Dibaca: 3,176 kali    Komentar: 4  

Sesulih Kapti Laras: “Finalement…la France! “

Sesulih Kapti LarasAll our dreams can come true if we have the courage to pursue them –Walt Disney

Sejak saya diterima di Program Studi Prancis Universitas Indonesia pada tahun 2008 lalu, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, “Suatu saat, saya akan ke Prancis”. Bagi saya, pendapat pribadi, agak “menyakitkan” sebagai mahasiswa sastra atau prodi asing kalau tidak ke negaranya langsung. Minimal sekali seumur hidup deh. Hehe Mimpi itu semakin menggebu-gebu, tumbuh berkembang setiap harinya. Bagaimana tidak? Setiap hari saya bersentuhan dengan Prancis entah itu bahasanya, sastranya, kebudayaannya, sejarahnya, bahkan sampai ke gastronomi, film, mode, dan parfum.

Di sela-sela pelajaran, para dosen saya yang rata-rata semuanya lulusan Prancis juga selalu bercerita segala tetek bengek kehidupan di Prancis yang kadang unik, aneh, ajaib, tetapi menarik untuk diselami. Terkadang saya iri melihat teman-teman sejurusan yang beruntung, ketika libur kuliah mereka berkesempatan mengunjungi Prancis. Melihat secara langsung apa yang selama ini ada di buku kuliah, merasakan jalan-jalan malam di jalanan elit Champs-Elysées, naik kereta cepat TGV, makan baguette dan croissant langsung di negeri asalnya. Begitu niatnya saya ingin ke Prancis, sampai-sampai teman-teman saya terheran-heran melihat kamar kosan saya yang isinya tempelan foto-foto landmarks populer di Prancis, serta berbagai jargon untuk memotivasi. Meski saat itu, saya belum tahu kapan dan bagaimana caranya. Namun, insya Allah, mimpi itu akan terwujud suatu saat nanti. Niat baik dulu yang penting.

Pada suatu waktu, ketika saya masih semester 4, jurusan saya berhasil membuat kerjasama program double-degree S1 dengan Université d’Angers, Prancis dengan program pembiayaan dari Beasiswa Unggulan Kemdikbud dan Beasiswa Pemerintah Prancis atau BGF. Jurusan yang ditawarkan adalah pariwisata. Program ini hanya diperuntukkan bagi 4 mahasiswa tingkat akhir atau semester 8 dengan IPK tertinggi dan berbagai syarat lain seperti skripsi, DELF level B2, TOEFL minimal 500, dan lain-lain. Jadi setelah menyelesaikan semester 8, mahasiswa kuliah lagi satu tahun di Universite d’Angers bersama mahasiswa sarjana tahun terakhir jurusan Pariwisata.

Dalam hati saya waktu itu, “ketika gilirannya angkatan saya nanti, sayalah yang akan kesana”. Apalagi, jurusan Pariwisata begitu menarik hati saya. Siapa sih yang tidak mau belajar pariwisata di salah satu negara dengan jumlah turis tertinggi di dunia? Sebuah negara dengan industri pariwisata yang begitu maju. Terdengar terlalu optimis dan seperti mimpi saat itu mengingat saya sama sekali belum mengantongi persyaratan-persyaratan yang diminta. Namun, toh masih banyak waktu tersisa untuk mempersiapkannya sembari menjaga IPK mengingat standar penilaian yang diterapkan di jurusan saya cukup tinggi dan lumayan strict.

Kemudian agar selalu ingat dan memotivasi, lagi-lagi saya menempel kertas di kamar yang isinya syarat-syarat beasiswa tersebut. Hehe. Saya memang hobi tempel menempel, sebagai motivasi, pengingat, dan insyaallah doa. Duh, ingin rasanya saya mencentang satu persatu persyaratan itu.

Seiring waktu berjalan, saya memupuk diri khususnya untuk ikut ujian DELF B2 dan TOEFL. Saya beranikan diri mendaftar ujian DELF B2 ketika saya semester 7. Antara yakin dan tidak yakin akan lulus, saya tetap memberanikan diri. Saya tidak mau kalah sebelum berperang. Setelah mendaftar, oke, mari kita berusaha. Kalau saya, saya tidak tertarik menyibukkan diri dengan ikut les atau kursus persiapan. Selain cukup mahal, saya juga mendapat mata kuliah kemahiran bahasa di kampus, dan saya juga terbiasa belajar otodidak sejak dulu. Maka saya mulai meminjam buku-buku latihan dari perpus, download mp3 dan video untuk latihan mendengarkan, membiasakan diri menulis teks dalam bahasa prancis setiap hari minimal satu untuk kompetensi menulis, dan juga untuk kompetensi oral, saya mencoba berbicara dengan Bahasa Prancis dengan diri sendiri, entah itu curhat, menanggapai suatu topik, dan lain-lain yang kemudian saya rekam.

Alhamdulillah , saya lulus. DELF B2 ini sangat penting karena sebagai modal utama dapat mengikuti perkuliahan yang dalam Bahasa Prancis nantinya. Kemudian, ketika tiba saatnya saya semester 8, saya masuk sebagai kandidat penerima beasiswa double-degree tersebut. Senang sekali saya ketika pertama kali diumumkan oleh dosen. Rasanya saya sudah bisa melihat ujungnya Menara Eiffel. Iya, baru ujungnya karena status saya masih sebagai calon penerima beasiswa. Masih ada persyaratan yang lainnya. Namun saya semakin bersemangat memehuninya satu persatu. Ada kepuasaan tersendiri ketika kita berhasil menaklukannya.

Di tengah-tengah skripsi yang juga menyita waktu dan perhatian, saya ikut tes TOEFL, membuat artikel dan mengirimkannya ke berbagai surat kabar sebagai syarat Beasiswa Unggulan, serta mengurusi LoA dengan pihak kampus di Prancis . Saya tempelkan kertas di kamar saya saat itu ¨Go to France, September 2013 !¨ lengkap dengan Menara Eiffel dan bendera Prancis yang saya gambar sendiri.

Alhamdulillah, tidak jarang, teman-teman yang main ke kos an selalu mengamini. Hehe. Ketika semua syarat terpenuhi, dan saya mendapat LoA, saya merasa this is my time!. Insya Allah saya berangkat jika urusan administrasi dan tetek bengek persiapan lainnya lancar. Maka saya bolak-balik ke Kemdikdub mengurus berkas Beasiswa Unggulan, ke Kedutaan mengurus BGF, mencari tiket pesawat murah mengingat tiket PP ditanggung pribadi, mencari sendiri tempat tinggal selama disana nanti dengan mengontak lewat email, dan urusan-urusan lainnya.

Lelah, menguras tenaga dan waktu, tetapi saya benar-benar menikmati semua proses tersebut. Meski terkadang ada sedikit masalah di sana-sini, tetapi memang inilah prosesnya. Lumayan lah buat latihan hidup di Prancis yang terkenal dengan administrasinya yang cukup rumit.

So, ketika pesawat saya mendarat mulus di Bandara CDG Paris, ketika saya menghirup udara musim gugur Prancis untuk pertama kalinya, subhanallah, mimpi saya terwujud. Satu tahun petualangan saya di Prancis, membuktikan dan lebih mendalami apa yang saya pelajari di kampus, menemukan sisi-sisi lain Prancis, menemukan hikmah, ilmu, dan pengalaman. Selalu terkesan seakan tak percaya kalau kanan-kiri saya orang Prancis dan berbicara bahasa Prancis. Satu hal yang ingin saya lakukan dari dulu dan telah saya lakukan, menenteng dan mengempit baguette atau roti Prancis yang panjang, sambil jalan santai, di negara asalnya. Menurut saya, itu khas Prancis banget dari dulu sampai sekarang!.

Semoga bermanfaat, semangat untuk semuanya! *Saya baru saja kembali ke tanah air. . :-) . Saya bertekad akan kembali lagi ke sana tahun depan untuk S2 karena saya ingin lebih mendalami apa yang saya pelajari selama setahun kemarin. Impian saya sekarang (mumpung mimpi masih gratis), menimba ilmu di Université Paris 1 Pantheon-Sorbonne dengan spesialisasi pembangunan dan pengelolaan daerah turistik. Mari berburu beasiswa lagi!

4 Komentar di Posting “Sesulih Kapti Laras: “Finalement…la France! “

  1. Pengeeeen…… !!! Juga lah ke Prancis to study there. Sepertinya saya harus bekerja keras yang kuat sama seperti yang kamu lakukan. Saya minta do’akan ya..?? My dream will come to in the next year.. Thank a lot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>