Dibaca: 2,620 kali    Komentar: 2  

Rika Santika: “Ketulusan dan keluarga adalah kunci dari keajaiban”

Pada tanggal 10 Agustus 2012, bersamaan dengan ulang tahun sahabat The Dreamcatcher-ku, Jota, Mama menemukan sebuah handphone Samsung tipe terbaru saat Papa dan Mama membeli bakso di area rekreasi di bawah jembatan layang sekitar rumah kami. Mama memberitahu Papa bahwa ada sebuah hape touchscreen diantara karpet yang terselip. Papa lantas mengajak Mama pulang tanpa sempat membungkuskan bakso untuk saya dan adek. Papa dan Mama buru-buru pulang karena jika mereka membeberkan penemuannya itu di depan umum saat itu juga, pasti akan ada orang yang mengaku bahwa hape itu adalah miliknya. Oleh karena itu, Papa dan Mama menyelamatkan hape malang itu ke rumah. Mungkin saja nanti si pemilik akan menelpon dan bisa mengambilnya di rumah.

Saat di rumah, saya melihat gadget itu. Itu adalah benar hape terbaru keluaran Samsung yang harganya masih di kisaran 3 juta. Lalu, saya mencoba memeriksanya, mungkin saja ada kontak yang bisa saya hubungi agar pemiliknya bisa mengambilnya. Namun, hape itu dikunci. Layaknya hape Samsung touch screen lainnya, terdapat fitur kunci bertipe 3X3 yang dapat memuat kode dengan minimal pola berjumlah 4 tombol yang berbeda. Saya penasaran sehingga saya mencoba menerka kode apa yang dipakai si pemilik. Berkali-kali mencoba, tapi saya tidak bisa membukanya. Hingga tinggal 10 kali lagi mencoba, maka hape akan terblokir dan satu-satunya cara untuk membukanya adalah lewat reset password melalui e-mail. Wah… ribet ini ceritanya kalau sampai terblokir segala. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk membukanya dan satu-satunya cara untuk mengetahui pemilik hape ini adalah dengan menunggu si pemilik menelepon. Jika tidak ada yang menelepon, entah hape ini akan kami apakan.

Sempat terlintas di pikiran kami bahwa kami akan menjualnya dan membeli hape baru yang lebih murah dan sisanya akan kami pakai. Tapi itu adalah alternatif terakhir jika tidak ada yang menelepon untuk mengklaim hape ini.

Semalaman kami menunggu, tapi tidak kunjung ada telepon. Kami sempat bingung, apa pemilik hape ini tidak memeriksa hape-nya sama sekali. Kami pun menyerah dan pergi tidur. Mungkin saja besok dia baru akan telepon.

Benar saja. Keesokan harinya saat Papa dan Adek sudah berangkat kerja dan sekolah, ada sebuah telepon di hape itu dari “Sayangku” dengan gambar kontak seorang anak perempuan kecil yang lucu. Saya angkat telepon itu dan suara seorang pria menyapa. Dia mengatakan bahwa ini adalah hape-nya. Lalu saya menjawab dan menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa kami menyelamatkan hape-nya dengan membawanya ke rumah. Saya juga memberitahukan padanya alamat kami agar mereka bisa mengambilnya.

Kemudian, dia datang bersama seorang wanita yang ternyata adalah istrinya. Mereka adalah pasangan muda yang baru dikaruniai seorang anak kecil. Mereka tidak tahu kalau hape-nya hilang karena begitu pulang dari membeli bakso mereka langsung tidur. Mereka lalu mengambilnya dan pulang. Kami pun merelakan hape itu karena itu memang bukan hak kita. Kami percaya, nanti akan ada rezeki yang lebih besar.

Tanggal 17 Agustus 2012, selain bahagia karena memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Negeri ini, saya juga bahagia karena kami sekeluarga berangkat ke Bandung. MUDIK! Ma’af saya memakai capslock dan tanda seru karena sudah tiga tahun kami tidak pulang ke rumah Nenek. Kami rindu sekali. Di Bandung, saya merasakan diri saya semakin dekat dengan Allah. Saya yang biasanya malas bangun malam untuk sholat tahajjud, jadi rajin dan rela membiarkan dinginnya air Bandung membasuh kulit. Saya juga memanjatkan do’a kepada Allah jika memang Beswan Djarum adalah beasiswa yang terbaik dan saya pantas mendapatkannya, maka saya ingin didekatkan dengan rezeki itu.

Di Bandung, saya juga akhirnya bertemu dengan sahabat-sahabat saya, Nanak dan Jota. Mereka sangat ramah dan baik. Saya juga diajak berjalan-jalan di kampus mereka, STBA YAPARI-ABA Bandung. Kami mengobrol sampai tak terasa hari sudah malam. Sedih rasanya harus berpisah tapi saya yakin akan ada banyak lagi pertemuan dengan mereka, khususnya pertemuan yang lengkap dengan sahabat saya yang lainnya, Tya dan Afan.

Perpisahan memang menyedihkan. Begitu juga yang kami rasakan saat harus berpisah dengan Nenek dan keluarga di Bandung. Tapi kami harus pergi… Tak lupa saya meminta do’a dari Nenek sebelum pulang agar saya bisa mendapatkan beasiswa ini. Nenek adalah seorang yang patut dijadikan contoh. Ibadahnya sungguh kuat dan tak pernah putus. Saya selalu ingin bisa seperti itu.

31 Agustus 2012 adalah hari pengumuman Beswan Djarum. Saya pergi ke warnet untuk melihat pengumuman tersebut di internet. Namun, saya tidak tahu mengapa nomor registrasi saya tidak bisa dimasukkan ke webpage untuk melihat hasil pengumuman untuk saya. Tulisannya mengatakan bahwa nomor saya tidak terregistrasi.

Saya sempat putus asa karena berulang kali mencoba tapi hasilnya tetap nihil; nomor saya tidak terregistrasi. Saya juga sempat kecewa karena jika memang saya tidak diterima paling tidak ada pengumuman ketidaklolosan saya. Tapi saya juga tidak bisa menemukannya.

Akhirnya saya putuskan untuk menyerah. Saya sudah benar-benar akan melupakan beasiswa ini. Sampai tanggal 3 November 2012, saya mendapat telepon bahwa saya diterima menjadi Beswan Djarum angkatan 28. Saya bingung karena saya sudah menyerah. Saya juga terkejut sekaligus bahagia karena saya tidak menyangka sama sekali. Perasaan saya campur aduk. Saya bersyukur kepada Allah atas terpilihnya saya menjadi salah satu penerima beasiswa ini dan menjadi satu-satunya perwakilan dari fakultas saya di IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Saya terkejut saat harus flashback ke belakang. Saya ingat dulu kami sekeluarga melakukan suatu ketulusan dengan mengembalikan barang yang bukan milik kami dan sekarang Allah mengganjarnya dengan tiga kali lipat jumlah dari yang sudah kami relakan. Subhanallah

Nama                          : Rika Santika

Tempat/ tanggal lahir            : Surabaya, 29 Oktober 1992

Alamat                                    : Jl. Langgar Panggung No. 43A RT 06 RW 02 Buduran Sidoarjo 61252

HP                                : 083849628177

E-mail                          : rikasantika22@gmail.com

Universitas                  : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya

Program Studi             : Sastra Inggris

Semester                     : 6

2 Komentar di Posting “Rika Santika: “Ketulusan dan keluarga adalah kunci dari keajaiban”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>