti, laki-laki kecil itu pun mulai keluar dari pemeriksaan petugas imigrasi, sambil menarik koper yang berukuran sangat besar, berwarna kecoklatan dengan ditemani tas gendong yang tidak kalah beratnya juga untuk cepat-cepat meninggalkan Bandara Internasional Maroko. Jalanan yang basah, dengan pepohonan yang sesekali menundukkan daunnya itu, serasa seperti penghormatan yang diberikan kepadanya karena kedatangan seorang pelaku sejarah yang mungkin akan menitikkan tintanya pada tembok atau benteng-benteng yang selalu menjadi pemandangan indah di setiap kota tua yang ada di Maroko.

Deru suara mesin pun terus mengiang-ngiang semakin keras ditelinga Dzakwan yang sedang asyik memandangi indahnya Kota Casablanca, sambil terus menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang sekali-kali terasa ada benturan kecil yang bisa menganggu konsentrasinya dalam melamun. Mungkin keindahan pantai yang berjalan bersama mengiringi laju mobil membuat ingatan Dzakwan kembali pada masa-masa sulit ketika masih berada di Indonesia. Masih sangat teringat sekali ketika Dzakwan memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena untuk meminta tambahan uang jajan.

Ketika sampai dirumah, bukan uang jajan yang berlimpah yang dia terima tapi uang 20 ribu yang hanya bisa buat ongkos kembali ke pondok yang dia dapatkan. Dengan berat hati dia pun tak bisa meminta lebih, karena dia sangat tahu akan kondisi keekonomiannya sendiri. Mungkin bukan hanya itu, sangat lekat pada ingatan Dzakwan pula akan kebiasaanya yang selalu ia lakukan, telat masuk ke ruangan semester karena surat perjanjian yang sudah sangat akrab sekali dengannya. “Ayyuhal Fuqoro, seperti biasanya karena kalian semua tidak bisa melunasi pembayaran bulanan maka kalian tidak bisa masuk ke ruangan sebelum kalian menandatangani surat perjanjian ini”, ucap salah seorang kepala bagian tata usaha yang sudah sangat kenal dengan wajah-wajah yang selalu menunggu tanda tangan itu.

Akan tetapi,  itu semua Dzakwan anggap sebagai penghias perjalannya,sampai pada suatu saat, dalam lamunannya dia berhayal “Saya pengen belajar di Yaman, nanti kalau ada tes mau ikut tes ah, tapi berangkat dari mana yah? Apa harus jual rumah dulu”. Tawa kesinisan tiba-tiba mengiringi lamunannya. Karena dia tahu mimpi untuk pergi ke negeri para Habaib itu sangatlah jauh. Karena biaya yang di gunakan itu bisa ia gunakan untuk kuliah di Indonesia sampai masuk pascasarjana, maka Dzakwan pun mulai menfokuskan dirinya untuk masuk ke perguruan tinggi yang ada di dalam negeri, sampai dia mencoba untuk mengirimkan berkas-berkas kedua lembaga sekaligus, karena dia tahu akan sangat sulit jalannya dia merengkuh pendidikan kalau tak melalui jalur beasiswa.

Ketika Dzakwan mengetahui bahwa namanya tidakada pada deretan nama siswa-siswa yang beruntung mendapatkan beasiswa, maka secara cepat syetan pun mempengaruhi pikiran Dzakwan. “ Sudah lah menangis saja, toh kamu memang ditakdirkan enggak kuliah kok”, ujar syetan sambil terus memegang-megang telinga Dzakwan. Akan tetapi keyakinan Dzakwan pun mampu untuk menguasai dirinya dengan terus berkata “ Wan kalau kamu gak lulus seleksi beasiswa kali ini, itu tandanya Allah akan memberikan yang lebih baik dari itu”. Dengan keyakinan yang sudah menguasai pikiran dan tubuh Dzakwan,

Akhirnya dia pun tak pantang menyerah untuk terus bertanya dan mencari informasi melaui internet dan lain sebagainya, sampai suatu ketika ada pengumuman yang datang secara mendadak menghampiri Dzakwan yang sedang terlelap dalam tidurnya. “wan bangun kamu mau sukses gak nih?, ini ada seleksi beasiswa ke Syria, kamu mau ikut enggak?”. Dengan tergopoh-gopoh Dzakwan langsung bangkit dan meraih formulir pendaftaran tersebut dengan cepat, se-cepat buaya yang sedang lapar dan melihat ada mangsa yang sedang tak fokus. “Oke Ka0ng saya akan coba” ucap Dzakwan sambil mengusapkan tangannya, takut ada pulau yang di buat ketika lelap dalam tidurnya.

Berawal dari keyakinan itu lah, Dzakwan selalu melihat masa depannya sendiri, sambil membatin dia sering berucap “ Aku yakin aku akan sukses”, sampai ketika pengumuman pun tiba, tersebutlah namanya di salah satu deretan 28 beasiswa yang akan berangkat ke Syria.

Akhirnya Dzakwan pun mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk melancarkan proses pemberangkatan ke negerinya Imam Ibnu Malik, Imam Nawawi, Kholifah Umawiyyah dan negerinya Syekh Buthi yang sangat masyhur karena kepandaianya dalam menulis.

Akan tetapi hadangan kembali menyapanya, tak jauh dan tak lain lagi adalah faktor ekonomi, mulai dari biaya pemberkasan dan lain sebagainya, sehingga mengorbankan dua handphone yang salah-satunya dia dapatkan dengan keringatnya sendiri. Karena untuk menyelesaikan proses pembuatan paspor, dan kemurahan almamaternya pun masih diingat Dzakwan sampai sekarang, yang rela memberikan pinjaman uang dengan nominal yang lumayan sangat besar untuk memuluskan pemberangkatannya.

Entah karena apa, Dzakwan tak mau sedikitpun melibatkan orang tuanya. Karena ia tahu kalau pun orangtua membantu, itu pasti hasil dari gali lubang tutup lubangnya. Maka akhirnya dia memutuskan semuanya harus saya yang menjalankan, karena saya lah pelaku sejarahnya.

Akhirnya tiba lah saatnya Dzakwan berangkat menuju ke negeri yang terkenal dengan barokah dan kedermawanan para ulamanya. Dan di saat udara khas Damaskus itu mulai bercengkrama, sambil berusaha untuk terus mencoba membawa Dzakwan ke masa dimana Kholid bin Walid berusaha menaklukan Kota Damaskus yang sekarang sebagai ibu kota Syria dari cengkraman Konstantinopel, atau masa ketika peradaban islam mulai menggusur dominasi kerajaan nasrani kala itu. Dan ternyata udara itu mampu membuat Dzakwan seperti merasa duduk bersama di Halaqoh Jami’ Umawi bersama Imam Nawawi, Imam Ibnu Malik, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu A’sakir dan banyak ulama-ulama yang terlahir dari tanah Syam itu.

Akan tetapi keindahan udara Damaskus yang dulunya asri, kicauan burung gagak yang sangat setia membangunkan para pelajar yang sedang asyik terlelap tidur, itu semuanya berubah menjadi debu yang selalu berterbangan di angkasa dengan bunyi kicauan burung yang berganti dengan suara bom yang membuat Dzakwan terpaksa harus mengikuti kemauan KBRI untuk pulang kembali ke pangkuan bumi pertiwi.

Bermodalkan dengan keyakinan Dzakwan pun kembali mencari lubang yang bisa ia masuki untuk dijadikan sarana supaya bisa meneruskan beasiswa pendidikannya yang terputus itu. Dengan ikhtiyar yang selalu dibantu dengan doa akhirnya Dzakwan kembali mendapatkan kesempatan berangkat ke tanah kelahiran Rasulullah. Akan tetapi kesempatan itu belum bisa ia terima karena dia harus terlebih dahulu berangkat ke negeri matahari terbenam, Maroko.

“Wan bangun-bangun, kita sudah sampai di KBRI Maroko nih” tegur mas Asef sambil terus mengoyang-goyangkan badan Dzakwan yang dari tadi terlihat melamun. Dengan tergagap Dzakwan berusaha menutupi matanya dengan kedua tangan yang ditelungkupkan secara sepontan karena merasa malu akan tangisannya itu, ketika kaki melangkah menuruni anak tangga, pikiran Dzakwan pun terus berputar sambil berucap saya bangga menjadi putra dari keluarga yang selalu menghargai mimpi dan keyakinan putra-putranya, dengan mimpi masa depan akan tampak jelas di depan mata, dengan keyakinan jalanan yang terjal akan terasa ringan, bermimpilah kawan karena suatu saat kita akan mampu untuk memeluk mimpi-mimpi itu.

Komentar di Posting “Dzakwan: “Berawal Dari Keyakinan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>