Dibaca: 5,587 kali    Komentar: 9  

Iskandar Zulkarnain: “2 Years, 2 Kids, 2 Masters degree”

IskandarZulkarnainAkhir tahun 2010 lalu, saya berhasil meraih double degree, Master of Business and Master of Professional Accounting dari Monash University, Melbourne, Australia melalui beasiswa ADS Tahun 2008.

Beasiswa ADS adalah percobaan kedua saya dalam berburu beasiswa. Tentunya ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan rekan-rekan saya yang mencoba mendapatkan beasiswa berkali-kali tanpa kenal menyerah. Pada saat itu, beasiswa ADS ditawarkan kepada instansi saya untuk pertama kali sebagai targeted organization.

Saya menjalani proses seleksi sebagaimana kandidat lainnya, yaitu seleksi berkas, masuk short list, tes IELTS dan interview. Karena saya mendaftar lewat kantor, maka ada seleksi internal terlebih dahulu yang harus saya lalui. Aplikasi/proposal saya buat sebaik-baiknya sesuai dengan minat, bermanfaat buat organisasi, dan sesuai dengan area yang diinginkan ADS.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika saya dalam proses interview. Sejak awal, perasaan tak enak meliputi diri ini. Mulai dari berangkat interview naik motor bersama teman saya di mana motornya ngadat ketika mau berangkat dan sempat membuat kami panik. Setelah akhirnya sampai di lokasi interview, nama kandidat, IPK, nilai TOEFL/IELTS tertempel di dinding dengan manisnya yang membuat saya jeri. Banyak sekali kandidat yg ber-IPK tinggi (di atas 3.5) jauh di atas saya yang 3 koma dengan selamat. Nilai TOEFL/IELTS nya pun membuat saya geleng-geleng takjub karena banyak yang di atas 600 atau 6.0. Wah, banyak sekali manusia pintar ikut seleksi ini. Namun, saya percaya bahwa selalu ada kuasa Allah SWT dibalik semua usaha dan kemampuan manusia.

Ketika interview, perasaan nervous semakin menjadi-jadi. Interviewer saya waktu itu 2 orang alumni AusAid, Ibu Roosmalawati Rusman dan satu lagi dari Bangladesh, Mr. Abu Shiddiq. Ketegangan dimulai dan keringat dingin pun mulai bercucuran. Beberapa kali saya membasuh keringat dengan sapu tangan. Dari 2 interviewer ini, Mr. Abu yang paling rajin mencecar saya dari A sampai Z tentang apa yang saya tulis dalam proposal aplikasi. Si ibu yang lebih kalem banyak membantu saya menjelaskan apa yang saya maksud ke Mr. Abu karena saya sering speechless dan minta izin memakai bahasa Indonesia. Hehehe… Pertanyaan demi pertanyaan saya jawab sebaik-baiknya walaupun terkadang kurang meyakinkan. Saya berusaha memberikan argumen saya namun tidak menggurui karena saya tahu mereka jauh lebih senior dan pakar di bidangnya. Puncaknya, si Mr. Abu meminta saya menggambar kurva Laffer yang menggambarkan hubungan antara tax rate dan tax revenue yg alhamdulillah masih saya ingat sedikit-sedikit walaupun tidak begitu memuaskan beliau. Alhasil, setelah interview kepala saya sontak pusing dan saya juga tidak begitu optimis bakal lolos walaupun harapan itu tetap ada mengingat interview yang tidak begitu sukses menurut saya. Setelah saya googling, barulah saya tahu bahwa Mr. Abu ini adalah Associate Professor di bidang Ekonomi di UWA dan Bu Rosmalawati adalah peneliti di LIPI dan juga bekerja di Kementerian Riset dan Teknologi. Tak heran ketika interview saya ‘dibantai’ seperti itu.

Alhamdulillah akhirnya saya diterima beasiswa ini dan menjalani EAP selama 8 minggu di IALF Jakarta. EAP pun saya jalani dengan baik dan akhirnya saya pun diterima menjadi mahasiswa Master of Professional Accounting (Advanced) di Monash University dengan durasi studi 2 tahun. Akhir Desember 2008 saya berangkat ke Australia dengan meninggalkan istri yang sedang mengandung anak pertama kami. Dengan berat hati saya pun harus melewatkan kelahiran putri kami di bulan Januari 2009.

Belajar di Monash University sebagai salah satu Group of 8 University, menjadi pengalaman baru bagi saya. Ruang kelas yang nyaman, dosen yang selalu menyediakan waktu untuk berdiskusi, fasilitas yang lengkap, perpustakaan yang nyaman dan academic journal yang melimpah, serta hampir semua pelayanan bisa online atau mandiri seperti mendaftar unit yang akan diambil di semester depan, meminjam buku, menambahkan kredit pada kartu untuk memfotokopi adalah contoh-contoh keunggulan kampus saya. Tak heran banyak dihasilkan mahasiswa berprestasi di berbagai bidang dan hasil riset yang diakui dunia internasional.

Di semester 3, setelah berkonsultasi dengan banyak pihak, saya coba mengajukan transfer program menjadi double degree, Master of Business and Master of Professional Accounting dengan alasan program tersebut memiliki durasi dan biaya yang sama dengan program sebelumnya serta memiliki nilai tambah bagi saya dan organisasi. Hanya saja saya harus mengambil mata kuliah yang telah ditentukan oleh program ini, atau dengan kata lain elective unit-nya menjadi lebih sedikit. Mengingat saya mendapatkan beasiswa, maka saya harus izin tidak hanya ke universitas, tetapi juga ke ADS dan instansi di mana saya bekerja.

Pada bulan Juni 2009 akhirnya istri saya memperoleh izin dari kantornya untuk menyusul saya di Melbourne. Suka duka kami jalani bersama, pengalaman hidup berharga pun banyak kami peroleh di sini. Dimulai dengan proses adaptasi terhadap lingkungan dan cuaca yang ekstrim, hidup tanpa pembantu, uang saku yang pas-pasan yang membuat saya harus mencari part-time job, tanpa gengsi mencari barang diskonan atau baju murah di garage sale dan toko second hand, memungut barang buangan di jalan yang kadang masih bagus, hingga saya harus membagi waktu untuk belajar, keluarga dan bekerja. Bahkan ketika summer break saya sempat bekerja di 3 tempat sekaligus dari jam 4 subuh sampai jam 10 malam, atau kerja mengantar koran jam 4 subuh dan jam 9 sudah harus sudah siap di lokasi ujian. Hasil dari saya bekerja tersebut pulalah yang bisa membuat kami sekeluarga jalan-jalan ke Sydney dan Gold Coast.

Saya juga berusaha mengembangkan networking dengan teman-teman kampus dari berbagai negara, permanent resident, dan juga sesama mahasiswa baik itu dosen, birokrat, aktivis LSM, serta pegawai Konsulat Jenderal RI (KJRI) yang mungkin beberapa tahun lagi akan menjadi orang penting di negara kita. Selain itu, ada juga beberapa teman yang berprofesi sebagai artis, pembaca berita terkenal dan anak-anak orang penting di negeri kita yang agak mustahil untuk bertemu dan bergaul di Indonesia sendiri. Saya juga sempat ikut acara pawai, memperkenalkan angklung dan keberagaman Indonesia seperti berpartisipasi dalam Australia Day, Satay Festival dan Festival Indonesia, bahkan ikut aktif nge-band sesama pelajar Monash dari Indonesia yang membuat band kami, Indomonashis Band, cukup dikenal di sana hingga mendapat award sebagai best group dari PPIA Monash University. Saya juga berusaha menghadiri acara-acara baik resmi ataupun tidak resmi, pengajian & kajian ilmiah, serta acara-acara yang digelar masyarakat Indonesia dan KJRI di sana demi mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan.

Tak dinyana, istri saya hamil tanpa kami rencanakan sebelumnya karena kami memang tidak berencana untuk menambah anak dalam waktu dekat. Sempat terjadi kebimbangan apakah istri saya lebih baik melahirkan di Indonesia saja mengingat kami harus mendatangkan orang lain karena sungguh berat mengurus 2 anak sementara saya masih harus memikirkan kuliah. Kami pun mencoba mendatangkan ibu mertua saya yang akhirnya memperoleh visa dari pemerintah Australia setelah menunggu cukup lama dan cukup banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Di bulan September 2010, istri saya berhasil melahirkan putri kedua kami dengan normal tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun karena asuransi (OSHC) mengcover biaya persalinan pada saat itu.

Pengalaman pahit pun juga saya sempat alami di sana, seperti dipecat dari restoran karena saya dianggap tidak becus, mendapat surat tilang karena speeding (melanggar batas maksimum kecepatan) yang jumlahnya cukup menyesakkan, diomelin bos tempat bekerja sampai tidak terkira berapa banyak umpatan f**k yang keluar dari mulutnya serta saya juga pernah menabrak mobil orang karena rem mobil saya yang tidak pakem dan harus mengganti mobil orang tersebut. Untungnya saya ikut 3rd party insurance di mana penggantian kerusakannya ditanggung sebagian besar oleh pihak asuransi. Tidak terbayang berapa uang yang harus saya keluarkan mengingat mobil yang saya tabrak tahun 2008, sementara mobil saya sendiri keluaran tahun 1996.

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan studi saya tepat pada waktunya dan diwisuda di bulan Desember 2010 dengan hasil cukup memuaskan walaupun tidak dihadiri keluarga saya karena mereka sudah pulang terlebih dahulu satu bulan sebelumnya karena akan sangat merepotkan mengingat saya dan 2 orang teman harus menjual seluruh barang-barang di dalam rumah sebelum rumah yang kami tempati ditinggalkan.

Sungguh, tinggal di negara yang multi rasial seperti Australia menjadi pengalaman hidup tak terlupakan bagi saya dan keluarga. Hidup di negara maju dengan fasilitas yang sangat baik, lalu lintas tertib, transportasi umum yang memadai, pelayanan publik yang profesional daripada di Indonesia terkadang membuat kami sekeluarga kangen ingin kembali ke sana suatu hari nanti. Alhasil, dalam kurun waktu 2 tahunan, saya berhasil memperoleh 2 anak dan 2 gelar master. Alhamdulillah…

9 Komentar di Posting “Iskandar Zulkarnain: “2 Years, 2 Kids, 2 Masters degree”

  1. keren mas…kampus saya juga bekerjasama dengan monash untuk menerima mahasiswa s2 yang butuh melakukan penelitian ke australia, tp saya diminta untuk membuat anggran dana saya selama 3 bulan di sana. bisakah mas iskandar membantu saya untuk mengetahui berapa kira2 anggran dana hidup, termasuk biaya t4 tinggal dan makan di melbourne? makasih seblumnya ya mas..sukses selalu

  2. halo Mbak Sari,

    per orang 1000 sampe 1200 AUD

    rinciannya per bln kira2: (dlm AUD)
    Makan 200

    Akomodasi 600-800 (sudah include bills)
    flat studio sekitar 760 per month
    Rent 600 ada banyak yg include bills

    Hp 30-70

    transport (myki) 60 per bulan

    Btw, kalo sewa yg per bulan agak susah, biasanya min 6 bln.

    Oh ya, saya sarankan gabung ke indomelb@yahoogroups.com juga ya, krn
    byk juga yg nawarin akomodasi di sana

    Sukses selalu..

  3. Pak, boleh nggak ya saya konsultasi ke bapak ttg ads ini? Saya sudah cari2 yg dapat beasiswa ads bidang ekonomi, susah sekali. Baru dapat nama bapak.

    Saya butuh bantuan utk konsultasi, syukur2 kalau bapak mau review form atau ngelatih utk wawancara.

    Kalau berkenan, tolong info ya pak. Terima kasih banyak…

    • Silahkan mba japri saja.. saya bantu sebisanya.. namun sepertinya sudah banyak yang berubah skema tes beasiswanya..

Leave a Reply to Iskandar Zulkarnain Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>