Dibaca: 3,504 kali    Komentar: 4  

Arief Budhi Dharma: “Dari GN-OTA sampai Beasiswa DIKTI”

Sejak kecil saya bermimpi enak menjadi guru, satu profesi yang mulia. Tapi apa bisa? saya hanyalah anak seorang petani penggarap di Jawa Tengah. Keluarga kami pun buta huruf, hanya dua kakak perempuan yang berhasil menempuh SD. Terus bagaimana dengan saya, sebagai anak lelaki yang tidak mungkin akan terus menjadi petani. Bukan karena fisik yang lemah, tetapi bagaimana untuk masa depan keluarga kami? Kalau Tuhan sudah berkehendak, percayalah hidup, mati dan jodoh sudah digariskan sebelum kita lahir.

Awalnya ada salah satu anak dari tetangga yang kaya raya di Jakarta, mencari pembantu. Orang bijaksana tersebut membawa saya ke Jakarta untuk menjadi pembantu. Namun saya meminta untuk diperbolehkan sekolah. Rutinitas pembantu okelah, capek. Tetapi akan senang apabila hati ini nyaman dan dihargai tanpa dibuli. Dua Tahun bertahan menjadi pembantu, akhirnya kesabaran roboh dan goyah menjadikan saya harus kembali ke kampung halaman.  Untuk terus mencari uang dengan berbagai rintangan akhirnya bisa membuka warung dan setelah 1 tahun berjalan bisa digunakan untuk saku ke Jakarta. Inilah kenyataan hidup yang benar tidak bisa dilupakan, kehabisan uang harus tinggal di Terminal Pulo Gadung selama 2 hari 2 malam, untung tidak menjadi “gembel”.

Saya berhasil bangkit dari keterpurukan dengan jalan menjadi kenek Bus Mayasari Bakti. Karena itu bukan dunia saya yang harus bekerja keras (otot), akhirnya supir bus kasihan dan memberi pekerjaan lain di tokonya. Tak bisa dilupakan selanjutnya ketika tiba-tiba datang ke Kemendibud, mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Alhamdulilah berkat seorang yang baik hati, diantar saya ke Kementerian Sosial untuk mendapatkan orangtua asuh (tempat tinggal) dan Direktorat Pendidikan Dasar/Menengah Kemendikbud (biaya hidup dan buku serta sekolah).

Banyak pembelajaran dari semua itu, yang akhirnya saya bisa menyelesaikan SMP, SMA dan Sarjana. alhamdulillah sekarang saya menjadi dosen sehingga mendapatkan beasiswa DIKTI untuk Magister Hukum. Untuk menunjang kualitas diri, agar pengabdian sempurna di bidang hukum dan ekonomi, saya terus mengasah diri melanjutkan kuliah lagi. Saat ini saya tercatat sebagai mahasiswa Doctor of Philosophy University of Malaya, Malaysia. Dan sedang mengajukan beasiswa untuk Program Beasiswa Unggulan. Inilah satu harapan dan cita-cita bahwa setiap usaha yang kita perjuangkan apabila ditekuni, diniati dan ikhlas akan membawa manfaat buat semua. Rahasia dari keberhasilan pendidikan adalah DISIPLIN WAKTU. Ini yang membawa saya di usia 30an sudah menyelesaikan 2 sarjana, 1 profesi dan hampir 4 master serta 1 doktor. Untuk semua itu saya abdikan demi bangsa, negara yang telah memberi peluang bagi saya. Karya saya adalah pengabdian yang loyal bukan komersial, sehingga Insyaaloh setiap saya mengajar belum sepeserpun mau menerima honor, karena ilmu yang bermanfaat akan membawa kita ke surga. Amin. Semoga motivasi ini membawa manfaat buat adik-adik yang pernah putus sekolah, ayo bangkit belajar dan terus mencari kesempatan untuk memperbaiki diri menuju keberhasilan dunia dan akhirat.

4 Komentar di Posting “Arief Budhi Dharma: “Dari GN-OTA sampai Beasiswa DIKTI”

  1. luar biasa perjuangan anda, saya sangat termotivasi setelah membacanya. Impian yang dibarengi dengan keikhlasan dan kesabaran, serta ketekunan adalah kunci keberhasilan itu yg saya dapatkan dari tulisan anda. Saya juga anak seorang petani yang bercita-cita menjadi dosen dan peneliti. Saat ini saya berjuang di Jakarta utk mwjudkan impian saya itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>