Dibaca: 15,581 kali    Komentar: 50  

Wahyu Tamadi: “Musibah membawaku hingga ke Inggris”

Ada banyak orang yang bangun dari tidur dan mulai membangun mimpi-mimpinya setiap hari, mimpi menjadi orang besar, menjadi orang terkenal, menjadi ilmuwan, dsb seperti juga mimpi untuk sekolah di luar negeri. Untukku, yang dari keluarga sederhana di kota kecil Jambi ini, sekolah ke luar negeri bukanlah salah satu dari mimpi yang ku bangun, meskipun pernah sesekali mengkhayalkannya namun pada akhirnya kutepis lagi.

Kutaruh di salah satu pojok bagian paling gelap di sebuah lemari di dalam gudang mimpi tak terealisasi dari masa kecil, gudang itu dikunci, kuncinya tak pernah kulihat lagi. Kenapa aku bisa menjadi seperti orang yang sepesimis itu? Waktu itu kupikir itu bukan pesimis, itu hanya realistis, karena untuk sekolah ke luar negeri dengan biaya sendiri, aku tak mampu, sedangkan untuk sekolah master dengan beasiswa dari pemerintah akan sulit karena aku bukan guru. Namun entah bagaimana, pada akhirnya setelah bagian-bagian tidak menyenangkan dari hidup, akhirnya aku justru sedang menikmati fasilitas menimba ilmu pengetahuan di luar negeri dengan beasiswa, seperti yang akan kuceritakan berikut ini.

Apabila belajar ke luar negeri, satu-satunya negeri yang ingin kudatangi adalah Inggris, United Kingdom. Satu-satunya, karena universitasnya yang telah sejak lama menjadi barometer ilmu pengetahuan, karena kekayaan peradabannya, budaya, seni, sastra dan tentu saja karena klub sepakbolanya Chelsea yang jadi favoritku. Terlebih karena ini merupakan khayalan semasa kecil, merupakan sebuah hasil insepsi ke alam bawah sadarku.

Sewaktu aku masih SMP, ada seorang lelaki muda salesman yang kebetulan lewat jalan depan rumah dan mengetok pintu rumah kami, dia menawarkan dengan berbusa-busa paket pelajaran bahasa inggris dalam sebuah koper hitam besar. Ayah mendengarkannya dengan ketertarikan sewajarnya, lalu memanggilku, menanyakan ketertarikanku. Aku yang tak tau apa-apa hanya mengiyakan. Mungkin lebih karena kasihan kepada salesmannya daripada karena manfaat paket tersebut, akhirnya resmilah koper tersebut berada di rumah kami. Paket pelajaran itu terdiri dari selusin kaset, beberapa buku dan satu kamus Oxford Dictionary.

Di banyak tempat tertera tulisan dan logo Oxford University Press. Disitulah pertama kali aku mengetahui perihal Universitas Oxford. Di salah satu bagian awal listening section, ada percakapan antara turis dan guide yang menceritakan tentang London, Westminter Abbey dan Big Ben yang membuatku menjadi semakin tertarik dan termotivasi untuk ke Inggris.

Karena Oxford adalah satu-satunya universitas yang kuketahui, akhirnya di buku cerita yang aku dan teman-teman tulis dan edarkan untuk jadi hiburan di kelas saat kelas dua SMP, aku menulis biodata sebagai berikut:

Penulis: Wahyu , Profesi: Ilmuan terkenal dari SD 150, kemudian masuk SMP 16, kemudian ke SMU Titian Teras (TT) dan akhirnya lulus dengan nilai terbaik di Oxford University. Saat ini, menjadi guru besar perguruan kungfu.

Tentulah tulisan itu hanya berupa sebuah komedi seorang anak SMP yang tak tau apa-apa, yang sedang keranjingan film kungfu cina, namun ternyata dua tahun kemudian aku diterima melanjutkan sekolah di SMA Titian Teras, SMU terbaik se-provinsi jambi yang saat itu hanya menerima 60 orang dari sekitar seribu limaratus orang peminat dari seluruh Provinsi. Biaya pendidikan sepenuhnya gratis, karena ditanggung oleh Yayasan Pendidikan Jambi. Orangtua merasa senang karena beban pendidikan untuk empat orang anak bisa berkurang, aku pun merasa gembira dan penuh kebanggaan.

Namun, jika pada mulanya aku percaya akan kemampuan dan kecerdasan karena sering mendapat juara umum selama di SMP, maka di SMA itulah kepercayaan diriku luntur, karena berbenturan dengan kenyataan bahwa aku tak sepintar teman-teman. Ada orang yang kelihatannya tak pernah belajar, namun langganan peringkat sepuluh besar. Ada orang yang kemampuan menghapalnya setingkat tape recorder, sekali saja membaca, maka sampai ujian tak akan lupa, sangat jauh dibanding kemampuan menghapalku yang setingkat amuba. Jangankan menghapal, membaca saja aku suliit, seringnya setiap membaca buku pelajaran geografi atau sosilogi akan jatuh tertidur dimana juga. Saat itulah, seiring berjalannya waktu, aku tau bahwa kuliah di Oxford University merupakan sebuah kemustahilan.

Saat itu di SMA, yang menjadi trend dan puncak pencapaian prestasi adalah apabila diterima di ITB atau sekolah kedinasan seperti Akabri, Akpol, STPDN dan STAN. Akhirnya pada tahun ketiga di SMA, kutetapkan target realistis untuk melanjutkan kuliah di ITB, meskipun sebenarnya orang tua belum tentu sanggup membiayai. Saat itu, seorang kakak perempuan dua tahun di atasku dan kakak laki-laki empat tahun di atas juga sedang masa-masa mengenyam pendidikan tinggi, sehingga aku harus sadar bahwa akan ada kesulitan besar untuk membiayai kuliahku. Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa orang tua sedang kesulitan finansial disebabkan oleh adanya hutang yang harus dicicil dari Bank.

Alkisah, ada seorang teman ayah yang meminjam uang dari Bank untuk usaha percetakan, untuk meluluskan pinjaman tersebut dia meminjam sertifikat tanah rumah kami. Meskipun ibu menolak, ayah dengan kebaikan hati dan rasa percayanya mengiyakan untuk meminjamkan. Selang setahun, saat bisnis orang itu gagal, propertinya di akuisisi, dia mendadak kabur entah kemana, sehingga mau tak mau sisa hutangnya itu yang jumlahnya sangat besar harus kami bayar. Demikian ibu bercerita, kisah yang waktu itu terlarang untuk aku dengar karena mereka khawatir akan mengganggu konsentrasi ujian nasional. Demikian, sehingga ayah memintaku untuk melanjutkan studi di STPDN saja, sekolah kedinasan yang menanggung semua biaya pendidikan.

Setelah tiga tahun menjalani masa pendidikan disiplin semi-militer di SMA, maka memasuki disiplin semi militer berikutnya bukanlah opsi yang menyenangkan bagiku. Namun, jika itu permintaan orantua, tentu seorang anak harus mematuhi. Akhirnya aku mencari informasi pendaftaran dan untungnya (atau sialnya) usiaku terlambat dua bulan. Usia pendaftar minimal 18 Tahun per agustus 2001, sementara aku baru akan berusia 18 di bulan oktober. Akhirnya satu-satunya opsi untukku adalah perguruan tinggi negeri. Tetap tak ada jaminan bahwa jika aku lulus, orang tua bisa membiayai, terasa sangat sedih waktu itu, namun ibu membesarkan hatiku bahwa tak usah dipikirkan persoalan biaya, jika diusahakan selalu ada jalan.

Menjelang kelulusan SMU, ada tawaran beasiswa BMU UMPTN dimana dipilih dua orang untuk mewakili setiap SMU dengan kriteria tak mampu secara ekonomi dan mampu secara akademik. Yang boleh mengikuti seleksi adalah orang-orang yang tak pernah mendapat nilai di bawah tujuh untuk matematika dan bahasa inggris, setelah lulus UMPTN penerima beasiswa akan mendapatkan sumbangan biaya SPP sampai tamat kuliah. Beruntung aku termasuk salah satu yang layak untuk mendaftar dan lulus seleksi beasiswa. Ketika teman-teman pergi ke Bandung dan Jogja untuk bimbingan belajar intensif, aku hanya mengikuti bimbingan belajar di Jambi karena keterbatasan biaya tadi.

Jadwal bimbel hanya 1,5 jam di pagi hari, yang tak memadai untuk persiapan tes nanti, sehingga aku datang juga ke kelas sore untuk lebih banyak belajar dan berlatih. Akhirnya pada suatu pagi aku mendapati namaku satu-satunya dari peserta UMPTN di Jambi yang lulus di ITB dengan jurusan pilihan pertamaku Teknik Sipil.

Kelulusan itu sama artinya aku mendapat beasiswa dari masuk hingga lulus, meliputi biaya SPP dan biaya hidup. Akhirnya setelah hampir lima tahun, aku lulus dari ITB dengan predikat bisa saja, yang artinya bisa lulus saja sudah bersyukur karena panjang dan berliku perjuangannya.

Singkat kata, singkat cerita, hidup baik-baik saja. Pekerjaan setelah kuliah juga tak istimewa. Sepertinya aku belum menemukan suatu bidang pekerjaan yang benar-benar bisa dinikmati untuk ditekuni. Setelah setiap tahun berganti-ganti dan pindah lokasi pekerjaan, akhirnya aku bekerja sebagai Lead Engineer sebuah kontraktor di Jambi, seperti yang selalu aku idamkan untuk berperan serta membangun daerah.

Saat itu aku sedang pula membangun hubungan yang serius dengan seorang wanita, sudah hampir empat tahun lamanya. Sedemikian rupa, sehingga aku membuat rencana-rencana masa depan dengannya. Namun, suatu ketika dia memutuskan untuk berhenti karena perbedaan lokasi kerja, karena ada orang baru dan sekian hal lainnya. Duniaku terasa jungkir balik, apapun yang kukerjakan seolah kehilangan esensinya. Hingga akhirnya proyek selesai dan aku memutuskan untuk berhenti bekerja.

Ternyata cobaan tak berakhir sampai di situ saja, karena mendadak ayahku mengeluh sakit dan setelah kami periksakan ternyata mengidap tumor ganas. Setelah berjuang dengan berbagai pengobatan alternative kesana kemari, akhirnya mau tak mau kami memilih opsi operasi untuk ayah, di sebuah rumah sakit pusat di Jakarta. Sebulan lebih beliau dirawat sebelum operasi. Operasi yang kutandatangani persetujuan untuk menerima konsekuensinya.

Setelah operasi, kelihatannya kondisinya membaik, sehingga aku pulang duluan ke rumah di Jambi. Hingga akhirnya pada suatu subuh, ibu menelpon sambil menangis dan mengatakan bahwa ayah telah tiada. Terjadi dilema untuk membawa jenazahnya pulang ke jambi atau ke jawa kampung halamannya di Jawa. Semua orang menungguku untuk membuat keputusan, aku hanya ingin beliau di Jambi karena dekat dengan rumah, sehingga kami bisa sering berkunjung. Namun, seorang tetangga yang dekat dengan ayah mengatakan bahwa beliau selalu membicarakan keinginannya untuk pulang kampung, seperti sebuah firasat. Andai beliau setidaknya bisa berbicara dan memberi pesan terakhir tentu dilema ini tak terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk menganggap itu kemauan terakhir alm ayah, sehingga pergilah kami ke Jawa, Baturetno, Wonogiri, ke tanah kelahirannya. Beliau mendapat tempat persis di sebelah makam alm kakek, ayahnya.

Berbulan-bulan setelah itu, hidupku terasa hampa, tanpa pekerjaan, tanpa tujuan hidup, penuh perasaan kehilangan. Sulit rasanya merangkai harapan-harapan baru, tak tau kemana hendak melangkah. Sosok seorang ayah, selama ini adalah sosok yang selalu membangkitkan motivasiku untuk berkarya, yang membuatku tertantang untuk membuatnya bangga. Kehilangannya membuatku kehilangan motivasi, kehilangan motif hidup, kehilangan tantangan. Salah satu yang bisa menguatkan adalah pedoman Ayat Quran, bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, yang bagiku artinya manusia tak boleh berputus asa terhadap suatu keadaan. Bahwa orang beriman akan selalu dituntun dari kegelapan menuju cahaya.

Akhirnya aku pamit ke ibu untuk pergi ke Jogja, dari Jogja kampung ayah hanya sejauh 2 jam perjalanan darat, ibu merestui dan selalu mendoakan. Aku berangkat karena ingin merangkai harapan baru, mencari kehidupan baru, entah itu mencari pekerjaan, atau mendaftar kuliah S2, aku tak tau apa pastinya. Yang jelas, tujuan utamanya adalah agar aku bisa dekat dengan alm ayah, bisa sering berziarah dan bersilaturahmi dengan keluarganya.

Sambil melamar beberapa pekerjaan di Jogja akhirnya aku berangkat ke kampus UGM dan mencari informasi program master. Beberapa yang menarik minatku adalah arsitek dan transportasi, karena program di arsitek sudah melewati batas waktu pendaftaran, maka kuputuskan untuk mendaftar transportasi saja. Saat mendaftar, persyaratan yang diminta adalah membawa nilai Toefl dan TPA. Maka kuikuti test toefl dari lembaga bahasa dan test TPA dari Otto bappenas.  Alhamdulillah keduanya memenuhi syarat.

Saat membawa nilai tersebut ke Jurusan untuk mendaftar, petugas administrasi kelihatan terkesan dengan nilaiku, terutama dengan nilai TPA yang 660an dibanding persyaratan minimalnya 500. Lalu dia menghadap ketua jurusan, oleh ketua jurusan aku ditawarkan beasiswa unggulan dari Diknas dengan syarat lulus test psikotes, test akademis dan wawancara yang akan diadakan. Saat wawancara, pengelola menanyakan motivasiku memilih kuliah di UGM, aku mengatakan dengan jujur bahwa aku memilih UGM karena lokasinya di Jogja yang dekat dengan kampung ayah. Beliau kelihatan bingung dengan jawabanku, sehingga menanyakan lagi alasan yang lebih bersifat akademis. Selang beberapa lama kemudian, saat sedang beribadah puasa mejelang lebaran, datang pengumuman bahwa ternyata aku diterima dengan mendapat Beasiswa Unggulan dari Kementrian Diknas. Padahal tadinya aku ingin membiayai kuliah sendiri dengan sisa tabungan selama bekerja, yang sebenarnya cukup diragukan akan bisa mencukupi keseluruhan biaya kuliah yang 38 juta ditambah biaya hidupnya untuk dua tahun.

Hal itu membuatku sangat bersyukur, maka nikmat Tuhan yang manalagi yang aku dustakan. Saat mengikuti kuliah, ada pengumuman bahwa beberapa mahasiswa akan dipilih untuk mengikuti double degree ke luar negeri, pilihannya negaranya adalah Inggris, Swedia dan Australia. Hal ini menambah motivasi belajarku sehingga bisa mendapat IPK 4 selama dua semester. Setahun setelah itu, akhirnya aku terpilih menjadi salah seorang dari empat yang berangkat untuk kuliah di Univesity of Leeds, United Kingdom, untuk mendalami bidang studi transportasi. Jurusan Transportasi di universitas ini adalah salah satu terbaik yang reputasinya mendunia sehingga pelajar dari berbagai Negara di seluruh belahan dunia berkumpul di sini untuk mendalami materi atau melakukan riset.

Aku tak perlu bersusah-susah berkomunikasi dan melamar ke universitas karena sudah diatur oleh system yang baik di MSTT UGM, tak perlu bersusah mencari sponsor karena sudah ada yang menjamin biaya, tak perlu menunggu lama untuk pencairan uang beasiswa, semua mengalir dengan kelancaran nyaris sempurna. Maka nikmat Tuhan yang manalagi yang aku dustakan. Aku tak terlalu pintar, motivasiku untuk keluar negeri tak terlalu besar.Saat ku evaluasi lagi kisahku, bertanya apa yang membuatku bisa sampai di sini, ku pandangi beberapa milestone yang telah kulalui. Jika aku tak putus dengan pacar waktu itu maka aku tak akan berhenti bekerja dan keluar dari zona nyaman. Jika ayah tidak berpulang dan dimakamkan di Wonogiri, maka aku tak akan pergi ke Jogja untuk mendaftar kuliah lagi. Jika aku tak mendaftar maka aku tak akan tau ada beasiswa dan tentunya tak akan mendapat beasiswa.

Sejak ayah tiada, aku menjalin silaturahmi yang baik dengan keluarganya, selalu memanjatkan doa untuk kebaikannya, sering berkunjung berziarah, membaca Quran dan tahlil untuk dipersembahkan kepadanya. Sepertinya Allah SWT menjawab doa itu dengan mengabulkan doaku yang lainnya, doa dari masa kecil. Doa yang menjadi kunci untuk mewujudkan mimpi kuliah di luar negeri dari gudang mimpi tak terealisasi.

Pada suatu hari yang udaranya agak lebih sejuk dari biasanya, ketika kulangkahkan kaki mengunjungi Oxford Unversity, terbayang lagi masa kecil, terbayang koper berisi paket pelajaran bahasa Inggris dari Oxford, terbayang ayah yang membelikannya, terbayang ekspresinya saat mengambil rapor juara umum di SMP, terbayang kemarahannya saat nilai-nilaiku turun, terbayang betapa senangnya dia saat aku masuk SMU Titian Teras, terbayang kebahagiaannya saat aku diwisuda di Sabuga ITB. Namun agak sulit membayangkan bagaimana perasaannya atau raut wajahnya jika nanti (InsyaALlah) aku diwisuda dari University of Leeds, entah bagaimana perasaannya. Mungkin dia hanya akan menatap dari kejauhan, mungkin dengan tersenyum.

Ada sebuah kutipan dari Andrea Hirata yang mengatakan bahwa “Ironi bukanlah persoalan substansi, ia tak lain hanyalah soal kompensasi. Itulah definisi ironi, tak kurang tak lebih.” Adalah ironi bahwa pada akhirnya aku berangkat menempuh studi di Inggris sebagai sebuah kompensasi atas kesedihan-kesedihanku karena kehilangan dua cinta yang porsinya besar dalam hidupku.

Dengan sekian banyak pengalaman beasiswa, terkadang aku berpikir, akan seberapa jauh kontribusiku bagi masyarakat sekitar atau Negara Indonesia nantinya. Sehingga dalam hati aku berjanji akan menjalankan amanah ini dengan sebaiknya dan kelak akan ikut berpartisipasi membangun masa depan yang baik bagi Indonesia dan orang-orang disekitarku.

Dalam hal ini setidaknya ada sebuah prinsip yang kujadikan sandaran, jika tidak bisa membantu memperbaiki kehidupan bangsa, setidaknya aku tidak jadi bagian yang merusaknya. Sekedar menutup dengan kesimpulan dan saran dari cerita yang panjang ini. Menurutku, intinya adalah berbakti kepada orang tua dengan selalu mendoakannya dan memohon doa restunya akan selalu menjadi salah satu penentu kesuksesan disamping segala daya upaya dan usaha. Juga untuk jangan pernah berputus asa dan larut dalam kesedihan jika mendapat musibah, selalu ada jalan keluar dari setiap masalah. Tentunya ditambah dengan jangan pula bersikap sombong saat mendapat anugrah. Penting untuk menjaga hati tetap membumi saat cita-cita melangit.

Ucapan terimakasih:

  • Terimakasih kepada Badan Pengembangan SDM Departemen Perhubungan RI, atas beasiswa double degree di Unversity of Leeds, United Kingdom.
  • Terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Nasional, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri atas program Beasiswa Unggulan untuk pendidikan di Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT) Program Pascasarjana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
  • Terimakasih kepada Yayasan Damandiri atas BMU-UMPTN 2001 yang telah memberikan beasiswa penuh dan uang saku untuk pendidikan di program studi Teknik Sipil ITB periode 2001-2006.
  • Terimakasih kepada Yayasan Pendidikan Jambi atas pendidikan dan latihan disiplin gratis di SMU Titian Teras Jambi periode 1998 – 2001.
  • Terimakasih kepada SMPN 16 Jambi atas kesempatan mendapat pendidikan.
  • Terimakasih kepada SDN 150/IV Jambi atas kesempatan mendapat pendidikan.

website:http://yows.blogspot.com

50 Komentar di Posting “Wahyu Tamadi: “Musibah membawaku hingga ke Inggris”

    • saya terharu sekali membaca tulisan anda, semoga anak saya pun bisa se soleh anda terhadap orang tua dan dapat pula menjejakkan kakinya di oxford

  1. mas, mau tanya, tau gak bagaimana cara memdptkn salah satu dari ini?

    1. two GCE A Level or Vocational A Level passes plus three GCSEs at Grade C or above including English Language and Mathematics
    2. three GCE A Level or Vocational A Level passes plus two GCSEs at Grade C or above including English Language and Mathematics
    3. five passes in the Scottish Certificate of Education, of which three are at Higher Grade including English Language and Mathematics
    4. four passes in the Scottish or Irish Certificate of Education, all at Higher Grade including English Language and Mathematics
    5. a pass in Edexcel BTEC National Award or HNC/ HND
    6. a pass in Foundation course
    7. Access Course – 45 Credits at Level 3 with a Merit profile
    8. Advanced General National Vocational Qualification (GNVQ)
    9. an International or Welsh Baccalaureate

    apakah kita memperolehnya stlh kita di inggris atau bgmna? soalnya browsing2 blm ketemu…
    (for undergraduate)
    :D

    • Sepertinya itu berbagai kualifikasi standar untuk seleksi masuk Uni di Inggris, buat info lebih lanjut boleh cek di international office universitasnya aja atau tanya-tanya di British Council.. Kebetulan S2 ga pake syarat yang banyak gitu.. :)

    • itu sejenis tes kemampuan di bidang materi tertentu, di indonesia sudah ada tes seperti itu…silahkan tanya2 di sekolah bertaraf internasional

  2. sgt menyentuh.. tidak ada yang tidak mungkin,
    jadi makin semangat mencari kunci lemari impian yg entah nyelip dimana :D

    terima kasih

  3. Wah, inspiring sekali, kebetulan saya guru sma anda 3 tahun terakhir.. mungkin nanti bisa bersilaturahmi dan mengunjungi adek2 tingkat dsini agar sesukses anda. Oya, kebanyakan beberapa tahun terakhir alumni lulus di rusia, jerman dan jepang.. tapi belum di inggris, semoga bisa membantu baik informasi maupun dialog langsung, thanks alot,. Regards

  4. luaaaaar biasa….akhirnya menemukan semangat mimpi…sangat sering org2 d sekitarku menyepelekanku karna mimpi2ku. dari kisah ini aku semakin yakin kalau andrea hirata benar “bermimpilah maka tuhan akan memeluk mimpi2mu”…..

  5. Mas wahyu, bikin terharu dan semangat bacanya, terima kasih jadi menambah kekuatan buat saya pribadi nih..
    kebetulan sedang dalam keadaan yg rumit, terimakasih sudah mengingatkan tentang arti orangtua. ya cita-cita saya akan tetap saya ingat dan wujudkan, saya percaya Tuhan pasti berikan. amin

  6. Wah, selamat Bang. Dah lamo dak ketemu ruponyo di Oxford sekarang.
    Salam buat keluarga, terutama yang kuliah di Arsitek di UGM itu, yang pernah di Bandung.
    Kapan-kapan boleh lah konsultasi S2 yo…

  7. Subhanallah… ceritanya sungguh sangat memotivasi saya utk ttp optimis atas segala rencana tuhan…
    Semoga Allah memberikan jalan kemudahan bagi kita semua.amiiin

  8. cerita hidupnya terlalu sempurna. ngga semua org seberuntung itu. walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin. tpi sya sungguh kagum dgn kegigihan anda dan kerja keras anda. terima kasih sudah menginspirasi

  9. subhanallah, saya juga seorang pemimpi dan memiliki kisah itu sekarang, walau saya hanya S1 di Unsri, sangat memotivasi saya dalam mencari jati diri serta keinginan saya mengabdi pada kemajuan daerah saya di Palembang, saya akan berjuang seperti anda, #Bismillah

  10. Andrea Hirata! Nama yang selalu tercantum dalam kisah para pemimpi. Beliau penulis favoritku, motivasiku! Senang sekali Andrea Hirata mjd inspirasi byk org, termasuk Anda yang akhirnya berhasil meraih mimpi Anda. Selamat! Kiranya sy bisa mengikuti jejak penulis favorit saya dlm meraih mimpi, dan jg Anda. Ke Inggris! :’D

  11. Sungguh suatu perjalanan hidup yg penuh hikmat, salah satu wujud nyata bahwa Bakti thd kpd ortu menghasilkan berkat yg luar biasa

  12. Mendengar cerita n pengalaman yang cukup menakjubkan n mengharukan…Saya akan termotivasi tinggi untuk kedepannya seperti abg tamadi..amin

  13. Sungguh perjalanan hidup hanya Tuhan YME yang tahu. Namun sungguh saya percaya, ridho orang tua diatas segalanya. Saat ini saya sangat bersyukur dengan pekerjaan saya, namun saya ingin merajut mimpi orang tua saya untuk melanjutkan s2. Dengan biaya sendiri tidak mungkin, saya akan berusaha mendapatkan beasiswa. Semoga dipermudah. Amin

  14. aku juga salah satu dari sekian juta orang yang bermimpi bisa kuliah di oxford, bahkan mimpi untuk menuntut ilmu kesetiap penjuru dunia, semoga aku bisa seperti kaka atau bahkan lebih. Aamiiaku juga salah satu dari sekian juta orang yang bermimpi bisa kuliah di oxford, bahkan mimpi untuk menuntut ilmu kesetiap penjuru dunia, semoga aku bisa seperti kaka atau bahkan lebih. Aamiin

  15. Indah… Teratur dan berkesan mas bos…. pengen bisa s2 ke luar negeri…
    Eh… trus nasib pacarnya masbos gmn tuh… he he

  16. Terimakasih sudah berbagi pelajaran hidup yg berharga, motivasi yg luar biasa.
    Saya juga selalu bermimpi dapat melanjutkan study di london.

  17. luar biasa, teria kasih atas sharingnya, sungguh menginspirasi dan memotivasi, jadi lebih semangat lagi dalam menyelami dunia pendidikan. semoga saya juga diberi kesempatan oleh allah untuk bisa melanjutkan pendidikan diluar negeri aamiin

  18. wahh, salam kenal bang, aku juga dari Jambi, baca blog ini jadi termotivasi lagi semangat yang sempat memudar. Semoga aku juga bisa mewujudkan mimpi ini, fighting !!! :D

  19. Ya Allah beruntung sekali hidupmu kak. Beda sekali denganku, tahun ini bahkan sudah 4 kali aku menerima penolakan, sehingga aku dan orang tuaku bingung mau kuliah dimana kak?
    Aku juga orang Jambi, kita sama. Tapi nasib kita jelas jauh berbeda. Kakak sukses betul bisa Kuliah di ITB, UGM dan keluar negeri. Itulah yang selama ini kuimpikan, tapi tak ada satu pun yang terwujud. Aku gagal. Wah maaf malah jadi cerita gini. Sukses selalu ya kak.
    Semoga suatu saat kita bisa bertemu ya kak. Salam sesama anak Jambi. Aku orang merangin.
    Terima kasih ceritanya kak, sedikit menghilangkan gundah atas banyak kegagalan.
    Keep Going kak.

  20. Subhanallah.. Menginspirasi banget ceritanya. Terimakasih kak udah berbagi pengalaman yang sangat berharga. Saya juga punya mimpi buat kuliah di London, semoga bisa tercapai, amin.

  21. Subhanaallah, AMINN, dengan Niat yang Tulus dan suci, Melihat dari jalan cerita, Cerita abng, atau saudara, apa yang telah saudara alami, sedang saya mulai tempuh, dan saya ingin, mahyu hendra, sedang berkuliah semester 8 fakultas hukum universitas eka sakti padang, saya dalam keadaan bersaudara 5 orang, saya anak pertama, ayah hanya, seorng tukang bangunan, ibu hanya seorng Ibu rumah tangga, sekaligus, penyemangat besar kami dalam menuntut ilmu, saya yang hanya, manusia yang tidak telalu pinta, hanya biasa biasa saja, saya mahyu hendra ingin, dan berniat ingin melanjutkan pendidikan ke S2 hukum, di unpad, dan ingin melanjutkan s3 di wahshington, USA, tapi saya tidak tau bagaimna cara nya, aminnn, makasih atas semangat, dan ceritanya,, ALLAHU AKBAR, saya pasti bisa, NIKMAT MANA LAGI YANG AKAN KAMU DUSTAKAN,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>