Dibaca: 1,959 kali    Komentar: 3  

Fifi Rohmatin Nikmah: “Anak penjual jagung bakarpun bisa kuliah kedokteran”

Fifi Rohmatin NikmahFabiayyi’ alaai rabbikuma tukadzibann untaian kalimat suci tersebut yang selalu terngiang ditelingaku, sebuah sindirian Tuhan terhadap manusia yang selalu lupa akan nikmatNya. Ya nikmat sehat, nikmat hidup bahagia. Walau orang lain memandang saya dari keluarga miskin, tapi saya tidak pernah lupa bersyukur sekecil apapun nikmat itu yang Allah berikan.

Oh ya, perkenalkan nama saya Fifi Rohmatin Nikmah, tinggal di kawasan daerah terpencil di Pati. Didesa purwokerto Kecamatan Pati lulusan di Madrasah Miftahul Huda. Terlahir dari keluarga yang serba kekurangan membuatku tidak pernah berputus asa untuk selalu berusaha lebih baik. Ayahku pekerjaannya serabutan,dengan penghasilan tak menentu, tiap sore menjual jagung bakar.  Ketika musim-musim tertentu seperti musim panen padi dan musim kecang hijau, sisa-sisa panen berupa jerami/ daduk (batang pohon kacang hijau) bapak jual untuk pakan ternak. Mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Jangankan untuk kuliah, untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari keluarga saja, kami masih kurang.

Sepulang sekolah, aku membantu orangtua jualan jagung,  pakan ternak di pinggir jalan. Waktu belajar pagi jam 03.00 setelah solat tahajud setiap hari. Malam harinya aku ngelesi anak-anak kelas 5 Madratsah Ibtidaiyah (setingkat SD). Uang saku saat masih sekolah bervariasi,  biasanya Rp 3000 kadang Rp 5000 yang Rp 2000 untuk naik bus PP dan sisanya untuk jajan. Namun aku biasa menyisihkan uang jajanku untuk membeli keperluan sekolah (buku dan LKS). Melihat kondisi keluargaku demikian, maka siapa lagi yang akan merubah kondisi keluargaku jika tidak aku sendiri?. Allah tidak buta. Allah Maha Melihat, dan Dia akan menjawab doa hambaNya yang selalu berusaha.

Awal aku bisa jadi mahasiswa kedokteran seperti saat ini saat iseng-iseng mengikuti PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) dari Kementerian Agama. Semua biaya pendidikan benar-benar gratis ditanggung oleh KEMENNAG mulai dari awal masuk sampai lulus. Tidak ada bayangan sebelumnya kalau aku bakal kuliah di kedokteran. Berbagai program beasiswa untuk menembus kuliah “gratis” sudah aku ikuti, tetapi tidak ada yang lolos. Bulan Januari ada beasiswa dari PBSB kemenag untuk jurusan kedokteran. Untuk mengikuti seleksi PBSB tersebut, aku sempat mengalami kesulitan dalam memperoleh izin dari orang tuaku. Kedua orang tuaku keberatan jika aku mengikuti seleksi PBSB tersebut karena alasan biaya. .Hal ini yang menjadikan ortuku merasa keberatan jika aku harus mengikuti seleksi terlebih jika sampai ia diterima beasiswa kedokteran.

Karena pengertian dari pihak sekolah, akhirnya ortuku mengizinkan mengikuti tes seleksi PBSB. Nasib baik memang berpihak padaku. Setelah pengumuman hasil seleksi PBSB aku dinyatakan lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa kedokteran di Universitas Islam Malang (UNISMA). Dapat beasiswa, malah bikin bingung keluargaku. Bagi sebagian besar orang, memang suatu kebanggaan mendapatkan beasiswa tersebut tetapi bagi aku dan keluargaku ini merupakan hal yang sangat membingungkan. Bingung menentukan pilihan untuk mengambil beasiswa tersebut atau mengundurkan diri. Ibarat ikan sdh di tangan tapi hampir dilepaskan begitu saja.

Orang tuaku tetap merasa keberatan untuk biaya kuliah di kedokteran sekalipun mendapatkan beasiswa. Ditambah lagi perkataan dari tetangga yang seolah meremehkan kemampuan keluargaku tidak akan sanggup menguliahkan anaknya di kedokteran, membuat orangtuaku semakin yakin untuk menyuruh aku mengundurkan diri dari beasiswa tersebut. Karena tekanan dari orang luar dan rasa tidak tega, aku melihat kondisi orangtuaku,  sehari sebelum pemberkasan aku bertekad untuk mengundurkan diri dari beasiswa kedokteran.

Aku menemui pihak sekolah dan menyatakan mengundurkan diri dari beasiswa tersebut. Pihak sekolah tidak puas dengan alasanku dan akhirnya mendatangi rumah orangtuaku untuk mengkonfirmasi alasan yang sebenarnya. Alasan orangtuaku tetap oleh hal yang sama yaitu keberatan di ongkos. Jangankan untuk biaya kuliah, untuk transport ke Malang saja ortuku tidak ada. Disamping itu, sangat khawatir jika suatu saat dana dari beasiswa pencairannya tidak tepat waktu sehingga mengganggu kuliahku. Berdasarkan alasan tersebut, kemudian pihak sekolah berusaha meyakinkan orangtuaku. Pihak sekolah datang ke rumahku dengan salah seorang kyai yang disegani dikampungku untuk menyakinkan keluargaku agar kesempatan beasiswa tersebut tidak disia-siakan.

Akhirnya ortuku mengizinkan, syukur Alhamdulillah pihak sekolah mendukungku dengan meminjamkan uang sebesar satu juta untuk digunakan sebagai biaya transportasi dan biaya hidup selama matrikulasi. Rela tak tidur demi meminjam laptop. Sebelum tahun ajaran baru, calon mahasiswa PBSB harus mengikuti matrikulasi selama 6 bulan. Waktu matrikulasi senin-jumat jam 09.00-15.00. Setiap mata materi kuliah selesai selalu ada tugas.

Aku mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas karena tidak punya laptop, jadi aku sering jarang tidur karena harus menunggu  teman lain yang punya laptop apabila mereka telah selesai mengerjakan tugas untuk di pinjam laptopnya. Kondisi seperti ini sering aku lalui. Jatah dari kemenag per bulan 700rb, untuk saat ini masih bisa disisakan 300rb tiap bulan .

Dari waktu ke waktu aku berusaha menyisihkan uang beasiswaku sedikit demi sedikit. Alhamdulillah sekarang sudah bisa beli netbook second harga 2,2 jt. Uang tersebut aku dapatkan dengan mengumpulkan sebagian jatah beasiswa tiap bulan ditambah uang pinjaman dari pihak sekolah 1 jt terkumpul 2 jt, sedangkan 200rb dipinjami teman.

Jatah makan dari asrama pagi dan malam. Selama matrikulasi sempat sakit dan periksa ke rumah sakit yang tentunya menambah pengeluaran. Biaya kuliah sangat bergantung dari beasiswa. Alat komunikasi pun (HP) yang aku punya pinjam dari teman, terkadang jika aku mau telepon atau sms meminjam HP teman. Tapi aku tetap bersyukur karena Allah. Nikmat Allah itu maha luas.

Bagiku cerita ini hanyalah untaian goresan tinta yang tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan para pencari ilmu dahulu seperti para ulama besar yang jauh lebih memprihatinkan lagi, misal Syeikh Abdul Qadir Jailani pernah ditimpa kelaparan dan hampir mati karena kehabisan bekal dalam menuntut ilmu. Dia pun pernah pergi ke padang rumput dan mencari pucuk-puuk daun tumbuhan untuk dimakan demi menyembuhkan rasa laparnya. Siapa yang tidak kenal Imam Bukhari? Dalam mempelajari hadits, ia memiliki guru lebih dari 1000 syeikh. Ia melakukan perjalanan yang panjang. Buah dari ketekunannya, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 10.000 hadits. Dengan menulis cerita hidupku ini semoga saya tidak menjadikan sombong dan semoga bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi teman-teman semua. Amienn.

3 Komentar di Posting “Fifi Rohmatin Nikmah: “Anak penjual jagung bakarpun bisa kuliah kedokteran”

  1. nice story mbak fifi, alhamdulillah saya juga diterima di fk, tapi saya gak punya cukup uang, cerita mbak memotivasi, syukron ya ukhti :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>