Dibaca: 5,283 kali    Komentar: 10  

Novik Kurohman: “Hidup Itu Pilihan”

???????????????????????????????Ting-tung suara khas android phone berbunyi di siang hari, suhu di luar kamar menunjukkan 5 C. Setelah 2 bulan lamanya kakiku menapak di kota asalnya “Mercedez-Benz”, King Abdulaziz University mengirimkan emailnya “Selamat anda diterima di King Abdulaziz University under Deanship Graduate Scholarship (DGH). Antara gembira atau bersedih pada akhirnya, dengan berat hati saya tolak tawaran beasiswa tersebut.

Terlahir di Ibukota Kalimantan Tengah-Palangkaraya, saya habiskan masa kecil sampai SMA dikota yang dibelah oleh sungai Kahayan ini. Setelah lulus SMA, jujur saya tidak tau mau jadi apa dan mau kuliah di mana. Ayah saya seorang Insinyur dan beliau ingin sekali saya meneruskan jejaknya. Sampai pada akhrinya saya mengiyakan keinginan ayah dengan melanjutkan S1 saya di salah satu Universitas Swasta di kota gudeg Yogyakarta. Menurut saya, Yogyakarta menjadi magnet tersendiri khususnya bagi mahasiswa yang berasal dari Kalimantan. Hal ini dikarenakan suasana kotanya yang sangat mendukung untuk proses belajar dan biaya hidup yang cukup murah.

Alhamdulilah, saya lulus tepat waktu di tahun 2008 dan tak lama kemudian berhijrah ke Ibukota karena saya diterima kerja di salah satu kantor pemerintahan. Perjuangan mencari beasiswapun di mulai di kota ini. Impian untuk melanjutkan sekolah di luar negeri sebenarnya sudah muncul semenjak duduk di bangku kuliah S1. Saat itu, sepupu saya memberikan buku UNSW Handbook yang dia peroleh pada waktu pameran pendidikan luar negeri Australia. Saya baca satu persatu program master yang ditawarkan dan saya mendapatkan gambaran mengenai kehidupan mahasiswa di luar negeri. “Satu point penting yang saya dapat setelah membaca handbook tersebut : penguasaan terhadap bahasa asing.” Bahasa inggris dalam hal ini menjadi menjadi syarat utama untuk mendaftar di Universitas. Selain itu, penguasaan bahasa asing sangat penting dalam menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan budaya lokal (breaking down cultural barriers).

Bahasa inggris saya yang cetek, mengharuskan saya untuk belajar ekstra keras. Saya pun mengambil kursus EILTS di daerah Kuningan Jakarta. Setiap hari selepas pulang kerja selama 1 bulan, saya melaju bersama motor kesayangan menembus kemacetan Ibukota di sore hari. Tidak jarang saya sering masuk angin karena terguyur hujan pada saat pulang menuju ke rumah. 3x test EILTS akhirnya saya mendapatkan score yang lumayan. Score ini lah yang menjadi modal awal saya untuk mendaftar Universitas di eropa dan jepang.

Saya mencoba berbagai macam scheme beasiswa diantaranya ADS (3x apply-gagal), STUNED (2x apply-gagal), NFP (1x apply-gagal), ADB&World Bank (2x apply-gagal), Mombukagakusho (2x apply-gagal), BAPPENAS (1x apply-gagal), DAAD (1x apply-gagal), LPDP (1x apply-gagal) dan terakhir  (1x apply- finally accepted). Beasiswa itu merupakan misteri dari Allah swt. Saya mendapatkan email penerimaan beasiswa dari King Abdulaziz University setelah 2 bulan saya menjadi mahasiswa dan tinggal di Jerman.

Dengan bermodalkan tabungan selama kerja, saya bulatkan tekad untuk menimba ilmu di Jerman dan berangkat September 2014 yang lalu. Sayapun berandai-andai, jikalau email tersebut saya terima sebelum berangkat ke Jerman, alangkah nikmatnya selain mendapatkan gelar Master, sayapun juga berkesempatan untuk bisa naik haji dan umrah gratis. Pada akhirnya hidup itu harus memilih. Mendapatkan ataupun tidak menerima beasiswa itu adalah sebuah keniscayaan dan cobaan. Karena beberapa pertimbangan saya memutuskan untuk tetap menyelesaikan study di Jerman.

Percayalah dimana ada kemauan insya allah pasti ada jalan. Izinkan saya mengutip sebuah petuah Nabi : “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, dan mengajarkannya adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya, di dunia dan di akhirat.” (HR Ar Rabii’)

Warm Regards November 11, 2014 Stuttgart, Baden-Württemberg Germany, Novik Kurohman, Masterstudiengang Infrastructure Planning Universität Stuttgart

10 Komentar di Posting “Novik Kurohman: “Hidup Itu Pilihan”

  1. Bpk bolehkah sya minta kontak email bp buat mnt motivasi untuk mencari beasswa ditengah kondisi penguasaan bhs iggris sy pas pasan dan kampus sy msh akreditasi c .. terima ksh

Leave a Reply to nina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>