Dibaca: 13,924 kali    Komentar: 11  

Adeltus Lolok: “Tips buat Kamu yang ingin lolos Wawancara Beasiswa ke Australia”

Selamat! Bila Anda berhasil dipanggil untuk mengikuti wawancara beasiswa, berarti Anda telah menyisihkan ratusan bahkan mungkin ribuan pesaing Anda. Dalam posisi ini, kita perlu menyadari bahwa sponsor pemberi beasiswa telah melihat ‘sesuatu’ dalam diri kita (melalui lamaran yang dikirim), sehingga kitalah yang terpilih ke tahap wawancara, dan bukan orang lain.

Menurut pengalaman saya, saat dipanggil wawancara, Anda sebenarnya sudah memiliki peluang lulus 75%. Sisanya 25% Anda tentukan sendiri saat wawancara. Berikut ini adalah pengalaman saya menjalani wawancara beasiswa ADS bulan January 2011 lalu yang telah mengantarkan saya ke Universitas impian saya di University of Adelaide. Menghadapi wawancara, tentu diperlukan sedikit persiapan ekstra. Untuk wawancara ADS ada beberapa hal kunci yang ingin diketahui oleh pewawancara yaitu:

  1. Pemahaman kita tentang bidang studi yang dilamar dalam kaitan dengan
    pekerjaan/profesi yang sedang/akan kita tekuni.
  2. Motivasi dalam melamar beasiswa / bidang studi.
  3. Persiapan yang dilakukan selama ini.
  4. Seberapa penting peran kita di organisasi saat ini dan dimasa mendatang.
  5. Gambaran karir / peran dalam masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan
  6. Pengetahuan akan isu-isu internasional yang sedang hangat.

Sebagan besar poin di atas sudah kita tampilkan dalam lamaran. Pewawancara akan membuka lamaran kita saat mereka sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Karena itu, sangat penting untuk membaca kembali isi lamaran yang telah kita kiriman sebelumnya. Jangan sampai ada jawaban kita yang justru tidak sinkron dengan isi lamaran. Pun terkadang terasa sedikit menjengkelkan bila pewawancara seolah berputar-putar menanyakan hal yang sudah kita jelaskan. Seolah ingin menyudutkan dan mementahkan semua argumen kita. Tetap sabar, tenang, sampaikan lagi maksud Anda dengan penekanan poin-poin kelebihan yang sanggup memenangkan Anda.

Apakah bahasa Inggris sangat menentukan?

Pada tahap ini, saya menganggap bahwa pembaca artikel ini telah mencapai tahap TOEFL di atas 500 (persyaratan ADS). Bahasa Inggris memang penting tetapi bukan segalanya. Pun di tahap wawancara, Anda masih bisa menggunakan bahasa Indonesia. Pewawancara terdiri dari 2 orang. Satu orang adalah professor, perwakilan dari universitas di Australia dan satu orang lagi adalah orang Indonesia sendiri. Biasanya perwakilan Indonesia ini juga alumni dari Australia. Nah saat wawancara, sebaiknya Anda setenang mungkin. Bila kesulitan mengutarakan maksud karena lupa dengan kata yang pas, gunakanlah kata atau kalimat lain untuk menjelaskan maksud Anda. Bila memang kepepet sekali, gunakan bahasa Indonesia saja. Biasanya perwakilan dari Indonesia akan menjelaskan sama partnernya.

Memiliki nilai TOEFL / IELTS tinggi juga bukan jaminan kelulusan. Pintar berbahasa Inggris tidak selalu berarti cerdas bukan? Saya mengenal bebarapa teman dengan score TOEFL /IELTS yang sangat tinggi, yang sama-sama dipanggil ke tahap wawancara. Akan tetapi ternyata mereka kandas juga, dan justru ada kandidat dengan IELTS 4,5 – 5 ternyata berhasil memikat ‘juri’ dan mendapatkan beasiswa.

Di tahap wawancara, ditekankan bahwa ini bukan tes untuk mengukur kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Interview adalah adalah kesempatan terakhir bagi pihak pemberi beasiswa (dalam hal ini pemerintah Australia) untuk mendapatkan keyakinan bahwa mereka sudah memilih orang yang tepat. Karena itu, yang perlu disiapkan adalah jawaban-jawaban yang meyakinkan, yang menunjukkan bahwa Anda menguasai ‘masalah’, mengerti peran Anda dimasa mendatang. Intinya, Anda itu orang yang penting, sehingga pemberi beasiswa ‘harus’ memilih Anda, dan tidak memilih orang lain. Kesan inilah yang harus terlihat saat wawancara, bukan sekedar bahasa Inggris yang berbunga-bunga tanpa makna.

Khusus mengenai bahasa Inggris, bagaimanapun kita akan bersekolah dan tinggal di negara berbahasa Inggris. Jadi kemampuan berbahasa Inggris yang baik tentulah sangat penting. Bukan dalam rangka mencari beasiswa, tetapi untuk mendukung kelancaran kita menjalani studi kelak di sana (cieee….lulus nih..). Tidak perlu kursus-kursusan kalau memang tidak sempat kursus atau tidak punya duit (…seperti saya). Beli saja buku-buku TOEFL / IELTS yang bagus, lalu serius pelajari, praktekkan sehari-hari. Pasti berhasil kok. Lagi pula, bila berhasil lulus, bahasa Inggris kita masih akan dimantapkan melalui program EAP (English for Academic Purpose) di Jakarta dan Bali.

Targeted Candidates lebih diutamakan?

Beasiswa ADS memiliki 3 kategori utama yaitu Public (pegawai pemerintah, bumn), Open (masyarakat umum, swasta, NGO, dll), dan Targeted (kuota khusus). Bila Anda dicalonkan oleh kantor/organisasi melalui jalur Targeted, bersyukurlah. Mereka yang melalui jalur ini, sebetulnya memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan beasiswa ADS. Akan tetapi menurut pengamatan saya, keistimewaan jalur Targeted hanya terasa pada saat pelamaran. Sebagai kandidat dari jalur prioritas, lamaran Anda kemungkinan besar lolos ke tahap berikutnya yaitu tes bahasa Inggris dan wawancara.

Akan tetapi di tahap wawancara, posisi Anda sebagai kandidat prioritas menjadi sama saja dengan kandidat non prioritas. Kandidat non Targeted yang mencapai tahap wawancara, tentu saja bukan kandidat yang patut dianggap remeh. Karena itu, bagi pemegang kartu prioritas tetap harus mempersiapkan diri dengan baik untuk meyakinkan pewawancara bahwa panitia seleksi telah memprioritaskan orang yang tepat selama ini, dan layak untuk diberi beasiswa.

Bagi rekan-rekan yang masuk wawancara melalui jalur biasa, jangan berkecil hati. Peluang anda sama kok di hadapan pewawancara. Faktanya, dalam wawancara yang saya ikuti, saya mengenal beberapa kandidat dengan score IELTS / TOEFL tinggi, pun masuk melalui jalur Targeted dari salah satu kementerian, ternyata gugur juga di tahap wawancara. Masalahnya cuma satu, jawaban mereka tidak cukup meyakinkan bahwa mereka memiliki motivasi besar (dan benar) untuk menjalani program ini.

Bawa apa saja ke ruang wawancara?

Biasanya kita berpikir untuk membawa segala sesuatu dapat digunakan untuk mendukung argumen atau jawaban kita selama wawancara. Mungkin ada piagam, catatan prestasi, sertifikat dll. Untuk wawancara ADS, tidak perlu bawa apa-apa. Bawa diri saja beserta kepercayaan diri yang tinggi.

Wawancara ADS biasanya hanya berlangsung sekitar 15 – 20 menit saja. Waktu sesingkat ini harus dipergunakan sebaik mungkin untuk meyakinkan pewawancara. Jangan menghabiskan waktu dengan mencari-cari dokumen atau piagam-piagam di tas Anda. Lagian, ini kesan bahwa Anda tidak siap, masih nyari-nyari ‘senjata’ padahal Anda sudah di medan perang.

Kalaupun ingin membawa bukti prestasi, secukupnya saja, yang dianggap paling nge-jreng. Toh prestasi juga bisa disebutkan terlebih dahulu di form aplikasi sehingga pewawancara sudah mengetahuinya bahkan sebelum bertemu Anda.

Pemahaman Isu Internasional

Sebagai calon orang penting dimasa depan, Anda harus mengerti apa yang terjadi disekeliling Anda. Jangan sampai Anda begitu sibuknya fokus belajar bahasa Inggris sampai lupa menonton berita atau membaca koran. Lebih bagus lagi kalau membiasakan diri menyimak berita internasional melalui koran atau berita tv berbahasa Inggris. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pengetahuan dapat, bahasa Inggris mumpuni (maksa bangets ya…).

Bila menghadapi pertanyaan soal isu internasional, siapkan beberapa topik yang Anda kuasai dengan baik. Ada baiknya juga menyisipkan isu yang ‘dekat’ dengan pewawancara. Isu yang Anda yakini, juga diketahui dengan baik oleh pewaawancara. Misalnya saja, saat saya ditanya apa berita koran hari ini, waktu itu lagi hangat berita banjir di Australia. Saya kebetulan memang sangat suka isu lingkungan hidup, sehingga sangat ‘menguasai’ isu bencana Australia itu. Jadi saya bisa ceritakan kota-kota yang terkena paling parah, bagaimana upaya-upaya masyarakat secara swadaya menanggulangi bencana tersebut dan tindakan-tindakan penanganan yang dilakukan oleh PM Julia Gilliard untuk menangani bencana tersebut. Saat menyebut nama sang perdana menteri, Prof. John dari UTS yang mewawancarai saya mengangguk. Saya sangat lega karena – seperti saya sebut di awal artikel- sepanjang interview pewawancara sepertinya selalu mematahkan saya. Makanya anggukan Prof John itu serasa penuh arti, yang kemudian tersurat dalam pengumuman kelulusan sekitar 2 minggu setelah wawancara tersebut. Terkadang juga pewawancara ngomong seenaknya. “Tell me about Indonesia – China relation!” (misalnya).. Kalaupun tidak menguasai banget masalah yang ditanyakan, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk keliatan pintar. Gunakan teknik berkelit sedikit lalu berikan jawaban yang tidak terlalu jauh dari pertanyaan utama. Pewawancara sangat menghargai kejujuran.

Jangan Lupa Tinggalkan Kesan

Well,ini agak susah-susah gampang ya… Maksud saya begini. Anda bayangkan, hari itu ada 100 orang terbaik yang diseleksi dan hanya sekitar 15 orang yang akan diluluskan. Kalau semuanya kandidat sangat baik, faktor apalagi yang akan menentukan kegagalan dan keberhasilan seseorang? Menurut saya kesan pembeda, tentu saja kesan positif. Selain penguasaan masalah yang sudah diuraikan di atas, kesan ini bisa berupa ketenangan, senyum tulus, jawaban jujur tapi penuh motivasi, humor kecil, jabat tangan yang hangat, …banyak lagi kan?. Di ujung wawancaranya, teman saya dari Medan ditanya sama Professor pewawancara, “Do you have any question?” Bukannya menjawab serius, si teman menjawab, “So, where is the Qantas ticket, Sir.” Tentu saja bukan karena joke-nya teman saya ini lulus tetapi tanpa disadari terkadang hal-hal kecil yang tidak penting justru membantu kita mengingat bahkan menyukai seseorang bukan? Jadi teman-teman, sekali lagi percaya dirilah, dan persiapkan segala sesuatunya dengan baik. Sebelum masuk ruang wawancara pastikan dan yakinkan diri Anda, bahwa saat Anda berjalan meninggalkan ruangan nantinya, pewawancara mengatakan dalam hati mereka: Yess, itu dia kandidat yang tepat untuk beasiswa ini!

Demikian sharing singkat ini, silahkan dishare bila bermanfaat, dan selamat berjuang teman-teman semua. Setiap usaha pasti ada reward-nya. Jangan mudah menyerah ya. Sekedar informasi saja, ini aplikasi saya yang ke-5 ke ADS, dan merupakan interview saya yang pertama. Saya yang  rang kampung, gak pernah mampu bayar kursus bahasa Inggris -bisa, teman-teman sekalian pun pasti bisa. Caiyo…!

11 Komentar di Posting “Adeltus Lolok: “Tips buat Kamu yang ingin lolos Wawancara Beasiswa ke Australia”

  1. salam kenal bt mas lolok, thnks byk bt tipsnya yg sgt informatif bgi sy yg pemula. suatu sat sy pasti akan mendapatkan beasiswa dri Ads. meski melewati jln panjang. akan sy ladeni. sekali lgi thank you so much.

  2. terima kasih, ini sangat membantu saya dalam meningkatkan kembali keinginan dan usaha saya untuk bisa melakukan hal yang sama seperti yaang anda lakukan. selamat untuk kesuksesannya, doakan kami untuk bisa menyusul ke australia sana ya

Leave a Reply to Unhy Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>