SEGERA TERBIT: BUKU MOTIVASI BEASISWA!!! Mohon Dukungan & Komentarnya

Mohon Dukungan & Komentarnya untuk Penerbitan Buku I Motivasi Beasiswa. Komentar-komentar menarik akan kami cetak di Buku ini.  Terima Kasih, semoga menjadi amal kita dan kebaikan Indonesia tercinta, aamiin (Klik Gambar Cover Buku dibawah ini untuk melihat ukuran Lebih Besar) :

KOMENTAR-KOMENTAR & DUKUNGAN TOKOH & SAHABAT YANG MASUK…… (diantaranya: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. , …)
(Klik Judul Posting ini untuk memberikan komentar) [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 10.0/10 (8 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +5 (from 5 votes)

Wahyu Tamadi: “Musibah Menuntunku menuju Takdir Nikmatku”

Ada banyak orang yang bangun dari tidur dan mulai membangun mimpi-mimpinya setiap hari, mimpi menjadi orang besar, menjadi orang terkenal, menjadi ilmuwan, dsb seperti juga mimpi untuk sekolah di luar negri. Untukku, yang dari keluarga sederhana di kota kecil Jambi ini, sekolah keluar negeri bukanlah salah satu dari mimpi yang kubangun, meskipun pernah sesekali mengkhayalkannya namun pada akhirnya kutepis lagi. Kutaruh di salah satu pojok bagian paling gelap di sebuah lemari di dalam gudang mimpi tak terealisasi dari masa kecil, gudang itu dikunci, kuncinya tak pernah kulihat lagi.

Kenapa aku bisa menjadi seperti orang yang sepesimis itu? Waktu itu
kupikir itu bukan pesimis, itu hanya realistis, karena untuk sekolah
ke luar negeri dengan biaya sendiri, aku tak mampu, sedangkan untuk sekolah dengan mendapatkan beasiswa pemerintah, aku bukan guru. Namun entah bagaimana, pada akhirnya setelah bagian-bagian tidak menyenangkan dari hidup, akhirnya aku justru sedang menikmati fasilitas menimba ilmu pengetahuan di luar negeri dengan beasiswa, seperti yang akan kuceritakan berikut ini.

Apabila belajar ke luar negeri, satu-satunya negeri yang ingin
kudatangi adalah Inggris, United Kingdom. Karena universitasnya yang
telah sejak lama menjadi barometer ilmu pengetahuan, karena kekayaan
peradabannya, budaya, seni, sastra dsb. Terlebih karena ini merupakan
khayalan semasa kecil.

Sewaktu aku masih SMP, ada seorang lelaki muda salesman yang [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 7.9/10 (8 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +5 (from 5 votes)

Devi Dwi Kurniawati: “Keluarga Tidak Mampu-pun Bisa Kuliah GRATIS! (Kisah Beasiswa Bidik Misi)”

Perjalanan ini saya mulai ketika masuk SMA. Sebuah perpindahan dari SMP favorit ke SMA favorit. Sering saya minder ketika masuk ke sekolah-sekolah yang lingkungannya anak-anak orang kaya. Yang ada saya berpikir saya punya apa, hanya punya otak aja. Begitu pikir saya. Kalau dulu masuk ke sekolah favorit, orang-orang senang. Saya masih bingung ini disebut anugerah atau bukan. Astaghfirullah.

Ditambah lagi dengan kabar ekonomi bapak yang bekerja sebagai Penjual roti. Bukan pengusaha, Jadi bapak hanya anak buah saja yang mendorong roti keliling berjalan kaki. Itupun kalau laku puluhan roti atau berapa, yang masih aku ingat satu hari biasanya bapak bawa uang 15.000. Dipukul lagi dengan fakta kakak perempuan saya yang mendapat danem tertinggi kedua se-kabupaten yang bersekolah di SMA yang sama dengan saya, tidak bisa kuliah karena harus memilih sekolah adiknya atau kuliahnya. Sebagai anak yang dari kelas 1 SD, ditinggal sendirian dirumah karena orang tua pulang kerja pun malam-malam, membuat watak saya menjadi keras pada masa puber. Stress ditambah beban-beban yang pada saat itu terasa berat yang saya pikirkan di usia belia saya yang masih 15 tahun. Masa-masa puber saya yang labil sehingga membuat saya pernah berpikir untuk bunuh diri pada masa itu SMP atau SMA. Tetapi untung saja karena kebingungan bagaimana caranya bunuh diri, saya tidak jadi bunuh diri.

Dengan rasa sakit hati, luka, stress dan beban hidup tinggallah saya sendiri yang [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 0 (from 0 votes)

Khairul Rijal Djakfar: “TOEFL di Bawah 500 tetap Bisa Dapat Beasiswa Luar Negeri kok!”

Nama saya Khairul Rijal, dalam bahasa Arab berarti “Laki-laki yang paling Baik”. Nama adalah do’a dan orang tua saya tentu berharap saya menjadi orang baik dan tentu juga bernasib baik. :-)
Sejak kecil saya ingin selalu ke luar negeri, waktu SD, di TVRI saya sangat suka film-film dari luar. Sehingga, sejak saat itu sudah tertanam dalam diri saya agar suatu saat bisa ke luar negeri.

Masalahnya adalah saya sangat malas belajar terutama Bahasa Inggris. Sejak SMP, Bapak saya telah membeli buku ENGLISH GRAMMAR agar saya rajin belajar dan dapat nilai tinggi. Namun lagi-lagi, karena malas saya tak sanggup menghafal dan mengingat-ingat Verb 1, 2, dan 3. apalagi jika menyusun kalimat/sentences dan structure. Pasti akan sangat kacau.

Disisi yang lain, [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +1 (from 1 vote)

Hdk Sarie: “Tahapan & Tips Lolos AusAid scholarship”

Well atas permintaan salah satu seorang mahasiswa S1 yang pernah saya didik di SMA, saya akhirnya mencoba membagi pengalaman saya mendapatkan beasiswa S2 saya yang sedang saya jalani ini di negeri Kangguru alias Australia. Semoga sobat semua juga sedang bersemangat mencari beasiswa seperti mahasiswa ini ya.

Belajar di luar negeri adalah cita-cita saya sejak duduk di bangku Mts atau tingkat SMP. Kegemaran saya yang belajar bahasa inggris membuat saya bermimpi akan menggunakan bahasa ini dalam kehidupan saya kelak. Singkat cerita saya akhirnya masuk universitas islam negeri di Jakarta, saya mengambil jurusan pendidikan bahasa inggris. Lagi-lagi menjadi guru juga salah satu cita-cita besar saya sejak kecil. Allah akhirnya mengarahkan saya ke karir ini dan menjadi Guru bahasa inggris di beberapa tempat.

Selepas lulus seorang dosen sudah mempercayai saya sebagai tenaga volutir di jurusan saya itu. Kemudian tidak lama saya resmi mendapat surat tugas sebagai dosen bahasa inggris di almamater saya UIN syarifhidayatullah Jakarta. Kemudian dari sinilah saya mendapat kesempatan untuk mendapatkan beasiswa hasil kerja sama kampus dengan AusAid (penyelenggara beasiswa S2 dan dan S3 ke Australia). Saya pun semangat mengikutinya.

Seleksi pertama adalah [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +1 (from 1 vote)

Silvia Carolina: “Ibu, akhirnya aku Sampai di Belanda juga”

Aku masih ingat seperti apa aku menangis, berminggu-minggu, mengurung diri di dalam kamar, beberapa tahun yang lalu, tepatnya sebelum aku lulus SMA. Sebelum air mata itu benar-benar meluap, aku telah menggenggam asaku di kepalan tangan, begitu erat. Aku akan terbang bersamanya beberapa waktu lagi, pikirku. Tak ada yang bisa mengambilnya dari tanganku. Aku salah, dan aku sempat terpuruk.

Yang dalam Genggaman, Belum Tentu untuk Kita

Semua bermula dari keikutsertaanku dalam seleksi penerima beasiswa S1 ke Belanda yang diberikan oleh pemerintah Belanda melalui NIS (Netherlands International Studies). Salah seorang Bu Lek-ku yang mendaftarkan namaku pada proses seleksi itu. Ia adalah seorang guru BK di SMA Barunawati Surabaya, aku memanggilnya Bu Lek Tini. Tak pernah terlintas di benakku sebelumnya keinginan untuk merasakan hawa kehidupan Belanda. Dulu, di benakku hanya Jepang dan Jepang. Tapi, aku tak mengelak bahwa aku juga ingin merasakan rona kehidupan tanah Eropa. Mungkin ini saatnya, dan aku benar-benar akan berusaha.

Tahap demi tahap [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 9.2/10 (34 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +22 (from 26 votes)

Jerico F Pardosi: “dari D3 menuju S3, APA BISA???”

Halo teman-teman diseluruh tanah air, aku akan memulai dengan kalimat
“Harapkanlah hal-hal yang besar dari Tuhan, tetapi lakukanlah hal-hal
kecil dengan tekun disertai semangat tanpa menyerah”…

Malam ini di Sydney sedang hujan deras, dan aku rindu membagikan
perjuangan dalam meraih beasiswa PhD di Australia melalui beasiswa
universitas
.

Teman-teman biasa memanggilku “jerry”, nama lengkapku Jerico
Franciscus Pardosi.
Aku bekerja di Pusat Teknologi Intervensi
Kesehatan Masyarakat (PTIKM), Kementerian Kesehatan di Jakarta. Aku
bergabung sejak tahun 2003 dengan latar belakang pendidikan Diploma 3
Kesehatan Lingkungan
. Dan [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 9.9/10 (7 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +8 (from 8 votes)

Taufiq Effendi: “Meski Tuna Netra Mampu Bermimpi, Memimpin, Wiraswasta hingga 8 Beasiswa Luar Negeri!”

Hari ini aku bergembira. Aku sedang di kantor dan sedang membuka akun emailku. Tiba-tiba, Mas Andi Arsana, dosen UGM yang sedang merampungkan PhD-nya di University of Wollongong Australia, seorang yang tulus memberikan semangat dan dukungan untuk menggapai sukses, baru saja mengirim sebuah email. Beliau menawariku untuk mengirimkan tulisan pengalaman perjuangan hidupku hingga akhirnya aku berhasil memperoleh beasiswa luar negeri. Beliau sampaikan juga bahwa tulisan tersebut akan dimuat di dalam sebuah buku bersama dengan tulisan dari kontributor lain dan akan didistribusikan untuk memotivasi masyarakat Indonesia

Aku senang dan aku bahagia. Aku ingin kelompok masyarakat yang diberikan ujian hidup sama sepertiku dapat segera bangkit dari keterpurukan dan kembali menapaki anak tangga kesuksesan. Aku ingin masyarakat yang tidak mengalami ujian hidup yang aku alami dapat membantu memperluas penyebaran informasi ini dan memiliki sikap yang lebih positif dan membangun terhadap kelompok masyarakat yang berkebutuhan khusus. Aku segera membalas emailnya dan mulai mengingat-ingat lembaran-lembaran perjuangan hidupku yang pelik dan penuh dengan air mata hingga akhirnya aku berhasil memenangkan delapan beasiswa luar negeri. Aku mulai kisahku dengan masa-masa paling sulit dalam hidupku.

Tiga tahun telah berlalu. Makin hari aku makin gila. Beberapa kali menjalani operasi menyambungkan syaraf mata dan menjahit retina tak juga membuahkan hasil. Beraneka ragam pengobatan alternatif dari berbagai negara tak juga mengembalikan penglihatanku. Setiap hari aku mencoba menghibur diri. Aku berpura-pura melakukan rutinitasku sebelum penglihatanku hilang. Aku bangun pagi, mandi, sholat subuh, mengenakan seragam sekolah, memakai sepatu, mencium tangan kedua orangtuaku untuk pamit ke sekolah. Namun, aku melangkah ke depan rumah dan masuk ke kamar dan menghambur ke atas ranjang dengan banjir air mata. Tiap malam aku tak bisa memejamkan mata. Aku berbicara sendiri seolah-olah sedang konsultasi dengan banyak ahli mata. Aku terpisah dengan dunia luar dan terpuruk. Aku terputus dengan sorak-sorai kegembiraan masa remaja. Hari-hari terasa berlalu begitu lambat. Aku sesak, aku frustrasi, aku ingin bisa melihat lagi, aku ingin bersekolah lagi.

Kedua orang tuaku pun ikut mengalami depresi, terutama ayahku. Setiap hari beliau pulang mengajar, tatapannya kosong. Beliau [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 9.5/10 (11 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +11 (from 11 votes)

Tjioe Martin: “Strategi Memperoleh Beasiswa Sejak SMP Hingga S3 ke Luar Negeri”

Petualangan pendidikan saya bermula tepat pada pertukaran abad ketika saya sedang duduk di bangku kelas 3 SMP di Medan. Paman saya mendorong saya dan saudara kembar saya untuk mendaftar ke program ‘ASEAN Scholarship’ dari pemerintah Singapura untuk belajar di ‘secondary school’ di sana. Pada saat itu, saya tidak berharap banyak. Dalam benak saya selalu terlintas bahwa saya bukanlah anak terpintar di sekolah saya. Dari segi juara umum saja, saya tidak pernah masuk ranking sepuluh besar. Bagaimana bisa saya mendapat beasiswa yang sangat kompetitif ini? Meskipun ujian tulis dan wawancara dengan pihak Kementerian Pendidikan (Ministry of Education) Singapura berjalan dengan lancar, saya masih tidak berharap banyak.

Jadi alangkah terkejutnya ketika kami menerima berita bahwa kami telah lulus seleksi dan akan menjadi 2 diantara 9 anak dari sekolah kami (42 dari seluruh Indonesia) yang akan berangkat ke Singapura sebagai ASEAN scholars batch kesepuluh. Satu kesimpulan dari pengalaman ini adalah ranking dan prestasi di sekolah itu bukanlah tolak ukur yang sempurna untuk menilai kemampuan seseorang. Ada banyak faktor penting lain untuk menentukan kemampuan seseorang yang bersifat lebih abstrak dan tidak dapat diukur hanya sebatas dengan ranking saja. Oleh karena itu, janganlah berkecil hati dan merasa tidak mempunyai harapan hanya karena anda bukanlah yang terpintar (tercepat, terhebat, dan ter-ter lainnya). Mungkin ada sesuatu yang berharga yang terpendam di dalam diri anda yang hanya dapat ditemukan oleh pihak pemberi beasiswa.

Dengan hasil ujian GCE ‘O’ level yang mencukupi di akhir pendidikan secondary school, kami bersaudara pun diberikan beasiswa
untuk melanjutkan [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 0 (from 0 votes)

Yuli Amalia Husnil: “Semua Terjadi pada Waktu Terbaik dengan Skenario Terbaik”

Semua Terjadi pada Waktu Terbaik dengan Skenario Terbaik. Walaupun kesempatan itu sudah terlihat dan bahkan tangan pun sudah hampir mencapainya, jika memang belum waktunya tetap tidak akan teraih. Allah Maha Tahu waktu yang terbaik dengan skenario yang terbaik pula.

Aku masih bisa ingat dengan jelas rasa bingung yang menyerangku terutama menjelang lulus S1. Dunia terasa begitu buram. Jalan di depan terlihat begitu berkelok-kelok tak berujung. Mau ngapain aku setelah lulus? Teman-temanku semuanya bersemangat mengurus transkrip, ijazah, berburu informasi lowongan kerja, ikut bursa kerja, dan semua hal yang berhubungan dengan MELAMAR KERJAAN. Aku? Hanya ikut-ikutan tanpa niat. Yang lebih anehnya lagi, saat sang perusahaan yang aku lamar memanggilku untuk ikut tes kok aku malah tidak bersemangat. ‘Yaah, kok dipanggil sih?’ begitu kira-kira reaksiku saat itu.

Mungkin ini yang namanya sedang mencari jati diri. Keinginan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat begitu besar tapi tak tahu mesti melakukan apa. Aku hanya punya satu keyakinan bahwa menjadi pegawai perusahaan bukanlah jalanku. Lalu [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +1 (from 1 vote)

Yanto: “Lagi-Lagi Karena Doa Mama”

Banyak hal dalam hidup ini yang terkadang terjadi di luar nalar manusia. Setidaknya itulah yang saya alami beberapa kali. Terakhir, ketika saya dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa S3 di sebuah universitas di Australia. Menurut logikanya, mestinya saya tidak mungkin lulus. Sebab, sampai ketika saat wawancara, saya tidak bisa menunjukkan kepada panitia seleksi surat penerimaan dari universitas yang saya tuju. Namun, di sinilah doa seorang ibu menjadi senjata paling ampuh. Tiga minggu setelah wawancara, saya berhasil memperoleh surat yang diminta. Lalu langsung saya kirimkan ke panitia. Dan 10 hari kemudian, ketika pengumuman, nama saya tercantum di antara ratusan peserta yang lulus.

Sebenarnya, cerita tadi tidaklah sesederhana itu. Tahun 2011 lalu, sebelum melamar beasiswa, saya menelpon mama di Padang untuk mengatakan niat saya untuk melanjutkan sekolah lagi ke luar negeri. Tentunya dengan beasiswa. Saya mencoba mengajukan lamaran via online maupun pos ke beberapa universitas di luar negeri. Setidaknya ada 15 universitas yang saya lamar. Beberapa diantaranya langsung menolak. Ada yang beralasan, kualifikasi S2 saya yang full coursework tanpa tesis membuat mereka enggan menerima saya. Ada juga yang beralasan karena mereka tidak punya profesor yang bisa menjadi pembimbing saya. Intinya, 14 universitas menolak!

Nah, [...]

VN:F [1.9.10_1130]
Rating: 8.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.9.10_1130]
Rating: +2 (from 4 votes)