Dibaca: 8,550 kali    Komentar: 9  

Khairul Rijal Djakfar :“SEMANGAT!,TOEFL DIBAWAH 500 BISA KULIAH DI LUAR NEGERI”

Nama saya Khairul Rijal, dalam bahasa Arab berarti “Laki-laki yang paling Baik”. Nama adalah do’a dan orang tua saya tentu berharap saya menjadi orang baik dan tentu juga bernasib baik. :-)

Sejak kecil saya ingin selalu ke luar negeri, waktu SD, di TVRI saya sangat suka film-film dari luar. Sehingga, sejak saat itu sudah tertanam dalam diri saya agar suatu saat bisa ke luar negeri.

Masalahnya adalah saya sangat malas belajar terutama Bahasa Inggris. Sejak SMP, Bapak saya telah membeli buku ENGLISH GRAMMAR agar saya rajin belajar dan dapat nilai tinggi. Namun lagi-lagi, karena malas saya tak sanggup menghafal dan mengingat-ingat Verb 1, 2, dan 3. apalagi jika menyusun kalimat/sentences dan structure. Pasti akan sangat kacau.

Disisi yang lain, aatu kebiasaan dan jadi hoby saya adalah sangat suka nonton film dan mendengar lagu-lagu barat (english, jadi walaupun saya tidak bisa menulis dan mempraktekkan Bahasa Inggris tapi saya tahu sedikit-banyak kosa kata/vocabulary karena hoby tersebut.

Dari TK sampai S1 orang tua membiayai saya kuliah. Tamat S1 saya lulus PNS di Kabupaten Aceh Timur. Sebagai daerah konflik saat itu, sangat tidak mudah bagi saya untuk belajar memperdalam Bahasa Inggris. Sambil bekerja saya terus mencari jalan mewujudkan impian ke luar negeri. Satu-satunya jalan yang saya lihat adalah dengan kuliah. Tentu saja, kuliah dengan mendapatkan beasiswa.

Tahun 2004 terjadi Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh. Sungguh meninggalkan luka yg mendalam. Saat itu banyak bantuan dari luar negeri datang dan salah satunya adalah beasiswa khusus bagi korban tsunami dan masyarakat Aceh. Saya mencoba mendaftar, baik itu IIEF, ADS, APS dan STUNED namun semuanya mensyaratkan TOEFL sementara saya tidak pernah tahu apa itu TOEFL dan bagaimana mengikuti tesnya. Sehingga saya gagal mendapatkan beberapa beasiswa tersebut.

Pada 2006 saya akhirnya mendapatkan beasiswa tugas belajar S2 ke UGM Yogyakarta, selama disana saya mengikuti tes TOEFL dan jadi paham apa itu TOEFL. Salah satu persyaratan wisuda adalah melampirkan hasil tes TOEFL, namun hasil saya tidak pernah mencapai skor 500. Saya beruntung saat itu tidak perlu harus skor 500 untuk bisa lulus dan wisuda.

Di tahun 2008 saya kembali berdinas di kantor dan sejak saat itu pula saya selalu mendaftar Beasiswa Pemerintah Aceh ke Luar Negeri. Lagi-lagi karena TOEFL saya tidak mencapai 500 maka saya selalu gagal tiap tahunnya.

Namun saya tidak menyerah, saya berpikir jika saya selalu gagal karena tidak bisa menaikkan TOEFL sampai 500 maka mengapa saya tidak mencari beasiswa yang bisa menerima hasil TOEFL saya. Akhir 2011, dengan informasi dari teman maka saya mendaftar untuk mendapatkan Beasiswa S2 (lagi) dari salah satu kampus di Taiwan. Akhirnya, Alhamdulillah saya lulus, walaupun hanya mendapat half-scholarship yaitu pembebasan biaya kuliah/tuition waiver dan asrama/dormitory. Sementara untuk biaya hidup mengandalkan tabungan dan berjualan voucher pulsa kepada teman-teman mahasiswa. Sedangkan gaji saya selaku PNS saya serahkan untuk istri yang tinggal bersama anak saya di Langsa.

Sekarang saya sudah masuk semester kedua dan Alhamdulillah nilai di semester pertama cukup bagus dan perkuliahan di Taiwan dengan Bahasa Inggris bisa saya ikuti dengan baik sambil berharap saat nanti mengikuti tes TOEFL lagi, nilai saya bisa mencapai tidak hanya 500 tapi sampai 600. Why not?

Saya yakin, walau TOEFL tinggi menjadi syarat utama kelulusan beasiswa tapi bukan berarti dengan TOEFL rendah kita tidak bisa kuliah di Luar Negeri.
Tetap semangat! Jiayooo!

Facebook: Khairul Rijal Djakfar

9 Komentar di Posting “Khairul Rijal Djakfar :“SEMANGAT!,TOEFL DIBAWAH 500 BISA KULIAH DI LUAR NEGERI”

  1. Mas Rijal perjuangan dan semangat anda untuk belajar sangat menginspirasi. Saya termasuk yang susah dapat skor 500 untuk toefl. Kalau bisa dishare nama beasiswa di taiwan yang mensyaratkan beasiswa dibawah 500 itu apa? Ada websitenya? Terimakasih banyak, dan semoga sukses dengan tugas belajarnya

  2. Salam Bang Rizal,

    tidak hanya nama yg sama, tp saya jg org Aceh. saya domisili di Banda Aceh. bekerja sbg PNS di badan ketahanan pangan Prov. Aceh. udah 3 thn saya usaha utk dpt beasiswa ke luar negeri sampai akhirnya saya putus asa dan mendaftar di pasca sarjana UNSYIAH. lagi2, kendala menghampiri. menpan mengeluarkan edaran bagi PNS yg sekolah S2 wajib yg berakreditasi B, sdgkan UNSYIAH akreditas C. utk mndapatkan beasiswa pemda IPK min 3. IPK saya hanya 2,6. pdhal sebelum PNS saya dipercaya utk bekerja di beberapa Institusi mulai dr BRR Nad-Nias, UN- FAO aceh hingga USAid Timika, itu menandakan bahwa saya bisa bekerja meski IPK rendah. mohon abang bantu saya mencari jalan keluar agar bs mendapatkan beasiswa di luar negeri di bidang perikanan/pangan.

    trimong geunaseh,

    Wassalam

  3. Saya mohon maaf blm sempat membalas komen dari sahabat MB. Info terkini, hampir semua beasiswa di Taiwan menyaratkanTOEFL min. 500. Jika ada hal bisa kita diskusi lebih lanjut boleh melalui email: khairulrijal@yahoo.com atau BBM 73fce251. Salam perjuangan!

Leave a Reply to Khairul Rijal Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>