Dibaca: 4,514 kali    Komentar: Belum Ada  

Jeni Carles: “Ayah, Ibu aku berangkat ke sekolah”

Bismillahirrohmanirrohiim..

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh..

Ku awali ukiran cerita ini dari 4 tahun yang lalu, dilihat dari pendidikannya sekarang pada saat itu dia adalah seorang anak SMP yang ingin melanjutkan ke SMA/setara. Berasal dari desa terpencil diseberang Sungai Musi sekitar 1 jam-an apabila ditempuh dengan motor untuk menuju kota , kebetulan kota/kabupaten yang kecil juga tapi ada pasarnya hehe… Berbekal nilai akademik yang memang lumayan dan sedikit kemampuan berbahasa asing, walau sebenarnya belum pernah ikut kursus dan lain sebagainya, anak tersebut mencoba mengikuti tes di SMA terfavorit di kabupaten tersebut yang berada di pusat kota kabapaten.

Setelah mengikuti tahap-tahap dari rangkaian tes dan akhirnya dapat menjadi siswa di sekolah itu, yang gembiranya bukan kepalang. Di sini belum terpikir dan keliatan kalau nantinya akan mendapatkan beasiswa. Di SMP dulu saya termasuk siswa yang berprestasi sempat beberapa kali menjadi juara umum sekolah namun perhatian civitas SMP pada saat itu belum memperhatikan lebih akan prestasi-prestasi siswa, ya mungkin juga faktor geografis yang jauh dari pusat, sehingga jangankan beasiswa, reward yang kecilpun belum ada.

Berasal dari keluarga yang berkecukupan sebenarnya, ini terlihat jelas pada saat SMP mengendarai motor yang tergolong motor kelas menengah-atas sebagai hadiah juara umum dan menjadi ketua osis SMP pada tahun ajaran 2007/2008 naik ke kelas 2 SMP, serta jarang sekali terdapat kekurangan akan uang saku. Dia jagoan kedua dari enam orang bersaudara yang tidak menyangka pada waktu SMA akan menuai penderitaan hehe (lebay deh kayaknya) tapi bener kok, itu berawal dari kecolonngan keluarga karena ingin beralih usaha gatau nya malah bangkrut :’( hiks”.

Awal tahun ajaran pertama SMA blum terasa dampak ekonomi keluarga, setelah masuk tahun ajaran kedua mulai terasa dan inilah pertama kali dapat beasiswa. Beasiswa yang diberikan sekolah kepada siswa-siswa yang kurang dari segi finansial, saya terkejut dan bergetar hati saya hahah (mulai lagi deh) kok bisanya menjadi penerima beasiswa ini. Namun semester-semester berikutnya saya tidak menerima lagi beasiswa itu, dengan alasan pihak sekolah mengatakan banyak teman-teman saya yang lebih membutuhkan, yaa walaupun saya juga butuh sebenarnya hiks” :’( .. namun tidak apa-apa dan Alhamdulillah kehidupan SMA makin sulit dan miris, untungnya di kabupaten ini sekolah wajib 12 tahun digratiskan pemerintah (ya tengkyu dan bersyukur bersekolah di sana) jadi aku tetap bertahan walaupun menyakitkan ho uwo.. (nyanyi dulu walau sedih ).

Hidup ngekos jauh dari orang tua, uang kiriman hanya untuk makan dan tempat tinggal saja dan itupun harus dicukup-cukupi betul, kalau tidak (huu :”(, nangis saya kalau sering ingat masa itu). Sempat beberapa kali ingin meninggalkan SMA ini dan kenangannya ( heheh so sweet), orangtua sayapun terus mengatakan kepada saya “Nak, kamu boleh meninggalkan sekolahmu tapi kamu harus menunggu sampai seragammu rusak, untuk sementara kamu bersabar dulu”, karena percuma kalau aku keluar. Seragam yang dikenakan di sekolahku dulu ga seperti layaknya seragam SMA pada umumnya, jadi kalau keluar dan masuk sekolah lain didesa sambil kerja bantu orangtua berarti harus beli seragam baru, dan ternyata orangtuaku pandai sekali sampai detik sekarangpun 4 macam seragam SMA ku dulu belum ada yang rusak, hiks” makasih ayah ,ibu :’).

Naik ke kelas 3 SMA yang lebih akrab dengan sebutan kelas 12 saya beralih tempat tidur dari kamar kos(bayar) pindah ke kamar asrama( Cuma bayar makan, fasilitas dan keamanan), ya namun kondisi kantong sama saja dan menahan kehendak perut adalah hal yang biasa. Sempat pada waktu itu saya nunggak uang makan asrama selama 4 bulan berturut-turut, bapak asrama (yang juga guru mapel Agama Islam saya) bingung bukan kepalang karena ternyata yang nunggak bukan cuma saya. Namun tetap saya yang paling sadis nunggaknya (terlalu sadis caramu… Afgan :D heheh ). Ga enaknya pas pelajaran bapak ini, saya selalu duduk di pojok belakang takut ditagihin. Tapi keliatannya bapaknya juga takut nagih, terlihat tiap kali mau berpapasan dia pura-pura gak liat saya (bukan takut deh, kyaknya gak enakan juga bapaknya).

Ini berakhir pada penagihan massal yang dilakukan pihak sekolah yang diumumkan selepas apel pagi (dan wowowow malunya bukan kepalang, kebetulan juga saya lagi naksir cewek disekolah waktu itu ckckck, hangus sudah sudah panah asmaraku waktu itu ). Beruntung pagi itu juga kakak saya datang nganterin uang buat bayar . Tapi uangnya masih kurang separuh saya gak tahu mesti ngapain dan nyari kemana uang buat ngelunasin, keluarga cuma nyanggupin segitu ( uhh.., perih memang).

Disisi lain pihak sekolah minta dilunasin karena mau tutup tahun. Katering yang berlanggananpun gak sanggup lagi dihutangin kata pihak sekolah. Waduh mak, gimana lagi ini mau bunuh diri tanggung juga (jauh banget tuh harga tunggakan 2 bulan dibanding nyawa gue)heheh.

Singkat cerita, saya masih ingat betul hari itu juga tapi agak siangan dikit sebelum pulang ke desa karena waktu itu mau menghadapi liburan, saya dipanggil wali kelas saya. Beliau mengajak ngobrol dan ternyata dia tau akan kesulitan saya dan dia juga sudah berusaha untuk mencarikan beasiswa untuk saya namun belum ada yang menerima. “Terima kasih miss sampai kapanpun saya akan tetap mengenang budi baik miss, seperti pesan-pesan yang miss sampaikan waktu itu saya akan terus belajar walau apapun yang terjadi, kondisi ini adalah jalan dari Allah“. Bukan masalah sama sekali menghadapi kelulusan sekolah, kesulitan bagaikan suriken dari ninja di film naruto yang terus menerjangku.

Ibu sempat berkata yang tidak-tidak mengenai kelanjutan studi- ku, namun ayah terus bersikukuh membiayai keinginanku untuk terus menempuh pendidikan. Namun dengan kata-kata dari ibu bukannya menurunkan semangat, tapi malah memacu semangatku untuk meraih beasiswa sebelum masuk kampus, pikir saya kalau sudah masuk memang banyak tawaran beasiswa tapi saya sangat menyadari keadaan ekonomi untuk biaya masuknya.

Mencoba tes kesana-kemari ingin masuk ke perguruan tinggi, dan akhirnya masuk di salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera dengan jalur beasiswa bidik misi SNMPTN-tertulis 2012. Alhamdulillah saya sangat bersyukur, walaupun tidak sesuai dengan PTN tujuan utama saya dan dari dulu saya ingin belajar diluar pulau. Di PTN ini, setelah saya menyelesaikan semua berkas para mahasiswa baru diliburkan selama 1 bulan, sambil menunggu ospek saya mendapat informasi dari teman kalau saya telah diterima juga beasiswa di perguruan tinggi kedinasan yang dia juga diterima di sana. Memang dulu sengaja saya coba-coba mengurus pendaftarannya tapi tidak terlalu berharap dapat diterima.

Saya lihat di internet pengumumannya, saya telah diterima dan dikehendaki untuk melakukan registrasi ulang, disini saya bingung. Saya konsultasikan dengan orang tua, orang tua saya sepenuhnya memberikan hak kepada saya untuk memilih. Alhamdulillah, saya ingat betul waktu itu malam tanggal 1 Agustus 2012, bulan puasa, saya tidak tidur semalaman selain karena senang juga karena galau hihih :D

Saya merenung dan memikirkan namun jelas di benak saya, bahwa saya ingin kuliah di luar pulau saya ingin kuliah dengan tidak memberatkan kedua orangtua saya. Akhirnya setelah saya pertimbangkan apabila saya mengambil beasiswa yang pertama. Saya tahu betul kondisi biaya hidup di Sumatera pasti orangtua maupun saya nantinya juga susah walaupun bidik misi. Maka dari itu, besoknya saya bilang ke orangtua bahwa saya telah memilih untuk menimba ilmu di luar pulau “always pray for me, mom… dad… ”.

Berangkat di hari lebaran H+3 menatap masa depan putra bunda, airmata ibu berlinangan, ayahpun seakan tak kuasa melepas saya untuk jauh dari hangatnya keluarga, karena baru saja saya pulang merantau dari SMA sekarang sudah ingin pergi lebih jauh lagi. Bersama-sama dengan teman-teman yang telah diterima di berbagai perguruan tinggi lainnya, kami berangkat naik bus dari kota Palembang menuju kota Yogyakarta. Dan di sinilah saya sekarang, menjadi salah seorang mahasiswa semester 2 Beasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan Industri Kecil-Menengah di Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta. Tiba di Jogja dengan panduan kakak kosku waktu SMA, kebetulan dia telah terlebih dahulu menimba ilmu di kota ini di perguruan tinggi berbeda.

Dalam hatiku berkata ini adalah kota impianku pertama untuk kuliah walaupun tidak di kampus impian, aku sekarang telah disini dengan sejuta impian ku di masa mendatang. Jeni Carles adalah nama anak muda itu, yang setelah menerima beasiswa tersebut tidak mengeluh lagi uang kepada orang tua, bisa membeli keperluan dan barang-barang yang belum kudapatkan dulu dengan uang tabungan sendiri termasuk termasuk alat yang kugunakan untuk menulis ini yang kunamai “Dona” berasal dari kata “done” yang artinya selesai. Dia mampu menyelesaikan tugas-tugas kuliahku dan catatan hari-hariku dan menghiburku di waktu luang (dona tengkyu ya *sambil elus-elus* heheh) dan yang terpenting cacing-cacing di perut seakan tidak pernah lagi berdendang rock, sesekali berdendang jazz, itu hanya pertanda bahwa aku lagi sibuk. Mendapatkan berbagai ilmu, bagaimana bersosial dan memajukan ekonomi usaha dan ilmu-ilmu tentang produk kulit, ilmu yang kudapatkan kusampaikan pada orangtuaku untuk pertama kali sebelum aku sampaikan kepada masyarakat industri di daerahku nanti untuk mewujudkan cita-cita dari UUD kita, yakni Indonesia yang makmur dan sejahtera dari segi ekonomi melalui industri. Melalui pengabdianku nanti pada Industri kecil-menengah, layaknya di negeri impianku, Aamiin..

Dan Alhamdulillah kehidupan ekonomi keluarga tidak seperti halnya 3 tahun terakhir sehingga kini selain beasiswa yang kuterima tiap bulannya, kudapatkan juga uang dari orangtuaku yang sampai saat ini hanya ku tabung untuk bekalku mengejar negeri impian yang selalu kuutarakan dengan mata berkaca didepan orangtua ku. “Ayah, ibu kuberjanji mewujudkan impianku untuk terus selalu membanggakan kalian”. Kakakku Angga, adik-adikku Windi,Winda, Jesi dan si imut Olivia, :’) I love U, I Miss U … Jagoanmu, ayah, ibu Bradermu, kakak Kakakmu, adik-adikku Temanmu, teman-temanku Muridmu, guru-guruku Akan terus berjuang untuk meneruskan impian-impianku dimasa mendatang. Ganbatte! ALLAHU AKBAR!!!! Wassalamualikum wa rahmatullahi wa barakatuh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>