Dibaca: 3,167 kali    Komentar: 4  

Rumaisah:”Perjuangan dan Asa menuju Negeri Seribu Benteng”

Beasiswa MarokoTermenung. Pandanganku kosong. Suasana sericuh apapun, pramugari se-aduhai apapun, tetap tak terusik. Bahkan ketika pramugari bertanya “rice or noodle?”, hanya sedikit tersentak, menjawab seadanya, tak peduli apa yang ia lakukan pada meja pesawat di depanku, dan kembali pada lamunanku. Masih tak percaya bahwa kini kakiku tak lagi menyentuh tanah air. Terbang dalam pesawat. Menatap kosong layar hiburan didepanku, tanpa menghiraukan suara yang keluar dari headset yang aku kenakan. Ingatanku berputar, berhenti pada perpisahan bersama bapak dan ibu di Bandar Udara Juanda. Pertemuan terakhir kami, jabat tangan terakhir, dan kecupan terakhir sebelum perantauan ini dimulai.

Beliau hanya mengantarku sampai di Juanda,  tak ada biaya untuk tiket pulang pergi dari Surabaya menuju Jakarta dan kembali ke Surabaya lagi. Sedih sekali, melihat kawan-kawan lain menyaksikan lambai dan senyum terakhir keluarga mereka hingga menjelang keberangkatan, dan disaksikan kepergiannya.

Sedikit terusik dengan peristiwa itu, kuputar kembali ingatanku. Lama. Jauh. Pada peristiwa sekitar setengah tahun silam. Jumat, 24 Mei 2013. Pengumuman hasil ujian nasional untuk tingkat SMA/MA sederajat, dimana konflik batinku dimulai. Sedikit menyesal karena aku pernah berjanji akan mengikuti tes Azhar bila SNMPTN tidak lolos. Sedangkan 46 koma sekian bukan nilai yang cukup bagus untuk persyaratan masuk jurusan pendidikan dokter yang ‘terpaksa’ aku pilih.

Bingung bukan main. Mengingat Azhar yang menuntut bahasa arab, insya’, dan hafalan quran minimal 2 juz, dan aku yang memfokuskan diri pada eksak beberapa waktu terakhir karena bapak ingin aku jadi dokter sebelum berubah pikiran menerjunkanku di dunia agama. Sehingga aku tak begitu serius mempelajari pelajaran-pelajaran agama di pesantren. Hanya beberapa yang aku sukai dan yang setidaknya keluar di ujian akhir. Galau. Bingung bukan kepalang.

Akhirnya aku sadar, bahwa hanya Allah yang dapat menjawab kebingunganku saat itu, dan yang membuatku teringat, bahwa aku pernah mendapat ‘bayangan’, yang kuanggap sebagai jawaban istikhoroh tentang kelanjutan pendidikanku. Bayangan yang kudapat di kendaraan sepulang tryout akbar di Pacet. Bayangan tentang bandar udara, bapak, ibu, kakak laki-laki satu-satunya, keluarga, sahabat, orang-orang terdekat, koper, paspor, tiket, jadwal penerbangan, ruang tunggu, boarding pass, pesawat. Bayangan yang benar-benar membuatku menangis. Bayangan yang membuatku yakin, bahwa memang begini jalannya. Menata niat, mengurus semua berkas, dan mengikuti bimbingan dari pesantren.

Awal Juni 2013. Aku ingin fokus. Aku harus benar-benar fokus menjalani bimbingan dari pesantren sebelum seleksi Azhar ini. Aku memutuskan untuk pindah kamar dan berpisah dari kawan-kawan seangkatan. Hari ini aku mengurus izin pemakaian ruangan kosong untuk kutinggali bersama seorang lain yang baru kukenal, dan bertujuan sama denganku. Bimbingan sebelum tes masuk Azhar.

Setelah mendapat izin, kami mulai bersih-bersih dan berbenah. Menyapu lantai, membersihkan kipas angin, dan memasang alas tidur agar tidak kedinginan. Memindah pakaian, buku dan kitab, serta peralatan lainnya. Dan terakhir, menempel kalender buatan di salah satu sudut ruangan, menghiasinya dengan tulisan Azhar, melingkari rencana awal tanggal tes (sebelum diundur ke awal Juli, lalu diundur lagi ke pertengahan Juli), 29 Juni 2013.

Hari demi hari kami lewati dengan menjalankan jadwal bimbingan di pesantren dengan penuh semangat. Berawal dari pagi, bimbingan insya’-imla’, lalu setoran Quran, belajar nahwu-shorof, sore belajar hadits, hingga malam tiba, belajar bahasa Arab fusha dan amiyah Mesir. Hingga malam pun, kami tetap bersemangat. Mengerjakan tugas, saling memberi inspirasi, saling mengingatkan, menghafal ayat demi ayat. Kami melakukannya bersama.

Tetap tinggal di pesantren hingga setelah haflah akhirussanah pertengahan Juni silam. Setelah semua pergi, hingga pesantren ramai kembali ketika ramadhan tiba dan para santri baru memulai kegiatan belajar mengajar. Kami bertahan dan tetap tinggal, menahan rasa rindu pada keluarga di rumah demi cita-cita kami, demi masa depan pendidikan kami, Al-Azhar Asy-Syarif. Semangat menggebu-gebu. Hingga suatu kabar yang membutakan segala harap….

Beberapa hari menjelang tes, semangat kami malah menurun. Kami mendengar kabar angin (yang akhirnya jelas) tentang pembatalan tes yang konon dikarenakan situasi Mesir yang sedang labil. Di samping itu, kami tak punya “cadangan” kuliah di Indonesia. Gelisah, kecewa, galau. Masa depan suram. “Setahun bakal nganggur”. Pikiran negatif mengganggu. Harapan menggali ilmu di universitas tertua kedua di dunia mulai memudar. Bahkan, kuliah tahun ini rasanya belum pasti juga. Bimbingan seperti tiada dengan sendirinya. Kami sudah malas. Ini semua seperti pemberian harapan palsu. Seperti tiada arti perjuangan kami menetap disini berbulan-bulan. Menahan rindu dengan keluarga di rumah. Menahan rasa malu ketika yang lain berbicara tentang daftar ulang dan ospek. Apalagi ketika bertemu adik kelas dan ditanya, “keterima dimana mbak?” atau “ngapain mbak kok masih disini?” bahkan yang paling menyakitkan, “nggak jadi ke Mesir ta mbak?”. Jleb. Aku hanya bisa tersenyum, kemudian menjawab seadanya dan sedikit berbohong. Berharap tiada yang mengerti.

Tengah hari di pertengahan Juli 2013. Ada kabar bahwa pendaftaran beasiswa studi S1, S2, dan S3 ke Maroko telah dibuka, alhamdulillah aku diberi kesempatan mengikutinya. Tanpa membuang waktu karena berita datang sangat mendadak, kuhubungi orangtua di rumah untuk meminta izin dan persetujuan. Setelah disetujui, keesokan harinya kami mengurus segala persyaratan. Semuanya sudah di tangan, kecuali TOEFL yang tak pernah kutau seperti apa sebelumnya.

Berbekal basmalah dan sholawat, dengan izin Allah, alhamdulillah semuanya lancar. Tiada kekurangan, dan tepat waktu pengumpulan berkas-berkas persyaratan. Kami iringi pengiriman berkas itu dengan doa. Beberapa pekan menjelang idul fitri, kami meminta izin untuk pulang ke rumah kami, karena semua urusan sudah selesai dan pembatalan tes Azhar sudah jelas. Bahagia bukan main. Senang bukan kepalang. Hari yang kami tunggu-tunggu. Pulang. Bertemu keluarga, melihat senyum bapak-ibu.

Tak berhenti mengiringi perjalanan berkas dengan doa. Hari demi hari berlalu tanpa kabar pengumuman. Tiada yang kulakukan di rumah. Hari-hari berlalu begitu saja dengan penuh rasa cemas, gelisah, khawatir, galau. Kawan lain sudah sibuk dengan registrasi dan tugas-tugas orientasi mereka. Artikel, tanda pengenal, ah, apalah itu. Sedangkan aku? Belum jelas kemana arahnya. “Kalau ini nggak keterima…. Ahh… mau jadi apa aku? Masa depan ngga jelas. Mau jadi pengangguran di rumah? Belajar jadi ibu rumah tangga? Lalu apa gunanya aku sekolah? Astaghfirullah… tenangkan hati hamba Ya Rabb…”.

Terkadang, terlintas sedikit penyesalan atas semua yang telah terjadi. Semua kerja keras ku selama ini, rasanya sia-sia….. Sempat terpikir, jika aku tak diterima, menimba ilmu lagi, mengulang pelajaran, belajar di pesantren salaf sambil menghafal ayat demi ayat al-quran, dan ikut tes Azhar tahun depan. Ya, itu jalan satu-satunya. Benar-benar menjadi beban. Hingga suatu hari…… Telepon genggam ku berdering. Ada telpon! Nomornya asing. Aku takut mengangkatnya. Lagipula, handphone-ku sudah error. Suara dari seberang terdengar, namun suara dari handphone-ku tak sampai ke seberang. Kubiarkan saja berdering. Hingga sampai satu pesan teks. “Ica, telpon masuknya diangkat ya, ini Pak Firman. Penting!”. Kujawab jujur saja. “Maaf ustad, handphone saya rusak, ngga bisa dipake nelpon, ada apa ustad?” “Oh, yaudah ngga papa.. Ica, alhamdulillah, insyaallah kamu keterima di Maroko, sekarang juga ke pondok ya Nak…”

Jleb! Percaya tidak percaya, sore itu juga, aku meluncur menuju pesantren. Dengan hati berdebar, memenuhi perintah, melawan arus menyusuri jalan, menemui menantu Abah di rumah beliau. Setelah beberapa lama berbincang, aku benar-benar speechless. Antara senang, haru, bingung. Batas pengumpulan paspor dan sebagainya hanya terhitung jari. Ini bukan mimpi, kan??… Inilah malam yang ditunggu-tunggu. Jawaban yang kutunggu. Allah Maha Adil, penantianku selama ini. Segala puji bagi Allah… Aku siap dengan berkas-berkas di tangan. Pagi ini, kami mulai mengurus kelengkapan administrasi yang dibutuhkan. Hari ini ditemani seorang Ustad utusan pesantren, kami menuju kantor imigrasi untuk mengurus paspor. Panasnya Kota Surabaya-Sidoarjo siang hari di bulan Ramadhan ini, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan semangat kami yang menggebu. Aku dan bapak. Beliau rela menyampingkan urusan pekerjaan beliau demi anak perempuan beliau satu-satunya ini.

Setelah menjemputku di pesantren, kami langsung meluncur menuju kantor imigrasi di Waru, Sidoarjo. Alhamdulillah semua lancar. Hanya satu kendala. Aku belum punya Kartu Tanda Penduduk. Persyaratan lain, bisa dengan paspor dan buku nikah kedua orangtuaku. Alhamdulillah, bapak-ibu punya paspor. Saat itu juga, bapak kembali ke rumah. Menyusuri macet dan panasnya Sidoarjo siang hari dalam keadaan berpuasa Ramadhan. “Lindungi beliau selalu Ya Allah…”

Keesokan harinya, mengurus surat keterangan catatan kepolisian. Kami berangkat sejak pagi, tujuannya agar segera selesai. Pertama, Aku dan bapak pergi ke Polsek Genteng di Surabaya, karena kartu keluarga masih Surabaya, meskipun kami sudah bermukim di Sidoarjo. Tapi kami malah disuruh ke Polres Surabaya, mungkin mereka tidak berani mengeluarkan surat tersebut karena tujuannya untuk dibawa sampai luar negeri. Tak mau memperpanjang urusan, kami langsung pergi ke kantor Polrestabes Surabaya yang kebetulan tidak jauh dari Polsek Genteng. Sesampainya disana, kami melakukan segala prosedurnya. Antri di loket, mengisi angket, cap sidik jari, menyerahkan berkas, hingga membayar biaya administrasi. Setelah selesai, ternyata kami hanya mendapat sebuah surat, yang harus kami sampaikan ke kantor polda, dan SKCK tersebut Polda yang akan mengeluarkan.

Sedikit kecewa karena kukira ini semua selesai dan hari sudah siang. Tanpa basa-basi, dan karena mengejar waktu kami langsung ke Polda Jawa Timur yang alhamdulillah letaknya di Surabaya. Setelah SKCK selesai tanpa kendala, kami pergi lagi ke kantor imigrasi untuk mengambil paspor. Setelah itu, aku diantar kembali ke pesantren untuk mengantar berkas.

Malamnya, aku membuat surat kesehatan di klinik umum pesantren. Semua berkas yang besok akan dikumpulkan ke Jakarta sudah di tangan. Lega rasanya. Sangat. Masih Agustus. Awal Agustus Hari Raya Idul Fitri. Masih menanti kabar tentang keberangkatan ke Maroko. Yang miris lagi, ketika berkunjung atau dikunjungi saudara, malu sekali rasanya, jika ditanya kelas berapa atau kuliah dimana, atau saudara yang sudah tahu, bertanya “Kapan berangkat?” malu sekali, membayangkan kalau itu semua batal. Kasarannya, nggak jadi ke Maroko. Dalam hati sebenarnya aku juga ragu. Kalau pun nggak jadi berangkat, ya sudah, mondok lagi. Nunggu tahun depan. Pasrah. Menunggu yang belum pasti. Seperti yang lalu, ketika menunggu pengumuman sebelumnya. Menunggu yang belum pasti, selalu membuatku gelisah.

Setelah dirasa cukup liburanku di rumah, beberapa hari setelah Idul Fitri aku kembali lagi ke pesantren. Ada bimbingan persiapan sebelum ke Maroko, katanya. Berangkat ke pesantren, aku tinggal numpang di kamar adik-adik kelas yang tahun lalu sekamar denganku. Tiada pilihan lain. Hanya tinggal mereka yang dekat denganku. Satu hari, dua hari, satu pekan. Bimbingan belum dimulai. Tiada yang ku kerjakan disana. Ditambah lagi, jika tak sengaja bertemu adik-adik kelas dan (lagi-lagi) mereka bertanya, “loh, mbak, kok masih disini? Ngapain mbak disini? Nggak jadi ke Mesir ta?”. Dan yang lain, yang tak punya keberanian bertanya, hanya menatapku dengan tatapan aneh, heran, dan sedikit sinis, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yang jelas, semua itu menyakitkan. Menyedihkan. Menjadi beban. Untuk kembali ke rumah pun, terlalu merepotkan.

Sungkan kalau ndak izin dulu sama Ning, yang memintaku tinggal di pesantren untuk bimbingan. Meski bebas izin untuk keluar pesantren, mau keluar pun bingung. Aku disini sendiri. Sampai akhirnya ku pernah nekat keluar pesantren, sekadar jalan-jalan berkeliling. Sendiri. Menikmati kesendirianku. Dari sinilah, aku punya sedikit jiwa “nekat” pergi kemanapun sendiri. Berbekal doa dan ayat kursi. Hari demi hari berikutnya. Masih belum ada bimbingan.

Badanku sudah semakin tidak sehat. Mungkin sedikit kaget dengan kebiasaan tidur di rumah dan di pesantren yang berbeda. Diawali dengan batuk-pilek, hingga pada klimaksnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Terbujur lemas. Berdiri saja susah. Minum obat sudah, namun tak membaik. Rasanya belum pernah aku sakit hingga berhari-hari seperti ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengabari ibu di rumah, meminta tolong untuk memintakan izin kepada ‘Gus’ (suami ‘Ning’ yang mengurus semua ini dan memintaku untuk tinggal di pesantren karena bimbingan) untuk pulang, karena disini tidak ada yang merawat. Adik-adik kelas sedang sibuk dengan sekolah mereka. Aku tak mau merepotkan.

Setelah mendapat izin dengan syarat akan kembali jika sudah sehat, aku menulis secarik kertas, permohonan izin, maaf, dan terima kasih kepada adik-adik kelasku yang sudah menampungku beberapa pekan terakhir. Kuselipkan di jendela kamar mereka. Di rumah pun, aku tetap komunikasi dengan teman yang akan ke Maroko dan sedang di pesantren. Muhib. Menanyakan apakah bimbingan sudah dimulai, dan kabar apapun yang menyangkut keberangkatan kami.

Dan setelah badanku membaik, aku kembali lagi ke pesantren. Kembali ke kamar yang sebelumnya aku ‘tumpangi’. Baru saja menginjakkan kaki disana, tiba-tiba telepon genggam ku berdering. Ning menelpon. Dan ternyata, itulah jawaban atas penantianku selama ini. Aku masih belum percaya. Apa ini nyata? Ya. Aku tak bermimpi. Ning menyuruhku pulang untuk menyiapkan barang-barang yang diperlukan karena Ahad depan sudah take-off dari Soekarno-Hatta. Kurang dari tujuh hari.

Tanpa berlama-lama, aku menghungi bapak, mengabarkan apa yang baru saja ku dengar. Ba’da maghrib, aku kembali ke rumah. Hari demi hari, koper mulai penuh. Satu demi satu keluarga dekat di Surabaya hingga Sidoarjo sudah dikunjungi untuk berpamitan. Waktuku di Sidoarjo tercinta ini semakin sempit. Tiada waktu lagi untuk berkeliling daerah Sepanjang yang baru kutinggali (kurang lebih) dua tahun terakhir dan akan kutinggalkan dalam waktu dekat. Dan tiada kusangka, kini aku berada bersama putri-putri orang hebat, bersama saudara-saudara baru, calon orang hebat kelak. Dalam sebuah kapal terbang dari maskapai penerbangan “Qatar Airways”, menggenggam tiket ke luar negeri pertamaku, dan paspor pertamaku. Dalam perjalanan menuju negeri seribu benteng, yang tak pernah kuimpikan dan kubayangkan sebelumnya. Rencana Allah memang yang terbaik. Bukan yang kita inginkan, tapi yang kita butuhkan. God always know the best for us.

4 Komentar di Posting “Rumaisah:”Perjuangan dan Asa menuju Negeri Seribu Benteng”

  1. Subhanallah,,,sungguh merasa terenyuh dan takjub atas perjuangan & pengorbanannya dalam menuntut ilmu,,, semoga menjadi orang sukses…amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>