Dibaca: 11,870 kali    Komentar: 26  

Martin Tjioe: “Dari Medan hingga Stanford University”

Tjioe-MartinPetualangan pendidikan saya bermula tepat pada pertukaran abad ketika saya sedang duduk di bangku kelas 3 SMP di Medan. Paman saya mendorong saya dan saudara kembar saya untuk mendaftar ke program ‘ASEAN Scholarship’ dari pemerintah Singapura untuk belajar di ‘secondary school’ di sana. Pada saat itu, saya tidak berharap banyak. Dalam benak saya selalu terlintas bahwa saya bukanlah anak terpintar di sekolah saya. Dari segi juara umum saja, saya tidak pernah masuk ranking sepuluh besar. Bagaimana bisa saya mendapat beasiswa yang sangat kompetitif ini?.

Meskipun ujian tulis dan wawancara dengan pihak Kementerian Pendidikan (Ministry of Education) Singapura berjalan dengan lancar, saya masih tidak berharap banyak. Jadi alangkah terkejutnya ketika kami menerima berita bahwa kami telah lulus seleksi dan akan menjadi 2 diantara 9 anak dari sekolah kami (42 dari seluruh Indonesia) yang akan berangkat ke Singapura sebagai ASEAN scholars batch kesepuluh. Satu kesimpulan dari pengalaman ini adalah ranking
dan prestasi di sekolah itu bukanlah tolak ukur yang sempurna untuk menilai kemampuan seseorang. Ada banyak faktor penting lain untuk menentukan kemampuan seseorang yang bersifat lebih abstrak dan tidak dapat diukur hanya sebatas dengan ranking saja. Oleh karena itu, janganlah berkecil hati dan merasa tidak mempunyai harapan hanya karena anda bukanlah yang terpintar (tercepat, terhebat, dan ter-ter lainnya). Mungkin ada sesuatu yang berharga yang terpendam di dalam diri anda yang hanya dapat ditemukan oleh pihak pemberi beasiswa.

Dengan hasil ujian GCE ‘O’ level yang mencukupi di akhir pendidikan secondary school, kami bersaudara pun diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Junior College di Singapura (setara dengan tingkat SMA 2 dan SMA 3 di Indonesia). Pada saat itu, universitas-universitas di Singapura mengharuskan semua calon mahasiswa mengikuti ujian SAT (Scholastic Aptitude Test) sebagai salah satu syarat masuk. Ujian SAT ini juga diperlukan oleh universitas-universitas di Amerika Serikat, jadi kami pun sekalian mendaftar ke sekolah di negeri Paman Sam ini. Alasan utama saya sebenarnya adalah ketakutan tidak dapat memperoleh beasiswa
melanjutkan pendidikan di Singapura.

Kebetulan saat itu di sekolah kami (National Junior College) ada seorang counselor yang sangat berpengalaman dengan aplikasi ke AS. Atas nasehatnya, saya dan abang saya pun mendaftar Early Decision ke Lafayette College, yang tergolong sebagai sebuah liberal arts college. Nah, Early Decision ini adalah sebuah perjanjian antara kita dengan pihak universitas bahwa kita pasti akan belajar di sana jika diterima. Aplikasi Early Decision itu biasanya mempunyai deadline yang lebih cepat dibandingkan aplikasi biasa. Untuk kami, aplikasi ke Lafayette telah kami kirim sekitar tanggal 15 November dan kami serta merta mendapat kabar suksesnya aplikasi pada tanggal 15 Desember.

Kami juga memperoleh financial aid atau bantuan keuangan dari Lafayette sendiri. Sebuah saran dari saya adalah kalau teman-teman ingin mencari informasi beasiswa di AS yang bersumber dari sekolah-sekolah di sana, jangan google istilah scholarship karena itu bukanlah istilah yang dipakai. Sebaliknya, pakailah istilah financial aid.

Untuk kami, paket financial aid atau bantuan finansial ini terdiri dari grant, loan, dan campus job. Grant adalah uang yang diberikan gratis tanpa ikatan apapun. Loan atau pinjaman (sekitar 10% dari total paket) harus dibayar kembali setelah kami lulus. Campus job (sekitar 5% dari total paket) adalah upah yang kami peroleh dengan bekerja di dalam kampus. Upah ini digunakan untuk membayar biaya hidup di sana yang belum ditutup oleh grant dan loan. Syukurlah, paket financial aid yang kami terima dapat membayar semua uang sekolah dan biaya hidup selama kami belajar di Lafayette.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menjelaskan lebih lanjut mengenai liberal arts colleges di Amerika yang beberapa diantaranya (terutama yang mempunyai ranking yang ngetop) terkenal sangat murah hati dalam memberikan financial aid kepada siswa-siswi internasional.

Liberal Arts Colleges

Bagian ini akan menguraikan lebih lanjut apa itu liberal arts colleges. Bagi yang tidak tertarik, silakan lompat langsung ke bagian berikutnya, ‘Financial Aid untuk pendidikan S1’. Liberal arts colleges adalah sekolah-sekolah yang menaruh fokus utama mereka pada pendidikan S1 (undergraduate study). Perbedaan utama antara liberal arts colleges dan universitas-universitas lain adalah kebanyakan sekolah-sekolah ini tidak mempunyai program sarjana S2 atau S3 (graduate study).

Perbedaan lainnya cenderung lebih ‘subtle’. Kurikulum sekolah-sekolah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan membangun kapasitas intelektual umum. Ini berbeda kalau dibandingkan dengan kurikulum lain yang lebih bersifat professional, vokasional, atau teknis. Jadi sebuah liberal arts college biasanya mengharuskan siswa-siswinya untuk mengambil lebih banyak mata pelajaran di luar mata kuliah pokok. Umumnya, sebuah liberal arts college dengan panjang studi 4 tahun memberikan gelar Bachelor of Arts atau Bachelor of Science seperti universitas-universitas lainnya.

Mungkin banyak yang bertanya, apakah sekolah-sekolah ini lebih berfokus pada bidang seni, karena namanya mengandung istilah arts?. Sama sekali tidak. Sebenarnya istilah ini zaman dulunya mengacu ke semua mata pelajaran yang dianggap penting dipelajari oleh rakyat bebas. Grammar, retorik dan logika adalah beberapa mata pelajaran pokok saat itu. Pada abad pertengahan, mata pelajaran ini diperluas untuk mencakup matematika, geometri, ilmu jiwa, dan ilmu alam.

Sekarang liberal arts colleges menawarkan banyak mata pelajaran yang populer, seperti ilmu alam (fisika, kimia, dan biologi), matematika, ekonomi dan bisnis, pendidikan, ilmu jiwa, filosofi, geologi, dan lain sebagainya. Ilmu teknik juga dapat ditemukan di beberapa liberal arts college, walaupun kebanyakan tidak menawarkannya.

Perbedaan lainnya terletak pada sistem pengajarannya. Karena liberal arts college biasanya mempunyai populasi siswa yang lebih kecil, lebih banyak perhatian diberikan ke setiap individu. Sedangkan universitas besar sering memberikan tanggung-jawab mengajar ke mahasiswa pasca sarjana (graduate students) dan professor lebih fokus pada riset. Liberal arts college biasanya mempunyai profesor-profesor yang tanggung jawab utamanya adalah untuk mengajar. Hampir semua mahasiswanya pun tinggal di asrama dalam kampus, memungkinkan para mahasiswa untuk belajar dari satu sama lain.

Ranking liberal arts college biasanya terpisah dari ranking universitas di AS. Ini karena tidaklah masuk akal kalau kita membandingkan dua sistem yang berbeda ini dengan satu ranking universal. Ranking liberal arts college dapat dilihat dari website U.S. News & World Report. Liberal arts college yang ngetop biasanya terkenal murah-hati untuk memberikan financial aid bagi siswa-siswinya. Tidak jarang kita temui murid internasional yang diberikan financial aid penuh yang dapat membiayai semua ongkos hidupnya.

Financial Aid untuk pendidikan S1.

Sebuah gambaran singkat mengenai perguruan tinggi yang menawarkan financial aid ke murid internasional dapat dilihat langsung di website eduPASS. Ada sekitar 130 sekolah yang dikategorikan berdasarkan dengan jumlah murid internasional yang menerima financial aid. Ini menandakan bahwa ada banyak pilihan perguruan tinggi dan tentu saja kita bisa menemukan beberapa yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita. Sebuah website lain yang memberikan informasi mengenai financial aid adalah internationalstudent.com.

Website ini membagi sekolah-sekolah berdasarkan negara bagiannya. Website ini juga menunjukan jumlah murid internasional, jumlah financial aid yang diberikan, total biaya tahunan (total annual cost), dan jumlah rata-rata penghargaan financial aid (average size of financial aid). Negara bagian yang terkenal seperti New York, California, Massachusetts, dan Pennsylvania mempunyai banyak perguruan tinggi yang menawarkan financial aid ke murid internasional. Bagi yang mencari financial aid penuh, cukup amanlah saya katakan bahwa perguruan tinggi yang jumlah rata-rata financial aid-nya lebih dari setengah total biaya tahunan menawarkan financial aid penuh atau hampir penuh untuk mahasiswa-mahasiswi internasional.

Melanjutkan cerita…
Saat di Lafayette College, saya sudah mempunyai rencana untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat pasca sarjana. Karena tahu bahwa pengalaman riset adalah sebuah faktor penting dalam aplikasi nantinya, saya pun berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas riset sejak tahun pertama. Bermula dengan keterlibatan dengan Society of Environmental Scientists and Engineers (SEES), saya melakukan riset untuk mendeteksi kehadiran senyawa estrogen dengan metode yang organik. Saya juga mengikuti program Excel Scholars selama dua tahun yang memberikan kesempatan para mahasiswa untuk melakukan riset dengan professor kesukaannya. Dalam program ini, saya melakukan simulasi agen-agen transportasi. Pada tahun terakhir, barulah saya menulis tesis yang berkenaan dengan teknik struktur, program yang sekarang saya dalami di
Stanford University.

Saya melamar ke 9 perguruan tinggi di AS untuk belajar teknik struktur pada tingkat pasca sarjana di departemen teknik sipil. Dari ke-9 ini, tiga perguran tinggi tidak memberkan financial aid, jadi sudah pasti saya tidak dapat  melanjutkan pendidikan saya di sana. Akhirnya saya memilih Stanford University karena pada saat mengunjungi perguruan tinggi ini, saya sangat terkesan dengan kampusnya yang indah dan tertata dan juga budayanya yang mendukung semangat kewiraswastaan.

Untuk dua tahun pertama, saya mendapat financial aid dalam bentuk fellowship. Fellowship ini tidak lain adalah beasiswa atau scholarship yang diberikan oleh pihak sekolah untuk memungkinkan siswa-siswinya belajar di sekolah itu. Dari mana datangnya dana ini? Kebanyakan dana ini berasal dari sumbangan alumni-alumni yang sudah sukses dalam karir mereka. Untuk Stanford University, beberapa alumni-alumni ini adalah nama-nama besar seperti Sergey Brin dan Larry Page (pendiri Google), Jerry Yang (pendiri Yahoo!), dan William Hewlett dan David Packard (pendiri Hewlett-Packard).

Fellowship yang saya terima untuk dua tahun pertama ini dinamakan School of Engineering Fellowship. Di akhir tahun kedua, saya mendapat gelar Master of Science (M.S.). Saya juga mempunyai kesempatan untuk mencari dana tambahan untuk membiayai pendidikan saya pada tahun-tahun mendatang. Saya berhasil memperoleh sebuah fellowship lain yang dinamakan John A. Blume Fellowship yang berasal dari seorang alumni Stanford, John A. Blume, di bidang teknik struktur yang telah sukses di masa lalu. Pendidikan saya juga dibiayai dengan Teaching Assistantship (TA) untuk beberapa quarter (caturwulan) dimana saya membantu profesor saya dalam pengajaran sebuah kelas. Fellowship kedua yang saya dapatkan memungkinkan saya belajar selama dua tahun lagi.

Karena pendidikan pasca sarjana (M.S. & PhD) biasanya memakan waktu 5 tahun, saya memerlukan dana untuk satu tahun terakhir, dan saya prediksikan dana ini akan datang dari Research Assistantship (RA) dari profesor saya. Informasi mengenai Research Assistantship dapat dilihat dari sebuah tulisan saya lainnya (http://indonesiamengglobal.com/2012/03/research-assistantship/). Tulisan Andhika Sahadewa juga mengulas dengan rinci bagaimana caranya memperoleh financial aid atau financial support ini.

Yang mau saya tekankan di sini adalah pengalaman riset saat mendalami S1 (undergraduate study) dapat sangat membantu dalam aplikasi pendidikan pasca sarjana. Apakah riset ini berhubungan dengan bidang studi pada tingkat pasca sarjana tidaklah menjadi masalah. Yang penting adalah sudah ada beberapa tahun pengalaman riset.

Kesimpulan dari perjalanan saya ini sejak dari Singapura adalah pencapaian itu dikumpulkan secara bertahap, satu demi satu. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit; inilah yang saya percayai. Kalau saya tidak pergi ke Singapura, sudah tentu tidak semudah itu saya dapat belajar di Amerika, dan jika saya tidak belajar di Lafayette College, sudah tentu tidak semudah itu saya bisa masuk Stanford University.  Tentunya kita semua akan mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, tapi proses yang kita lalui itu mempunyai kesamaan. Perjalanan kita ini adalah ibarat sebuah tangga. Melompat dari lantai pertama ke lantai kedua hampir adalah sebuah hal yang mustahil, tapi menaiki anak tangga satu demi satu akan membawa kita lebih dekat ke tujuan kita. Setiap anak tangga adalah sebuah batu loncatan ke anak tangga berikutnya dan akan membantu kita dalam perjalanan kita. Anak tangga ini adalah pencapaian kita. Sekecil apapun, ia akan membantu kita mencapai tujuan akhir kita. Semoga anda dapat  terinspirasi untuk memulai perjalanan dan mengukir sukses sendiri. Semua pertanyaan maupun komentar boleh dikirim ke email saya tjioemtn@gmail.com. Semoga sukses!

26 Komentar di Posting “Martin Tjioe: “Dari Medan hingga Stanford University”

  1. halo perkenalkan nama saya Tati…saya sangat berterimakasih sekali dengan postingan anda mengenai seluk beluk sekolah di luar negeri….kebetulan saya mau untuk sekolah di luar negeri…background pendidikan saya adalah S1 Hukum di universitas swasta di jogja(UII) dengan IPK yang sangat pas-pasan sekali IPK 2,99…
    menurut anda kalau saya mau melanjutkan kuliah pasca sarjana bisnis di amerika khususnya di universitas california yang terakreditasi..apakah saya bisa mempunyai kesempatan?kira2 menurut anda yang recommended universitas mana?mengingat IPK saya tidak bagus dan sekarang saya hanya seorang wiraswasta….fokus saya sekarang saya bisa diterima dulu disana dan untuk urusan biaya baru difikirkan belakangan..terimakasih…

    regards,

    tati

    • Halo Tati,

      Untuk ranking program MBA di AS, coba lihat link berikut ini:

      http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/best-graduate-schools/top-business-schools/mba-rankings

      Saya kurang tahu IPK apa yang merupakan IPK minim untuk sekolah-sekolah bisnis mengingat saya sendiri menekuni bidang teknik. Namun menurut pendapat saya jika anda sudah bekerja beberapa tahun, pengalaman kerja ini akan lebih dititikberatkan. Asalkan anda bisa menunjukkan bahwa anda mempunyai pencapaian yang gemilang saat menjadi wiraswasta, ini akan sangat membantu. Dan juga, usahakan untuk mendapat nilai standardized test yang tinggi. Ini adalah sesuatu yang bisa anda kontrol saat ini. Untuk sekolah bisnis, standardized test yang dipakai adalah GMAT atau GRE, tergantung sekolahnya.

      Semoga sukses!

  2. Terima kasih atas infonya, saya mahasiswa salah satu mahasiswi psikologi ptn islam di Riau, saya pengen banget untuk ngelanjutin pasca sarjana di LN, salah satuny USA. Saya saat ini sangat minder dengan kemampuan bahasa saya, terutama speaking and writing… Dan saya pengen, jika martin punya info pasca sarjana untuk psikologi yang recomended … Terimakasih banyak :)

    • Halo Fitri,

      Untuk program pasca sarjana di AS, ada baiknya anda langsung saja kunjungi website departemen psikologi di masing-masing sekolah yang anda inginkan. Semua sekolah AS mempunyai website yang komplit. Informasi aplikasi sudah pasti tertera di sana, berikut informasi mengenai financial aid. Untuk mencari tahu sekolah mana yang bagus dalam bidang psikologi, mungkin anda bisa meng-google ranking sekolah berdasarkan program psikologi.

      Mengenai Bahasa Inggris, ini memang adalah salah satu halangan terbesar untuk mahasiswa Indonesia. Tidak ada shortcut untuk ini, jadi anda harus berlatih banyak untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris anda. Semoga sukses!

  3. Halo kak Matin Tjioe, aku Angga Dwi Putra. Pertama aku bangga dengan anda kak bisa sekolah di PT no.2. ka Martin Tjioe aku masih semester 2 tapi keinginanku untuk melanjutkan jenjang S2 sangat besar. bolehkah kak Martin memberikan saran-saran dan motivasi supaya saya dapat mempersiapkan diri kelak kesana? Terima kasih. GBU.

    • Halo kak Matin Tjioe, aku Angga Dwi Putra. Pertama aku bangga dengan anda kak bisa sekolah di PT no.2. ka Martin Tjioe aku masih semester 2 tapi keinginanku untuk melanjutkan jenjang S2 sangat besar. bolehkah kak Martin memberikan saran-saran dan motivasi supaya saya dapat mempersiapkan diri kelak kesana? Terima kasih. GBU.

      • Halo Angga,

        Untuk ke S2,
        (1) prestasi akademik paling prioritas, jadi usahakan mendapat IPK yang tinggi.
        (2) Tahu pasti apa saja persyaratan yang diperlukan. Coba langsung setelah ini, masuk ke website departemen sekolah yang kamu idamkan. Cari tahu dengan jelas apa saja persyaratannya, karena beda jurusan, sekolah, atau negara, semua persyaratannya akan berbeda. Kalau perlu ambil standardized test seperti TOEFL atau GRE, jauh-jauh hari sudah lihat contoh soalnya, supaya persiapannya cukup. Kalau perlu surat rekomendasi, jauh-jauh hari sudah coba pikir apa yang bisa diperbuat supaya mendapat surat rekomendasi yang bagus. Ini adalah sesuatu yang kalau tiga bulan atau enam bulan sebelum deadline baru dipikirkan, sudah terlambat.
        (3) Riset: terutama di bidang sains & teknologi, pengalaman riset merupakan nilai plus.
        (4) Pengalaman kerja: dalam bidang yang cocok dengan jurusan yang mau diambil. Ini ‘optional’ tapi kalau ada merupakan nilai plus

  4. Hallo kak martin saya orang medan juga :) ,saya mau nanya kira” tips untuk belajar B.ingris secara efektif itu bagaimana?
    dan saat ini Aku duduk dibangku kuliah jrusan Pendidikan Ekonomi di sebuah Univ.Negri di medan.Aku ingin sekali melanjut ke Univ di luar negri,kra” jurusan apa yg cocok untuk lanjutan studi saia saat ini? please blas kak :’( complicated skali :’(

    • Belajar sebuah bahasa itu memang sangat susah. Yang paling penting adalah mempunyai motivasi yang kuat untuk mempelajarinya. Idealnya, kamu mempunyai seorang teman dekat yang hanya bisa berbahasa Inggris, dan mau tidak mau kamu harus menggunakan Inggris untuk bisa berkomunikasi dengannya. Mungkin kamu bisa mencari seorang penpal dari luar negeri yang memaksa kamu untuk berbahasa Inggris supaya bisa mengerti pembicaraan dan budayanya. Ini tidak saja akan memotivasi kamu belajar bahasa Inggris, tapi juga meningkatkan ‘mutual understanding’ antar sesama masyarakat dunia.

  5. Pingback: Beasiswa Bantu Wujudkan “Long Life Education” | Keina Tralala

  6. Hallo Martin

    Perkenalkan nama saya Juli. Saat ini saya sudah masuk semester akhir di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Riau. Apakah kesempatan untuk mahasiswa daerah seperti saya bisa untuk melanjutkan S2 di Amerika dan bagaimana kita bisa mengetahui skor TOEFL yang sesuai standar di kampus yang ada di Amerika mengingat di kampus saya skor TOEFL hanya berlaku untuk lokal saja da itu masih TOEFL prediction …Terima kasih…^_^

    • Kesempatannya pasti ada, tapi kamu harus benar-benar berjuang keras. Salah satu limitasi mahasiswa daerah adalah kurangnya fasilitas untuk bisa kompetitif di ajang internasional, tapi jika kamu berusaha kuat dan bersedia belajar sendiri di luar lingkup sekolah, saya percaya kamu akan bisa berhasil pada akhirnya.

  7. Hi, Kak.
    Sebenernya jika saya sekolah di Singapura, untuk tes SAT difasilitasi sekolah, atau tetap harus ambil SAT sendiri? Trims.

  8. saya adalah org yg sgt berambisi untuk kuliah diluar negeri,, saya sgt termotivasi dgn cerita anda, mksh
    jujur, untuk kuliah saja saya harus bekerja dulu,
    jadi bekerja sambil kuliah,, kira2 kalo dari perguruan tinggi swasta,, apakah bisa dpt beasiswa luar negeri ya :) ? mksh bang

    • Jadi untuk interview ini, cobalah untuk mempersiapkannya sebaik mungkin. Tujuan mereka adalah supaya para penerima beasiswa dapat sukses di sekolah Singapura. Jika mereka mendapatkan bahwa bahasa Inggris kamu tidak mencapai standar yang mereka inginkan, mereka mungkin meragukan apakah kamu bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah Singapura yang kompetitif.

  9. Halo ka martin, saya sekarang sedang kuliah di jurusan panas bumi semster 2. Saya ingin bertanya menurut kak bagaimana dengan biaya hidup sekolah di amerika? Untuk per bulannya kira kira standar berapa jumlah pengeluarannya? terima kasih

  10. Hallo Mas Tjioe

    untuk mendaftar kuliah di stanford bagaimana caranya ya? banyak orang bilang lebih baik daftar dulu baru diterima, nah saya tidak tahu cara mendaftarnya mas.. bolehkah saya meminta sedikit informasinya? terimakasih..

  11. Kak saya tinggal di kota kecil dg sedikit fasilitas les. Benarkah untuk ikut asean beasiswa sma singapore harus punya sertifikat o level dan a level. ? Kalau ya dimana bisa me perolehnya.makasih

  12. hi kak, aku ade. dari medan jga dan tahun ini aku baru tamat smk. niatnya aku mau lanjut kuliah tahun depan, karna sekarang aku ingin bekerja dulu. kak minta tips dan cara bagaimana kita bisa mendapatkan beasiswa keluar negeri . aku sama sekali belum paham tentang mencari beasiswa dan aku merasa minder dengan bahasa inggris ku gitu. mohon balasan dan motivasinya ya kak. terimakasih. horas :D

  13. Salam kenal mas martin tjioe.. Perkenalkan saya andro alumni dari pertanian unpad bandung.. Saya tertarik sekali dengan tulisan mas di website motivasibeasiswa.org tentang studi mas martin ke stanford university.. Saya juga punya mimpi yang serupa mas untuk melanjutkan studi s2 di stanford sloan school of business..

    Kalo boleh saya bercerita sedikit, 2 tahun ke belakang saat sedang kuliah saya sempat menjalankan bisnis di bidang jasa transportasi (travel) dan sekarang begitu saya sudah lulus saya sedang merintis/start up usaha di bidang pertanian.. Target 3-5 tahun ke depan saya punya mimpi untuk kembali melanjutkan studi s2 jurusan bisnis di beberapa kampus ternama dalam bidang bisnis di amerika (standford, harvard, pennsylvania, princeton, yale).. Tetapi dari sekian banyak persyaratan yang ada saya masih mempertanyakan seputar work experience dan score GMAT.. Adapun yang ingin saya tanyakan ke mas martin :

    1. Apakah pengalaman bisnis yang sudah dan akan saya jalankan nanti termasuk dalam kategori work experience yang sebagai salah satu persyaratan untuk mendaftar?
    2. Bagaimana cara belajar dan membagi waktu yang baik untuk saya persiapan s2 di jurusan bisnis selagi saya menjalankan bisnis start up?
    3. Boleh kah saya minta rekomendasi buku ataupun lembaga kursus yang bagus untuk persiapan TOEFL & GMAT?
    4. Beasiswa apa yang sekiranya bisa saya dapatkan (mayoritas mahasiswa indonesia yang kuliah s2 di stanford)? Adakah persyaratan khusus dari beasiswa yanh ditawarkan tersebut (misal : wajib menjadi founder dari social movement tertentu)?
    5. Boleh saya minta contact mas martin (FB, LINE, WHATS APP, WE CHAT, DLL) agar saya bisa bertanya lebih dalam dan cepat ke mas martin?

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, maaf jika saya mengganggu waktu mas martin..

    Salam
    Andro

  14. Hai Kak Martin. Saya farkhan masih kls 3 sma jakarta. Sya punya cita2 kuliah di mit. Saat ini saya sedang ingin daftar nus lalu s2 ke mit. Doakan ya kak makasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>